Aksara Rania

Aksara Rania
Nasehat Marlino


__ADS_3

" Kau jadi menjemput istrimu besok?" tanya Marlin sembari menaruh sebuah majalah di atas meja kerja Aksara.


" Tentu saja.." jawab Aksara kurang bersemangat.


" lalu kalau sudah pulang apa masih perlu kita panggil adik Fatan itu?"


" nanti sajalah, aku juga belum bicara pada istriku..


telfon ku saja tidak pernah dia angkat.."


Marlin terdiam sejenak, melihat temannya itu baik baik.


" Kau mau dengar tidak..?"


" tentang?"


" dirimu.."


Aksara terdiam, namun kemudian ia mengangkat dagunya, seperti mempersilahkan Marlino untuk bicara.


" Kalau masalah ini selesai.. berjanjilah.."


" janji apa?"


" beri istrimu itu ruang.."


" maksudmu?" Aksara kurang pintar dalam urusan perasaan perempuan.


" Beri dia kebebasan.."


" kau kira aku memenjarakannya?" sahut Aksara sedikit tak terima.


" Kebebasan yang aku maksudkan adalah selalu memberinya pilihan..


memberikannya mengemukakan pendapatnya..


beri dia ruang untuk hal hal yang ia suka,


sebelum bertemu denganmu dia pastinya memiliki sebuah kebiasaan,


entah itu hobi.. atau bahkan pola berpikir yang sudah berbeda,


kau tau dengan benar kalian sudah terpisah selama 10 tahun, perubahan pasti ada.. entah itu di dirimu atau di istrimu,


tentu saja setiap manusia tidak menjalani proses yang sama..


begitu pula dengan istrimu..


kau meninggalkannya saat usianya masih belia..


dan sekarang dia bukan gadis lagi, tapi perempuan dewasa..


ada hal hal selain materi yang harus kau penuhi..


seperti istriku, dia suka traveling pada masa mudanya..


aku sekali kali membiarkannya memiliki waktunya sendiri untuk menikmati hobi lamanya,


meskipun hatiku tidak rela..


tapi tetap saja aku harus mengijinkannya demi ketenangan dan kestabilan hati istriku..


kau tau..


peran suami sangat penting untuk menjaga mood istri tetap baik..


jika setiap hari dia kau kekang denganmu saja,


dan hanya kau ijinkan keluar denganmu saja..


bagaimana dia bisa mengembangkan pola pikirnya,


punya teman baik saja dia tidak.. lalu siapa yang bisa menasehatinya sebagai teman?


seandainya dia kau ijinkan dan kau beri kepercayaan.. mungkin ketika sedang dalam masalah dia akan bercerita ke istriku atau istri Farhan..

__ADS_1


setidaknya dia mendapat masukan masukan yang baik..


kalau dia memendamnya sendiri seperti ini, dia pasti tertekan dan mengambil langkah untuk pergi..


bayangkan.. tidak ada kerabat atau sahabat disini, dan kau selalu bertindak over protektif..


bagaimana dia bisa berfikir rasional ketika di hadapkan pada hal hal yang menekan perasaannya..


Kau itu seperti cermin untuknya,


kalau kau impulsif, dia perlahan akan menjadi impulsif sepertimu..


kalau kau pemarah, dia perlahan juga akan menjadi pemarah sepertimu..


suami itu tempat istri untuk belajar..


jadi perbaiki dulu caramu memperlakukan istrimu..


suami tidak harus sempurna, tapi menjadilah sempurna ketika di hadapan istrimu..


lebarkan bahumu.. lapangkan dadamu..


besarkan hatimu..


komunikasi itu penting Sa..


masalah sebesar apapun akan menjadi kecil ketika komunikasi diantara kalian baik..


kau akan menjadi ayah..


ingatlah itu..


jangan menyalahkan kenapa istri begini begitu..


perbaiki dulu cara mencintaimu itu.."


ujar Marlin panjang lebar.


Aksara menundukkan kepalanya sejenak, ia seperti bingung.


" Apa yang tidak kau mengerti.. katakan..?"


" tentu saja itu wajib.. tapi beri dia kepercayaan sedikit,


seperti berbelanja sendiri setelah dia melahirkan..


membeli buku2 kesukaannya di toko buku, berangkat ke salon, atau belanja di mall seperti istri istri lain.."


" tapi dia tidak punya teman, sama sepertiku.. yang hanya ada kau dan Farhan.."


" istrimu bukan tidak punya teman, tapi kau yang membuat dia tidak punya teman..


kau tidak memberinya waktu dan kesempatan untuknya,


bagaimana dia bisa membuka hubungan pertemanan dengan orang lain sedangkan dia dirumah saja, dan sekalinya keluar itu hanya denganmu..


bahkan pulang arisan saja dia langsung kau antar pulang,


padahal ibu ibu yang lain mengajaknya menghabiskan waktu bersama sama di luar..


apa kau mau menjadikan istrimu keramik, atau hiasan rumah?"


" Mana mungkin aku begitu.. " jawab Aksara pelan,


" dia selalu diam dan menerima saja.. jadi ku kira tidak masalah begitu.." imbuh Aksara.


" Tentu saja dia tidak berani berkata tidak, kau seram begitu..


melawan suami kan tidak di benarkan.. tapi banyak suami yang juga lupa,


bahwa pendapat istri juga penting..


cobalah bertanya,


apa dia keberatan atau tidak..

__ADS_1


lelah atau tidak..


beri waktu dia untuk memanjakan dirinya sendiri sesuai dengan seleranya.. bukan dengan seleramu terus.."


lagi lagi Aksara hanya bisa diam.


Ia tau apa yang di katakan Marlin itu ada benarnya, tapi tidak mudah baginya untuk berpikir sebebas itu pada Rania.


Beban dan tanggung jawabnya sebagai suami juga sebagai seorang kakak sangat membayanginya.


Memenuhi janjinya pada Almarhum bapak adalah hal yang sangat penting baginya.


Dimas mengomel saja, sudah setengah jam lebih dia mengikuti Rania kesana kemari, dari ruang tamu hingga dapur.


Jihan saja sampai sebal melihatnya.


" Rania sedang stress.. kalau di marahi begitu ya makin stress..?!


jangan jangan kalau sudah menikah nanti kau akan memarahiku sepanjang waktu seperti itu?


rasanya aku perlu berpikir ulang.." Jihan kesal,


" Aku punya hak mengomelinya, dia sudah ku anggap saudara, tentu saja dia salah pergi begitu saja dari rumah?" jawab Dimas manyun,


" apa apaan juga dengan berpikir ulang untuk menikah denganku?!" Dimas semakin manyun.


" Kau harus tanya kenapa dia sampai pergi dari rumah? kau teman baiknya, harusnya mendengarkannya dan memberinya masukan yang baik..


buka mengomel dari ruang tamu sampai dapur.." ujar Jihan membuat Dimas bisu seketika.


" Rania bukan tipe pemberontak katamu..


kalau dia sampai pergi,


itu berarti ada sesuatu yang melukainya dan tidak bisa ia tahan..


ingat, tidak semua perempuan mampu menahan tekanan yang di akibatkan oleh perasaan atau keadaan..


beberapa orang cenderung akan pergi untuk menghindari penyebab stess itu..


namun ada beberapa orang juga yang akan menyelesaikannya secara langsung..


manusia itu tidak semuanya sepertimu..


jadi jangan di samakan..


berikan pengertian yang baik, bukan mengomelinya.."


Dimas berpikir sejenak,


" tapi kau dulu mengomeliku..? apa jangan jangan itu omelan karena cemburu?" celetuknya tiba tiba membahas apa yang sudah berlalu,


" itu karena pak guru memang suka tebar pesona..!" Jihan mencubit lengan Dimas.


" Sakit?!" keluh Dimas,


" sudah sana, minta maaf pada Rania.. berhentilah mengomel, kita aja saja dia keluar jalan jalan.. "


" ide bagus.. kita ajak dia ke tempat wisata yang baru di buka, yang banyak bunga bunganya itu.. " Dimas bangkit,


ia berjalan ke arah kamar Rania,


" Tok! tok! tok!" Dimas mengetuk pintu kamar Rania,


Rania yang capek mendengar omelan Dimas tiba tiba saja masuk ke kamar, ia tidak marah, hanya saja sedang tidak punya tenaga untuk menjawab.


" Ran??! aku minta maaf ya.. ? aku janji tidak akan membahasnya lagi..


kita jalan jalan yuk? kita ke tempat yang sejuk dan dingin, kau kan suka melihat bunga dan perbukitan.. ?" bujuk Dimas, lama tak ada jawaban.


" Purik wes.." gumam Dimas,


" Ran??!" panggil Dimas lagi, lalu tak lama pintu yang di ketuk Dimas itu terbuka.


" Mlaku mlaku nangdi (jalan jalan kemana)?" tanya Rania dengan wajah antusias.

__ADS_1


" Terserah..mau nya kemana, aku sama Dimas manut saja..?!" sahut Jihan tersenyum lebar.


" Cepat ganti baju.. pakai baju yang nyaman saja, jangan lupa jaketnya.." imbuh Dimas khawatir ibu hamil di hadapannya itu masuk angin.


__ADS_2