
Hari berganti hari dan bulan demi bulan pun berlalu, Aksara dan Rania hidup tenang seperti sedia kala di makassar.
" Nanti malam ikut, ada teman buka usaha baru.. sekalian jalan jalan kel losari pulangnya.. " Aksara duduk disamping istrinya sembari mengelus elus perut Rania.
" Kok teman mas sekarang banyak yang buka usaha..?" tanya Rania sembari ngemil.
" Mas juga ingin.. tapi mas tidak ada bakat berdagang.." sahut Aksara,
" mas inginnya bertani.. ada tanah peninggalan bapak kan, kita olah saja kalau sudah pindah.. " imbuhnya.
" Memangnya bisa?" Rania tidak begitu yakin dengan karakter suaminya yang kurang sabaran.
" Mas ini.. kalau sudah serius serius Ran.. lihat saja nanti kalau kita sudah pindah.." " memangnya mau tanam apa?"
" apapun itu.. entah umbi umbian, cabe? jagung, padi, tebu?"
Rania tertawa mendengarnya,
" kok tertawa?"
" lucu aja bayangin mas bertani, takutnya kalau lagi badmood tanamannya di robohin semua.."
Aksara menggeleng gelengkan kepalanya, istrinya itu terlalu.
" Mas ini bicara serius.. mas nanti pasti pensiun.. mas harus punya mata pencaharian cadangan.. mas tetap ingin membahagiakanmu dan anak anak di masa tua.."
" Benar itu mas?"
" iya sayang.. mas akan belajar dari om Surya, kau tau sendiri kan om surya sukses menjadi petani buah dan sayuran.."
" Iya mas.. aku juga akan membantu nanti.."
" sudah, kau dirumah saja.. urus anak anak kita.." ujar Aksara mengecup kening istrinya.
" Anak anak?"
" iya.. masa cuma satu?"
" yang ini saja belum keluar mas, kok mikir anak lagi? mas kira melahirkan itu mudah??" Rania protes,
" ya wes.. se di kasihnya saja.. yang penting kau bahagia hidup denganku itu sudah cukup Ran.." .
Aksara dan Rania duduk bersebelahan dengan keluarga Marlin dan Farhan, seperti biasa, kemanapun dan di manapun mereka seperti lem, tidak akan pernah jauh jauh.
" Ayo, tambah lagi..?!" ujar si teman yang membuka usaha rumah makan menghampiri meja mereka,
" iya bang?!" Aksara mengangguk sembari tersenyum,
" masakannya top bang?!" imbuh Marlin, "sukses pokoknya?!" Imbuh Farhan.
" Hahahaha..?! kalian ini selalu kompak.. ya sudah selamat menikmati.." ujar si senior dan berlalu pergi.
Dari jauh juga terlihat Wulan, dia terlihat berbincang dengan salah satu junior, sementara Ilham sedang sibuk menyuapi Ami.
__ADS_1
Rania terlihat cantik hari ini meskipun dengan perutnya yang besar,
wajahnya tampak Ranum dan segar..
mungkin karena Rania semakin gemuk.
ia berbincang dengan istri Marlin dan Farhan, seperti biasa, pembicaraan kaum wanita.
Sesekali mereka tertawa, sehingga Rania berkali kali memperlihatkan senyuman manisnya dan dagunya yang lancip itu pada orang lain.
Namun hal itu baik baik saja untuk Aksara, karena Rania sekarang berada diantara teman temannya.
" Cantik sekali gaunmu dek.. kau pergi ke penjahit?" tanya istri Marlin,
" Mas Aksa yang beli.. saya jarang sekali beli baju.." jawab Rania,
" Wah.. senangnya.. kenapa yang dirumahku tidak pernah belikan baju.." Istri Marlin melirik suaminya.
" Ehh.. kau kan biasa beli sendiri.. " jawab Marlin cepat.
" Dasar.. tidak romantis.." gerutu istri Marlin,
" kau kira Aksara romantis ta'? dia berangkat belikan baju istrinya sendiri itu, supaya tidak ada yang melirik istrinya dijalan,
hemm.. andai kalian tau itu..?!" jawab Marlin membuat wajah Aksara panas karena malu, sementara Rania tertawa mendengarnya.
" Tidak begitu lah.. mana ada yang begitu.." sahut Aksara kemudian.
" Iya.. tidak ada yang begitu..
benar kan mas..?" Rania melempar senyum penuh makna pada suaminya.
" Iyalah.. " jawab Aksara cepat,
sementara Marlin dan Farhan hanya terkekeh melihat itu.
Semua orang sudah bersiap untuk pulang, namun Aksara pamit sebentar ke toilet.
" Sebentar Ran.. ?" ujar Aksara berjalan ke arah toilet, sedangkan Rania duduk menunggu.
" Nah.. ini bonusnya buat bumil.." senior Aksara datang membawa bungkusan makanan, ia menyerahkan pada Rania.
" Aduh.. jangan repot repot..?" Rania sungkan,
" sudah.. bawa saja, Aksa mana?"
" Mas Aksa masih ke kamar mandi.."
" ya sudah kalau begitu, saya tinggal dulu ya.." senior itu pergi berlalu.
Aksara keluar dari toilet, ia menuju ke kaca yang terletak tak jauh dari toilet, tapi seseorang yang sepertinya sudah dengan sengaja menunggunya, menghadang langkahnya.
" Permisi saya mau lewat," ujar Aksara tidak mengenal perempuan itu.
__ADS_1
" Saya sudah sering mengirimkan chat meminta maaf, tapi tidak bapak balas malah bapak blokir saya.." ujar perempuan berkemeja motif garis itu.
Deg.. aksara terkejut, ini perempuan itu, yang bernama Maya itu.
Perempuan ini selalu menganggunya dengan hal hal yang tidak penting,
yang maaf lah, apa kabar lah, sudah makan atau belum lah.
Karena kesal dan takut Rania salah sangka ia memblokir perempuan itu,
tapi yang ada dia malah SMS.
Namun terakhir kali Aksara membalas SMS nya dengan nada yang cukup kejam, Aksara pikir perempuan itu akan jera, karena sudah lama dia tidak menghubungi Aksara lagi.
" Maaf, saya tidak mengenal anda.." Aksara meneruskan langkahnya, tapi perempuan itu malah menghadang langkah Aksara lagi.
" Mau anda ini apa sih?! kok kurang ajar sekali?! cukup cukup ya anda mengganggu saya!" Aksara sudah tidak sanggup lagi menahan kekesalannya.
" Bapak ada hati kan sama saya?" ujar perempuan itu memandang Aksara,
" Apa?!" mulut Aksara menganga sejenak karena tidak percaya dengan kata kata ngawur perempuan di hadapannya.
" Bapak tidak akan mengikuti saya dan menolong saya kalau bapak tidak tertarik dengan saya.."
Aksara menahan diri, entah berasal dari mana perempuan dengan pemikiran yang tidak masuk akal ini.
Rupanya dia terlalu percaya diri bahwa Aksara menaruh hati padanya.
Memang, perempuan berusia sekitar 21 sampai 22 tahun itu cukup cantik, tubuhnya sintal dan penampilannya cukup mampu membuat orang lain menatapnya.
Dan yang lebih luar biasa perempuan itu harumnya terlalu harum sekali, sampai membuat Aksara sedikit pusing.
" Dengarkan saya sekali lagi, saya menolong anda karena kemanusiaan, bukan karena ada perasaan pribadi?!" tegas Aksara.
" Dan saya ini sudah beristri, jadi tolong jangan berbuat hal hal yang absurd seperti ini, tolong jangan ganggu saya?!" imbuh Aksara.
" Banyak laki laki yang sudah beristri tapi bisa jatuh cinta dengan orang lain pak,
jujur saja.. dari awal melihat bapak saya sudah suka dengan bapak, apalagi setelah saya tau bapak yang menolong saya..
saya bersedia kok pak jadi yang ke dua..
saya akan terima bapak apa adanya.."
Aksara rasanya mendidih, ia sudah kehabisan kata kata, entah bagaimana caranya menyingkirkan perempuan ini.
" Om Aksa...?!!" Ami tiba tiba saja berlari ke arah Aksara, ia memeluk kaki Aksara.
Aksara terhenyak, ia seperti bingung dengan situasinya sekarang.
Ia menatap Ilham yang tersenyum kepadanya, dan ada juga Wulan yang berdiri tak jauh dari Ilham, sorot mata Wulan datar.
" Eh, Ami sayang..?" Aksara menggendong Ami dengan cepat, lalu berjalan melewati perempuan itu menuju Ilham.
__ADS_1
Sementara perempuan itu tiba tiba saja menghilang bagaikan angin ketika tau seseorang datang.