
Aksara duduk diam di dalam mobil, sudah satu jam lebih ia tampak gelisah, padahal saat mengantar Rania masuk ke dalam bandara ia tampak tenang dan santai.
" Kau dimana?" Farhan menelfon,
" aku masih di bandara, ada apa?"
" cepat kembali, kau di panggil komandan"
" bukannya aku sudah ijin?"
" iya, tapi beliau berpesan kalau kau sudah kembali disuruh langsung menghadap.."
" ya sudah.. tunggu pesawat istriku berangkat.." jawab Aksara sembari memutus panggilan Farhan.
Aksara keluar dari mobilnya, ia berdiri di samping mobilnya sambil menatap langit.
Beberapa perempuan melewati Aksara, mereka melirik lirik Aksara di bubuhi senyuman manis.
Hal hal seperti itu sangat menjengkelkan bagi Aksara, andaikan saja disampingnya ada Rania, tentu perempuan perempuan itu tidak akan meliriknya dengan begitu bebasnya.
Aksara berniat menyalakan rokok,
namun tiba tiba di atasnya melintas pesawat yang ia yakini istrinya berada di dalamnya.
Aksara diam sejenak, entah perasaan apa ini.. rasanya lebih berat dari pada saat pertama kali mengantar Rania pulang setelah pengajuan nikah.
Sekarang Aksara tau, bagaimana beratnya perasaan jauh dari istri, apalagi mereka masih pengantin baru dan masih hangat hangatnya.
Aksara menghela nafas berat, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk sekarang selain menjalani hari hari tanpa Rania lagi.
Ia segera masuk ke mobilnya dan mengendarai mobilnya kembali ke arah kantornya.
" Wah.. yang sibuk dengan istrinya.. sampai sampai tidak tau salah satu anggotanya lari.." Wulan menghadang jalan Aksara.
" Kesibukanku dengan istriku bukan urusanmu, kenapa perempuan sepertimu selalu saja menganggu hidup orang lain, apa rumah tangga mu kurang bahagia?"
untuk pertama kalinya Aksara menjawab dengan kalimat yang panjang.
" Ku dengar istrimu sudah pulang ke jawa.." Wulan mendekat,
" Kenapa memangnya kalau sudah pulang, sejak dulu sampai sekarang aku tidak berniat menjalin hubungan apapun denganmu, jadi berhentilah menganggu ku.. sebelum aku membalasmu sampai kau tidak bisa bangkit lagi dari keterpurukan mu nanti.." tegas Aksara dengan suara tenang terjaga.
" Sebenarnya dimana kekurangan ku di bandingkan istrimu yang seperti bocah itu?"
Aksara tersenyum sekilas mendengar itu,
" untuk laki laki lain kau luar biasa, tapi untuk ku kau hanya perempuan yang tidak ada puasnya..
tidak semua laki laki menyukai perempuan agresif, jadi berhentilah selama kau masih belum kehilangan segalanya..
jaga keluarga mu baik baik.." Aksara masih menahan diri dengan berkata kata baik meskipun di dalam hatinya kesal setengah mati pada perempuan di hadapannya itu.
" Kau mulai perhatian padaku?"
" kau tidak bisa membedakan? mana perhatian mana memperingatkan?"
" itu suatu perhatian untukku.. kau yang dingin dan sinis selama ini tiba tiba berbicara banyak denganku.."
Aksara lagi lagi tersenyum sinis,
" kasihan ya suamimu.. andai dia tau istrinya seperti ini.. " ujar Aksara sembari berjalan melewati Wulan.
Aksara pulang kerumah dengan wajah kusut, setelah mandi ia duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi kaca.
" Huuhhh...." keluhnya sembari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
" Kau sengaja menyiksaku ya.. " Aksara berbicara sendiri, ia mencium bantal yang kemarin kemarin di pakai Rania.
__ADS_1
Bau parfum Rania sedikit tertinggal, Rania mempunyai kebiasaan memakai sedikit parfum di belakang telinganya, tentu saja ada bau yang tersisa di bantal, dan itu membuat Aksara makin resah.
Baru sehari di tinggal kenapa begini rasanya..
laki laki itu mendekap bantal sambil memejamkan mata, meredam kegelisahannya.
Namun tak lama HPnya berdering,
" Mas...?" terdengar suara istrinya,
" Ran.. " jawab Aksara membuka matanya,
" Mas sudah makan?"
Aksara diam, tak menjawab.
" Halo mas? Mas sudah makan?" ulang Rania tapi suaminya itu masih diam tak menjawab,
" Mas??" panggil Rania lagi,
" rindu Ran.." suara Aksara bergetar,
Rania terhenyak mendengar itu, namun kemudian ia tersenyum dan menjawab,
" sama Mas.. padahal baru sehari.."
" kembali kesini ya? aku akan menjemputmu??" suara Aksara benar benar tak bertenaga.
" Mas.. jangan seperti ini, Mas biasanya tidak begini.."
" tapi sekarang aku begini, kau yang membuatku jadi begini.."
" kenapa jadi aku yang salah Mas..?"
" ya sudah.. Mas yang salah, karena terlalu merindukanmu.."
" itu masih lama.. bagaimana ini, bau tubuhmu dimana mana lagi.." keluh Aksara membuat Rania tertawa,
" Mas.. cepat makan dulu, nanti ku telfon lagi.. "
" memangnya kau mau kemana?"
" besok aku sudah mulai masuk sekolah Mas.. mau mempersiapkan materi dulu.. "
" ya sudah.. nanti telfon lagi.. " ujar Aksara masih berat.
" Wah.. wajahmu tampak berseri seri.." goda Dimas,
" jangan bercanda aneh2, ini sekolah.."
" wahh.. ketularan mas Aksa ya? judes.."
" heh.. banyak anak anak di belakang kita.." tegas Rania pelan.
Rania dan Dimas berjalan ke arah kantin untuk makan siang.
" Apa kabar bu jihan?" sapa Rania melihat Jihan juga di kantin, ia sedang mengambil minuman dingin.
" Alhamdulillah.. sehat bu, njenengan sendiri bagaimana?" Jihan tersenyum, terlihat sedikit luka membiru di sudut bibir Jihan.
"Lho? kenapa bu sudut bibir bu jihan luka?" Rania spontan bertanya,
Ekspresi Jihan kaget,
" Aduh.. terbentur kemarin bu, di kira ga seberapa.." Jihan memegang ujung bibirnya untuk mengecek, ia tidak begitu memperhatikan dan berangkat ke sekolah begitu saja.
" Jangan sembarangan sentuh, nanti infeksi, nih.." Dimas menyodorkan plester khusus untuk luka, sebagai guru olahraga ia wajib mengantongi itu kemana mana, karena anak anak sering lecet ketika berolah raga di lapangan luar sekolah.
__ADS_1
" Tidak usah pak.." jawab Jihan sedikit kikuk,
" pakai saja, kebetulan aku juga ada salep di loker, nanti pulang sekolah ambil, itu cepat menyembuhkan memar.." suara Dimas serius.
Rania melihat Jihan dan Dimas bergantian, ia merasa melewatkan sesuatu.
Dimas yang slengean tiba tiba berbicara serius, dan Jihan yang biasanya sebel setengah mati pada Dimas tiba tiba kikuk dan diam.
" Apa aku melewatkan sesuatu ?" tanya Rania pada Dimas, ketika keduanya sudah mulai makan.
" Melewatkan apa?" tanya Dimas balik sambil mengunyah makanannya.
" Kau dan bu Jihan berbeda sekarang?"
" beda apanya? sama saja.." jawab Dimas santai.
Rania hanya tersenyum dan melanjutkan makan nya.
Rania pulang cukup terlambat hari ini, karena banyak buku yang harus ia siapkan untuk di bagikan ke anak anak besok.
karena jam sudah menunjukkan jam 3 sore Rania bergegas turun dari ruangan kelasnya yang berada di lantai 2, entah kenapa perut Rania tidak enak, apa karena makan sambal soto yang terlalu banyak siang tadi, pikir Rania.
Rania setengah berlari ke kamar mandi karena perutnya sudah tidak mau kompromi.
Namun ketika sudah masuk ke kamar mandi Rania mendengar sesuatu yang tidak biasa, suara seorang perempuan,
dan suara itu membuat Rania melotot seketika.
Di kendalikan dirinya, ia berjalan perlahan ke arah kamar kecil yang berjajar itu.
Dan sekali lagi Rania mendengar suara itu, namun kali ini suara laki laki.
" Tidak mungkin guru.. tidak mungkin.." ucap Rania dalam hati meyakinkan diri, ia bimbang harus melihat atau keluar dan pura pura tidak tau saja.
" Bagaimana kalau anak anak?" imbuh Rania dalam hati.
Dengan perlahan Rania berhenti di pintu kamar mandi ke 3, Rania mendorongnya namun pintu itu terkunci.
" Tok,tok,tok..." ketuk Rania pelan,
" keluar saja, saya ingin bicara pada kalian baik baik.. " nada Rania tenang.
Cukup lama suasana hening, Rania pun tidak mendapat jawaban.
" Keluar baik baik atau saya panggil pak Randy dan pak Dimas kesini untuk mendobrak pintunya!" tegas Rania, tentu saja ia hanya menakut nakuti karena Dimas dan Randi sudah pulang.
" Jangan bu?!" terdengar suara si laki laki,
" ya sudah, keluarlah.."
tak lama kemudian pintu itu di buka, dan betapa terkejutnya Rania, keduanya adalah anak yang berada di bawah bimbingan Rania sebagai wali kelas.
" Randy.. safa.." ucap Rania tak percaya, kakinya lemas..
Rania bahkan hampir jatuh karena tidak kuat menopang tubuhnya yang lemas, tapi safa menangkapnya.
" Apa yang harus saya lakukan pada kalian..?" Rania berusaha menguasai dirinya.
Kedua anak di hadapannya itu tertunduk diam.
Rania menatap keduanya dari atas ke bawah, baju yang lusuh dan sabuk yang miring tidak rapi.
Rania memegang kepalanya yang tidak sakit, ia benar benar bingung apa yang harus ia lakukan pada kedua muridnya yang sudah sangat keterlaluan ini.
" Ibu tidak akan sampaikan ini ke kepala sekolah untuk sementara, tapi ibu mau kedua orang tua kalian datang ke sekolah besok, jangan coba coba mempermainkan ibu, atau ibu sampaikan permasalahan ini ke kepala sekolah,
kalian tau kan akibatnya?!".
__ADS_1