
Rania bangun, ia mengedip ngedipkan matanya, rasanya masih ngantuk sekali..
tapi ia harus bangun karena sudah terlalu siang.
" Akhh.." keluh rania saat berusaha bangun, pinggangnya..dan pahanya.. semua terasa.
Rania Rania yang sadar dirinya sudah tidak memakai sehelai benangpun menggigit bibir bawahnya karena malu, tiba tiba kejadian semalam melintas lagi di kepalanya, membuat wajahnya merona.
Reflek ia menarik selimut disampingnya, namun tanpa sengaja malah membuat Aksara yang masih terlelap seketika membuka matanya, karena selimut yang menutupi tubuhnya di tarik oleh Rania.
Dan sekali lagi Rania melihat tubuh suaminya yang kokoh itu.
Rania menundukkan pandangannya dan mengembalikan selimut itu, bisa bisanya pagi ini seperti ini, keluh Rania.
" Mau kemana?" suara Aksara lirih, ia melingkarkan tangannya ke pinggang Rania dan menarik Rania kembali ke pelukannya.
" Mas..?" Rania berusaha melepaskan tangan Aksara namun tangan itu malah lebih erat memeluk Rania dari belakang.
" Semalam sudah lebih dari cukup Mas.."
" apanya yang cukup.." Aksara menggosok gosokkan wajahnya ke rambut Rania.
" Semalam belum termasuk bunganya.."
imbuh Aksara sembari menciumi rambut Rania yang masih saja harum pagi ini.
" Aku menyesal.. menyesal tidak melakukan ini dari awal kita menikah..
bisa memelukmu dan menciumi mu setiap pagi rasanya menyenangkan.." Aksara menjatuhkan kecupan kecupannya di pundak mungil Rania.
__ADS_1
Rania yang geli berusaha menghindar, namun tangan Aksara terlalu kuat melingkar di dada dan perut Rania.
"Istriku yang cantik.. kau sudah mengikat ku sejak dulu.." Aksara membalikkan tubuh Rania dan mendudukkannya di atas pangkuannya.
Keduanya berpandangan, Rania menyentuh pipi Aksara lalu berkata..
" aku akan mengikuti kemanapun Mas pergi.. tapi aku ingin kita menghabiskan masa tua kita di jawa.. karena dirumah itu kita bertemu Mas.."
" Aku akan segera kembali ke jawa.. mendampingi mu setiap hari disana.. jadi.. bersabarlah sedikit.."
ujar Aksara kembali menciumi Rania.
"Mas kan harus kerja?" Rania mendorong Aksara yang seakan tidak bisa berhenti itu.
" Aku sudah ijin kalau tidak enak badan, besok aku baru masuk.."
"astaga.. Mas bolos??"
" Aku tidak akan lari Mas.." ujar Rania ketika Aksara sudah menghentikan ciumannya yang bertubi tubi.
Rania menyandarkan kepalanya di bahu bidang Aksara.
Lagi lagi Aksara tersenyum tenang sembari membelai lembut rambut Rania, Namun tak lama kemudian ia bangkit perlahan dan menggendong istrinya itu menuju kamar mandi.
" Mas..???" Rania menatap Aksara, tapi Aksara malah mengecup bibirnya,
" kita bermain air sebentar.." ujar Aksara menutup pintu kamar mandi.
Aksara benar benar tidak melepaskan Rania pagi ini.
__ADS_1
Rania rebahan di atas sofa ruang tengah sambil menonton TV, pinggangnya di rasa sakit semua, ini semua akibat ulah Aksara yang seperti tidak ada lelahnya.
" Sini kupijitin.." Aksara mendekat dengan membawa minyak kayu putih di tangannya.
Mendengar itu sontak Rania bangun,
" nggak usah Mas, biar ku oles sendiri" ujar Rania, ia takut kalau Aksara menyentuhnya lagi maka akan sulit untuk lepas darinya, sementara ia sudah tak sanggup lagi.
Aksara tertawa melihat ekspresi rania yang waspada itu,
" tenanglah.. aku hanya akan mengoleskannya.. tidak akan macam macam.. " ujarnya,
" tapi entah kalau nanti malam.." imbuhnya tertawa lagi membuat wajah Rania berubah masam.
" Ayo ke pasar..aku mengundang Marlin dan Farhan makan malam nanti..
tapi kalau pinggang mu masih sakit biar aku sendiri saja.."
" tidak.. aku mau ikut.. aku suka sekali melihat tumpukan ikan segar.."
" ya sudah.. ayo berangkat"
" tunggu sebentar Mas, aku ganti baju dulu.."
" tidak usah ganti.. begitu saja, jangan terlalu cantik di depan orang lain" omel Aksara.
" Ya sudah.. ayo!" ujar Aksara bangkit, ia mengambil helm dan kunci motornya.
" Kita naik motor saja ya.. biar romantis..." imbuhnya sembari berjalan ke arah garasi.
__ADS_1
Rania yang melihat suaminya seperti itu hanya bisa menggeleng geleng kan kepalanya, bagaimana bisa sikapnya berubah dalam semalam, menjadi manusia yang murah senyum dan penuh keramahan