
" Aku faham mbak.. ada beberapa hal yang sebenarnya tidak mudah di lupakan.." Ucap Fahim pada kakaknya yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur, ia memberikan beberapa obat dan segelas air putih untuk di minum kakaknya.
" Mbak tau..? beberapa orang meyakini itu sebagai kenangan..
bagi orang orang yang tulus kenangan adalah kebahagiaan,
bagi orang orang yang pernah terluka itu adalah sebuah trauma.." Fahim menyeka air mata kakaknya yang turun tanpa henti, Wanita itu menangis sejadi jadinya tanpa bersuara sedikitpun.
Untuk pertama kali ia menangis terang terangan di hadapan adiknya.
" Tidak mudah menjadi orang yang tulus.. lalu di penuhi trauma pada akhirnya..
tapi itu hanya fase kehidupan mbak..
kenapa membiarkan dirimu kalah.." Fahim menyeka air mata kakaknya untuk kesekian kali.
" Fahim...?" tangis Wulan lirih,
" kenapa mbak? kenapa mbak yang bagiku tangguh ini, membiarkan trauma menguasai dirinya..
membiarkan trauma itu membawamu pada sisi tergelap yang ada di dirimu..
sehingga yang mbak temukan hanyalah keburukan keburukan dan keputus asaan.." Fahim memijat telapak tangan kakaknya perlahan agar tangis kakaknya itu mereda.
" Banyak orang yang jatuh sepertimu..
tapi mereka memilih bangkit..
lalu kenapa..? kenapa kau tidak mau bangkit seperti yang lainnya mbak..?"
" itu karena aku tidak pantas diampuni..
kesalahanku memenuhi kepalaku setiap saat.. " Wulan masih terisak,
" aku lelah berpura pura tangguh..." imbuhnya mencengkeram dadanya yang mulai nyeri.
" Mama meninggalkan aku untuk kau rawat mbak.. untuk kau jaga..
lalu kalau kau terus begini seumur hidupmu siapa yang akan ku jadikan sandaran ketika aku juga lelah..
aku tau betapa beratnya punggung dan bahu anak pertama..
tapi kau tidak bisa lari dan mencampakkan aku begitu saja..
kau harus sembuh mbak..
menangis lah.. menangis lah yang keras..,
tapi setelah itu..
membaik lah..
kumohon mbak.."
Wulan menatap Fahim dengan penuh air mata,
bocah kecil ini, sekarang sudah bisa menasehatiku... pikir Wulan, padahal ia masih bau ingus ketika mamanya meninggal.
" Mama?!" suara Ami melengking di telinga Wulan,
Wulan terdiam, ia menatap Fahim.
" Mama?!!" suara itu terdengar lagi, raut Wulan semakin takut.
" Bukan halusinasi.. itu benar benar suara Ami mbak.." ujar Fahim,
" tidak mungkin, Ami tidak disini.." Wulan menyeka air matanya.
" apa yang tidak mungkin.. ? itu mereka.." Fahim menggerakkan dagunya, menunjuk ke arah pintu yang terbuka perlahan.
Wulan menoleh seketika ke arah pintu kamar, sesosok anak yang ia rindukan sedang berlari ke arahnya,
dan yang paling mencolok, laki laki bertubuh tinggi yang berdiri di belakangnya.
"Itu anak dan suamiku..." gumamnya lirih,
" iya.. itu anak dan suamimu.." jawab Fahim mendengar gumam kakaknya.
" Maafkan aku mbak.. aku yang menyuruh mereka kemari..
aku tidak mau menyaksikan mu sendirian seperti ini.. mas Ilham harus tau kau juga menderita.." ujar Fahim menyentuh tangan kakaknya lalu bangkit,
__ADS_1
" mama??" langkah Ami terhenti, ia ragu untuk mendekat, wajah ibunya sedang tidak baik baik saja.
" Mendekatlah.. tidak apa apa.. mamamu hanya sedang sakit..
sana peluk mamamu sayang.." bisik Fahim pada Ami.
Mendengar ucapan Fahim Ami memberanikan diri, ia melangkah perlahan dan memeluk Wulan.
" Ami rindu mama.."
kata kata Ami membuat tangis Wulan pecah lagi, ia tak sanggup menahan diri, di peluk putrinya itu erat erat.
" Mama juga rindu sayang..?, maafkan mama... maafkan mama..??" Wulan terisak sejadi jadinya.
Ilham membiarkan Ami bersama dengan ibunya, ia tidak berani mendekat untuk sekarang.
Tapi ia merasa bersyukur adik iparnya menyuruhnya kemari.
Mendengar kondisi Wulan yang tidak stabil ia tidak bisa diam saja.
Ilham segera mengambil ijin dan membawa Ami.
" Ada apa sebenarnya?" suara papa Wulan mengintimidasi.
Ilham duduk tertunduk, bingung harus mulai dari mana.
" Maaf pa.. apa Wulan tidak cerita?"
" cerita apa?"
Ilham lagi lagi bingung harus menjawab apa,
" kalian bertengkar?" tanya papa Wulan,
" pantas saja dia pulang sendiri?!" imbuh papa Wulan dengan nada lebih tinggi.
" Kami.. " kalimat Ilham terhenti,
" sebenarnya kami.." Ilham melanjutkan kalimatnya,
" kami tidak apa apa pa.. " Suara Wulan mengejutkan Ilham.
Perempuan itu berjalan ke ruang tengah dimana Ilham dan papanya sedang duduk,
" Kami hanya bertengkar kecil, kesalahpahaman yang biasa terjadi.."
Wulan duduk di sebelah papanya,
" iya kan Mas?" tanya Wulan menatap Ilham yang masih kaget.
" i iya pa.." jawab Ilham tertunduk kembali,
entah kenapa rasanya ia tak berani mengangkat kepalanya sama sekali.
" Dengarkan Aku Ilham, cukup sekali kau menyakiti anakku.. tidak ada kedua kali! jika aku mendengar kau menyakiti Wulan lagi, bagaimanapun caranya aku akan melemparkanmu ke dalam keterpurukan, kau akan lebih terpuruk dari putriku jika kau melukainya lagi!
Bahkan jika itu harus memisahkanmu dengannya akan ku lakukan, kau pikir hanya kau laki laki di dunia ini?!"
tegas papanya,
" inggih pa.." jawab Ilham masih tertunduk,
" Kalau kau memang laki laki, perbaiki kesalahanmu di masa lalu dengan benar! jangan biarkan Wulan salah faham padamu dengan cara apapun, itu kalau kau masih mencintainya!
kalau kau masih ingin hidup menua bersamanya!
atau kau sudah tidak mau hidup dengan Wulan lagi?"
" saya salah, saya mencintai istri saya dan ingin menua bersamanya..
saya bahkan akan terus mencintainya meskipun dia sudah tidak mencintai saya lagi.." jawab Ilham cepat,
" benarkah?!" papa Wulan masih bicara dengan nadanya yang tinggi,
" itu adalah bentuk penyesalan saya, dan itu yang sudah saya lakukan selama ini,
saya akan menerima hukuman apapun selama saya di maafkan dan tetap di ijinkan disamping istri saya.."
" kau bahkan rela menukarnya dengan jabatanmu?"
Ilham terhenyak, ia memberanikan diri menatap Wulan, namun wulan membuang pandangannya ke arah lain.
__ADS_1
" saya siap..! apapun itu akan saya lakukan demi menjaga keutuhan keluarga saya!" jawab Ilham yakin.
Ruangan itu senyap sejenak,
papa Wulan yang penuh emosi tiba tiba saja mereda dan menyandarkan punggungnya di bahu sofa yang ia duduki.
" Kau dengar itu nak?"
" iya pa.." jawab Wulan yang sejak tadi diam, sejujurnya ia kaget dengan apa yang didengarkannya.
" Sudahlah.. bekerjalah dengan baik kalian berdua, rawat putri kalian dengan baik dan selalu mencintai satu sama lain.." ujar papa Wulan tenang.
Sesungguhnya laki laki tua itu hanya menggertak, ia ingin tau seberapa berat Ilham pada keluarganya.
Ia pun sesungguhnya sudah tau kalau Ilham sudah banyak berubah beberapa tahun ini dan selalu sabar menghadapi Wulan, tapi hal ini harus ia lakukan demi ketenangan rumah tangga Wulan.
Setidaknya ia bisa meninggal dengan tenang nanti, setelah tau kalau Ilham benar benar mencintai dan akan menjaga anak juga cucunya.
Ilham mengikuti langkah Wulan,
" kenapa mengikutiku?" tanya Wulan menghentikan langkahnya,
" lalu aku harus kemana?" tanya Ilham bingung,
" Kau bisa ambil kamar tamu" jawab Wulan lalu melanjutkan langkahnya memasuki kamar.
Ilham masuk dan menutup pintu,
" Maksudmu apa?" Wulan kesal karena Ilham masih saja mengikutinya.
" Kau mau membuat papa curiga? bukankah kita sudah berbaikan di depan beliau..
tidak baik kalau beliau sampai tau kita tidur di kamar terpisah.." jawab Ilham tenang, meski sesungguhnya hatinya tidak karu karuan.
Maski takut di tolak, ia tetap nekat mengikuti Wulan ke kamar.
" Jangan mengambil kesempatan mentang mentang aku berkata kita baik baik saja.."
keduanya berpandangan,
" aku gerah, ingin mandi dan ganti baju.." ujar Ilham tiba tiba,
" jangan alasan terus, dimana Ami?" Wulan yang tampak lelah duduk di atas tempat tidur,
" bawa Ami kesini, aku ingin tidur dengan Ami" ujarnya sembari merebahkan diri.
" Ami kelelahan, dia tidur di kamar papa.. "
jawab Ilham dengan wajah datar, meskipun sesungguhnya hatinya senang karena bisa berdua saja dengan Wulan.
" Haah... ya sudah lah..." ujar Wulan lelah sembari menghela nafas.
" ya sudah.. aku mandi dulu.." Ilham segera menaruh tasnya dan bergegas mandi.
Ilham membersihkan dirinya sebersih mungkin, menggosok banyak sabun agar bau tubuhnya bisa membuat Wulan nyaman.
Yah.. sebenarnya ia ingin menggoda istrinya itu..
siapa tau nasehat Aksara yang sedikit sesat itu berguna.. pikirnya.
Ilham keluar dari kamar mandi, ia hanya menggenakan handuk, sengaja memperlihatkan tubuhnya yang di rasa masih menawan itu pada Wulan.
Dalam hati ia tersenyum senyum sendiri, niatnya menggoda Wulan sudah bulat.
Ilham berjalan perlahan dengan hati tenang ke arah tempat tidur, dimana Wulan sedang terbaring disana,
Ilham duduk perlahan di atas tempat tidur, tepat di samping Wulan.
Ilham tau Wulan sedang menutup mata, tapi Ilham yakin istrinya itu belum tidur karena ini masih belum terlalu malam.
" Lan..?" panggil Ilham lembut, sembari menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil,
" sudah tidur?" tanya Ilham lagi,
" Lan?" panggilnya untuk kesekian kali karena tidak mendapat jawaban.
Ilham menoleh dengan rasa penasaran karena tak terdengar sahutan sama sekali dari Wulan.
" Owalah..." keluhnya pelan di selimuti rasa kecewa,
Wulan sudah tidur, benar benar sudah tidur, susah payah ia mandi dan menggosok tubuhnya agar wanginya tercium Wulan, tapi ia malah di tinggal tidur begitu saja.
__ADS_1
" Apa aku kelamaan ya mandinya.." gumamnya sembari menghela nafas panjang.