
Marlin dan Farhan duduk berjajar di kursi samping lapangan, keduanya sedang sibuk dengan minumannya.
" Jangan jangan Aksara berlari sembari menangis.." ujar Farhan menatap Aksara yang berlari sendirian keliling lapangan.
Marlin menatap Farhan serius,
" bercanda.. jangan serius serius, cepat tua kau nanti.." ucap Farhan menepuk lengan Marlin dengan keras.
" Lebih keras lagi, biar enak kalau aku membalas.." ujar Marlin,
" hehehe.. iya iya.. sudahlah, jangan terlalu perhitungan denganku.." Farhan menggosok gosok lengan Marlin yang tadi di tepuknya dengan keras.
Marlin menghela nafas, dan kembali memperhatikan Aksara yang masih berlari sendirian keliling lapangan.
" Ini sudah menjelang istirahat siang, tapi dia tetap lari seperti itu sejak tadi, panggil dia.. ajak makan.." ujar Marlin.
" Dia bukan anak anak.." sahut Farhan,
" kau juga bukan anak anak, tapi kalau kau sedang ribut dengan istrimu kau juga tidak enak makan?!" tegas Marlin sebagai sosok yang lebih tua usianya diantara Farhan dan Aksara.
" Iya, biar ku panggil.." jawab Farhan bangkit dan berlari ke dalam lapangan yang cukup luas itu.
Setelah berhasil membujuk Aksara untuk makan, ketiganya kembali keruangan mereka.
Tanpa di sangka Aksara Ilham Sudah berada di ruangannya.
" Mas?" sapa Aksara sedikit kaget,
" Ada apa?" tanyanya lagi, ia takut ada kabar yang tidak menyenangkan.
Ilham tersenyum sembari membenarkan letak duduknya.
" Aku mampir saja, sekalian mengantar makan siang untuk istriku.." jawab Ilham.
" Kukira ada sesuatu mas.." Aksara kemudian duduk dengan tenang.
" Jadi harus ada sesuatu dulu baru aku menemuimu?"
" ya tidak begitu.. tapi kebiasaan kita begitu mas.." Aksara tertawa kecil.
Ilham memperhatikan Aksara baik baik, tubuhnya tampak lebih kurus hanya dalam beberapa minggu ini, bawah matanya juga sedikit cekung.
Ilham jadi ingat dirinya sendiri beberapa waktu yang lalu.
Sesungguhnya masalah Aksara tidak sebesar masalahnya, tapi Aksara yang terlalu pemikir ini benar benar tidak bisa santai.
Yah.. benar, siapa yang bisa santai jika ia sedang bermasalah dan terpisah jauh dari istrinya, entah itu besar ataupun kecil rasanya tetap menganggu.
Jangankan untuk tidur nyenyak, makan saja kadang rasanya hambar.
Ilham menghela nafas berat, seperti merasakan keresahan Aksara.
" Mas kesini hanya untuk menghela nafas?" tanya Aksara ternyata mendengar helaan nafas Ilham.
" Jika hanya ingin membuatku semakin sedih pergilah mas.." suara Aksara seperti tak bertenaga, padahal dia baru saja makan siang.
" Hei hei.. beraninya kau mengusirku?"
" habisnya, menghela nafas seperti itu sambil menatapku.. " gerutu Aksara.
" Iya iya.. maafkan aku, tapi aku ingin memberi sebuah kabar padamu.." Ilham memandang Aksara dengan serius.
" Kabar tentang?"
" Istrimu.." .
Mendengar Istrinya di sebut ekspresinya berubah, Aksara memperbaiki posisi duduknya.
" Apa ku bilang, pasti ada sesuatu jika mas datang keruanganku.." sedikit bimbang, ia takut mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan.
" Kau mau dengar atau tidak..?" tanya Ilham,
Aksara diam, ia berfikir sejenak.
" Katakan mas..." ujarnya kemudian.
__ADS_1
" kau jangan takut, aku tidak membawa kabar yang buruk.. tapi aku juga tidak tau ini kabar baik atau bukan.." jelas Ilham membuat hati Aksara sedikit tenang.
" Aku pulang kemarin lusa, ke kampung halaman kita.."
" Mas bertemu istriku? dimana?" Aksara penasaran,
" Hei.. sabar.. ?"
" bagaimana aku tidak penasaran, kami tidak berkomunikasi sama sekali, sebelum aku memukul laki laki itu aku sering menelfonnya tapi dia tidak menjawabnya, karena itu aku tidak pernah menelfonnya lagi..
ku kira percuma jika ia masih marah..
tapi aku tidak pernah lupa menanyakan kabar pada asisten rumah tangga dirumah..
selama dia baik baik saja aku tenang mas..
meskipun kami belum berkomunikasi.. " Raut Aksara menyedihkan.
" Cobalah untuk menelfonnya, atau kirimkan beberapa chat.. mungkin sekarang akan berbeda.." ujar Ilham,
" kenapa mas? apa dia mengatakan sesuatu pada mas?"
" Tidak.. "
" lalu?"
" Wulan datang menemui istrimu.."
" Wulan??" ulang Aksara dengan ekspresi tak percaya,
" Wulan mas?" ulang Aksara lagi.
" Iya.. Wulan, aku yang mengantarnya ke rumahmu..
ekspresi mu itu seperti istriku akan menyakiti istrimu saja.."
" ya habisnya selama ini dia begitu.."
" manusia itu bisa berubah Sa.. lagi pula istriku mengganggumu karena aku, jadi salahkan aku.. jangan terus terusan menyalahkan dia.."
" Kau tidak salah.. Rania juga tidak salah.. sudahlah..
tujuan istriku hanya ingin meminta maaf dan merubah keadaan kalian..
kau tau saat acara pernikahan Fatan, dia melihatmu menolong perempuan itu.. " jelas Ilham,
Aksara terhenyak, ia bingung harus berkata apa.
Sepertinya saat itu ia tidak melihat Wulan berada di sekitarnya, apa karena dia terlalu fokus menolong orang sehingga tidak melihatnya.
" Dia menjelaskan pada istrimu tentang apa yang ia ketahui dan ia lihat..
sebenarnya aku tidak mengijinkannya ikut campur..
tapi dia bersikeras, dia bilang mungkin ini saatnya dia berbuat sedikit kebaikan, karena telah menyakiti kalian selama ini..
dia tidak mau diam saja melihat kesalahpahaman kalian, sementara dia tau kenyataan yang sesungguhnya terjadi.."
Aksara masih diam, ia tak berkata sepatah katapun dengan apa yang di katakan Ilham.
" Kau tau, kondisi istrimu sama sepertimu..
kurang sehat dan kusut..
matanya bengkak karena terlalu banyak menangis..
kalian saling mencintai kan..
mengalah lah salah satu..
toh sekarang istrimu sudah mendengar kenyataan kalau kau tidak berselingkuh.."
nasehat Ilham.
Aksara tertunduk, terlihat bingung.
__ADS_1
" Apa lagi yang kau cemaskan?" tanya Ilham heran,
" Lalu kenapa dia tidak menghubungiku jika dia tau kalau ternyata aku tidak berselingkuh mas.." suara Aksara lirih.
Ilham menghela nafas untuk kesekian kali, rasanya kepalanya ini berasap melihat Aksara yang seperti ini.
" Sa.. inilah yang kurang kau pahami..
harusnya kau berpikir, mungkin saja istrimu itu enggan menghubungimu dulu karena malu atau hal lain, jadi jangan berfikir terlalu banyak,
hubungin dia duluan, kalian itu suami istri, tidak ada yang namanya menjaga harga diri.. buang itu semua jika ingin rumah tangga kalian baik baik saja?!" tegas Ilham.
" Usia mu sudah tidak muda, kurangi ketidak pekaanmu itu.. "
Aksara masih tertunduk.
" Kalau kau tidak peka.. kau mau orang lain yang peka terhadap istrimu?" ujar Ilham membuat Aksara sontak menatapnya.
" Jangan bicara hal hal yang mengerikan seperti itu mas?!" nada Aksara meninggi.
" Kau sih.. terlalu banyak berpikir..?!"
" Banyak hal yang sedang ku perhitungkan mas?"
" seperti?"
" Aku ingin dia disana sampai melahirkan, sembari aku menunggu surat pindah turun.."
" ya kau bisa bolak balik dulu.. "
" ya memang bisa.." jawab Aksara masih dengan nada bimbang,
" lalu apalagi?"
" aku.. aku hanya masih kecewa saja.. " jawab Aksara dengan ekspresi lelah.
" Dia mengatakan kata kata perpisahan yang tidak pernah ku bayangkan.." imbuh Aksara.
" Astaga Aksara.. mungkin saja istrimu mengatakan itu karena kesal atau terpaksa, melihatmu memukuli orang seperti itu siapa yang tidak kesal..
sudahlah, sampai kapan kau berputar putar seperti ini? tidak akan selesai..
ingat, anakmu harus lahir dengan sehat, ibunya juga harus selamat.. tentunya kau tidak mau menanggung kesedihan apapun di kemudian hari karena kau sudah membuatnya stress kan?" peringat Ilham.
Aksara menatap Ilham serius,
" Aku ingin keduanya sehat dan selamat mas.." ucapnya kemudian.
" Ya sudah, hubungi istrimu, atau temui dia langsung, kau bisa pulang akhir pekan..
apa dua hari tidak cukup untuk memadu kasih?" Ilham menggoda,
" Mas ini..?!"
" ini apa? memang ujung ujungnya begitu kan?!, ya wes.. aku balik dulu, jam istirahat hampir habis,
ingat, mengalah.. kau sudah tua.." ujar Ilham sembari bangkit dari tempat duduknya.
" Mas itu lebih tua, apa mas tidak sadar?" gerutu Aksara kesal di sebut tua.
" Tidak apa apa.. yang penting semangatku muda.. "
" hemm.. iya iya.. semangat muda.." ujar Aksara lirih.
melihat Ilham yang sedang berjalan ke arah pintu Aksara tiba tiba mengingat sesuatu.
" Oh ya mas?!" ia membuat langkah Ilham terhenti dan berbalik ke arah Aksara.
" Hemm.. apa lagi?" tanya Ilham,
" Tolong, bilang terimakasih pada istrimu.." suara Aksara tenang dan serius,
Ilham tersenyum mendengar itu,
" enak saja.. katakan itu sendiri padanya..!" jawab Ilham tegas,lalu melangkah keluar ruangan Aksara dengan tenang.
__ADS_1