Aksara Rania

Aksara Rania
Chat Aksara


__ADS_3

Mbak Yuni dan tante Irma sedang sibuk di dapur, mereka sedang membuat param untuk Rania.


sudah berhari hari ini kaki Rania bengkak, wajahnya pun kelihatan pucat.


" Makannya bagaimana mbak Yun?" tanya tante Irma mencuci beras, ia akan memasak bubur untuk Rania.


" Makan budhe.. tapi porsinya berkurang, biasanya suka martabak kan budhe, tapi pas mas Dimas kesini sama mbak Jihan bawa martabak, malah nggak di sentuh blas budhe.. "


jelas mbak Yuni membuat tante Irma makin heran.


" Opo o yo arek iri sakjane mbak ( kenapa ya anak ini sebenarnya mbak)..." tanya tante Irma khawatir.


" Pikirannya itu lho budhe, tidak bisa santai..


beberapa hari yang lalu ada mbak Wulan kesini.. setelah mbak Wulan pulang menangisnya lebih sering.."


" Wulan? wulan yang pernah di jodohkan dengan Aksa itu?" budhe Irma memastikan.


" Inggih budhe.. "


" buat apa dia kesini mbak? kok kamu nggak bilang bilang?!"


" awalnya mau bilang, tapi pas saya lihat mereka baik baik saja.. saya ndak jadi bilang ke budhe.." jawab Yuni,


" Bicara apa Wulan?" tante Irma penasaran, takut Wulan berbicara hal hal yang buruk pada Rania.


" Ndak terlalu jelas.. tapi sepertinya mbak Wulan menasehati dan menjelaskan sesuatu..


saya juga sedikit mengintip dari jendela samping, kalau mbak Wulan memeluk mbak Rania sebelum pulang.." .


Tante Irma terdiam,


" Mosok seh mbak?" tanyanya kemudian masih tidak percaya,


" mbak Wulan sama suaminya kesini budhe, tapi suaminya duduk di teras..


ganteng ya budhe suaminya, putih kulitnya..


lha begitu dulu kok ganggu mas Aksa terus?" ujar mbak Yuni.


" Jenenge wong lanang yo ganteng mbak Yun, mosok ayu ( namanya laki laki ya ganteng mbak Yun, masa cantik)..?!, wes wes.. sudah selesai belum paramnya?"


" Sudah budhe.." jawab mbak Yuni sembari menyerahkan param yang sudah di pindahkan ke mangkok kecil.


" Aduk buburnya ya mbak, saya oleskan param ke Rani dulu" ujar tante Irma lalu beranjak dari dapur menuju ke kamar Rania.


Sesampainya di kamar tante membuka tirai yang menutupi jendela.


" Bagaimana sinar matahari mau masuk kalau jendelanya tidak di buka.. kau butuh udara segar nduk..." si tante kemudian duduk disamping Rania yang membaringkan dirinya di atas tempat tidur sejak pagi.


"Dingin te.. jangan di buka jendelanya.." ujar Rania lirih, itu membuat tante Irma mengurungkan niatnya membuka jendela.


Tante Irma memperhatikan keponakannya itu dari atas ke bawah,


ada pedih yang menusuk hatinya, bagaimana bisa kondisinya menyedihkan begini di saat hamil besar.


Harusnya Aksara dan Rania bersama untuk menyambut kelahiran buah hati mereka, tapi keduanya malah ribut karena hal yang tak jelas, tante Irma mengeluh dalam hatinya.


" Seng mbok pikir opo tho nduk ( yang kamu pikirkan apa nak)..? kok makin hari bukannya sehat malah seperti ini?" tanya tante Irma sembari membelai kepala Rania.


" Tidak ada te.." jawab Rania lirih,


" mana mungkin, biasanya perempuan kalau sedang hamil besar itu doyan makan.. jalan kesana kemari..".


Tante Irma menaikkan daster Rania sampai ke atas lutut dan mengoleskan param perlahan di kedua kaki Rania.


" Apa kau mau diantar ke makassar?" tanya tante Irma,


" tidak te.. saya disini saja.." jawab Rania dengan ekspresi sedih.


" Kau ndak kangen suamimu..?" tanya tante Irma lagi seakan tau Rania menahan rindu, tentu saja.. tante Irma juga pernah muda.


Rania diam saja, ia tak menjawab.


" Biar ku telfon suamimu ya?"


" jangan te.. ?"


" kenapa??"


" mas Aksa sibuk.. kasian kalau dia wira wiri, harga tiket pesawat juga tidak murah.. aku kasian.." jawab Rania dengan sorot mata sedih.

__ADS_1


" Nduk.. bukakah di awal awal kalian menikah Aksara juga sering pulang? kau tidak pernah memikirkan hal hal seperti tiket pesawat atau kesibukannya sebelumnya,


lalu kenapa sekarang kau membicarakannya?


nduk.. nduk..


suamimu itu sayang padamu nduk.. dia akan selalu mengusahakan semuanya demi dirimu.." ujar tante Irma kalem.


Rania lagi lagi diam, entah apa yang sedang dia pikirkan.


Tante Irma berjalan keluar kamar Rania, setelah di pijit pelan pelan oleh tante Irma, Rania tertidur pulas.


Tante Irma berjalan ke arah dapur, ia mencuci tangan nya yang penuh dengan param.


" Budhe? mas Aksa tadi telfon saya.." Yuni mendekat,


" mbak Yuni nggak bilang kalau kaki Rani bengkak?"


" sampun, saya juga bilang kalau mbak Rani kurang sehat.."


" terus?"


" mas Aksa masih ada urusan, belum bisa pulang minggu ini, mungkin 2 minggu lagi katanya.."


" lho? kok malah dua minggu lagi?!"


" Katanya urusannya mendesak budhe..


mas Aksa minta tolong bawa mbak Rani periksa dan USG.."


tante Irma terdiam, ia kesal sekali dengan kondisi kedua keponakannya ini.


" Ya wes, nanti biar ku telfon sendiri dia mbak" jawab tante Irma menahan diri.


Aksara menyentuh dadanya sembari tersenyum, ia menghela nafas beberapa kali seperti lega, hatinya di penuhi rasa syukur pada sang pencipta.


Marlino dan Farhan pun turut senang dengan ekspresi temannya yang tampak bahagia itu.


" Kau senang ya meninggalkan kami?" tanya Marlin bahagia namun juga sedih.


" Tidak begitu.. kelak kita pasti berkumpul lagi.." jawab Aksara dengan raut yang berubah menjadi sedih dengan kata kata Marlino.


" Bukankan kita memang selalu seperti ini? bertemu dan berpisah lalu bertemu lagi..? jangan berkata kata seakan kita tidak akan bertemu lagi.." lanjut Aksara.


" Pergilah.. besarkan anakmu di jawa sesuai impianmu.. " ujar Marlin tersenyum mengerti.


Aksara tersenyum,


" Bantu aku jual rumahku ya han?" pinta Aksara pada Farhan,


" serahkan padaku.. kau fokus saja urus keperluanmu dan kemasi barang barangmu.." jawab Farhan.


" Mumpung masih ada waktu beberapa minggu, aku juga mau jual perabotanku.."


" iyalah, toh rumahmu di jawa sudah penuh perabotan.. kecuali kau mau bangun rumah lagi.."


" Tidak.. kalau rumah disini sudah laku aku mau beli tanah, aku mau belajar jadi petani di akhir pekan Han, aku sudah pernah bicara dengan istriku..


mungkin kami akan menanam sayuran dan umbi umbian..


selain bisa di konsumsi sendiri, itu juga bisa di jual..." Aksara meringis,


" tetap.. penghasilan ujung ujungnya.." gerutu Marlin.


" wahh..." komentar Farhan,


" kenapa?"


" kau membuatku iri.. bisa berkebun di akhir pekan.. menanam sayuran dan buah.. itu membuatku sakit hatii...." ujar Farhan dengan raut kecewa, membuat Aksara dan Marlino tertawa.


" Kau bisa menanam bawang di pot.. setidaknya istrimu akan memujimu karena kau memudahkannya dalam urusan dapur.." ucap Marlino.


" Eh Sa.., kau sudah memberi kabar bahagia ini pada istrimu?" tanya Marlin,


" belum.."


" kenapa?? beri tahu dialah.."


Aksara diam sejenak,


" jangan bilang kau yang gantian ngambek?" Marlin bertanya serius.

__ADS_1


" Lalu kenapa tidak kau beritahu istrimu?" tanya Farhan juga.


" Aku ingin memberinya kejutan.." jawab Aksara terlihat antusias,


Marlin dan Farhan berpandangan,


" Ya sudahlah terserah dirimu saja.. yang penting kalian baik baik saja.." ujar Marlin.


" Kasian sebenarnya.. aku ingin pulang dulu..


tapi ada banyak hal yang harus ku urus.." jawab Aksara sedikit bimbang.


Rania tertidur seharian setelah di pijat tante Irma,


ia bangkit dan duduk perlahan.


Menatap kaca yang menempel di meja rias.


Memandang bayangannya sendiri yang terpantul dari kaca.


Di lihatnya dirinya baik baik..


dirinya tampak lusuh,


dia yang tak mempunyai mata panda, mempunyai mata panda yang cukup jelas sekarang.


bekas bekas tangisannya juga masih terlihat jelas karena matanya yang sembab belum pulih seutuhnya.


Diam diam ia mengambil HPnya.


Raut wajahnya berubah seketika melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dan chat dari Aksara.


- Ran.. apa kau masih marah?


- kenapa telfonku masih tidak di angkat?


- maafkan aku Ran..


- tidak ada disampingmu saat kau membutuhkanku..


- kata mbak Yuni kau sakit..


- kakimu bengkak?


- pergilah ke dokter dengan tante Irma,


- bukanya tidak mau pulang..


- tapi ada urusan mendesak yang harus ku selesaikan sebelum aku pulang..


- aku janji setelah ini akan selalu disampingmu..


- menjagamu dan anak anak kita..


- Ran...


- jangan marah lagi,


- aku mencintaimu..


- tidak ada wanita lain selain dirimu..


- apa kau sedang tidur Ran?


- telfon aku ya Ran?


- jangan marah lagi..


- aku mencintaimu..


Rania membaca chat Aksara yang panjang lebar itu..


Diam diam ia tersenyum,


ada rasa hangat yang yang menjalari hatinya.


Entah kenapa hanya dengan membaca chat itu Rasanya bahagia sekali.


Kekosongan yang ia rasakan di hatinya tiba tiba saja terisi,


seperti baterai yang mendadak terisi penuh.

__ADS_1


Ia menyentuh pipinya sendiri yang mulai hangat karena malu,


bisa bisanya dia bersikap seperti anak remaja yang sedang merindu kan kekasihnya seperti ini.


__ADS_2