
Dimas naik motor sedikit kencang, ia mengunyah permen untuk mengganjal perutnya yang sudah lapar sekali itu.
" Gara gara anam ini.. !" gerutunya sambil terus menyetir motornya, ia baru pulang dari rutinitasnya bermain sepak bola bersama dengan dengan perkumpulan guru olah raga.
Ketika Dimas sedang istirahat dan bersiap melahap bekalnya, tiba tiba saja bola meluncur ke arahnya dan membuat bekal Dimas kocar kacir di atas rumput.
Dimas kesal sekali jika mengingat momen beberapa menit yang lalu.
Di tarik lagi gas motornya karena perutnya sudah semakin lapar, tapi tiba tiba laki laki itu berhenti di pinggir jalan,
ia melihat seorang wanita yang ia kenal.
" Hei?!!" panggil Dimas dari kejauhan melihat lengan seorang wanita yang di kenalnya tarik tarik dengan kasar.
Sebenarnya banyak yang melihat, namun hanya berlalu lalang saja tanpa bertanya ataupun melerai.
" Jangan kasar Mas sama perempuan.. nggak enak di lihat orang, ada masalah apa sih? ngobrol baik baik dirumah kan bisa.. " Dimas mendekat dan menyingkirkan tangan laki laki yang sedang menarik perempuan yang di kenalnya itu.
" Kenapa bu?" tanya Dimas menatap perempuan yang mengajar satu sekolah dengannya itu.
" nggak apa apa pak.." jawab Jihan namun dengan wajah tegang dan tertekan.
" Jangan ikut campur?! jangan sok jagoan ikut campur masalah orang!!" tegas si laki laki itu pada Dimas, tatapan laki laki itu tidak menyenangkan.
" saya kan ngomong, jangan kasar sama perempuan.. ini di pinggir jalan, di peringatkan baik baik kok ngegas.. mau ngajak ribut? ayo! " jawab Dimas emosi,
" koen sopo ne Jihan?! ( kamu siapanya jihan?!)" tanya si laki laki dengan nada kasar.
" Aku koncone, arep ngopo sampean?! ( aku temannya, mau apa anda?!)" Dimas yang mempunyai tubuh lebih tinggi dan tegap dari laki laki itu berjalan maju, rautnya tak takut sedikitpun, meski sesungguhnya tubuh ya sedikit gemetar menahan lapar.
" oh..! jadi gara gara laki laki ini kamu memutuskan berpisah denganku ?!" laki laki itu lagi lagi menarik lengan Jihan dengan keras.
" Jangan gila kamu Fahmi? jangan omong kosong?! " Jihan memekik kesakitan karena tangannya di tarik dan di cengkeram dengan kuat.
" Mas?!! saya harus ngomong berapa kali, jangan kasar! jangan cari gara gara sama saya! saya ini lapar Mas! lapar!! " Dimas seraya menarik krah baju laki laki itu dan melotot, entah kenapa tiba tiba kalimat yang aneh itu muncul dari mulut Dimas, entah dorongan dari perut kosongnya atau lainnya.
Jangankan laki laki bernama Fahmi itu, Jihan saja sampai kaget dan mundur melihat Dimas yang meledak seperti itu.
Laki laki itu tiba tiba gentar melihat ekspresi Dimas yang seperti kingkong sedang mengamuk.
Rasa lapar membuat emosi Dimas menjadi dua kali lipat.
" Ngaleh ora sampean?! ( pergi nggak?!)" tegas Dimas lebih keras.
Tidak menjawab namun laki laki itu mundur sedikit demi sedikit, melepaskan krah nya dari cengkraman Dimas lalu berhamburan pergi dan masuk ke dalam mobilnya.
Dimas yang melihat itu berdecak kesal, ia lalu menggeleng gelengkan kepalanya..
ia merasa ironis.. bisa bisanya ia ribut dengan orang dalam kondisi lapar begini.
__ADS_1
" inilah sebabnya aku selalu bawa bekal.." gerutunya berbalik dan memandang ke arah Jihan.
" Kruukkk...." terdengar suara perut Dimas,
" aduh..." keluh dimas dengan wajah yang tiba tiba berubah menyedihkan.
" Makan dirumah saya saja.. tidak jauh dari sini pak.." suara Jihan pelan, perempuan yang biasanya galak pada Dimas itu tiba tiba menjadi pengertian.
" Nggak ah.. nanti saya malah di kira benar benar selingkuhan bu Jihan lagi.." jawab Dimas asal,
" saya tidak berselingkuh pak, sudah.. ayo kerumah saya, gang depan itu masuk.. dirumah ada adik saya kok.." jawab Jihan sabar,
Dimas diam ia bimbang,
" ya kalau bapak mau pulang ya silahkan.. kan rumah bapak jauh.. nanti keburu pingsan bapak.."
Dimas masih menimbang nimbang,
" biar saya pulang saja, saya sungkan makan dirumah guru yang selalu memusuhi saya di sekolah.." Dimas menolak.
" Kalau begitu biar saya traktir, jadi Bapak tidak usah sungkan, anggap saja rasa terimakasih saya.." Jihan menarik lengan Dimas dan mengajaknya berjalan ke arah deretan ruko yang tak jauh dari tempat itu.
Keduanya masuk ke salah satu tempat makan, melihat Dimas yang masih bingung Jihan memaksanya duduk.
" Saya tidak suka berhutang budi sama orang pak.. jadi anggap saja impas, pesan se kenyang Bapak.." ujar Jihan pada Dimas.
" Mas harus belikan aku tiket untuk lusa.." ujar Rania dengan mata setengah terpejam, dia sudah mengatakan itu berkali kali namun Aksara tidak menjawabnya malah membahas hal yang lain.
" Aku mau tidur sebentar.. jangan lupa belikan aku tiket Mas.."
" tiket terus yang kau bicarakan, seakan akan tidak sabar meninggalkan ku.." Aksara selalu bermuka masam ketika Rania membahas soal pulang.
Mulutnya memang berkata tidak akan mencegah istrinya pulang, namun sebenarnya hatinya ingin mencegah dan tidak ikhlas di tinggalkan.
" Bangun.. ayo mandi, kita jalan jalan.." Aksara menarik tangan Rania yang malas sekali untuk bangkit.
" jalan jalan kemana, sejak kapan sih Mas suka jalan jalan? Mas sengaja menggangguku supaya tidak tidur saja kan?" gerutu Rania.
" Aku ingin menghabiskan waktu denganmu.. "
" dirumah kan bisa Mas..?"
Aksara membisu mendengar itu, raut wajahnya benar benar tidak senang.
Entah apa yang laki laki itu pikirkan, tanpa berkata apapun lagi ia langsung berjalan keluar dari kamar.
Rania yang sedikit menangkap ekspresi tidak enak Aksara langsung bangkit dari posisi berbaringnya.
" Mas..??" panggil Rania sembari keluar kamar, ia sadar Aksara selalu sensitif ketika ia membahas perkara pulang.
__ADS_1
Tapi Rania mau tidak mau harus pulang.
" Lho, katanya mau magrib? kok malah diam di teras.. ayo masuk Mas?!" Rania menemukan suaminya itu duduk di teras sambil menghisap rokok.
" Masuklah, aku mau merokok sebentar.." ujar Aksara tanpa menoleh ke istrinya,
" bukannya sudah janji mengurangi rokok..?" Rania duduk di sebelah suaminya.
Aksara diam tak menjawab, ia terus saja menghisap rokoknya.
" Ya sudah.. ayo kalau jalan jalan.." Rania menyandarkan kepalanya ke bahu Aksara.
" Aku sudah tidak ingin jalan jalan.." jawab Aksara dengan tenang namun mimik wajah yang terlihat kecewa.
Sebenarnya ia ingin menghabiskan waktu yang sedikit ini dengan Rania, karena selama mereka menikah keduanya tidak pernah benar benar menghabiskan waktu di luar berdua seperti pasangan selayaknya.
" Mas ngambek..?" tanya Rania,
dan Aksara hanya menggeleng pelan.
" Mas maunya aku bagaimana...?" Rania menatap suaminya,
jangan pulang.. disini saja.. sebenarnya itu adalah kalimat yang ingin di katakan Aksara, tapi lagi lagi laki laki itu hanya diam.
Ia takut di anggap semena mena terhadap istri dengan memaksa istrinya keluar dari pekerjaan yang amat di sukai nya.
" Aku.. tidak tenang.." ujar Aksara setelah lama terdiam,
" kenapa Mas..?"
" Aku sudah sering melihat para anggota berjauhan dengan istrinya, kukira mereka baik baik saja.. dan itu hal yang mudah, tapi kenapa membayangkan mu hidup sendiri disana hatiku sakit sekali..
tidak seperti kemarin kemarin saat aku meninggalkanmu di jawa..
kali ini hatiku lebih sakit rasanya.." Aksara tetap tak memandang istrinya, pandangannya lurus ke depan dan sesekali tertunduk.
" Mas.. maafkan aku.." suara Rania lirih, ia memeluk lengan Aksara.
" Aku ingin menjadi suami yang baik untukmu.. apapun itu asal kau bahagia, jika mengajar adalah hal yang bisa membuatmu bahagia.. pulanglah.." ujar Aksara dengan suara sedikit tertekan.
" Aku hanya bisa pulang ke jawa sebulan sekali.. dan itupun hanya 3 hari 4 hari, apa kau sanggup dengan itu..?"
Sekarang Rania yang tidak bisa menjawab, di tenggelamkan wajahnya di lengan Aksara, memeluk Aksara erat.
" Aku menahan diriku.. tapi kau malah menangis.. " Aksara memeluk istrinya yang sedang menyembunyikan air mata itu.
" nanti jangan marah kalau dalam sehari aku menghubungimu sampai berkali kali..
setidaknya dengan suaramu rinduku akan sedikit berkurang..." Aksara memeluk Rania lebih erat,
__ADS_1
meski hatinya nelangsa membayangkan hari hari tanpa Rania setelah ini.