Aksara Rania

Aksara Rania
Bapak


__ADS_3

Suasana rumah itu kembali sepi setelah acara pernikahan 2 hari yang lalu,


Aksara yang mengambil cuti 2 minggu benar benar meluangkan waktu dengan Bapaknya,


Anak yang sudah bertahun tahun tidak menemani Bapaknya bermain catur sekarang mulai menemani Bapaknya bermain catur lagi.


" Pak.. ?" terdengar suara seorang laki laki masuk ke dalam rumah,


" enakan pak..?" suara dimas kalem,


" alhamdulillah.. ndak ngajar tho?, lek ra ngajar rene dulinan karo bapak.." kata Bapak pada Dimas, Bapak terlihat lebih segar dan bahagia.


Namun tidak dengan ekspresi Aksara, sikapnya sama sekali belum bisa di katakan ramah atau bersahabat.


" Mau cari Rania Pak.. " jawab Dimas,


" Rania nya dimana nggih Mas?" tanya dimas pada Aksara, tak sopan rasanya mencari istri orang tanpa bertanya pada si suami sementara si suami ada di hadapannya.


" Sepertinya di dapur" jawab Aksara pendek.


" Sudah langsung ke dapur saja, cari sendiri.. " kata Bapak sambil memindahkan pion nya tanpa melihat Dimas,


" Anu.. Tolong panggilkan bisa Mas??" pinta Dimas pada Aksara yang diam saja sejak tadi.


Rasanya kurang ajar kalau setelah Rania menikah ia masih berani masuk masuk ke dapur, karena itu Dimas harus berhati hati dalam bersikap.


" Maaf bukan maksudnya memerintah Mas, tapi.. Rania kan sudah menikah sekarang, meski saya teman baiknya rasanya tidak pantas saja kalau saya masuk sampai ke dapur..


saya juga takut mas berfikir buruk pada saya.." jelas Dimas,


Aksara yang mendengar itu menghela nafas ringan lalu bangkit dari duduknya,


" ku panggilkan sebentar " jawab Aksara lalu berjalan ke arah dapur.


"Serem pak..." keluh Dimas setelah Aksara pergi,


mendengar itu bapak tertawa,


" Pintar membaca situasi kamu le.., Aksara menyukai orang yang tau batasan.. " komentar Bapak.


Sedangkan di dapur Rania sedang sibuk memotong bawang, saking fokusnya dengan bawang sampai sampai Rania tidak sadar Aksara datang.


" Pacarmu di depan tuh " suara Aksara mengagetkan Rania sampai sampai jarinya ter iris,


" apa kau ini anak SD?, bisa bisanya kau mengiris jarimu sendiri?!" Aksara mendekat dan memegang telunjuk kiri Rania yang banyak mengeluarkan darah itu.


" Mas yang kagetin orang kok mas yang marah?" gerutu rania dan terdengar Aksara,


" Apa salahku? tiap aku bicara kau kaget? apa salahku? juga kau selalu takut kepadaku?" ganti Aksara mengomel,


ia membersihkan jari rania dari darah,


lalu pergi sejenak dan kembali membawa betadine dan plester.


" Kau tidak takut berdekatan dengan laki laki lain, tp kau selalu waspada setiap berdekatan denganku " omel Aksara membuka plester dan menempelkannya di telunjuk Rania yang terluka.


" Padahal dulu kau menempel seperti plester kepadaku..


sudah sana, si pak guru itu mencarimu " ujar Aksara melepas kan jari Rania,


Rania tidak berani memandang Aksara, ia berlalu pergi begitu saja.


"Tante?! tante Ir?!!" panggil Aksara bercampur kesal karena pintu kamarnya tergembok.


" Tante Irma sudah pulang Mas.." jawab mbak Yuni mendekat,


" terus mana kunci nya? bisa bisanya dia menggembok kamar ku??" Aksara menurunkan nadanya takut Bapak mendengar pembicaraannya.


" Tidak ada mas, di bawa tante Irma..


barangnya mas Aksara sama mbak Rania sudah di pindahkan ke kamar yang lebih besar di sebelah kamar Bapak,

__ADS_1


Kamar lain juga di gembok sama tante Irma Mas.." jelas Yuni membuat Aksara mengatupkan bibirnya menahan kesal.


" ya sudah.. buatkan saya kopi dan taruh di balai." Aksara berlalu sambil menahan kesal.


Bapak yang mendengar pembicaraan itu samar samar memanggil Rania,


entah apa yang Bapak bicarakan dengan Rania,


tapi mereka berbincang cukup lama hingga waktu menunjukkan jam 9 malam.


Aksara yang sedikit khawatir melihat Rania dan Bapak di kamar berdua, jangan jangan Bapak tau kalau sudah berhari hari keduanya tetap tidur di kamar masing masing, karena itu Bapak memanggil Rania.


Rania masuk ke dalam kamar yang di persiapkan untuknya dan Aksara,


Wajah Rania tampak tenang ketika tau Aksara sudah tidur duluan di atas tempat tidur.


Entah apa yang di katakan Bapak, tapi rasa canggung Rania sudah menghilang.


Diam diam ia menatap sosok Aksara yang sedang tertidur.


Rania menghela nafas pelan, lalu memegang dadanya sejenak, seperti ada yang ingin ia tenangkan..


Hatinya bercampur aduk tidak karuan.


Sebenarnya ia ingin sekali bicara baik baik dengan Aksara, kenapa ia bersikap membingungkan seperti itu padanya,


kadang acuh dan sinis, kadang juga perduli namun ragu ragu.


Ia berbeda dengan Aksara bertahun tahun yang lalu..


Ia adalah seorang kakak yang hangat dan perhatian,


Bagi rania, meski seorang kakak tiri tapi Aksara tidak seperti seorang kakak tiri.


Dulu.. untuk ukuran Rania yang masih SMA sosok Aksara terlalu sempurna..


sehingga Rania tak bisa memandang laki laki lain selain Aksara..


Semua laki laki selalu kurang di mata Rania karena sikap Aksara padanya.


Lagi lagi tanpa di sadari Rania menghela nafas, dan itu terdengar oleh Aksara yang sebenarnya belum tertidur.


"Apa seberat itu tidur disampingku?" tanya Aksara berbalik menatap Rania yang duduk disampingnya.


Deg! Rania kaku seketika, Ia tidak menyangka Aksara belum tertidur dan sekarang sedang memandangnya dengan teliti.


Pandangan keduanya beradu, dan Rania tidak mungkin lari dari pandangan itu.


" Aku disini karena tante Irma, bukan karena mau ku sendiri, " suara Aksara pelan karena takut Bapak mendengar.


Rania diam cukup lama, ia memandang Aksara dengan berani untuk pertama kalinya setelah 10 tahun ini.


" Aku tidak pernah takut padamu Mas, jangan selalu berfikir buruk tentang diriku.." jawab Rania membuat Aksara bangkit dari posisi tidurnya,


" Apa namanya kalau tidak takut.. kau bahkan mengiris tanganmu tadi siang hanya karena aku datang ke dapur tiba tiba " tanya Aksara duduk menghadap Rania,


" si Dimas itu, apa dia sudah biasa masuk sembarangan ke dalam rumah?" entah kenapa Aksara tiba tiba membahas Dimas,


" kenapa tiba tiba membicarakan orang lain?"


" kenapa? kau tidak suka kekasihmu ku bahas?"


" sudah ku bilang dia bukan kekasihku Mas..!" tegas Rania dengan nada terkendali,


" Mana ada teman yang rajin datang kerumah temannya yang sudah bersuami seperti itu?"


" kami sudah berteman sejak kuliah, Bapak sudah menganggapnya anak sendiri.."


" benarkah?, belajar bersama,pulang dan pergi bersama, bahkan masih terus datang kerumah setelah lulus?


oh.. iya.. bahkan bekerja di sekolah yang sama.. " nada Aksara sedikit menyakitkan,

__ADS_1


Rania diam sejenak mendengar itu, ia menguasai emosinya..


" Kenapa...?" tanya Rania pelan,


" apanya kenapa? " tanya Aksara balik,


" Kenapa Mas seperti ini.. kalimat yang Mas lontarkan seperti selalu sengaja menyakitiku..


kadang kadang mas baik, kadang kadang mas membuatku sesak.." Rania mulai berkaca kaca, ia kesal sekali pada sikap Aksara yang tidak jelas maunya itu apa.


" ini baru 4 hari kita menikah.. aku tidak membayangkan seumur hidup akan mendengar kalimat kalimat pedas mu itu Mas..


apa kita berpisah saja, mumpung masih 4 hari?" Rania menekan perasan nya, awalnya ia merasa kasihan pada Aksara karena penjelasan penjelasan Bapak,


tapi setelah mendengar ucapan ucapan sinis Aksara.. ia kesal sekali,


sepertinya apa yang di katakan Bapak itu tidak mungkin.


" kita bicara saja besok pagi, Aku akan tidur di sofa.." Rania bangkit dan berjalan ke arah pintu,


namun Aksara menyusulnya dan mengendong Rania dengan cepat, membawanya kembali ke arah tempat tidur dan membaringkan tubuh Rania sedikit kasar.


" Kau bicara perpisahan setelah menikah 4 hari denganku?" suara Aksara tajam, ia menahan tubuh Rania dengan kedua tangan nya,


" apa aku terlalu sabar padamu? sampai kau lupa kalau aku adalah suamimu sekarang.." tegas Aksara lirih, di dekatkan bibirnya di telinga Rania agar Rania mendengarnya dengan jelas.


" Bisa bisa nya kau membicarakan perpisahan dalam kondisi seperti ini.." Aksara terlihat kecewa sekali dengan kata kata Rania.


" Apa aku perlu menyentuhmu supaya kau sadar dirimu ini siapa..!" imbuh Aksara tegas.


Tanpa bertanya apapun lagi Aksara mencium Rania dengan paksa,


sedangkan Rania yang bertubuh kecil tentu saja tidak bisa melawan,


Aksara yang sekarang di tunggangi amarah tidak bisa merasakan Rania yang sesak dan berusaha melawan karena himpitan tubuh Aksara.


" Mas?! kau menyakitiku?!" suara Rania lirih, air matanya mengalir begitu saja.


Aksara yang sudah lupa diri terus saja menjelajahi leher Rania.


" Duk! duk! duk!!!" tiba tiba terdengar suara pintu kamar di gedor, iya pintu itu di gedor bukan lagi di ketuk,


" Mas Aksa?!!! Mbak Rani?!!!!" suara Yuni keras,


" Bapak mas!!" mendengar nama Bapak Aksara seketika sadar,


ia bangun dari tubuh Rania yang dimana tubuh bagian atas Rania sudah tidak tertutupi sehelai benang pun,


Aksara pun juga begitu ia buru2 mengambil kaosnya dan buru buru berjalan ke arah pintu.


" Bapak kenapa?!" tanya Aksara dengan suara keras, namun melihat air mata yang deras di wajah mbak Yuni dia segera berlari ke kamar bapak,


Rania juga menyusul sambil tergesa gesa memakai baju tidurnya, ia menghapus sisa air mata di sudut matanya agar tak terlihat oleh mbak Yuni.


Sesampainya di kamar Bapak, Rania sudah melihat Aksara terduduk lemas di lantai,


Ia terisak sambil menggenggam jemari Bapaknya.


Sedangkan Bapak, ia tampak seperti tidur tenang,


Lalu kenapa Aksara menangis seperti itu,


Rania segera berlari ke kamar mengambil ponselnya,


Ia segera menghubungi dokter yang biasa datang kerumah mereka.


" Bapak.. bapak...? "


tangan Rania tiba tiba gemetar mendengar suara Aksara yang menyayat hati,


" Bapak... Bapak.. buka mata Pak.. Bapak.. ???" Aksara terisak tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2