Aksara Rania

Aksara Rania
goyah


__ADS_3

Dan lagi lagi kesepian menyeruak ketika Aksara membuka pintu rumah.


Rumah yang menjadi tempat dimana malam pertamanya dan Rania terjadi, sepi semakin menusuk nusuk ketika ia merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Setelah menelfon Rania mungkin saja rasa sepi nya berkurang, pikirnya...


tapi kenapa semakin menjadi jadi saja..


di bolak balikkan tubuhnya, membayangkan istrinya terbaring disampingnya, hingga ia lelah dan tertidur.


Wulan tidak memalingkan pandangannya pada Aksara, entah sengaja atau tidak..


tapi para anggota yang lainnya menyadari itu.


Wulan bukan tipe perempuan yang pemalu dan tertutup, ia bahkan seperti sengaja menunjukkan ketertarikannya.


Sebenarnya banyak yang lebih tampan dan gagah dari Aksara, tapi entah kenapa Wulan hanya tertuju pada Aksara saat pertandingan sepak bola antar kesatuan berlangsung.


laki laki bertubuh tinggi seperti Aksara tentu saja banyak, yang berwajah tampan dan manis juga banyak..


namun tentu saja ia mempunyai pesonanya sendiri.


Garis hidung yang tegas, alisnya yang tebal dan matanya yang coklat juga lesung pipi yang sesekali muncul.. sangat membuat Wulan penasaran.


Wulan sejak dulu selalu bertanya tanya, bagaimana RASANYA Aksara yang Manly itu..


Aksara yang tidak pernah memberinya kesempatan untuk mendekat dan merabanya meski sedikit.


Wulan bukan perempuan yang tidak cantik, tubuhnya tinggi proporsional.. ketika tidak berseragam orang orang akan mengiranya seorang pramugari atau model, semua tampak sempurna dari luar..


Itulah yang membuat Wulan sangat kesal, dengan tampilannya yang seperti itu kenapa Aksara tak pernah meliriknya sejak dulu.


Ia merasa tidak bisa di bandingkan dengan Rania yang pendek dan berwajah pas pas an itu.


Yah... memang, Rania sedikit imut dia adalah tipe tipe baby face yang selalu membuat orang salah mengenali usianya karena tubuhnya yang mungil.


Tapi tetap, Wulan merasa ia tidak bisa di bandingkan dengan seorang Rania yang bukanlah apa apa, guru pun hanya seorang honorer.. apa yang sebenarnya Aksara banggakan dari Rania yang pendek itu! gerutu Wulan dalam hati.


Semakin di pikir semakin menjengkelkan.


Sementara di ujung lainnya, istri Farhan menatap Wulan dengan heran.


" lihat apa kak?" tanya istri Marlin.


" itu.. coba lihat si Wulan.."


" eh, jangan ki' kita bahas itu.. diam diam sudah, pura pura tidak tahu mi.. " sahut istri Marlin.


" kenapa istri Aksara tidak ikut kesini sih.. aku saja bukan istrinya mendidih di buatnya, bisa bisanya dia pelototi suami orang macam begitu..


seperti dia tidak punya suami saja.." ujar istri Farhan gemas.


" kita tidak bisa bertanya kenapa dan bagaimana itu mi.. kita juga pernah begitu awal menikah, nanti kalau sudah ada anak pasti menempel kemana mana itu istri Aksa.."

__ADS_1


" Hemm.. semoga saja begitu, aku ikut ketar ketir.."


" tenang saja mi.. suamiku dan suami kakak itu seperti pagar duri disamping Aksa.. lecet lecet itu Wulan kalau mendekat.." Istri Marlin tertawa,


" Bisa saja kau dik.. " istri Farhan ikut tertawa ringan.


Safa mengemasi barang barangnya di dalam kamar, ia sebenarnya suka sekali tinggal dengan Rania, namun ia tak tega meninggalkan kakaknya terlalu lama.


" Di minum pak.." Rania menaruh secangkir teh,


" repot saja bu.." Radit tersenyum,


" Alhamdulillah ya.. semua berjalan dengan baik.."


" alhamdulillah bu.. apa saya boleh berterimakasih..?" Radit menaruh sebuah tote bag yang berisi kotak berwarna pink yang di hiasi dengan pita berwarna pink tua.


" Apa ini pak? njenengan tidak perlu memberi saya apapun.. ?"


" tolong terima bu, biar hati saya tenang.., boleh di buka bu.."


Rania sedikit enggan menerimanya, tapi tidak sopan juga jika menolaknya.


" Wah..??" ucap Rania spontan setelah membuka kotaknya.


Sebuah flat shoes berwarna dusty pink dengan hiasan bludru yang kalem dan hand bag berwarna senada.


" itu Safa yang memilih.. katanya pasti cocok di kaki bu Rania yang mungil.." ujar Radit sedikit malu malu,


" Safa?"


" Astaga.. terimakasih pak.. tapi rasanya ini terlalu berlebihan.."


" tidak bu, tolong terima.. saya senang sekali kalau ibu mau menerima ini, di pakai tidak di pakai... simpan saja..."


Rania diam, ia menatap hadiah itu baik baik.


" Ini Safa kan yang memberikannya?"


" inggih bu.. dia sendiri yang memilih, kalau ibu tidak menerimanya dia pasti kecewa.."


" saya jadi terharu.. " ujar Rania dengan mata yang mulai berkaca kaca.


" Saya bahkan tidak memberikan apapun untuk Safa, tapi Safa malah memberi saya hal yang manis sekali seperti ini..." imbuh Rania,


" emh.. apa setelah Safa kembali kerumah saya, saya tetap bisa berbincang dengan ibu? maksud saya.. apa kalau bertemu di jalan saya boleh tetap menyapa ibu?"


" kenapa tidak pak? bukankan bapak juga pernah menolong saya.."


" bukan seperti itu.. tapi, apakah... saya boleh berteman dengan bu Rania..


karena bu Rania sudah banyak membantu keluarga saya.."


" banyak apa sih pak?, tentu saja kita bisa berteman.. sepertinya banyak untungnya berteman dengan bapak polisi.." Rania tersenyum lebar.

__ADS_1


" tentu.. ibu boleh hubungi saya kapanpun jika ada masalah, dan saya juga tidak akan segan segan menghubungi ibu jika suatu ketika ada problem terkait dengan adik saya.."


" insyaallah.. selama demi kebaikan Safa saya akan selalu membantu..".


Aksara sedang mencuci wajahnya di wastafel, tenaganya terkuras habis beberapa hari ini karena perlombaan.


" Kau tampak lelah.." sebuah suara muncul tiba tiba, Aksara mencari asal suara itu, ternyata Wulan sudah duduk di salah satu kursi di ruangan Aksara.


" Dimana kesopanan mu? apa sekarang kau bahkan tidak bisa mengetuk pintu?!"


Aksara buru buru mengeringkan wajahnya dengan tissue.


" Keluar dari ruanganku!" Aksara geram, matanya menatap tajam Wulan.


" Setidaknya kau harus memikirkan jabatan mu jika ingin berbuat hal yang kotor padaku lagi! aku tidak sedang dalam kondisi untuk mengerti dan bersabar seperti biasanya sekarang, jadi keluarlah!" tegas Aksara.


" Kenapa kau begitu marah.. padahal aku hanya duduk saja, tidak bolehkan aku berbincang dengan rekan kerjaku..


suaramu yang keras itu justru akan membuat orang lain lebih memperhatikan kita.." jawab Wulan santai di penuhi senyuman,


" jangan marah.. itu membuatku semakin tertarik kepadamu.."


" Apa kau sudah tidak waras?" Aksara menurunkan suaranya dan berusaha mengendalikan kemarahannya.


" Ya.. kau dari dulu membuatku tidak waras, sampai sampai aku berfikir merebutmu secara paksa.." Wulan bangkit dan berjalan mendekati Aksara.


" Luar biasa, 10 tahun berlalu.. aku berusaha memaafkan apa yang sudah kau lakukan terhadapku, tapi ternyata kau tidak pernah sadar, apa nurani mu mati? apa kau tidak sadar seberapa besar kerusakan yang kau buat di hidupku?" Aksara mundur.


" Aku sadar.. tapi entah kenapa aku tidak bisa berhenti memandang mu..


apa yang kau harapkan dari anak kecil itu, dia bahkan tidak melayani mu dengan baik sebagai seorang istri..


dia membiarkan suaminya yang gagah ini tidur sendiri setiap malam..


Kasian sekali kau, menjaga dirimu bertahun tahun untuk seorang wanita yang tidak begitu menginginkanmu..


dia bahkan begitu kejam membiarkan mu tenggelam dalam kesepian setelah menikah.." Senyum puas tersungging di bibir Wulan saat mengatakan itu.


Aksara terdiam, kalimat Wulan sedikit menyakiti hatinya.


Yang Wulan katakan sedikit benar, Rania membiarkan nya hidup sendiri disini, padahal Rania bisa ikut kemanapun kalau Rania memang mencintainya.


" Jangan dengar kan kata kata orang yang sudah menghancurkan hidupmu! kau bodoh jika goyah dengan kata katanya!" Suara Marlin tegas memenuhi ruangan.


Wulan dan Aksara serempak melihat ke arah Marlin yang tau tau sudah berdiri di depan pintu.


" Banyak pasangan yang berjauhan, jadi jangan berfikir kau yang paling menderita Aksa, dia hanya ular yang mau menelan mu bulat bulat, lalu memuntahkan mu lagi setelah tau bagaimana rasanya menelan mu?!" tambah Marlin mengepalkan tangannya menahan kesal.


" hahahaha..." Wulan tertawa mendengar kata kata Marlin,


" Bang Marlin mengerti sekali sepertinya..


oke.. kita sudahi saja perbincangan manis ini.." ujar Wulan sembari berjalan keluar dengan tenang.

__ADS_1


" Sadar!" tegas Marlin pada Aksara yang masih terhenyak.


" kau bahkan bisa goyah dengan omong kosong perempuan itu?! jangan bodoh!" imbuh Marlin kesal melihat Aksara yang sedikit goyah karena kata kata Wulan.


__ADS_2