Aksara Rania

Aksara Rania
kunjungan Ilham


__ADS_3

Aksara kembali ke tempat kerjanya tanpa membawa Rania, selain karena kebekuan diantara keduanya yang belum mencair,


tante Irma juga memberi masukan pada Aksara kalau Rania lebih baik di jawa dulu, karena bulan kelahiran anaknya sudah dekat.


Aksara juga menginginkan Rania melahirkan di jawa saja, karena ada banyak kebutuhan yang tidak bisa ia penuhi disana, seperti selamatan dan ini itunya.


Ia hanya bisa berharap akan ada kabar baik tentang kepindahannya.


Meskipun dengan hati yang masih


khawatir, tapi setidaknya dia tau kalau Radit tidak akan mengganggu istrinya lagi.


Aksara yang sedang duduk sembari merokok di teras tiba tiba berdiri,


ia berjalan ke arah pagar.


" Sama siapa mas?" tanya Aksara sembari membuka pintu pagar.


" Dengan Wulan dan Ami, tapi mereka ke panakukang.. aku minta mereka meninggalkanku disini dan nanti menjemputku lagi.." jawab Ilham mengulas senyum.


" Masuk mas.." Aksara berjalan masuk ke dalam rumahnya, Ilham mengikuti dengan langkah tenang.


" Kita berbincang di dalam saja, hari juga sudah mulai malam.." Aksara mempersilahkan Ilham duduk di ruang tamunya.


" Bukankan kau di teras tadi.."


" iya.. merokok sebentar mas, kebiasaan.. Rania selalu mengomel kalau aku merokok di dalam rumah.." Aksara berjalan ke dapur sebentar, tak lama ia kembali dengan dua botol kopi dingin di tangannya.


" Kopi botolan tidak apa apa ya mas.. ?" Aksara menaruh dua botol kopi itu di meja, satu untuknya dan satu untuk Ilham.


" Kemana istrimu?" tanya Ilham,


Aksara diam sejenak, raut wajahnya tiba tiba sedikit berubah lebih murung dari yang sebelumnya.


" Mas tidak tau.. dia marah padaku dan pulang ke kampung.." jawab Aksara kemudian.


" Aku tau.. karena itu aku buru buru kesini.." jawab Ilham,


" mas tau dari mana? orang kantor tidak ada yang tau mas?" Aksara sedikit khawatir jika masalahnya di ketahui banyak orang.


" Tidak ada berita apapun kok.. kebetulan saja aku bertemu Marlino.."


" owh.. iya, ku kira ada kabar aneh tentangku.."


" tidak.. tenang saja.. mungkin Marlin merasa aku bisa membantu menenangkanmu, karena dia juga khawatir melihat dirimu yang sekarang.."


Aksara lagi lagi diam,


" Aku tidak habis pikir dengan hal ini.. masalah kecil yang berubah jadi besar hanya karena ketidakjujuran ku pada istriku.." ucapnya kemudian,


" ini hanya salah faham saja, mungkin kondisi istrimu sedang labil.. kau tau kan orang hamil itu sensitif sekali..


kadang pemikirannya juga aneh aneh dan berlebihan..


kita tidak bisa menggunakan kata seharusnya dia mengerti, dewasa atau bijaksana..


tidak bisa, mereka sedang dalam kondisi yang tidak biasa.. seperti lebih perasa, lebih mudah marah, dan lebih cenggeng..


kau harus mengerti itu.."


" aku tau mas.. aku juga berlebihan.. aku lupa jika istriku juga membutuhkan ruang agar dirinya tetap bisa 'waras' dalam berfikir..


setinggi apapun gelar dan pendidikan seseorang.. jika sedang tertekan dia juga akan melaksanakan hal selayaknya manusia biasa pada umumnya..


aku tidak bisa menyangkal itu..


sejak awal aku menikahinya aku sudah berjanji pada diriku sendiri.. seperti apapun dia aku akan mendampinginya.. dan aku akan melakukan itu sampai akhir.."


Ilham menghela nafas panjang, kemudian tersenyum.


" Dengan status kita.. terkadang kita memaksa istri kita menjadi sosok sempurna,

__ADS_1


karena ia di lihat dan di perhatikan banyak orang..


sedikit sedikit kita bicara.. malu kita ini harusnya jadi contoh yang baik, sedikit sedikit kita bicara, kamu itu kan seorang A seorang B, pendidikanmu cukup untuk membuatmu jadi sosok yang sempurna..


harusnya kamu begini, harusnya kamu begitu.. banyak patokan kesempurnaan yang di buat oleh orang lain..


tapi kita lupa, yang mempunya jabatan itu kita.. yang harus kokoh dan bijak itu kita..


dia hanya perlu mengimbangi langkah kita, bukan menjadi sekuat dan sebijak kita..


bahu kita adalah tempatnya bersandar..


dan di balik semua kelelahan jiwanya sudah menjadi tugas kita untuk memeluknya dengan lembut,


sembari mendidiknya pelan pelan..


tidak ada sesuatu yang sempurna,


mungkin di hadapan orang lain mereka bisa sempurna, menata senyum, menata sikap dan bersikap bijak,


tapi.. istri kita itu bukan robot Sa.. kita harus memahaminya dengan baik agar mereka tidak merasa tertekan mendampingi kita..


kau tau sendiri..


aku yang bodoh ini sibuk dengan duniaku sendiri hingga tidak menyadari hal hal yang ku lakukan di masa lalu membuat istriku menderita stress akut..


jika Wulan tidak meminta cerai saat itu, sampai detik ini aku tidak akan tau betapa bahayanya stress akut itu..


bukan membenarkan kelemahan, tapi..


perempuan yang bijaksana sekalipun.. jika ia mempunyai kelelahan jiwa dan terlalu banyak, memendam trauma bisa menjadi tidak realistis dalam berfikir..


trauma itu bukan sesuatu yang bisa hilang atau sembuh dengan mudah.." jelas Ilham panjang lebar berusaha membuat Aksara mengerti.


"tapi, alhamdulillah..


setelah istriku bisa menerima segala sesuatunya dengan baik.. ia mulai ikhlas dengan apa yang sudah terjadi di masa lalu..


ia berangsur membaik,


tidakkah kau lihat istriku semakin cantik dari hari ke hari.. " lanjut Ilham, ia tersenyum bangga sedikit mengesalkan.


" Hemmm..." jawab Aksara sekenanya,


" kok hemm..." sahut Ilham tertawa.


" aku mau bicara apa lagi pada suami bucin.." ujar Aksara,


" apa kau tidak?"


" biasa saja mas.."


" omong kosong.. kau memukul orang kan baru baru ini?"


" mulut si Marlin bocor.." gerutu Aksara,


" jangan salahkan Marlin, dia itu khawatir padamu.." Ilham membuka sebotol kopi yang di letakkan Aksara di hadapannya, lalu meminumnya beberapa teguk.


" Kau hajar habis habisan?"


" tidak.. aku orang yang baik dan lemah lembut mas.."


" alah.. lambemu.." Ilham melempar Aksara dengan bantal sofa, keduanya tertawa.


" Kau yang tenang Sa.. kalau kau terbawa emosi situasi akan semakin rumit.." nasehat Ilham.


" iya mas.. aku akan berusaha, aku memang sempat tidak waras.. untung saja kejadian itu di jawa..


kalau disini, tidak tau mau di taruh mana mukaku.. "


" Kalau aku jadi dirimu juga pasti marah, wajar saja.. tapi jangan kau ulangi lagi..

__ADS_1


melihat sosok Rania, dia sebenarnya bukan perempuan yang mudah tergoda dengan laki laki tampan.. "


" istriku tidak tergoda mas, aku tau itu..


tapi kalau laki laki itu terus saja mepet.. apa aku tidak panas melihatnya..?


tidak normal kalau aku diam tanpa memperingatkannya..?!


aku bedalah sama mas.."


" maksudmu opo.. ? jadi harusnya aku meninjumu dari dulu begitu?"


" ya kalau aku menggoda Wulan boleh saja mas meninjuku.. tapi kenyataannya tidak kok.." jawab Aksara,


" ya karena itu aku diam menahan, coba saja kau gatal.. habis kau sudah ku lempar.."


" lho kan, jahatnya kelihatan.. jadi selama ini pura pura lemah lembut dan bijaksana terhadapku?"


" susah wes susah.. ngomong sama suami yang sedang merana dan kesepian itu sulit.. " ejek Ilham.


" Jangan begitu mas.. tidak ingat dirimu sendiri beberapa bulan yang lalu ya?" Aksara mengingatkan,


" kau menangis lho mas, mewek mewek di hadapanku... harusnya ku rekam adegan mas mewek.." imbuh Aksara membuat raut Ilham berubah.


" Jangan mulai menyebalkan Sa.. ?!" Ilham kesal di ingatkan akan kesedihannya saat Wulan meminta cerai.


" Amit amit.. aku tidak mau bahas itu, aku ingin seterusnya baik baik dengan istriku..?!" imbuhnya,


" mas mengejekku duluan.." gerutu Aksara


" aku bercanda Sa.. bercanda..?!".


Keduanya berbincang lama sekali, hingga Ilham tak sadar Wulan sudah menunggunya di depan rumah Aksara.


" Belanja apa sayang?" tanya Ilham sembari memegang kemudi,


" baju baju Ami, aku juga beli sepatu untuk Fahim.." jawab Wulan,


" aku?" tanya Ilham,


" celana pendek dan kaos.." jawab Wulan melirik suaminya,


" alhamdulillah.. masih di ingat.." Ilham melempar senyum pada istrinya.


Ilham berkendara dengan tenang, ia berhati hati karena Ami sedang tertidur di kursi belakang.


" Kita pulang ke jawa ya lusa?" ucap Wulan tiba tiba,


" lho? kok tiba tiba.. kan rencananya bulan depan..?" Ilham heran,


" aku ada urusan.. bapak juga sakit dari kemarin kata Fahim.."


" bapak sakit ya harus kita jenguk.. tapi urusan itu urusan apa?" tanya Ilham ingin tau,


" urusanku.. " jawab Wulan pelan,


" ya urusanmu apa? aku ini suamimu.. masa tidak boleh tau urusanmu??"


Wulan menatap Ilham sejenak, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah jalan raya.


"Jangan bilang ada urusan sama yang namanya Ahmad Ahmad itu?" tanya Ilham dengan raut wajah tidak mengenakkan.


" Apa penyakit Aksara menular? padahal baru beberapa jam mas berbincang dengan Aksara, bisa ya secepat ini virus Aksara menular.. ckckck.." Wulan menggeleng gelengkan kepalanya.


" Ahmad itu duda kan? buat apa dia mencari mu terus ketika kau pulang ke kampung?"


" eh.. eh.. eh.. di teruskan.. aku dan Ahmad adalah sahabat lama, tidak pernah sekalipun ada perasaan aneh diantara kami, jadi jangan berfikir buruk, andai mas tau kalau dia menasehatiku saat aku marah kepadamu, mas akan malu menuduhnya?!


sana balik lagi, tidur sama Aksara, kelakuan kalian lama lama sama, di kira istrimu ini apa.. ?" omel Wulan.


" Habisnya, tinggal ngomong ada urusan apa.. tapi kok sepertinya rahasia sekali.. sampai aku pun tidak kau beri tau.." Ilham masih sewot,

__ADS_1


" Aku mau bertemu teman lama, dan itu perempuan, bukan laki laki.. sudah? jelas?"


" nah.. begitu dong.. aku kan jadi tenang.. " Ilham memperbaiki raut wajahnya menjadi nyaman di pandang, sembari sesekali tersenyum pada istrinya.


__ADS_2