Aksara Rania

Aksara Rania
pandanganmu membuat ku sesak


__ADS_3

Lima hari ini Aksara benar benar pontang panting mengurus pengajuan nikah,


Rania yang sama sekali tidak faham tentang proses itu hanya bisa patuh mengikuti arahan Aksara.


Matahari sudah turun, pertanda hari sudah mulai sore, Aksara berjalan ke arah parkiran dan Rania mengikuti di belakangnya.


Wajah Rania terlihat lelah sekali, mungkin karena gugup di sertai takut seluruh tubuhnya tegang sehingga sekarang rasa lelahnya menyerbu.


" ijin..! " tiba tiba seseorang muncul dan berdiri di hadapan Aksara, tangannya membawa sekantong penuh makanan dan minuman.


" hemm,trimakasih ya ton.. " kata Aksara menerima kantong berisi makanan itu,


" siap!" jawab toni lalu segera berjalan pergi,


Rania hanya diam saja melihat itu, ketika aksara masuk ke dalam mobil ia pun ikut masuk.


Sepanjang perjalanan Aksara diam, dan Rania sudah terbiasa dengan itu, Aksara hanya bicara seperlunya saja dengan nya, walaupun wajahnya terlihat lelah sekali mulai dari awal Rania datang Aksara tidak mengeluh sama sekali.


Andaikan itu dimas, Rania pasti sudah mengomel kemana mana karena tidak beristirahat dengan baik.


Tapi karena yang di hadapannya ini adalah Aksara.. sepertinya diam lebih baik untuk Rania.


Rania baru saja selesai menganti bajunya, dan berencana untuk rebahan sejenak dan menelfon bapak, namun tiba tiba pintunya di ketuk.


" Ayo makan! " Suara Aksara di balik pintu,


sontak rania berjalan ke arah pintu dan membukanya,


" iya mas.." jawab rania pelan.


Keduanya makan dengan tenang, Rania mulai tidak begitu takut dan kikuk lagi dengan Aksara, mungkin karena 5 hari ini mereka selalu bersama, mereka selalu makan berdua seperti ini.. bahkan Aksara bersikap selayaknya calon suami yang baik di hadapan rekan dan anggotanya, ia mengurangi sikap dinginnya ketika ada orang lain di samping mereka.


Dan Rania menyadari itu semata mata hanya karena kepantasan.

__ADS_1


" Bawalah ke kamarmu " Aksara memberikan kantong berisi makanan dan minuman ringan yang tadi di beli oleh anggotanya.


" Tadi aku menyuruh Toni membeli camilan untukmu, aku tidak mau ada kalimat kau makin kurus setelah bersamaku.. tante Irma yang cerewet itu memberi tahuku kau suka makan camilan" ujar Aksara membuat Rania sedikit heran, manusia yang lebih mirip kulkas ini memberinya sekantong cemilan?.


" Aku bukan anak kecil.. kenapa mas memberiku biskuit dan susu.. mas lupa aku sudah bukan anak SMA.." jawab rania sedikit merasa aneh tiba tiba di beri sekantong biskuit, coklat dan susu.. dan itu semua adalah cemilan masa SMA nya.


" Itu karena tubuhmu terlalu kecil untuk usiamu,kau tidak mau? " tanya Aksara melihat Rania seperti enggan menerima.


" Mau mas.. trimakasih.." jawab rania mengambil kantong itu.


" Apa maksudnya aku kekurangan gizi, tubuh q memang kecil tapi bukan berati aku kekurangan gizi!" Rania menggerutu dalam hati, ia tiba tiba ingat sosok Aksara yang selalu memperlakukan nya seperti anak TK meski dirinya sudah kelas 2 SMA.


Saat itu Aksara adalah sosok yang penyayang dan perhatian, ia selalu menjemput Rania pulang sekolah jika sedang tidak berdinas.


Malam minggu pun Aksara tidak pernah keluar dan berpacaran seperti teman teman lainnya, ia selalu ada dirumah menghabiskan waktu dengan rania.


Namun entah kenapa Aksara yang di hadapan nya ini sekarang seperti seseorang yang jauh berbeda, itu yang membuat Rania sering terdiam dan berfikir.


" Ke depannya, jangan ragu untuk mengatakan apapun kebutuhanmu kepadaku, karena aku akan menjadi suamimu " Aksara menatap Rania,


" Apa kau ada keluhan terhadapku?" imbuhnya,


" tidak mas.." jawab Rania pendek,


" Kenapa tidak ada? bukankah hatimu selalu menggerutu karena harus selalu bersama ku beberapa hari ini.." Aksara mulai lagi, kalimatnya benar benar tidak enak di dengar.


" Bukan aku yang meminta pernikahan ini, jadi jangan membuatku seperti orang jahat yang memaksamu menikah..


bagaimana dengan pacarmu,apa dia sudah tau kalau kau akan menikah dengan laki laki lain? " tambah Aksara melihat Rania yang menutup mulutnya rapat rapat, Rania benar benar tidak ingin menjawab apapun, ia kesal sekali..


baru saja ia memberikan sekantong cemilan dan menyuruh Rania banyak makan, namun sekarang ia malah membuat nafsu makan rania menghilang.


" Kau kesal dengan ku? " tanya Aksara menatap Rania teliti,

__ADS_1


" tidak mas.."


" lalu kenapa kau diam saja, kukira ketakutan mu padaku sudah mulai hilang beberapa hari ini..


lalu kenapa kau masih saja diam dan tidak bicara banyak padaku,


setidak nya bicaralah.. aku ingin sedikit bijaksana dengan memberimu ruang.. "


nada Aksara tenang,


" Bagaimana aku bisa menggunakan ruang itu mas, sementara pandangan mu padaku saja sudah membuat sesak.. " jawab Rania memberanikan diri, dengan mata menatap ke meja.


Ia sama sekali tidak berani menatap Aksara, pandangan Aksara selalu bisa membuatnya tidak tenang.


" Maksud mu aku meng intimidasi mu dalam setiap tatapan ku?" tanya Aksara serius.


" Mas selalu menakuti ku, mas selalu memandang rendah aku, seperti aku ini orang yang tidak baik dan tidak layak.." suara Rania sedikit bergetar.


Mendengar itu Aksara sedikit kaget, karena kalimat rania itu dirasa sangat bertolak belakang dengan pandangan Aksara pada rania.


Aksara menghela nafas pelan, menata perasaan nya, lalu bertanya dengan tenang.


" Baiklah.. sekarang katakan padaku harus bagaimana aku bersikap,


aku akan belajar menjadi suami dengan sikap seperti yang kau ingin kan.."


" Tidak usah mas, jadilah diri mas sendiri..


jangan berubah hanya demi menyenangkan aku, aku orang asing yang tiba tiba menjadi adik tiri mu dan tiba tiba pula berubah menjadi calon istrimu.." jawab Rania masih dengan suara bergetar, ia menahan air matanya agar tidak menetes.


Entah kenapa hatinya sakit sekali.


" Aku mau tidur dulu mas, selamat malam" Rania bangkit dan berjalan ke arah kamar nya yang terletak paling belakang sehingga jauh dari kamar Aksara.

__ADS_1


__ADS_2