Aksara Rania

Aksara Rania
Ilham


__ADS_3

Wulan memperhatikan Aksara dari jauh, laki laki itu tampak lebih segar dan menawan akhir akhir ini,


" Kau masih saja memperhatikan laki laki lain saat ada suamimu"


Wulan menoleh, ia terkejut melihat suaminya tiba tiba duduk disampingnya.


" Kenapa kau disini?" tanya Wulan heran, karena mereka tidak berada di kesatuan yang sama.


" Panggil aku dengan panggilan yang baik saat banyak orang.. apa kata orang kalau kau tidak menghargai ku begini?"


" jangan omong kosong" jawab wulan acuh,


" Aku sedang ada urusan pribadi.."


" dengan komandan?, jangan macam macam?!" Wulan selalu merasa tidak nyaman ketika suaminya datang ke kantornya,


" Kenapa? kau takut...?" suami Wulan tersenyum santai,


" laki laki itu tidak pernah memandangmu.. kau tidak lelah?" imbuhnya sambil tersenyum.


" jangan menggangguku, karena aku tidak pernah menganggumu saat kau mencari perempuan lain" Wulan sinis,


" aku hanya pernah melakukan kesalahan sekali, tapi kau masih mengingatnya setelah belasan tahun, dan bahkan kau membalasnya lebih hebat.."


" kau lupa.. kau yang membuatku terpaksa berlari pada Aksara saat itu, seandainya kau tidak lari dari tanggung jawabmu.. aku tidak akan pernah mengalihkan pandanganku pada Aksara sedikitpun." tegas Wulan membuat suaminya itu terdiam,


" ya sudahlah.. kau terus saja membicarakan masa lalu.. lebih baik aku pergi.." laki laki itu berdiri dan berjalan pergi.


" Pagi..!" sapa Aksara ketika berpapasan dengan suami Wulan, ia menunjukkan sikap hormatnya.


langkah suami Wulan terhenti, ia menepuk pundak Aksara dan tersenyum.


" Piye kabarmu?" sapa nya pada Aksara ramah,


" alhamdulilah baik.."


" tambah gagah saja setelah menjadi suami.."


" jangan begitu, saya tidak se gagah mas Ilham.."


" bisa saja, ku dengar kau mengajukan pindah?"


" siap Mas.. maunya di jawa saja, sambil merawat peninggalan peninggalan almarhum Bapak.. "


" iya ya.. maaf, aku tidak datang ke pemakaman pak dhe.. "


" tidak apa apa Mas.. " Aksara tersenyum mengerti.


" Apa Wulan masih sering menganggu mu?" tanya suami Wulan yang bernama Ilham itu,


" tidak Mas.. " jawab Aksara menutupi, bagaimanapun juga ia mengenal ilham dengan baik, hubungan ayah ilham dan bapak Aksara juga cukup baik, mana mungkin Aksara sampai hati mengatakan kalau ia masih sering di ganggu.


" Maaf ya.. " ucap Ilham dengan pandangan sayu,


" lho kok minta maaf Mas, Mas tidak bersalah sama sekali terhadap saya.." jawab Aksara mengerti,


" istriku menyakitimu karena aku.. aku wajib seperti ini kepadamu, aku sangat menyesal.. karena aku hidupmu berantakan.."


" tidak Mas, jangan begitu.. saya baik baik saja sekarang,


saya juga sudah bahagia dengan istri saya.. saya hanya menganggap apa yang terjadi saat itu adalah ke khilafan Wulan karena dia tidak punya pilihan.."

__ADS_1


Ilham lagi lagi menepuk pundak Aksara sembari menghela nafas pelan,


" ingin rasanya mengajakmu makan malam bersama dengan istrimu..


aku juga ingin berbincang lama dengan mu..


tapi melihat Wulan yang seperti itu rasanya tidak mungkin.." ujar Ilham dengan kecewa,


" ya sudah, aku kembali dulu.. hubungi aku jika kau membutuhkan bantuanku.."


" nggih Mas.." jawab Aksara tersenyum,


Ilham berjalan pergi ke arah parkiran, sementara Aksara berjalan menuju kantin.


" Aku mau pulang" ujar Aksara pada Farhan dan Marlin yang duduk duduk di kantin sambil meminum kopi,


" tidak bisalah!" Marlin bangkit dan menarik Aksara,


" mentang mentang sudah ada istri dirumah kau sekarang mau pulang setiap istirahat pulang?!" Marlin nyerocos,


Aksara diam, ia menatap sekeliling kantin, ada satu orang anggota yang baru saja masuk ke dalam,


" bisa tidak kau rem sedikit mulutmu itu.." nada Aksara pelan namun tajam,


" iya iya.." jawab Marlin lebih tenang,


" habisnya kau.. bisa bisanya.. kami dulu tidak pulang makan siang demi menemanimu, kami kesampingkan omelan istri, demi apa..? demi dirimu..


agar kau tidak kesepian.." lanjut Marlin dengan kalimat mendramatisir,


" jangan lebay kau.. kau tidak pulang makan siang bukan karena aku, tapi karena rumahmu jauh dari kantor, kau juga.." Aksara beralih pada Farhan yang tenang saja sejak tadi,


" Kau tidak pernah pulang makan siang bukan karena sengaja menemaniku kan?, coba rumah kalian dekat sepertiku.. pasti dari dulu kalian pulang makan siang setiap hari.." kedua laki laki itu terdiam mendengar kata kata Aksara, tumben tumbennya Aksara mengomel, dan sekalinya mengomel si makhluk cerewet bernama Marlin terdiam.


" Ya sudah, ku temani makan siang, tapi besok aku mau pulang kerumah, ya masa tidak ada toleransinya.. aku kan pengantin baru.." gerutu Aksara sembari duduk,


" siapa pengantin baru?" celetuk Marlin,


" pernikahan di bawah satu tahun itu terhitung pengantin baru, masa hal se remeh itu saja harus ku jelaskan?"


Marlin dan Farhan saling memandang,


" suka suka dialah..." ujar Farhan lalu meminum kopinya.


Rania sibuk bercanda dengan rekan rekan gurunya melalui vidio call,


ada suara Dimas, Ina dan Jihan.


" Bagaimana? apa sudah ada guru pengganti ku?" tanya Rania,


" ya belumlah.. orang berhenti mu tiba tiba, mana bisa kepala sekolah cari pengganti secepat itu.." jawab Ina,


" ya maaf.. keputusan suamiku sudah bulat, tidak bisa di ganggu gugat.. hehehe.." jawab Rania,


" kapan pulang ke jawa bu?" tanya Jihan,


" disana baru seminggu kok di tanya kapan pulang?" sahut Dimas,


" saya tanyanya sama bu Rani pak.." balas Jihan, Dimas tertawa melihat raut Jihan yang menahan kesal.


" Ya pasti pulang kesana bu Jihan, tapi nunggu suami cuti.. "

__ADS_1


" saya kangen ngerujak dirumah bu Rani.."


Jihan tersenyum,


" kalau pak Dimas kangen apa?" tiba tiba Ina memotong, ia sengaja menggoda Dimas dan Jihan.


" ora kangen.. Rani kok di kangeni.." jawab Dimas,


" we.. terus kangennya sama siapa pak?" Ina terus bertanya membuat Rania tidak bisa menahan tawa, apalagi ekspresi Dimas yang kikuk itu begitu terlihat.


" Jangan kangen aku lho pak Dimas, aku sudah punya suami.. kangen yang bujang saja.." lagi lagi Ina membuat suasana bertambah kikuk untuk Dimas dan Jihan,


" wah, bu Ina ini apa aja yang di bahas wes wes wes.. bubarr bubar.. sudah siang, waktunya pulang ini.. " ucap Dimas tiba tiba ingin mengakhiri percakapan,


itu semakin membuat Rania dan Ina tertawa, namun beda lagi dengan Jihan, ia diam seribu bahasa.


" mau kemana tho.. wong barusan ngobrol.. " kata Ina,


" Iyo iki.. " Rania ikut,


" saya lupa kalau ada janji, jadi.. saya pamit duluan semuanya.. " Dimas melambaikan tangan dan segera mengakhiri sambungan vidio call nya.


" Dasar.. lari begitu saja..." komentar Ina tertawa,


" jangan ngambek lho bu Jihan, kita cuma bercanda..." ujar Rania,


" iya.. saya faham bu.. tenang saja.." jawab Jihan tersenyum kecil..".


Rania tertidur sehingga tidak mendengar motor suaminya yang memasuki garasi,


Aksara yang melihat istrinya tidur sore sore begitu tersenyum saja.


Meski Rania tidur seharian pun ia akan tetap senang, karena setidaknya setiap pulang kerja ia bisa memandang wajah istrinya sekarang.


Ia tak perlu lagi khawatir atau cemas sedang apa dan bagaimana kondisi istrinya yang terpisah jauh darinya.


Aksara sudah mandi dan mengganti bajunya, namun Rania tetap saja tertidur.


" Tidur apa pingsan.." ucap Aksara dalam hati,


karena melihat Rania yang begitu pulas Aksara tidak tega membangunkannya, ia keluar dari kamar dengan hati hati.


" Ibu sepertinya tidur pak.. tapi sudah masak tadi sebelum tidur.. " si asisten rumah tangga muncul dari dapur,


" sudah lama ibu tidurnya?"


" sekitar satu jam pak.. capek sepertinya, ibu memindahkan bunga yang di halaman samping ke dalam pot.. "


" buat apa katanya?"


" mau di gantung pak.. biar terasnya cantik katanya.."


mendengar itu Aksara langsung tersenyum,


" ya sudah, ibu kalau mau pulang silahkan.. yang penting semua sudah beres.. " ujar Aksara pada asisten rumah tangganya lalu berjalan ke teras.


Ia mengamati hasil kerja istrinya yang ketika ia masuk kerumah tak terlihat oleh matanya.


Aksara tersenyum senyum sendiri..


ia jadi ingat Rania kecil yang suka menanam bunga di pot tapi seminggu kemudian bunga itu mati karena tidak pernah di siram.

__ADS_1


Aksara memindah kan beberapa pot bunga itu ke posisi yang lebih baik,


" kita lihat seminggu lagi.. apakan kalian akan tetap hidup dengan baik setelah tersentuh tangan istriku.." ucap Aksara pada bunga bunga itu.


__ADS_2