Aksara Rania

Aksara Rania
Takut bergantung..


__ADS_3

Aksara membuka matanya, ia terdiam sejenak..


entah kenapa tatapannya kosong ke arah langit langit rumah.


" Mimpi apa ini.." gumamnya sendiri.


Di bolak balikkan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu menutup kedua matanya dengan lengannya untuk mengusir keresahannya.


Aksara bermimpi tentang istrinya, dalam mimpinya itu Rania menikah lagi dengan laki laki lain dan terlihat sangat bahagia.


Aksara menghela nafas berat, ada sebuah rasa yang tidak menyenangkan..


seperti gumpalan besar kecemasan dan ketakutan yang menyiksa..


" Sialan.." ia kesal pada dirinya sendiri, lalu bangkit dan berjalan keluar kamar, mengambil secangkir kopi yang sudah di siapkan asisten rumah tangga nya.


" Nggak usah masak, bu.. saya makan di kantor saja.." ujar Aksara sembari berjalan ke arah teras melewati si ibu.


Sesampainya di kantor Aksara lupa akan rencana sarapannya, ia terus saja bekerja sampai siang.


Ia sengaja menyibukkan dirinya agar ia lupa dengan mimpinya tentang Rania.


" Aku ingin liburan dengan anak istriku..


pusing juga kerja terus.." Farhan tiba tiba masuk dan duduk di hadapan Aksara.


" Ya berangkat saja weekend.." sahut Aksara,


" Aku ingin pergi ke tempat yang dingin.."


" ke malino.."


" bosan.. "


" masuk saja ke kulkas.."


" ah.. mulutmu.. , main ke kotamu enak sepertinya.."


" hemm.."


" kok hemm?!"


" terus...? kalau mau ke kotaku ya tinggal berangkat, menginap saja dirumah.."


" tidak seru donk.. aku mau sekalian honeymoon untuk kesekian kali.. masa aku mau tidur di rumahmu..? takutnya ranjang mu bunyi.., itu akan membuatku tidak fokus melayani istriku..."


mendengar itu Aksara menatap Farhan dengan pandangan malas,


" ya ya ya.. terserah saja.." jawab Aksara benar benar tidak antusias.


" Wahhh ini sih keterlaluan kebetulannya??" Radit tersenyum ceria,


" pak Radit belanja juga?" tanya Rania mengulas senyum,


" iya, biasa.. belanja bulanan, apalagi Safa sekarang tidak dirumah, saya juga harus mengirimkan kebutuhannya.."


jelas Radit sambil menunjukkan catatan yang berisi kebutuhan Safa.


" Mumpung ibu disini, bantu saya.. padahal saya sudah mau panggil mbak penjaganya, tapi alhamdulillah ketemu bu Rania duluan.." Radit menunjukkan satu catatan bertuliskan satu merk pembalut, dan beberapa merk kosmetik.


Rania menahan tawanya sembari mengangguk.


" Kalau begitu kasih catatannya ke saya.." ujar Rania menaruh keranjang belanjaannya di lantai.


" Biar saya yang bawa.." Radit mengambil keranjang yang Rania taruh di lantai, jadi tangannya memegang dua keranjang.


" Bapak nggak malu di lihat orang?"


" Malu kenapa?, bisa berbelanja dengan ibu gurunya Safa malah hal yang menyenangkan bagi saya.." jawab Radit lembut dan penuh senyuman.


Seusai belanja Radit terus saja mengejar langkah Rania yang hendak pulang menuju parkiran.


" Bagaimana kalau saya traktir makan siang.. sebagai ganti ucapan terimakasih.." ujarnya sambil menyamakan langkah dengan Rania.


" Tidak usah pak.. begitu saja kok pakai di traktir segala.." Rania tertawa ringan,


" jarang jarang lho bu saya ketemu njenengan.. mumpung lagi libur juga, kapan lagi saya ketemu ibu hari libur begini.. sekalian kita membicarakan perkembangan Safa,


ibu tidak mau dengar curhatannya pada saya setelah seminggu masuk pesantren?"


Rania terpaku sejenak, ia berfikir sedikit..


" Ya sudah.. tapi saya tidak bisa lama, jadi langsung saja bicara tentang perkembangan Safa ya pak.." Akhirnya Rania mengiyakan melihat wajah Radit yang sangat berharap.


" Sepatunya tidak di pakai?, apa perlu saya carikan warna dan model yang lain?" tanya Radit ketika ia sudah selesai makan duluan sembari menunggu Rania yang masih makan dengan tenang.

__ADS_1


" Tidak usah pak, itu saja sudah cukup"


" takutnya karena warnanya pink ibu malu untuk memakai.. tapi Safa yang memilih..suara saya tidak di dengar.."


" itu cantik kok pak, karena itu hadiah dari Safa justru saya merasa sayang kalau di pakai.. terus rusak.."


" kalau begitu nggak bakal di pakai?"


Rania tertawa melihat ekspresi Radit yang sedikit cemberut.


" Bapak ini lucu ya.."


Radit terhenyak sejenak melihat senyum Rania yang manis itu,


tiba tiba muncul keberanian dalam dirinya.


" Jangan panggil saya pak terus.. saya merasa tua sekali...


lagi pula, saya dulu juga kakak kelas njenengan.."


" kakak kelas? SMA?" Rania mengangkat alisnya tak percaya.


Radit mengangguk,


" Yang benar? jangan bercanda pak.. saya kok tidak pernah lihat bapak??"


" coba saja cek album sekolah kelas 3 sewaktu bu Rania masih kelas 1 dulu.. "


" bapak ini seriusan kakak kelas saya?"


" iya.. masa mau bohongan?"


" tapi kok saya nggak pernah kenal sosok bapak??" Rania masih tidak percaya.


" Bagaimana mau kenal.. mendekat saja tidak ada yang berani..


bu Rania diantar dan di jemput kakak ibu terus kan?"


Rania diam, berarti benar.. Radit satu sekolah dengannya, ucap Rania dalam hati.


" Ah.. iya, Mas Aksa tidak pernah membiarkan saya pulang dan pergi sendiri sampai saya kelas 2.. "


ujar Rania,


" Saya tidak menyangka kalau suami ibu itu adalah.." Radit terhenti,


" Jangan salah faham.. kami tidak ada hubungan darah sama sekali walaupun status kami saudara..


kami adalah saudara tiri.. " jelas Rania,


" Oh.. begitu.. pantas saja.."


" pantas kenapa?"


" perlakuan kakak bu Rania.. dan pandangan matanya pada bu Rania saat itu.. tidak seperti seorang kakak.. " Radit sedikit tersenyum getir mengingat saat saat dia menyaksikan Rania dari kejauhan saja.


" Maaf.. saya sering melihat bu Rania sewaktu pulang sekolah, karena saya selalu diam di dalam pos satpam..."


imbuh Radit takut di kira mengawasi Rania diam diam.


" Wah.. saya kecolongan, punya senior se wah bapak.. "


" wah apanya bu.."


" wah lah.. itu buktinya cewek cewek yang duduk di pojok sana liatin bapak terus sambil senyum senyum dari tadi.."


Radit tertawa mendengar kata kata Rania,


" berarti saya masuk dalam kategori menarik di mata bu Rania..?"


" Tentu saja bapak menarik untuk semua orang.." jawab Rania polos.


" begitu ya.. berarti saya layak mendapat perhatian bu Rania.. " ujar Radit sembari mengulas senyumnya yang teduh.


Aksara melempar HPnya ke atas tempat tidur,


sudah 5 kali ia menghubungi istrinya, tapi tak ada jawaban..


kemana sebenarnya Rania semalam ini.. keluhnya dalam hati.


Tak lama ia mengambil HPnya lagi, dan menelfon mbak Yuni,


" Owalah.. mba Rani ketiduran mas, tadi habis minta kerokin saya.. " jawab mba Yuni,


" Sakit?" Aksara khawatir,

__ADS_1


" tadi pagi nggak kenapa napa kok mas, pulang belanja tadi kok katanya pusing, mungkin karena nggak pakai jaket mas.. cuma pakai sweater tipis saja.." jelas mbak Yuni,


" aduh.. kebiasaan, naik motor jauh nggak pakai jaket.."


gerutu Aksara,


" kondisi rumah bagaimana mbak? apa murid itu sudah pulang?"


" sampun (sudah) mas... Alhamdulillah semua baik, bulek Irma juga dari sini beberapa hari yang lalu, terus kakaknya mbak Safa juga kesini.."


" ngapain mbak?"


" sepertinya hanya mengucapkan terimakasih mas.. "


" Apa tidak pernah lagi dia kerumah?"


" ya itu mas, tapi cuma sebentar saja.. sewaktu mba Rani mau berangkat ngajar, cuma di pagar.. kasih kue.."


Aksara diam sejenak,


" mbak.. sampean kan bukan setahun dua tahun kerja di rumah, sudah saya anggap keluarga sendiri..


tolong, apapun yang terjadi pada Rania.. komunikasikan ke saya, saya takutnya dia punya kesulitan tapi tidak terbuka.."


" nggih mas.. saya akan jaga mba Rani, tapi nggeh.. kalau bisa mas e sering sering pulang.. kasihan mas.."


" kenapa mbak?"


" Masih sering ke kuburan bapak.. terus pulang pulang masuk kamar, besok paginya matanya bengkak..


mungkin sepi mas.. jadinya ingat almarhum terus, sejak dulu kan nggak pernah mengeluh mas.. di simpan saja sendiri.. "


" iya mbak... saya tau, saya usahakan sering pulang.."


" kenapa ndak di bawa saja mas, biar rumah saya yang jaga.." celetuk mba Yuni membuat aksara menghela nafas berat.


" Pesan almarhum.. mbak Rani kan disuruh bawa kemanapun mas bertugas?" lanjut mba yuni,


" mau nya saya mbak Yun... tapi, istriku seperti berat.. ada hal hal yang tidak ku mengerti.."


" ngapunten mas.. maaf kalau lancang, sepertinya takut.. "


" takut ?"


" nggeh... kan almarhumah ibu mba Rania hidup susah sebelum menikah dengan bapak.. "


" apa hubungannya sama pernikahan saya mba?" Aksara tidak mengerti,


" mbak Rani pernah bilang dulu sebelum mas pulang, kalau dia enggan untuk menikah.. dan kalaupun nanti harus menikah, dengan siapapun itu..


dia tidak mau berhenti kerja..


mungkin itu ada hubungannya dengan masa kecilnya yang sulit.. " kata kata mba Yuni membuat Aksara sedikit berfikir,


" jadi maksudnya dia takut saya mengkhianatinya suatu ketika nanti?? meninggalkannya seperti yang ayah nya lakukan pada ibunya?,


dia takut hal itu akan menimpanya juga?, lalu karena itu dia berfikir ulang untuk melepas pekerjaannya dan tidak mau murni menjadi ibu rumah tangga yang hanya diam dirumah dan mengurusi ku saja??"


" mungkin seperti itu mas... "


" kan sudah ada perjanjian pranikah mbak yang di buat bapak untuk kami.. ? mbak Yuni tau kan itu? semua keluarga menyaksikan saya tanda tangan sebelum pernikahan.."


" yah.. namanya trauma mas, jangan di debat.. tapi di sembuhkan mas.. kata bulek Irma begitu..


bulek Irma itu tau kalau mbak Rani takut bergantung pada mas sepenuhnya, karena itu bulek Irma sering kasih masukan yang baik..


mas Dimas juga sering nyuruh mbak Rania ikut sampean.. tapi mba Rania cuma diam saja..


seperti mikir berat gitu mas..


ya mungkin bimbang itu, mau ikut sampean.. takut begini begitu..


mau ndak ikut.. sebenarnya juga kepingin ikut..


jadi pikirannya itu masih belum manteb mas...


kan itu tugas sampean mas..


tugas suami itu berat mas..


ya jadi suami, ya jadi kakak, ya jadi teman.. "


aksara tidak bisa berkata kata lagi, ucapan ucapan mba Yuni itu membuatnya memperoleh pemikiran baru tentang istrinya, pemikiran perihal perihal apa yang mungkin memang benar benar di rasakan istrinya.


kebimbangan dan trauma yang memang harus Aksara perhitungkan, meski selama ini istrinya itu tidak pernah memperlihatkannya, dan tidak pernah mengeluh sedikitpun tentang itu.

__ADS_1


" Ya sudah mbak.. sampean istirahat saja dulu, akan saya pikirkan baik baik yang mbak sampaikan.. trimakasih ya mba Yun.." ujar Aksara kemudian memutus sambungan telfonnya.


__ADS_2