
Aksara terdiam, kata katanya benar benar sudah habis untuk menyemangati Ilham,
laki laki bertubuh tegap dan kokoh itu menangis.
Ini kali kedua Aksara melihat laki laki itu menangis,
pertama saat anak pertamanya meninggal,
dan yang kedua sekarang, saat istrinya pergi meninggalkannya.
Aksara tahan ketika melihat Ilham menangis penuh nelangsa dan penyesalan.
Tapi hatinya runtuh seketika melihat Ami yang kembali masuk ke ruang tamu untuk memberinya sepotong cake yang tadi ia bawa.
" Makan om.." ujar gadis kecil yang wajahnya mirip sekali dengan papanya itu.
" Iya sayang.. kan sudah malam, kenapa adek nggak bobok?"
" emhh.. nunggu papa.. " jawabnya bersandar pada Ilham,
" Om kerja sama mama ya? mama dinas kemana om?"
Deg... lagi lagi perkataan yang membuat Aksara tidak sanggup menjawab.
Aksara menatap Ilham,
" om Aksa kan beda tempat sama mama sayang.. " sahut Ilham,
" nggak ketemu mama berarti ya om? jauh?"
" iya sayang.. " jawab Aksara tersenyum.
Aksara dan Ilham sama sama terdiam lama,
" emhh.. ya sudah Mas, sudah malam.. saya pulang dulu.." pamit Aksara tidak tega melihat Ami yang menunggu papanya.
Aksara bangkit dan menepuk lengan Ilham,
" sehat sehat ya Mas.. ?" ucap Aksara membuat Ilham tersenyum trenyuh.
Keduanya berjalan menuju keluar, sedangkan Ami mengikuti langkah papanya dari belakang.
" Mau kemana lagi?" tanya Ilham mengantar Aksara sampai pintu,
" ya pulang lah Mas, mau kemana.. nyonya ku rewel..."
" yah.. begitulah hamil muda, apalagi anak pertama.. "
" iya e Mas.. aneh aneh kelakuannya..
belum hamil saja sudah kalah, apalagi hamil.. wah.. kalah telak Mas.."
mendengar kata kata Aksara Ilham jadi tertawa,
" anak ini.. meskipun wajahnya dingin, tapi sikapnya hangat.. " ucap Ilham dalam hati.
" ya sudah, hati hati dijalan.. salam dengan Rania.. maafkan aku belum sempat menjenguknya.."
" tidak usah Mas.. Mas tenang tenang saja.. aku pulang dulu ya Mas.." .
Aksara sengaja mengambil rute sedikit jauh, karena ia berniat menuju membeli roti Maros
Aksara tiba tiba saja ingat, kalau istrinya pernah mencobanya sekali dan suka.
Karena tempatnya agak jauh saja Aksara jadi malas membelikannya.
sepulangnya dari membeli roti Maros Aksara mampir ke soto lamongan yang letaknya berada di sekitar Sudiang.
Jam setengah sepuluh, ia terlambat 30 menit,
__ADS_1
" di kira wes bubuk..?" ujar Aksara menemukan istrinya yang rebahan di sofa tengah.
" terlambat.." komentar Rania dengan mata sayu karena ngantuk,
" Mas beli roti sama soto lamongan.. ayo maem.." Aksara menaruh kantong kantong berisi makanan itu di atas meja makan, lalu mendekat ke istrinya.
" Hueekk...?!" respon Rania ketika di dekati Aksara,
" Ya masa aku mandi lagi Ran... ?" Aksara lelah dan frustasi,
" huekk..!" Rania bangkit dan segera berjalan menuju kamar mandi.
" Ini anak kok begini sekali sama bapaknya.. belum lahir tapi sudah mengintimidasi aku seperti ini.."
Aksara geleng geleng kepala sembari menyusul Rania ke arah kamar mandi karena khawatir.
Aksara memakai seragamnya, bersiap siap berangkat.
" Mas.. " Rania baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggenakan handuk saja.
" Dalem.." jawab Aksara,
" belikan kwaci.."
Aksara menoleh langsung ke arah istrinya,
" kwaci?" tanyanya heran,
" iya.. kwaci pengen makan itu.."
" apanya yang mau di makan?"
" ya isinya masa kulitnya Mas.."
Aksara mengangguk, ia melanjutkan kesibukannya memakai seragam, tapi perhatiannya teralihkan pada istrinya yang lalu lalang di belakangnya,
Aksara mencuri pandang melalui kaca yang ada di hadapannya.
" Haahhh... menyiksaku dengan sengaja..." gumam Aksara tak terdengar oleh Rania.
" Berat badanmu nambah berapa Ran?" tanya Aksara melihat Rania yang terlihat mulai berisi,
" kenapa memangnya Mas?"
" tidak apa apa.. senang saja melihatmu gemukan.. "
Melihat Rania yang mulai mengganti bajunya, Aksara yang sudah selesai dengan seragamnya itu mendekat,
" ku bantu berpakaian ya.."
Rania menggeleng,
" Tega Ran, sengaja iming iming Mas memang.." Aksara manyun,
" berangkat kerja Mas.. jam berapa ini??"
" jam enam lebih seperempat.."
" enggak.."
" Mas mandi lagi.."
" eng...nggak... , wes! Mas berangkat kerja.. " tegas Rania.
" Kenapa wajahmu seperti baju yang tidak disetrika berminggu minggu..?" komentar Farhan sambil tertawa sekilas, wajah Aksara benar benar tidak enak di pandang, dahinya berkerut dan kedua alisnya saling bertemu.
" Ya sudah pasti.. tidak di setrika sama Rania..." sahut Marlin dari ujung ruangan,
Aksara diam tak bergeming dengan apapun yang temannya katakan, kali ini dia benar benar merajuk.
__ADS_1
" Namanya orang hamil.. ya begitu, yang sabar..
nanti kalau usia kandungannya sudah besar kembali normal, tidak rewel.. tidak aneh aneh.. " Farhan menasehati,
" aku ketemu bang Ilham di pos 1.. " tambah Farhan membuat Aksara langsung fokus padanya,
" jadi bagaimana sa? kau sudah bicara dengannya?" tanya Farhan,
" sudah.. hari ini jadwalnya ke bintal dengan Wulan.." jawab Aksara lesu,
" waduh.. kenapa sampai begini ya ceritanya,
meski aku tidak suka dengan Wulan..
aku tetap sedih mendengarnya.."
" ya iya.. anaknya kasihan.." jawab Aksara.
Ilham berjalan mengikuti langkah istrinya,
ia berusaha meraih tangan Wulan.
" Pulanglah sebentar.. Ami rindu padamu.." ujar Ilham setelah berhasil menangkap tangan Wulan,
" aku sudah memintanya baik baik padamu, tapi kau yang bersikeras tidak memberikan Ami padaku.." jawab Wulan tenang.
" Bunuh saja aku.. kenapa kau sekejam ini? " Ilham menatap Wulan tak percaya, hatinya campur aduk rasanya, kesal kecewa tak berdaya.
" Kau merengek sekarang?" Wulan menatap Ilham tenang, seakan tidak ada hal besar yang terjadi.
" Anakmu.. setidaknya lihatlah dia sebentar, temani dia tidur sejenak, atau ajak makan.. "
" tidak.. kau menggunakan Ami untuk melemahkan ku, kau kira aku tidak tau?"
" bukan hanya kelemahanmu, tapi Ami juga kelemahanku..?! dia kelemahan kita..!" Ilham mulai kehilangan kendali.
" Semuanya sudah ku turuti, dan sekarang kau mempersulitku..?!" imbuh Ilham,
" dalam hal apa aku mempersulitmu?"
" jenguk Anakmu!" tegas Ilham kehilangan kesabarannya.
" kasihan anak kita.. dia terus saja bertanya tentangmu, setiap hari.. rasanya aku tidak sanggup,
setiap berbohong padanya hatiku sakit.." Ilham benar benar tidak sanggup lagi berbohong pada Ami, karena hampir setiap hari Ami bertanya kapan ibunya pulang,
hal itu benar benar menyiksa Ilham,
ada kekecewaan yang besar di hatinya, namun sulit untuk ia ungkapkan di hadapan Wulan.
melihat Ilham yang seperti itu Wulan menghela nafas panjang, ia tak menyangka akan melihat ilham dengan kondisi seperti ini,
laki laki yang tidak pernah tampak lemah di hadapan orang lain, yang wibawa dan ketegasannya tidak di ragukan lagi, sekarang menjadi sosok selemah ini.
Apa yang harus di lakukan, Wulan sebenarnya juga cukup bimbang, tentu saja ia rindu pada buah hati satu satunya,
tapi ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak kembali kerumah itu.
Kenangan yang ia miliki dengan Ilham cukup bisa membuatnya goyah,
karena itu dia cepat cepat angkat kaki dari rumah itu.
Harapannya ia bisa membawa Ami bersamanya, namun Ilham mempersulitnya.
" Sekarang kau tau bagaimana rasanya menjadi aku dulu?" suara Wulan membuat Ilham sontak menatapnya tak percaya,
" jadi, kau masih ingin membalas dendam padaku sampai detik ini..?
Ami tidak bersalah jangan libatkan dia.." suara Ilham bergetar, menahan gemuruh amarah di hatinya.
__ADS_1