Aksara Rania

Aksara Rania
Raihan


__ADS_3

Aksara menyuapi Rania dengan sabar meskipun Rania bersikeras bisa makan sendiri.


Keduanya membuat para perawat yang berlalu lalang merasa iri.


Bagaimana tidak, Aksara yang gagah itu selalu siaga untuk istrinya, senyumnya selalu manis di hadapan istrinya, namun ketika di luar ruangan tanpa istrinya wajahnya begitu serius dan tidak manis.


Setelah seminggu lebih di rumah sakit, akhirnya Rania di ijinkan pulang, dengan catatan tidak terlalu banyak beraktifitas.


Rania senang sekali mendengar itu, dirinya memang sudah bosan rebahan terus di atas tempat tidur rumah sakit, ia juga rindu putranya.


Rania ingin menimang dan menggendongnya.


" Aku bisa jalan mas?" ujar Rania ketika Aksara membawa kursi roda ke dalam kamar.


" jarak dari sini ke parkiran jauh, aku tidak mau kau sakit lagi"


" mas berlebihan, aku sudah baik baik saja.."


Aksara diam, ia dongkol dengan sikap istrinya yang meremehkan kesehatan dirinya sendiri.


" Pilihlah, naik kursi roda atau ku gendong?" ucap Aksara dengan wajah serius.


" Jangan bercanda mas.."


" bercanda apa, tidak ada yang akan mencemoohku, malah aku akan mendapat piala di mata orang orang karena menggendong istriku dengan sepenuh hati"


Rania menatap Aksara serius,


" apa?" tanya Aksara,


" tidak.. mas galak sekali sih hari ini.." jawab Rania setengah bergumam,


" ya sudah, kursi roda saja.." Rania pasrah saja ketika Aksara memindahkannya ke atas kursi roda.


" Tidak ada yang tertinggal mas?" tanya Rania ketika Aksara mulai mendorong kursi roda yang di duduki Rania keluar ruang perawatan.


" Banyak.." jawab Aksara datar,


" apa saja?" Rania mendongak ke arah suaminya,


" air mataku" jawab Aksara pendek membuat Rania gemas.


" ku pikir serius mas?!" suara Rania kecewa.


" Ya memang banyak air mataku yang tertinggal disini gara gara kau.. "


" jadi mas menyesal sudah menangisiku?"


" sama sekali tidak, yang ku sesali adalah kebodohan ku karena tidak bisa menjagamu baik baik..


bisa bisanya kau terluka di hadapanku.." omel Aksara sembari mendorong kursi roda yang di duduki istrinya hati hati.


" Aku yang salah, jangan menyalahkan dirimu.. aku membahayakan diriku sendiri dan anak kita.." sahut Rania.


" Sudahlah, yang penting kau dan Raihan sehat.. " ujar Aksara tak ingin memperpanjang apa yang sudah berlalu.


Rania diam, Suaminya tampak tak baik baik saja, wajahnya begitu lelah..


Kasiannya pikir Rania, apa dia sedih karena setelah ini harus meninggalkan anak dan istrinya untuk bekerja.


" Mas?" panggil Rania hati hati,


" hemm.." jawab Aksara tenang, namun matanya teliti mengawasi sekitar.


" Apa mas sedih karena setelah ini akan kembali ke makassar? meninggalkan aku dan Raihan?" tanya Rania tanpa memandang suaminya.


Mendengar itu langkah Aksara terhenti sejenak, ia kemudian tersenyum.


" Sudah dekat tuh.." ujar Aksara kembali mendorong kursi roda Rania.


Diam diam Aksara tersenyum, saking fokusnya ia merawat Rania, ia sampai sampai lupa..


bahwa ia belum memberi kabar pada Rania kalau dirinya sudah pindah.


Sesampainya dirumah Rania langsung menggendong Raihan, seperti biasa..


makhluk kecil itu sedang tertidur sembari sekali sekali menggeliat di balik selimutnya.


Kebahagiaan Rania terpancar dari wajahnya, ia melahirkan putra yang kata orang orang mirip dengannya.


Sementara kondisi dirumah sedikit Ramai dengan keluarga dan tetangga yang berdatangan karena tau Rania baru saja keluar dari rumah sakit.


Setelah Rania cukup lama menggendong Raihan dan berbincang dengan orang orang Aksara membawanya masuk ke dalam kamar.


Tentu saja karena Aksara takut istrinya itu kelelahan.


Dokter berpesan Rania tidak boleh terlalu banyak beraktifitas.


Aksara membaringkan Rania di atas tempat tidur,


" Aku belum mau tidur mas.." ujar Rania bangkit dan duduk bersandar pada tumpukan bantal.

__ADS_1


" Terserah, yang penting istirahat.." Jawab Aksara berjalan ke arah kamar mandi.


Rania yang diam diam memandang ke sudut kamarnya sedikit heran,


" lho?" ekspresi Rania penasaran , karena ia sungguh sungguh baru sadar kalau ada beberapa koper besar disana.


Dahinya berkerut,


" itu koper mas Aksa kan.." gumamnya kenal benar dengan koper koper berwarna navy itu.


" Mas?" panggil Rania pada Aksara yang baru saja keluar dari kamar mandi.


" Kenapa? lapar?" tanya Aksara yang hanya menggenakan celana pendek saja tanpa atasan itu.


" Itu koper mas kan?" tanya Rania,


Aksara menoleh ke sudut kamar,


" Oh iya, maaf aku lupa belum membereskan apapun.. aku sibuk bersamamu dirumah sakit.." jawabnya ringan lalu mengambil kaos putih polos dan memakainya.


" Kau tidak suka kamar terlalu banyak barangkan, aku akan membongkarnya besok ya.. sekarang aku ingin bersantai denganmu.." Aksara duduk di tepi tempat tidur, tepat di sebelah Rania.


Wajah Rania terlihat tidak puas dengan jawaban Aksara.


" Itu semuanya baju?" tanya Rania,


" iyalah.. seragam dan lain lain.." jawab Aksara mendekat.


Rania kembali diam, apa mungkin sengaja di cicil di bawa pulang, supaya kalau pindah nanti tidak banyak banyak membawa barang?, pikir Rania.


" Kapan mas kembali?" tanya Rania kemudian dengan wajah sedikit tidak senang, yah tentu saja siapa yang senang di tinggal suami.


" Kembali kemana?" tanya Aksara tersenyum, ia memandang istrinya lekat.


" Ya kembali ke tempat kerjamu mas.." jawab Rania, namum lagi lagi Aksara tersenyum dan memberi jawaban yang membuat Rania kesal.


" Aku disini saja.. menemanimu.." Aksara mencuri pipi istrinya, seperti sengaja menggoda.


" Dasar.. tidak serius.. aku ini sedih mau di tinggal..?!"


" jangan sedih.. aku tidak kemana mana.."


keduanya berpandangan, seperti saling berbicara dalam diam.


" Aku sungguh sungguh tidak akan kemana mana.." Aksara menyentuh pipi istrinya lembut.


" Aku minta maaf.. jika sebelumnya mengecewakanmu.. sehingga kau pergi meninggalkanku..


tapi sungguh Ran, aku tidak pernah menyimpan perempuan lain.. aku saat itu hanya ingin menyelesaikannya sendiri.. tapi malah membuatmu terluka dan kecewa padaku.." pandangan Aksara meredup, ia merasa bersalah.


terlalu impulsif.. aku pergi begitu saja tanpa berpikir dan mendengarkan penjelasan mu.." sahut Rania,


" Kau tau Ran, aku bukan tipe laki laki yang gemar bermain main di luar.. percayalah padaku ke depannya.. ?" suara Aksara memohon,


" mas juga.. jujurlah kepadaku apapun itu ke depannya.." suara Rania tenang.


" Iya Ran, aku tak akan berbohong lagi, apapun itu.."


" Apapun itu mas?" Rania mengulangi,


" Kau mau tanya apa, akan ku jawab.. aku seorang ayah sekarang, bukan hanya sekedar suamimu..


tentunya tanggung jawabku semakin besar,


aku tidak mau anakku punya bapak seorang pembohong, meskipun itu hanya berbohong kecil pada ibunya.." suara Aksara tegas.


Rania menghela nafas melihat suaminya yang seperti itu, kemudian ia tersenyum.


" Baiklah.. yang ingin ku tanyakan adalah..


apakah ada sesuatu yang belum mas katakan kepadaku..?"


Aksara tertunduk sembari tersenyum mendengar itu,


" aku tidak bermaksud apa apa sayang..


saking kagetnya dengan kejadian yang menimpamu dan saking senangnya ketika kau sadar,


aku sampai lupa mengabarkan sesuatu.." ujar Aksara dengan sorot mata penuh kasih sayang.


" Apa itu?"


" emhh.. beri aku hadiah dulu.." Aksara mendekat,


" hadiah apa?" Rania heran dengan permintaan suaminya.


" Apa saja.. ciuman juga tidak apa apa.."


Rania tertawa ringan,


" aku lupa.. kalau suamiku ini sudah berbulan bulan tidak tersentuh..

__ADS_1


inginnya aku menyenangkanmu mas, tapi sayangnya adat kita melarang kita sebelum 40 hari.. bagaiman ini.." Rania seakan senang sekali,


" aku tau.." jawab Aksara sedikit muram,


" tante Irma mewanti wantiku sejak kemarin.." imbuhnya.


" Lalu hadiahmu?"


" Aku hanya minta sebuah ciuman.."


" aku ragu mas, melihat sorot mata yang seperti akan menerkamku itu.." Rania lagi lagi tertawa.


Aksara yang kesal dan gemas sudah tidak tahan lagi.


Di rampasnya bibir istrinya itu tanpa aba aba,


" Aku rindu sekali menyentuhmu Ran, lebih baik ikat saja tanganku agar tak menyentuhmu.." keluh Aksara di sela sela ciumannya.


Rania yang juga rindu akan sentuhan suaminya itu pasrah.


Namun Rania tiba tiba tersentak ketika Aksara sudah membaringkan dirinya dan tangan Aksara dengan sigap mengangkat daster istrinya ke atas.


" Mass?!" Rania menangkap tangan suaminya yang sedang menarik dasternya itu.


" Sabar ya.. cuma kurang beberapa hari.." ucap Rania menenangkan suaminya.


keduanya berpandangan,


" aduhh... beberapa hari dari mana? dua minggu lebih itu bukan beberapa hari Rania.." keluh Aksara kalah, ia menjatuhkan dirinya kesamping Rania,


meredakan dirinya yang hampir saja melanggar pesan tantenya itu.


Wajahnya terlihat kecewa,


" Kemarin berbulan bulan bisa tanpaku.. kenapa beberapa hari saja sulit sekarang mas?" Rania menjatuhkan dirinya ke pelukan Aksara, keduanya berbaring sembari menatap langit langit kamar.


" Beda.. sekarang kau di hadapanku, suami mana yang tahan melihat istrinya terbaring begitu saja disampingnya.. apalagi setelah lama tidak bertemu.. " Aksara menjelaskan sembari setengah menggerutu.


" Tapi sudahlah.. akan ku tahan, toh aku bisa balas dendam nanti.." Aksara mengecup kening Rania.


" Balas dendam?"


" iya, aku akan minta sehari 3 kali, seperti jadwal minum obat.." nada Aksara serius.


" Ada ada saja mas.."


" aku serius.. lihat saja nanti, jangan mengeluh padaku ya?!" peringat Aksara.


Rania tertawa,


" memangnya mas tidak bekerja mau begitu terus? lagi pula mas juga akan segera kembali kan..?"


" sudah kubilang tidak, aku tidak akan kemana mana.."


" kenapa begitu? mas menungguiku sudah terlalu lama?" raut Rania khawatir.


Aksara tersenyum lalu mencium Rania untuk kesekian kali.


" Aku sudah pindah sayang, di hari aku pulang sebenarnya aku ingin memberimu kejutan, tapi kau malah tertimpa musibah..


jadi jangan khawatirkan pekerjaanku.. " jawab Aksara mendekatkan keningnya ke kening Rania.


" Apa ini sungguhan mas? mas benar benar pindah?" Rania masih tidak percaya.


" Aku mencintaimu Ran, kita akan selalu bersama..


kita akan membesarkan putra kita berdua dengan baik..


jadi jangan khawatirkan apapun dan serahkan segalanya padaku.."


keduanya berpandangan sejenak,


" terimakasih mas...aku juga mencintaimu.. terimakasih sekali karena sudah menyusul kami kesini,


bahkan membawa kabar yang sangat baik untukku..


leganya hatiku saat tau mas tidak akan pergi jauh lagi..


aku bersyukur sekali.." Rania memeluk Aksara, erat..


" aku juga bersyukur.. akhirnya kau mengucapkan juga kata cinta itu..


selama ini kita memang sudah menikah, tapi tak sekalipun kau berkata mencintaiku seperti sekarang.." ucap Aksara di penuhi rasa hangat di hatinya.


" Jadi... apa aku benar benar tidak boleh..?" ujar Aksara kemudian masih berharap mendapatkan hadiahnya.


" tidak boleh... " jawab Rania tegas.


Aksara diam, ia frustasi..


" tapi kalau yang lain boleh kan?" tanyanya kemudian,

__ADS_1


" Seperti?" tanya Rania, namun pertanyaannya itu tak mendapat jawaban karena Aksara buru buru menciumnya.


Entah apa yang akan Aksara lakukan, yang jelas Rania yang masih menjaga bekas jahitan di perut dan kakinya itu hanya bisa diam dan pasrah.


__ADS_2