
Safa sedang sibuk di dapur dengan Rania, beberapa hari ini Rania selalu memberi kesibukan Safa dengan kegiatan yang mungkin tidak pernah ia lakukan dengan kakak nya.
" Sekarang masukkan ikannya pelan pelan.. jangan di lempar.." Rania bertindak seolah olah ia adalah seorang ibu, dan Safa nyaman sekali dengan itu.
" terus di tambahkan asam bu?"
" nanti saja, kalau sudah setengah matang.. " jawab Rania sembari memotong motong daun bawang.
" Ibu biasanya memasak sendiri?" tanya Safa memperhatikan ibu gurunya,
" sejak remaja ibu sudah terbiasa masak sendiri.. "
" wahh.. suami ibu pasti senang punya istri yang rajin masak.."
" suami ibu jarang makan masakan ibu.."
" lha kenapa bu?" tanya Safa polos,
" kan suami ibu dinas di luar jawa.."
" oh.. iya ya.." Safa mengangguk,
" nggak kangen bu? jarang bertemu?" tanya Safa santai sekali seperti Rania bukan gurunya.
Rania tersenyum sedikit pahit,
" Mana mungkin ibu tidak kangen.." Rania terus saja sibuk memotong daun bawang.
" Apa kangen nya suami dan istri sama seperti kangen nya orang pacaran bu?"
" Mungkin sama...tapi, suami istri punya tanggung jawab dan kewajiban, banyak hal yang harus di lakukan dan di rencanakan dengan baik agar ke depan nya bisa hidup dengan nyaman..
tidak semua orang sepemikiran dengan ibu, karena proses hidup orang berbeda beda.. "
" Kenapa ibu tidak ikut suami saja? kenapa capek capek bekerja mengurusi kami yang sulit di atur ini?"
Rania mengambil cabe dan tomat, mengirisnya dengan hati hati.
" Suami ibu sebenarnya lebih senang ibu ikut.. tapi sepertinya dia tidak tega melihat ibu yang senang sekali mengajar ini harus berhenti bekerja.. jadi dia yang mengalah pulang kesini setiap ada kesempatan.."
" Apa ibu tidak takut??"
" takut apa?"
" suami ibu di ganggu perempuan lain?"
Rania terhenyak, ia menghentikan kesibukannya memotong dan berbalik ke arah Safa yang sedang sibuk menggoreng ikan.
" Itulah yang harus Safa pahami.. hidup tidak selalu sesuai dengan ekspetasi kita..
apa Safa pernah berfikir di
suatu ketika Randy akan menyukai perempuan lain selain Safa?"
Safa terdiam, wajahnya tegang seketika.
" Kecantikan bisa memudar karena usia, jadilah perempuan yang cerdas dan berprestasi.. berdirilah di atas kaki mu sendiri,
jadi ketika nanti laki laki yang kita cintai mulai tidak setia, kita bisa tetap hidup dengan baik..
hati boleh terluka, namun hidup kita harus tetap baik baik saja.." jelas Rania dengan tenang.
Ia teringat akan hidupnya dan ibunya yang sempat terlunta lunta ketika di tinggalkan ayah kandung nya begitu saja.
Ibu yang fokus dengan pekerjaan rumah dan tidak punya pengalaman kerja apapun itu seketika hancur ketika ayah memilih perempuan lain dan meninggalkan tanggung jawabnya sebagai suami.
Setelah di ceraikan Ayah, ibu dan Rania kecil berjuang hidup bertahun tahun, menjadi asisten rumah tangga, berjualan makanan, bahkan sampai makan sehari sekali sempat Rania rasakan..
sampai akhirnya Bapak yang penuh dengan ketulusan meminang ibu karena kasihan.
Benar.. Bapak terang terangan berkata menikahi ibu bukan karena cinta, tapi karena ingin membantu kehidupan kami saja, karena sampai kapan pun Bapak akan tetap mencintai Ibu Aksara, dan menjadikan ibu Aksara satu satunya penghuni hatinya.
Rania menghela nafas berat, ia tidak ingin ada perempuan perempuan lain merasakan hal seperti yang ia dan ibunya rasakan, karena itu.. bekerja dan mandiri adalah hal yang penting untuk Rania.
"Ibu saja yang sudah menikah punya ketakutan, lalu kenapa kamu dengan mudah menyerahkan kegadisan mu pada seseorang yang belum tentu akan membahagiakan mu Safa?
bukan kah Randy juga harus menjadi seorang laki laki yang sukses jika ingin membahagiakan mu?
pikirkan lagi.. semisal ibu melapor pada kepala sekolah bagaimana kalian akan menanggung ini? lari berdua? hidup terlunta lunta? hamil di usia muda? Randy yang tidak punya ijazah bekerja serabutan dan bahkan
tidak bisa mencukupi mu dan bayi mu..
sementara teman mu yang lain menjadi seorang guru, dokter atau bahkan pengusaha kecil.. atau pun menjadi ibu rumah tangga yang di cukupi suami nya dan bisa berbelanja apapun yang ia suka..
apa kau tidak akan menangis menyesal kelak??
pikirkan ini baik baik..
__ADS_1
jangan pertaruhkan masa mudamu untuk perasaan mu yang mungkin hanya cinta monyet..
ibu tidak melarang kalian jatuh cinta, tapi belum waktunya kalian melakukan hal sejauh itu..
kalian masih sama sama sekolah..
ingat Safa.. Randy juga harus berjuang untuk masa depannya.. kalian harus lanjut sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang baik.. jangan memberi celah siapapun untuk meremehkan kalian..
jadilah seorang adik yang bisa di banggakan kakak mu..
setelah itu, kakak mu pun tidak akan berhak lagi melarangmu..
apa kau mengerti apa yang ibu tekankan?,
untuk mendapatkan pengakuan kau harus bekerja keras, sekolah yang baik dan hasilkan uang sendiri..
bukan berarti perempuan yang diam dirumah saja tidak pantas di hargai.. tidak, mereka justru lebih mulia karena mengorbankan impian impian mereka demi merawat anak dirumah..
namun akan lebih baik jika mereka mempunyai pekerjaan,dan bisa menghasilkan uang sendiri.. untuk berjaga jaga akan hal yang mungkin saja terjadi tiba tiba di luar rencana hidup mereka selama ini..
coba bayangkan.. jangan sampai, tapi kalau sampai Safa hamil duluan, tidak hanya kakakmu yang akan menangis, tapi almarhum ayah dan ibu mu..
tentunya mereka berharap Safa menjadi perempuan yang hidup berkecukupan dan bahagia.. " ujar Rania panjang lebar..
entah apa yang ia katakan pada Safa masuk akal di pikiran Safa atau tidak, ia juga bukan guru BP yang pandai menasehati, namun setidak nya ia tulus menasehati murid nya ini.
Suasana mulai hening, karena Safa tidak menjawab sepatah pun.
" Mbak.. ada tamu, kakak mbak Safa katanya.." yuni masuk ke dapur ,
" tuh Mas mu nduk.. temui sana.. "
" ibu saja, saya nggak mau.. saya di marahi terus kalau tidak ada orang"
Rania tersenyum,
" mbak Yun, teruskan dulu ya.. sekalian bantu Safa.." ujar Rania mencuci tangannya, lalu berjalan ke arah ruang tamu.
Terlihat laki laki berkulit terang itu masih berseragam lengkap, wajahnya yang kalem tampak lelah.
ia duduk bersandar sampai sampai tidak menyadari kehadiran Rania.
" Selamat sore pak Radit.. " sapa Rania ramah sembari duduk.
" Oh, sore.. maaf saya bertamu tanpa mengabari.." wajahnya tidak se ramah ketika awal mereka bertemu.
Radit mengangguk sedikit Ragu,
" ah..tidak usah saja, titip ini saja.. saya takut adik saya merepotkan.." Radit memindahkan dua kantong kresek besar yang sepertinya berisi kue cemilan Safa.
" Pak.. serahkan sendiri ya...?" Rania tersenyum mengerti, melihat Radit sekarang seperti melihat Aksara, terkadang hatinya ingin namun sikapnya berbeda.
Laki laki cenderung malu untuk menyatakan kasih sayangnya pada anggota keluarganya.
" Saya langsung pulang saja, toh saya juga mampir.. " Radit bangkit.
" Pak.. duduk sebentar.. " suara Rania tenang.
" Bapak sayang Safa bukan?" Rania menatap Radit seksama.
" tidak ada kakak yang tidak sayang adiknya bu.." jawan Radit tenang.
" ya sudah.. bapak kan pulang kerja, pasti belum makan..
karena Safa yang memasak sore ini, bagaimana kalau bapak makan disini saja.. alhamdulillah 3 hari ini dia sudah mulai bisa menerima masukan masukan saya..
jadi.. bapak tunggu disini sebentar, saya akan siapkan makanan.." tanpa mendengar jawaban dari Radit Rania bangkit dan berjalan ke dapur.
Tak lama 30 mereka berkumpul di ruang makan, suasana yang sedikit tegang mencair karena Rania terus saja mengajak keduanya bicara.
sesekali di pembicaraan itu di selingi dengan tawa Safa.
Radit sedikit kaget, bagaimana adiknya bisa senyaman ini berada dirumah gurunya.
Sementara selama ini dia tidak pernah betah dirumah.
ketika makan malam selesai Rania sengaja membiarkan Safa dan kakaknya berbincang di teras sebelah yang berhadapan dengan balai.
suasana nyaman karena angin bebas berhembus kesana kemari menggoyangkan daun daun dari pohon yang rindang di sekitar halaman.
" Kamu senang disini Fa?" tanya Radit duduk sambil menatap halaman.
" Iya Mas.. bu Rania baik padaku.."
Radit diam sejenak, lalu menghela nafas berat.
" Maaf kan Mas ya.." kata Radit tiba tiba membuat Safa menoleh ke arahnya,
__ADS_1
" Mas tidak memahami perasaanmu dengan baik..
sejak ayah dan ibu meninggal, mas tidak mendidik mu dan memberikan mu kasih sayang dengan baik..
Mas hanya sibuk bekerja siang dan malam.."
nada Radit penuh penyesalan,
" Mas berfikir dengan bekerja giat Mas akan bisa memenuhi segala hal yang kau ingin kan, Mas juga ingin memberikan mu tempat belajar yang baik sehingga kau bisa menjadi orang yang mandiri nanti..
punya pekerjaan yang baik, suami yang bisa mengimbangi kesuksesan mu.." suara Radit berat,
" Setidak nya pilihlah laki laki yang baik.. jika kau memiliki suami yang baik kelak, Mas akan hidup tenang.. "
Radit menghela nafas dalam, ia terus saja berfikir bagaimana cara yang baik untuk membuat adiknya mengerti bahwa yang lakukan itu tidak benar.
" Safa tau umur Mas berapa sekarang?" tanya Radit memandang adiknya,
" 27 tahun Mas.."
" Apa sudah seharusnya Mas menikah dan mempunyai anak?"
" seharusnya sudah Mas.." jawab Safa lirih.
" Tapi Mas memutuskan tidak akan menikah sebelum Safa mandiri.. keinginan Mas sama sekali tidak penting di banding kan kebahagiaan mu.. "
Safa tertunduk dalam mendengar itu,
" apa Safa pernah berfikir bagaimana perasaan Mas??
Mas menjaga Safa baik baik.. jangan kan jatuh, kalau bisa tergores pun jangan..
tapi Safa yang Mas jaga baik baik..
malah bertindak seperti ini..
Malam itu, pulang dari sekolah Safa Mas menangis saking marah dan kecewanya.
Mas merasa sudah lalai dari tanggung jawab yang bapak dan ibu berikan, Mas tidak bisa menjaga mu dengan baik..
se kuat apapun Mas, Mas hancur jika kau hancur..
Safa mau nya Mas bagaimana??
rasanya Mas sudah tidak sanggup berfikir lagi.." Radit memandang adiknya itu dengan mata berkaca kaca,
" Maaf kan Safa Mas???! maafkan Safa??!!" gadis berumur 17 tahun itu sontak memeluk kakaknya penuh air mata, ia menangis sejadi jadinya karena sadar sudah sangat melukai hati kakaknya dengan perbuatannya.
Sementara Radit hanya bisa memeluk adiknya itu sambil menghapus bulir bulir air mata yang mengalir di pipinya.
" Safa janji akan patuh.. Safa akan sekolah dengan baik, Safa akan jadi anak yang bisa Mas banggakan.. supaya Mas bisa cepat menikah dan tidak menunggu Safa lagi.." ujar Safa masih terisak,
" Safa benar benar akan patuh pada Mas?"
" Iya, Safa mau Mas Radit bahagia.. Safa tidak akan nakal lagi Mas.. ???!" Safa terus saja terisak di pelukan kakaknya.
Rania mengantarkan Radit ke depan pagar rumahnya,
" Bagaimana perasaan ibu?" tanya Radit tiba tiba,
" tentang apa pak?" Rania bingung,
" mengintip saya yang sedang menangis bersama adik saya?"
Rania kaget, bagaimana Radit bisa tau kalau ia mengintip dari jendela.
" Maaf kan saya pak.. " Rania menundukkan pandangannya, ia malu karena sudah bersikap tidak sopan.
Radit tersenyum sekilas,
" terimakasih bu.. ibu sudah menolong saya memberi pengertian pada adik saya.." ujarnya dengan ekspresi yang sudah lebih baik,
" anggap saja ini balasan karena Bapak saat itu juga menolong saya.. " jawab Rania.
" Apa Safa akan terus disini sesuai jadwal?"
" iya.. biarkan dia tetap disini sampai minggu ini.. "
" jika ibu ada masalah, silahkan hubungi saya kapan pun.. saya akan membantu ibu dengan senang hati.. "
" tentu saja pak Radit.. " Rania tersenyum,
" baiklah bu Rania, terimakasih untuk makan malamnya.. " Radit tersenyum dan membantu Rania menutup pagar.
" Hati hati dan selalu kunci pagar ya bu.." suara Radit mendadak lembut dan bibirnya tak henti tersenyum pada Rania,
" tentu saja pak.. terimakasih.." Rania membalas senyum Radit sambil mengunci pagarnya.
__ADS_1
Setelah Radit pergi dengan mobilnya Rania segera masuk ke dalam rumah dan menemui Safa untuk melanjutkan perbincangannya dengan santai.