
" Masak apa?" Aksara yang baru saja pulang kerja langsung masuk ke dapur mengintip istrinya yang sedang sibuk memasak,
" ikan kuah kuning.." jawab Rania berbalik dan mencium tangan suaminya,
" belajar dari mana?"
" di beri resep sama bu Marlin..,
katanya Mas kalau kerumah dia doyan banget makan itu..
di berilah aku resepnya.."
Aksara tersenyum,
" apapun yang kau masak akan ku makan, jadi jangan memaksakan dirimu.."
" tidak sulit kok Mas, mudah dan enak.. sepertinya lidah ku mulai beradaptasi.. "
" benarkah.., bagaimana kalau kita kerumah Marlin dan memintanya memasakkan makanan khasnya.. namanya kapurung.. "
" kapurung? seperti apa itu?"
" katanya sih sama dengan papeda yang ada di papua.. katanya.."
" harus coba kayaknya mas.." wajah Rania antusias,
" ya chat saja istrinya Marlin.. biar di buatkan kalau kita main kesana, atau undang saja mereka kesini.." jawab Aksara senang melihat istrinya mulai tertarik dengan makanan dan kehidupan disini, itu berarti Rania nyaman.. pikir Aksara.
" Memang nya boleh Mas?"
" ya boleh lah.. apa yang tidak boleh untuk istriku..
ya sudah, Mas mau mandi dulu.. "
Aksara meninggalkan istrinya yang sedang memasak di dapur dan berjalan ke arah kamar.
Saat Aksara sudah selesai mandi dan sedang memakai kaosnya, ia mendengar HP rania yang tergeletak di atas meja rias bergetar.
Aksara mengambil HP itu, ada beberapa chat dan Aksara membukanya,
paling Dimas, pikir aksara... tapi ternyata bukan.
- Apa kabar bu?
- saya dengar ibu berhenti mengajar dan ikut suami, kenapa tiba tiba begitu?
- apa ada masalah? kenapa tidak menghubungi saya.. setidaknya saya bisa membantu??
- maaf saya memberanikan diri menghubungi njenengan, karena safa terus saja bertanya bagaimana kabar ibu..
- dia sedih sekali mendengar ibu pindah ke luar jawa...
Aksara segera menghapus chat itu dan menaruh HP Rania kembali ke atas meja rias, ia tampak tenang namun terlihat jelas gerahamnya yang kaku,
lagi lagi laki laki bernama Radit itu..
gerutunya kesal dalam hati,
tidak ada habisnya dia memberikan perhatian pada istri orang dengan dalih adiknya.
Aksara mengambil pelembab wajah yang sudah di persiapkan Rania untuknya, Ia mengoleskan pelan di wajahnya sembari berkaca.
"Apa aku sudah terlalu tua dan tidak menarik untuk istriku..?,
kenapa dia akrab sekali dengan laki laki itu, apa Rania tidak pernah tau kalau aku kesal sekali setiap dia dekat dengan laki laki lain.."
gumam kesal, sembari memperhatikan dirinya di cermin dengan serius, tentu saja ia berfikir..
Radit sepantaran dengan Rania, mereka sama sama muda dan belum melewati angka 30 tahun,
dia juga tampan.. kulitnya putih bersih, tidak seperti kulit Aksara yang sawo matang.
Kemudaan Radit benar benar membuat Aksara frustasi, bagaimanapun juga ia kalah umur.
Tiba tiba saja banyak pemikiran pemikiran aneh yang muncul di kepalanya,
" apa aku tidak usah kembali ke jawa saja.. ?
bahaya.. ada laki laki yang menunggu istriku disana.. perasaan ku bisa morat marit setiap hari kalau melihatnya di kejar kejar laki laki yang lebih muda dariku.." ucap Aksara dalam hati.
" Mas?!" Rania memasuki kamar,
" sudah selsai.. ayo maem.." Rania tersenyum sembari lebar.
"ahh.. sudahlah.. toh laki laki itu yang suka pada istriku.. yang penting kan istriku tidak suka padanya.." ucap Aksara lagi dalam hati menenangkan diri.
" di panggil diam saja.. mikir apa sih? ayo maem Mas??" tanya Rania heran dengan Raut Aksara.
" Hemm.. iya.." Aksara mengangguk cepat ketika sadar Rania menunggunya.
__ADS_1
Suara Rania membuat Aksara sadar, bahwa mereka sekarang sudah hidup bersama, apalagi yang di takutkan..
tidak akan ada laki laki yang dengan mudah menggoda Rania selama Aksara masih hidup.
Dengan senyum terkembang Aksara mengikuti langkah Rania,
" setelah makan, kita jalan jalan ke losari ya.. kau belum pernah ku ajak kesana kan?"
Rania tidak menjawab dengan kata kata, namun ia mengangguk semangat.
Wulan akan mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja, namun Ilham mengambil kunci mobil itu dengan cepat,
" biar ku antar sayang.." ujar Ilham tersenyum semanis mungkin,
" jadi sekarang kau mau menjadi sopirku juga?" Wulan terdengar acuh,
" mau kemana memangnya.. cantik sekali?" Ilham melihat istrinya dari atas ke bawah.
" Aku mau belanja ke Panakukang, jangan ganggu aku"
" kau lupa perjanjian kita?" ujar Ilham menggenggam erat kunci mobil di tangannya.
Wulan terdiam, lalu menghela nafas
" ya ya ya, terserah kau saja..!" Wulan berjalan mendahului Ilham.
Ilham benar benar seperti lem, ia menempel terus pada Wulan hingga Wulan merasa risih,
" jangan menempel, jauh jauh sedikit" ujar Wulan sembari memilih pakaian.
" tidak mau.. " jawab Ilham pendek membuat Wulan frustasi,
" ah! terserah kau saja.." Ilham benar benar membuat Wulan kesal.
Beberapa jam berlalu Wulan sudah menyelesaikan kesibukan berbelanja nya.
" Makan dulu ya.." ujar Ilham sembari masuk ke dalam mobil,
" aku tidak lapar"
" tapi aku lapar.."
" ya sudah aku pulang naik taksi online saja" Wulan membuka pintu mobil, tapi Ilham mencegahnya dan menarik pintu mobil itu agar tertutup kembali.
" Kau lupa janjimu rupanya.." Suara Ilham tenang namun berat,
" apa aku harus menghilang dulu, baru kau bisa memaafkan ku?" lanjut Ilham,
pandangan si suami lembut, namun berbeda dengan pandangan si istri yang terlihat memusuhi.
" Kau mau menarik janjimu? silahkan, namun aku tidak akan pernah menceraikan mu..
aku serius dengan kata kataku.."
" apa sebenarnya mau mu?"
" kau.. " jawab Ilham pendek namun jelas,
" aku mau kau, titik " suara Ilham tegas.
Wulan membuang pandangannya, saking herannya dengan sikap Ilham ia bahkan tidak bisa mengelak dan menjawab.
" Kita ambil libur besok, aku ingin berdua denganmu saja.."
" jangan serakah..!" tegas Wulan.
" Aku serakah kepada istriku sendiri, siapa yang berani melarangnya?"
" jadi kau mau menggunakan kuasa mu padaku sekarang?!"
" jika itu bisa membuatmu mengerti.." jawab Ilham menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan parkiran.
Aksara membonceng Rania, mereka berputar dulu ke daerah Karebosi dan sekitarnya sembari melihat lihat suasana malam di kota Ujung pandang.
Keduanya membuka kaca helmnya, sengaja ingin merasakan segarnya angin malam menyentuh wajah mereka.
" Tumben naik motornya pelan sekali..?" tanya Rania mengeratkan pegangannya yang melingkari perut Aksara.
" Supaya lama.. " jawab Aksara tersenyum,
" ih.. senyumnya nular.." Rania ikut tersenyum,
" Ran?"
" iya Mas..?"
" Kalau Mas nanti tambah tua dan banyak kerutan gimana..?" Aksara memperkeras suaranya sembari terus mengemudikan motornya,
" kok ngomongnya begitu? Mas kan belum tua?!" balas Rania,
__ADS_1
" ya nanti lama lama tua.. "
" Mas ini berlebihan, kita bukan beda 10 atau 20 tahun..! jangan berfikir aneh aneh.. tentu saja aku akan menjaga dan merawat Mas..!" tegas Rania mendekatkan wajahnya ke telinga Aksara.
Mendengar itu Aksara tidak menjawab, ia hanya tersenyum.
Rania mengikuti langkah Aksara, pandangan Rania lurus ke depan, begitu tiba di losari ia langsung di sambut angin yang lumayan kencang, untung Aksara memintanya memakai jaket yang tebal.
" Lebih indah ketika malam.." ujar Aksara melihat istrinya yang sibuk memperhatikan sekitar.
" Apa yang kau perhatikan?" tanya Aksara ketika sudah menemukan tempat duduk bersama istrinya,
" langit.. gelap sekali, tapi gemerlap lampu lampu di sekitar membuatnya tampak indah.. " jawab Rania masih menatap ke depan, melihat beberapa kapal yang lewat dengan lampu yang berkelip kelip dari kejauhan.
Rania sempat menoleh beberapa kali ke arah samping kanan dan kiri,
" kenapa..? banyak orang yang sedang berpacaran ya?" tanya Aksara membaca pikiran istrinya,
" iya.. kita terlihat paling tua disini.."
Aksara tertawa mendengar kata kata istrinya,
" Aku sering duduk disini.. " ujar Aksara menatap lurus ke depan,
" dengan siapa?" sontak Rania menatap Aksara, jangan jangan dengan perempuan lain, pikir Rania.
" Sendiri.. " jawab Aksara mengalihkan pandangan nya pada istrinya,
" bohong..?!"
" sungguh.. kalau aku bohong biar petir menyambarku.."
" ah.. tidak ada hujan.. dari mana datangnya petir.."
" terserahlah.. yang penting aku selalu sendiri kesini.."
" untuk apa Mas duduk sendiri disini? menarik perhatian perempuan agar tiba tiba ada yang duduk di sebelahmu?"
" ehhh...! kau kira suamimu tukang cari perhatian?!" Aksara mencubit pipi kiri Rania sedikit keras karena gemas dengan kata katanya.
" Aduh! sakit...??" keluh Rania menggosok gosok pipinya.
" Mas kesini itu karena saking rindunya padamu..
berapa tahun kita tidak bertemu,
Mas juga tidak tau apa kau sudah jatuh cinta pada orang lain..
jadi Mas hanya bisa duduk diam dan menatap lautan untuk mengusir rindu yang menusuk nusuk hati Mas..
Rania mana faham, rasanya merindukan orang lain sampai sesak.."
" jangan bicara begitu..?!" tegas Rania memotong,
" lho..??"
" lho apa?, Mas menganggap diri mas sendiri yang paling menderita? mas kan yang pergi,
yang tidak pernah bertanya kabar.. kenapa mas bersikap seperti mas yang di sia sia kan?,
Mas mana tau bingungnya aku? frustasinya aku..
Mas yang sayang dan selalu menjagaku kemana mana tiba tiba bersikap sinis tanpa penjelasan, dan tak lama kemudian Mas pergi tanpa pamit..
bahkan bertindak seperti orang asing yang tidak mengingatku sama sekali..
Mas itu yang jahat,
yang se enaknya kabur setelah membuatku bergantung padamu.."
Aksara terhenyak, mengingat masa masa itu ia begitu sedih..
tapi juga bahagia..
ia bahagia karena ternyata Rania juga merasakan kesedihan yang sama..
ia bahagia karena mereka berdua sekarang sudah di ikat dalam ikatan suami istri..
" Sudahlah.. aku yang salah.. meninggalkan mu begitu saja.." Aksara memeluk istrinya yang hampir menangis itu,
" aku juga rindu tau Mas.. tapi Bapak yang menguatkan aku, Bapak bilang nanti Mas pasti pulang..
Mas hanya sedang menenangkan diri karena Mas marah kepada Bapak.."
" iya iya.. aku yang salah.. harusnya aku cepat kembali.. menemuimu..
maafkan aku.. itu tak akan terulang lagi.. " Aksara memeluk erat istrinya.
" sudah.. jangan menangis.. orang orang sekitar kita sudah mulai menatapku.." ujar Aksara sembari masih mengelus punggung istrinya,
__ADS_1
" Biar saja, biar mereka tau kalau mas orang yang tega.." balas Rania dengan kepalanya yang masih bersandar di dada Aksara.