
Rania terus terusan menatap HPnya,
hatinya gelisah sekali, sudah berhari hari Aksara pergi, tak berkata apapun, dan pergi begitu saja.
Ada rindu yang menekan Rania, itu sering membuatnya sering menangis diam diam.
Ia merasa bersalah, ia juga menyesal atas kata kata yang ia ucapkan waktu itu, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan untuk merubah hal itu.
" Kenapa tho mbak??" Yuni diam diam mengawasi Rania, ia beberapa kali melihat Rania menangis sendiri di ruang tamu.
" Saya telfonkan mas Aksa ya?" Yuni duduk disamping perempuan berperut besar itu.
" Tidak usah mbak.." jawab Rania lirih,
" jangan begitu, kalau sama sama keras kepala apa jadinya rumah tangga?
saya ikut membesarkan sampean.. tidak biasanya sampean begini, biasanya sampean bisa menahan diri..
lalu kenapa sekarang sampean seperti ini mbak?"
Yuni terlihat khawatir,
" aku tidak tau mbak.. rasanya tak terima, dan kakiku melangkah begitu saja.." Rania menyentuh dadanya yang sedikit nyeri.
Beberapa hari ini ia terlalu banyak menangis, tubuhnya pun terasa sedikit tidak sehat.
" Mbak.. ingat kata Almarhum.. ?"
Rania diam, ia tertunduk.
" Bapak memaksa mbak menikah dengan mas Aksa karena bapak tau, mas Aksa bisa menjaga mbak..
banyak lamaran yang mbak tolak dengan dalih menjaga bapak, tapi bapak tau jika itu hanya alasan..
mbak itu takut menikah..
jangan di kira bapak tidak tau..
karena itu juga bapak pernah bilang..
' jangan saling meninggalkan sebesar apapun masalahnya', masih ingat mbak??"
Deg.. Rania tiba tiba sadar, ia menatap Yuni dengan mata memerah,
" Aku salah ya mbak Yun??" ucap Rania dengan air mata meleleh,
" aku salah mbak Yun..." ucapnya lagi dengan air mata yang terus mengalir.
" Aku seharusnya tidak pergi.. " imbuhnya dengan nada penuh penyesalan dan penuh air mata.
Suasana rumah yang biasanya sepi itu tiba tiba Ramai, Ami berteriak dan berlarian di dalam rumah, seperti biasanya Fahim tidak pernah capek menggodanya, bahkan tak jarang membuat Ami sampai menangis, itu semata mata karena Fahim kangen dan gemas sekali pada keponakan satu satunya ini.
Sedangkan di dalam kamar, Wulan yang baru saja selesai mandi, diam diam segera mengganti bajunya, ia berusaha tidak berisik karena tidak mau membangunkan Ilham yang masih terlelap.
" Cantik sekali, mau kemana?" tanya Ilham yang tiba tiba saja bangun dari tidur siangnya.
Ia terbangun karena bau parfum istrinya yang menyeruak, itu memancing Ilham untuk bangun.
Melihat istrinya yang sudah Rapi dan wangi,
Ilham segera bangkit dari tidurnya.
" Mau kemana sih?" Ilham mendekat, memeluk Wulan dari belakang.
" Sudah di bilang ada urusan.." jawab Wulan sembari memakai bedak tipis tipis di wajahnya.
" Ikut??" ujar Ilham persis seperti Ami yang sering merengek.
" Jangan aneh aneh mas, kau sudah tidak muda lagi jangan bersikap berlebihan.." tegas Wulan.
" Pokoknya aku mau ikut, kau cantik begini mana tega aku membiarkanmu pergi sendirian..?"
Wulan berbalik, menatap suaminya baik baik,
" lihat baik baik, aku hanya memakai bedak tipis, lipstik q pun berwarna nude.. tidak ada yang berlebihan,
jadi jangan menggunakan alasan cantik hanya untuk mengikutiku.. "
" ajak aku, atau kau tidak akan kemana mana.." ujar Ilham serius,
keduanya saling memandang.
" Tidak.." jawab Wulan tenang,
" tidak?" tanya Ilham memastikan,
" tidak.." jawab Wulan pasti.
Mendengar jawaban Wulan Ilham memeluk pinggang istrinya lebih erat.
" Jangan salahkan aku ya?" ucap Ilham sembari tersenyum,
lalu dengan sigap mencuri bibir Wulan.
" Bagaimana? masih tidak mau mengajakku? akan ku habiskan seluruh bedakmu.." ujar Ilham dengan lipstik Wulan yang sudah berpindah ke bibirnya.
" Ayolah mas, ini bahkan masih terlalu sore untuk melakukan itu?? mas merusak riasanku..?!" protes Wulan.
" Karena itu ajak aku.. "
" tidak, ini urusan perempuan?!"
" aku makin penasaran apa urusanmu sehingga aku tidak boleh tau?" ujar Ilham, lalu menggendong Wulan dan membaringkannya di atas tempat tidur.
" Tidak usah keluar kalau begitu.." Ilham menindih tubuh Istrinya.
" Ya sudah ya sudah?!! ayo ikut!" suara Wulan kuwalahan, ia tak mau rencananya gagal dan malah di bolak balikkan Ilham di atas tempat tidur.
Ilham tersenyum manis, merasa dirinya menang,
" nah.. begitu baru bagus.. " ujar Ilham sembari mengecup bibir Wulan.
" Sudah cepat bangun mas?!" protes Wulan yang masih di tertindih.
" Kau yakin mau bertemu Rania?" tanya Ilham menarik lengan istrinya.
" jangan ikut campur?" Ilham khawatir, ia menatap istrinya dengan resah.
" Mas.. setidaknya ijinkan aku menjadi orang baik untuk mereka sekali saja..
aku yang melihat dengan mata kepalaku sendiri saat Aksara menolong perempuan itu,
rasanya berdosa jika aku diam dan melihat mereka salah paham akan hal sepele seperti ini.." Wulan berusaha membuat suaminya mengerti.
" Tapi Lan, kau pernah memberi mereka kenangan yang buruk? tidak akan mudah untuk berbicara pada Rania,
mana mungkin dia mau mendengarkan ucapan perempuan yang pernah menggoda suaminya terang terangan?!" Ilham benar benar khawatir.
" Apa mas takut Rania memukul atau memakiku?" Wulan menatap suaminya baik baik,
" dia tidak mungkin memukulmu.. dia tipe perempuan yang lembut.." jawab Ilham,
" lalu mas takut aku yang akan melukainya?"
Ilham terdiam, pandangannya begitu resah.
__ADS_1
" Ayolah.. aku mencintaimu sayang, sudah cukup masalah yang kita hadapi kemarin kemarin, aku tidak mau kita terlibat dalam masalah apapun lagi.."
" jadi mas menyuruhku diam, sementara aku tau kebenaran yang sesungguhnya? dan mungkin saja kebenaran ini bisa membuat keduanya kembali seperti sedia kala?"
Suara Wulan tenang.
" Baiklah.. masuklah.. lakukan hal yang menurutmu baik, aku akan selalu mendukung langkah langkah baikmu.. " ujar Ilham setelah lama berfikir,
" Aku akan memarkirkan mobil dengan benar, masuklah dulu.. " imbuh Ilham.
" Terimakasih mas.. " ucap Wulan tersenyum,
" aku ini suamimu.. sudah kewajibanku, tidak perlu berterimakasih.." jawab Ilham membelai kepala istrinya.
" Masuklah.. lakukan yang terbaik.." imbuh Ilham tersenyum mengerti.
Wulan duduk di ruang tamu yang tata letaknya masih sama seperti dulu.
Sembari menunggu si asisten rumah tangga memanggil Rania ia sedikit memperhatikan kondisi rumah yang masih benar benar sama dan tidak ada yang berubah sama sekali itu.
Ukiran ukiran dan hiasan hiasan yang melambangkan bahwa pemilih rumah ini adalah orang jawa melekat di setiap sudut ruangan.
Ia ingat betul bagaimana almarhum bapak Aksara menyambutnya dengan baik, beliau adalah orang ramah yang penuh dengan ketulusan, sehingga siapapun yang berbincang dengannya pasti merasa sangat nyaman dan merasa sangat hargai.
" Ada yang bisa saya bantu mbak?" terlihat sosok Rania keluar dari kamar, ia memakai daster berwana coklat muda,
matanya terlihat sembab dan wajahnya terlihat pucat.
Wulan sedikit kaget melihat Rania yang berdiri di hadapannya, ia tak pernah menyangka akan melihat Rania dengan bentuk yang seperti ini.
" Apa aku menganggu waktu istirahatmu dek?" tanya Wulan khawatir,
" Tidak apa apa mbak.. " jawab Rania tenang, wajahnya tadi sedikit terkejut dengan kehadiran Wulan, namun dengan cepat raut keterkejutannya itu hilang dan berganti dengan ekspresi yang datar.
Rania duduk tak jauh dari Wulan, dan tak lama kemudian datang mbak Yuni membawa secangkir teh.
Rania mengambilnya dan meletakkannya di meja, tepat di hadapan Wulan.
" Di minum mbak.." suara Rania pelan.
" Tidak usah repot repot.. " sahut Wulan merasa canggung, ia tak tau harus mulai dari mana.
" Kau sedang sakit?" tanya Wulan lagi khawatir,
" Tidak mbak.. mungkin bawaan bayi, saya sedikit Pusing.." jawab Rania mengulas senyum, namun Wulan tau itu hanya senyum seadanya.
Melihat itu Wulan menghela nafas, ia menenangkan dirinya.
" Baiklah.. aku tidak akan basa basi dek.. ada yang ingin ku bicarakan denganmu.."
" tentang apa itu mbak?"
" Suamimu.."
mendengar Wulan akan membahas suaminya Rania membeku tiba tiba, otot otot di tubuhnya seperti menegang.
Rania menghela nafas panjang, lalu menggenggam kedua tangannya sendiri untuk menahan perasaannya.
Wulan memperhatikan itu, ia sungguh merasa tidak sampai hati untuk bicara, apalagi melihat wajah Rania yang pucat dan terlihat tertekan, tapi.. mau tidak mau Wulan harus bicara, ini saatnya.. tidak ada kesempatan lagi di lain hari.
" Tenanglah.. aku kesini dengan maksud baik..
ada mas Ilham di depan, apa perlu aku memanggilnya?" Wulan menenangkan,
" tidak perlu mbak.. silahkan bicara.." jawab Rania menenangkan dirinya dan berusaha rileks.
" Baiklah.. aku kesini dengan dua tujuan, yang pertama adalah meminta maaf atas segala hal yang telah ku perbuat pada kalian di masa lalu..
aku tau, kesalahanku tidak pantas untuk di maafkan..
lepas dari kau memaafkanku atau tidak.. " Rania terkejut, ia benar benar tak menyangka Wulan akan meminta maaf padanya di saat saat seperti ini, keterkejutan itu terlihat jelas dari raut wajah Rania.
" Maafkan aku dek.. aku berdosa padamu dan Aksara.. " imbuh Wulan menundukkan pandangannya.
Rania diam, cukup lama..
dan itu membuat Wulan semakin merasa canggung dan serba salah.
" Apa mbak bersungguh sungguh?" Rania membuka suara,
Wulan menatap Rania, kemudian mengangguk.
" Kerusakan yang ku sebabkan sesungguhnya tidak pantas kau maafkan dek.." suara Wulan bergetar.
" Itu benar mbak.. kerusakan yang mbak timbulkan luar biasa untukku dan bapak, juga mas Aksara.." sahut Rania tanpa menatap Wulan, matanya lurus menatap pintu rumah yang terbuka.
" Tapi itu semua sudah berlalu.. apa gunanya kita membicarakan itu lagi.." ujarnya kemudian.
" Tapi aku harus meminta maaf..??" Sikap Rania yang pasrah justru membuat Wulan tertekan.
Kelembutan dan ketenangannya membuat sosok Wulan yang kuat dan tegas menjadi lemah di hadapannya.
" Awalnya aku muak sekali terhadapmu mbak.. bahkan untuk melihatmu saja aku malas.. " ujar Rania membuat Wulan tak sanggup berkata kata, mungkin jika itu bukan Rania, ia akan marah mendengar kalimat semacam itu.
" Tapi, mendengar kondisimu yang kehilangan putramu.. dan kesedihanmu yang tak kunjung hilang, membuatku memaafkanmu tanpa sadar mbak..
dengan penderitaanmu yang seperti itu, bagaimana bisa aku terus terusan membencimu..
ku kira banyak hal hal yang tak kau inginkan juga terjadi di kehidupanmu.. " ujar Rania dengan nada tenang.
" Mungkin.. memang sudah jalannya aku dan mas Aksa harus begitu..
kadang Tuhan memberi kita cobaan melalui orang lain..
iya kan mbak..?
jadi sudahlah mbak..
aku mengerti,
kita tutup saja buku itu,
aku tau di khianati itu luar biasa menyakitkannya, dan kau kehilangan sesuatu yang kau cintai bersamaan..
itu bukan hal yang mudah, aku bahkan tidak bisa membayangkan jika aku menjadi dirimu mbak..
mungkin aku tidak akan kuat..
tapi mbak sosok yang luar biasa, mbak bisa bertahan sampai detik ini.. dan tetap menjadi perempuan yang tegas dan kokoh..
jadi.. sudahlah mbak, sudah..
kita akhiri permasalahan kita di masa lalu yang buruk itu..
berjalanlah ringan.. tanpa beban terhadapku karena hal itu..
hiduplah dengan tenang dan bahagia dengan suami dan anakmu mbak.." suara Rania tenang tanpa penekanan, ia menatap Wulan dengan pandangan teduh meskipun ia tidak tersenyum.
mendengar ucapan Rania Wulan tak tahan untuk tidak menitikkan air mata, bagaimana tidak.. rasa malu tiba tiba menyeruak menyerangnya,
relung hatinya benar benar tersentuh.
Sikap Rania yang memaafkannya begitu saja membuatnya benar benar menjadi orang yang jahat karena pernah menyakitinya dengan sengaja di masa lalu.
Wulan tak habis pikir, bagiamana ia bisa begitu mengerti akan kesakitannya di masa lalu hanya dengan mendengar cerita,
__ADS_1
ia bahkan tak mengalaminya.
Apa itu karena trauma yang ia derita di masa kecilnya, Wulan tau benar Rania memiliki hidup yang sulit sejak kecil dan sempat terlunta lunta di jalanan, apakah itu sebabnya.. sehingga ia bisa meraba kesedihan orang lain.
Wulan terhenyak..
begitu lembutnya perasaan perempuan di hadapannya ini sehingga mampu memaafkan dengan ketenangan, namun entah apa yang sesungguhnya Rania rasakan dalam hatinya, yang jelas Wulan merasa tercengang mengetahui sosok lain Rania yang seakan mengerti keterpurukan yang sudah Wulan lewati, lepas itu sungguh sungguh atau hanya basa basi Rania.
Ia benar benar tidak menyangka akan mendapatkan maaf begitu saja dari perempuan yang sudah ia ganggu kehidupannya sedemikian rupa ini.
Rasa bersalahnya semakin besar melihat sikap Rania yang tidak menyimpan dendam apapun kepadanya.
" Pantas saja..." ucap Wulan lirih sembari menyeka air mata di sudut matanya.
" Pantas saja Aksara tidak sanggup melupakanmu meski sudah terlewat bertahun tahun lamanya.. ternyata sikap aslimu selembut ini, bagaimana ini.. aku semakin merasa bersalah kepadamu..??" Wulan menghela tangan Rania.
" Dek.. apa kau bersungguh sungguh dengan perkataanmu? kau benar benar sudah memaafkan aku?" tanya Wulan lagi tak percaya.
Rania tersenyum,
" Saya adalah tipe orang yang di hati dan di lidah sama mbak.. jadi tenanglah, saya sudah lama memaafkan mbak.. tepatnya setelah saya dengar mbak mengajukan cerai waktu itu..
saya tiba tiba mengerti, mbak menderita trauma berkepanjangan, dan saya menyadari bahwa penderitaan yang mbak rasakan tidaklah ringan.. mas Aksa sudah menceritakan segalanya tentangmu dan mas Ilham mbak..
seketika kekesalanku yang bertahun tahun menghilang begitu saja.. " jawab Rania sembari mengangguk pelan, pertanda Rania sudah benar benar memaafkan Wulan.
" Ya Allah Rania... " Wulan menangis sembari menggenggam tangan Rania.
Melihat Wulan yang menangis seperti itu di hadapannya tentu saja Rania hanya bisa menghela nafas sembari mengelus pundak Wulan.
Dan beberapa menit kemudian, ketika Wulan sudah mulai tenang, Wulan teringat lagi akan satu lagi tugasnya yang belum selesai, ia buru buru menyeka air mata harunya.
" Ada lagi yang harus ku sampaikan.. tolong dengarkan baik baik.. " ujar Wulan.
Karena melihat anggukan Rania tanpa menunggu lagi Wulan menceritakan apa yang ia ketahui dan lihat pada saat itu.
Bahwa Aksara memang tidak mengenal perempuan itu.
Aksara juga menggendongnya karena spontan saja.
Wulan berusaha meyakinkan Rania bahwa apa yang dia pikirkan tidak pernah benar benar terjadi.
Rania lagi lagi terdiam, rautnya resah namun juga lemah.
" Wajar saja jika ada lipstik yang menempel, kau tau riasan acara seperti itu tidak tipis dek.." ujar Wulan berusaha menghapus semua tanda tanya di pikiran Rania,
" kalau soal tidak jujur memang ku akui dia bersalah..tapi sesuai apa yang di dengan suamiku dari Marlino, dan Marlino mendengar sendiri dari mulut suamimu..
Aksara takut jika kau tau ada perempuan yang menganggunya,
ia takut kau stress.. karena kondisimu sedang hamil,
karena itu dia berniat menyelesaikan hal ini sendiri..
saat itu pun dia menemui Fatan dan perempuan itu untuk memarahinya, bukan untuk apa apa..
jadi tenanglah dek, jangan berfikir terlalu banyak..
dia mencintaimu.." jelas Wulan panjang lebar.
" Entah kenapa.. rasanya lucu sekali aku mendengar semua pembelaan ini dari mbak.." ujar Rania tersenyum tipis.
" Harapanku mendengarkan penjelasan yang sesungguhnya darinya ketika disini..
tapi dia malah pergi begitu saja.. " Rania tertunduk menahan air matanya.
" Aku salah mbak.. aku salah tidak bertahan disana dan mendengarkannya bicara..
andai saja dia tidak berbohong, andai saja dia jujur bahwa akan menemui perempuan itu dan menyelesaikan masalah..
aku tidak akan emosi dan melangkah keluar dari rumah..
mbak tau kan rasanya? ketakutan itu?"
Wulan sontak memeluk Rania, dan air mata Rania tumpah di bahu Wulan.
" Aku juga terkadang masih takut di khianati dan ditinggalkan..
tapi rasa seperti itu seperti mencekik kita setiap saat..
jadi ayolah, kita sembuhkan diri kita bersama sama..
mari kita bangkit dari luka masa lalu yang membelenggu kita.." Wulan menenangkan sembari mengelus punggung Rania perlahan.
Rania masih saja menangis perasaannya campur aduk.
" Menangislah yang keras.. tidak apa apa.." ujar Wulan seperti mengingat dirinya sendiri yang sering menahan beban dan hanya bisa menangis tanpa suara.
" Kadang.. kita tidak bisa menghargai sesuatu yang masih terlihat jelas oleh mata kita, namun.. saat sesuatu itu sudah tidak bisa di lihat oleh mata kita selamanya.. dari situ kita baru sadar.. kalau kita sudah kehilangan sesuatu yang berharga, dan kita sudah menyianyiakan nya.." suara Wulan lirih.
Rania melepas pelukan Wulan dan menyeka air matanya,
" Maafkan aku mbak.. aku terlalu larut dalam kesedihanku.. " ucap Rania dengan mata yang semakin sembab.
" Sudah.. cukup tangisanmu.. ini semua bukan masalah besar..
perempuan itu saja yang kurang ajar,
aku tidak menyalahkan sikapmu..
karena Aksara juga turut andil dengan kepergianmu dari rumah..
kadang aku heran, dia pintar dalam urusan kerja, tapi dia sangat bodoh dalam urusan cinta..
jadi sudahlah..
berbaikanlah.. tidak ada gunanya bagi kalian yang sama sama mencintai bersikap seperti ini.." nasehat Wulan.
Rania tertunduk, air matanya masih menetes, namun tidak sederas tadi.
" Aku saja, yang sudah mengajukan cerai bisa kembali seperti semula.. jadi jangan berkecil hati.. " lanjut Wulan.
" Bagaimana bisa mbak melupakan kesedihan mbak dan memutuskan untuk kembali dengan mas Ilham?" tanya Rania masih belum bisa sepenuhnya mengerti,
Wulan menghela nafas panjang, lalu tersenyum sembari membelai kepala Rania.
" Seorang teman yang kehilangan istrinya datang padaku..
dia memberiku pengertian dan arti dari penyesalan terdalam..
Dia berkata, bagaimana jika besok aku tidak bisa menatap wajah mas Ilham lagi, bukan karena mas Ilham pergi, tapi karena mas Ilham di panggil sang pencipta dan takkan bisa kembali ke dunia ini..
dia memberitahuku apa arti kerinduan yang tidak akan bisa aku tanggung jika aku sampai kehilangan mas Ilham.."
Rania terdiam, ia terlihat shock dengan kata kata Wulan.
" Seketika aku sadar.. bahwa aku harusnya bukan mengakhiri, tapi lebih menghargai kesempatan yang Tuhan sudah berikan kepada kami..
merawat Ami baik baik dengan tangan kami berdua.. "
Rania terdiam,
" Mari kita belajar memperbaiki dek.. bukan semakin menghancurkan..
traumatik adalah hal yang sulit di sembuhkan, tapi yakinlah, cinta dari suami suami kita bisa membantu kita pulih perlahan.." ujar Wulan tersenyum penuh arti, ia lagi lagi membelai kepala Rania layaknya Rania adalah adiknya sendiri.
__ADS_1