
Beberapa hal yang kurang menyenangkan terus terjadi beberapa hari ini, suasana pun semakin sunyi.
Aksara lebih acuh, suaranya tak terdengar sedikitpun.
Terhitung sudah seminggu keduanya saling diam, baiknya Aksara adalah.. semarah apapun ia terhadap Rania ia tetap tidur di dalam kamar, ia menyadari istrinya sedang tidak sehat karena itu ia tidak mau jauh jauh,
hanya saja ia baru masuk ke dalam kamar ketika Rania sudah tertidur.
Aksara sedikit bingung dengan kondisi istrinya yang kadang membaik kadang kurang sehat, saat Aksara berniat bicara dan mengajaknya periksa ke dokter tiba tiba saja Rania tampak sehat dan berjalan jalan kesana kemari.
Tapi ketika Aksara sudah tenang dan mengira Rania sembuh tiba tiba saja ia melihat Rania pucat dan tiduran seharian.
" Masih tidak bicara dengan benemu?" tanya Marlin duduk disamping Aksara yang sedang duduk mencari angin di sebelah kolam ikan.
Kebetulan tempat itu lumayan sepi, apalagi saat istirahat begini, semua anggota yang tinggal di asrama rata rata pulang untuk makan siang dan rebahan sejenak dirumah.
" Aku khawatir.. " suara Aksara pelan,
" masih sakit dia?"
" kadang sehat.. kadang seperti orang mabuk.."
" ajak ke dokter.. ?"
" aku ingin bicara, tapi.. " Aksara terhenti,
" tapi apa ji' ?"
" Aku masih kesal.. bayangkan, aku dengan khawatirnya mengolesi badannya dengan minyak kayu putih..
tapi dia malah berbalik badan dan menjauh..
apa karena dia memikirkan laki laki lain..
dia sudah tidak suka lagi ku sentuh.."
Marlin melihat ekspresi Aksara yang lesu,
" laki laki yang di jawa itu?" tanya Marlin memastikan,
" ya.." jawab Aksara pendek dengan pandangan lurus ke depan.
" Kau mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi.. "
" kalau aku diam saja mungkin akan terjadi..
apa aku tidak usah kembali ke jawa saja..?" nada suaranya terlihat resah dan bimbang,
" sekarang ku tanya.. istrimu bilang apa?"
" dia bilang tidak ada hubungan dan tidak terjadi apapun.."
" lalu perasaanmu tentang itu?"
" yah.. aku yakin istriku tidak berbuat hal hal yang di luar batas, tapi hatiku ini.. " lagi lagi Aksara menghentikan ucapannya, ia terdiam sedikit lama.
__ADS_1
Marlin menghela nafas melihat aksara yang seperti itu,
" apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Marlin,
" takut.." jawab Aksara pendek, suaranya tertahan.
" Aku takut kehilangan istriku.." imbuhnya,
Marlin diam, ia sedikit heran..
Aksara yang tegas, bahkan yang paling tegas diantara dia dan Farhan bisa selemah ini perkara istri.
" Jangan berlebihan.. itu tidak akan terjadi.." ucap Marlin menenangkan,
" tidak.. laki laki itu, terus saja memperhatikan istriku..
perasaanku tidak enak..?"
" kau berlebihan sa.. kasihan istrimu kalau kau berlebihan seperti ini.."
" jadi kau anggap aku berlebihan? bagaimana jika hal ini terjadi pada istrimu? " Aksara menatap Marlin,
" ya.. aku pasti kesal.." jawab Marlin lirih,
" laki laki itu bahkan berani memberi istriku hadiah.."
kali ini Marlin terdiam.. ia tidak mengatakan apapun.
" Rania setia padaku.. aku tau itu, tapi.. kalau kami kembali ke sana, dan laki laki itu terus saja mencari kesempatan..
Marlin masih diam, ia menundukkan pandangannya, ia bingung harus berkomentar apa untuk sekarang.
" Aku sudah menjelang 34 tahun.. dan usia istriku masih 25 tahun, aku bahkan belum punya anak di usiaku yang sekian..
menurutmu apa yang ku rasakan..
Aku memang diam, tidak pernah mengeluh..
aku menerima apapun yang di berikan Tuhan kepadaku..
tapi bukan berarti aku tidak pernah berfikir..
bahkan saat istriku sedang tidur di pelukanku pun aku masih sering berfikir..
apakah aku bisa membahagiakannya.."
" sudah.." Marlin menepuk bahu Aksara,
" Aku tidak sanggup mendengarkan keluhanmu..
kau jarang mengeluh, tapi sekalinya kau mengeluh kau membuat selera makan ku hilang.." imbuh Marlin tetap duduk disamping Aksara sampai waktu istirahat siang berakhir.
Aksara melihat jam dinding, rupanya sudah cukup malam, Rania pasti sudah tidur pikir Aksara.
Dan benar saja.. ketika Aksara masuk ke dalam kamar Rania sudah terbaring dengan posisi miring membelakanginya.
__ADS_1
Aksara membaringkan tubuhnya di samping Rania, bau minyak kayu putih tercium dimana mana.
Aksara menghela nafas berat, ia menatap punggung istrinya beberapa kali, ingin sekali memeluknya..
berada disampingnya tapi tak bisa menyentuhnya rasanya tidak menyenangkan.
Ia bisa saja menarik istrinya ke dalam pelukannya, tapi ia takut semakin menambah masalah.
Aksara bergerak, ia berbalik ke arah istrinya,
"tak apa meski harus tidur menatap punggung.. " ucap Aksara dalam hati, namun tak sengaja kakinya menyentuh kaki Rania,
Rania tidak bergerak,
melihat Rania yang tetap tertidur tenang Aksara memejamkan matanya, namun beberapa menit kemudian ia mendengar sesenggukan lirih.
Aksara sontak membuka matanya, mencari Asal suara,
melihat bahu istrinya yang berguncang Aksara yakin suara itu berasal dari istrinya.
Aksara bangkit dan duduk,
" Kenapa menangis?" Akhirnya suara Aksara yang seminggu ini tidak terdengar oleh Rania terdengar juga dengan penuh kekhawatiran,
Bukannya tenang, tapi isakkan Rania semakin menjadi, meski tak bersuara tapi bahunya berguncang semakin kuat.
" Kita ke dokter ya??" Aksara menyentuh bahu istrinya, ia tak tau bahwa tangis Rania semakin deras karena mendengar suaranya,
" dimana yang sakit? ayo kita ke dokter saja?!" Aksara menghela tubuh Rania dan mendudukkannya, tapi lagi lagi Rania semakin keras menangis.
" Yang mana yang sakit? yang mana?!" tanya Aksara bingung seraya memeluk Rania.
" Kalau tidak bilang Mas mana tau mana yang sakit?" Aksara bingung melihat Rania terus menangis,
Ia melepaskan pelukannya dan mengambil kunci mobil.
Setelah keluar dan menyalakan mobilnya ia kembali lagi ke dalam kamar,
" Kita ke dokter..!"
ujar Aksara mendekat lalu mengangkat tubuh istrinya.
Saat perjalanan Rania yang lelah karena menangis kembali tertidur, wajahnya lesu bahkan terlihat sedikit lebih kurus.
" Ck..!" tanpa di sadari Aksara berdecak kesal.
Ia kesal pada dirinya sendiri melihat istrinya yang seperti itu, harusnya sejak kemarin kemarin ia membawa istrinya ke dokter.
" Ran..? sampai Ran..?" Aksara membangunkan istrinya ketika sudah sampai di parkiran rumah sakit.
Dengan sigap ia lagi lagi menggendong Rania,
" aku bisa jalan.." suara Rania pelan,
" aku tidak membawakan mu sendal, lagi pula badanmu lemas begitu.. " jawab Aksara menurunkan istrinya di atas tempat tidur ruangan UGD.
__ADS_1