Aksara Rania

Aksara Rania
adik kelas


__ADS_3

Keesokan harinya Aksara benar benar tidak mengijinkan Rania bangun dari tempat tidur sampai siang.


Betapa malunya dirinya pada mbak Yuni dan Safa, ketika ia keluar kamar jam sudah menunjukkan jam 1 siang.


" Kita makan rawon di depan halte saja," ujar Aksara yang sepertinya kangen dengan rawon langganan nya.


tempat makan itu tidak besar, namun pembelinya tidak pernah sepi, bahkan banyak bos bos bermata sipit yang makan di tempat itu.


" Ramai Mas.. " Rania sedikit kurang nyaman dengan keramaian, ia sudah lelah keliling pasar, sekarang masih harus duduk mengantri makanan.


" Ya sudah, tunggu di mobil.. kita bungkus saja.." Aksara menepikan mobilnya di sebelah stasiun, karena kebetulan tempat makan itu terletak persis sebelah stasiun.


Ia sengaja mencari tempat parkir yang tidak terlalu ramai.


15 menit kemudian Aksara kembali dengan membawa makanan yang sudah di bungkus.


" untung kau tidak turun, ramai sekali.. tapi impas lah.. "


" Bapak sering ajak kita makan di disini ya Mas.. " Rania menatap suaminya sedikit sayu,


" Iya.. rawon favorit bapak.. kau juga suka kan..?" Aksara membelai rambut istrinya itu,


" Iya, suka.. apapun yang bapak bilang enak, aku pasti makan.. aku jadi terbiasa suka apapun yang Bapak suka.."


" kalau aku?" tanya Aksara sambil menyalakan mesin mobilnya,


" kau suka aku tidak?"


" Apa Mas ini anak SMA?"


" lhaa.. kenapa bawa bawa SMA?"


" Apa kita ini pacaran?"


" Bukan kah kita memang tidak sempat pacaran? jadi apa salahnya kita pacaran setelah menikah.." ujar Aksara sambil mengemudikan mobilnya dengan hati hati.


" Bahaya sekali gaya pacaranmu Mas.. "


Aksara tertawa mendengar ucapan Rania,


" aku berbahaya hanya saat di hadapanmu saja, tanganku seperti tidak terhubung dengan otak ku.. jadi aku sulit mengendalikan tangan ku saat bersama mu.." lagi lagi Aksara memperlihatkan lesung pipinya.


" Rasanya lama tidak melihat lesung pipi itu muncul.."


" Dia muncul hanya pada saat aku benar benar bahagia.. seperti dulu ketika kita belum terpisah, setiap jam aku menunjukkan nya padamu..


kau saja yang tidak peka.."


" kenapa aku harus peka terhadap kakak ku sendiri.."


" justru karena itu harusnya kau peka, kenapa aku tidak berhubungan dengan perempuan lain dan selalu bersama mu.."


jelas Aksara lembut,


" Orang satu RT saja peka.. kenapa kau tidak peka, kecuali kau tau tapi pura pura tidak tau... betul tidak..?"


Rania membuang pandangan ke luar jendela mobil, ia malu harus mengakui kalau yang Aksara katakan itu benar.


" Nah kan.. malah lihat ke arah lain, coba sini lihat Mas kalau memang kau tidak tau sejak dulu.."


Aksara menggoda Rania di sepanjang perjalanan sampai kerumah.


Sejak Aksara dirumah Safa tidak pernah menunjukkan batang hidungnya, ia terus saja di kamar.


Hanya sekali ia berpapasan dengan Aksara di dapur, itu saja sudah membuatnya takut setengah mati, itu karena tampilan luar Aksara yang terlihat dingin dan tegas.


" Jangan bilang aku tidak mengajak bicara murid mu lho ya?" Aksara masuk ke dalam kamar sembari membawa segelas air untuk Rania.


" Jangan pasang wajah seram mu itu Mas?!" protes Rania sambil meminum air yang di bawakan Aksara.


" Aku belum menyapanya, tapi dia sudah masuk lagi ke kamarnya.. bagaimana aku bisa menyapanya.." gerutu Aksara mengambil gelas kosong dari istrinya dan menaruhnya di meja.


" Memangnya sampai kapan dia disini?"


" lusa juga sudah pulang dia Mas.., Mas pulang besok malam kan?"

__ADS_1


" iya.. toh jarak bandara ke rumah hanya 30 menit.. "


" di tinggal lagi ya..?"


" bukan di tinggal.. kalau di tinggal itu nggak akan pernah kembali..


buktinya aku selalu kembali.."


Aksara memeluk istrinya,


" ke makan Bapak dulu besok pagi.. "


" iya.. kita ke makam Bapak, sekalian jenguk om Surya dan tante Irma.. " ujar Aksara sembari membelai rambut istrinya berkali kali,


" Tidak mau ikut Mas pulang kesana?"


" Maunya.. " jawab Rania menyandarkan kepalanya di bahu Aksara,


" Mas bisa carikan sekolah yang bagus..


setidaknya hatiku tenang melihatmu setiap hari.. "


Rania diam, ia bimbang.. namun ia juga kasihan melihat Aksara yang berkali kali menghela nafas berat itu.


" di kantor sedang ada masalah, aku pusing sekali.. di saat saat seperti itu aku ingin ketika aku pulang kau menyambut ku dan menenangkan ku..


tidak ada obat stress yang lebih mujarab dari pada memeluk istriku yang tingginya tidak bertambah meski sudah 10 tahun berlalu ini..."Aksara setengah mengejek sekaligus setengah gemas.


" Kenapa Mas selalu membahas tinggi badanku? kalau memang Mas begitu suka dengan perempuan yang tinggi, bukan kah Mbak Wulan cukup seimbang untukmu" balas Rania sedikit kesal,


" Husss..! jangan bahas orang itu?!


aku ini gemas padamu, gemas.. tau, jadi jangan marah ketika aku membahas tubuhmu yang mungil dan mudah sekali ku gendong kemana mana ini.." Aksara mencubit pipi istrinya.


" jadi... tolong pikirkan, aku membutuhkanmu disampingku.." Aksara setengah memohon,


" Aku akan memikirkannya Mas... " jawab Rania dengan raut ragu dan bimbang.


" Aku tak akan memaksamu jika memang terlalu berat mengikuti ku.."


" Ya sudahlah.. jangan memikirkan sesuatu yang terlalu berat untukmu.. kita istirahat saja.." Aksara menarik Rania agar rebahan di atas tempat tidur,


" bukanya kita sudah sangat cukup ber istirahat Mas? ini juga masih sore.."


" sudah.. sini.. rebahan sebentar.." Aksara tersenyum sambil menepuk nepuk bantal,


" dari senyum mu aku sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya Mas.." Rania menghela nafas ringan.


" Tadi siang aku makan terlalu banyak, jadi aku butuh sedikit olah raga sekarang.." ujar Aksara dengan senyum penuh kemauan,


" Mas bisa joging atau yang lainnya.. jangan membolak balik kan aku terus di atas tempat tidur seperti sedang menggoreng ikan.." gerutu Rania, ia sudah capek bahkan tadi pagi saat turun dari tempat tidur kakinya sampai gemetar.


" Ran...?" panggil Aksara seperti anak kecil yang minta di beri permen,


" Rani...?"


" Raniaaaaaa.....?" ia memanggil Rania berulang ulang.


" Astaga.. benar kata orang, laki laki dewasa bisa berubah layaknya anak kecil dalam kondisi seperti ini.."


" Rannnn.......?"


" berhenti merengek Mas, ada kalanya Mas harus belajar menahannya?!"


" Aku hanya bertemu denganmu 2 hari, kenapa aku harus menahannya??" Aksara bangkit, ia mengangkat Rania di bahunya seperti sedang membawa sekarung beras.


" Mas?! apa apaan Mas?!"


" kalau tidak mau tidur ya kita mandi.. " jawab Aksara santai dan membawa istrinya ke dalam kamar mandi lalu mengunci pintunya rapat rapat agar Rania tidak bisa lari keluar.


Radit turun dari motornya, ia berseragam coklat lengkap.


Meski tanggal merah ia tetap bekerja, Safa yang memang sengaja menunggu kakaknya di teras berjalan keluar halaman depan, dan membuka pagar agar kakaknya itu masuk.


" Mas mau piket?" tanya Safa yang sebenarnya selalu kasihan melihat kakaknya itu kemana mana sendiri, bahkan sekarang dirumah pun sendiri tanpanya.

__ADS_1


" Iya.. Mas selalu kebagian piket di tanggal merah.. yah, mau bagaimana lagi.." Radit tersenyum sambil mengelus punggung adik satu satunya itu.


" Safa mau pulang saja...?"


" lho? kenapa??" Radit heran.


" Aku kasihan sama Mas lama lama sendirian dirumah.. lagi pula ada suami bu Rani juga, orangnya serem.. nggak pernah senyum, Safa mau pulang saja.." gadis itu merengek.


Radit tersenyum lagi sembari mengajak adik nya itu duduk di kursi teras,


" tidak senyum itu bukan berarti jahat.. Safa tidak boleh menilai orang dari tampilan luarnya saja.." nasehat Radit,


" Bukannya lusa sudah pulang, jangan tiba tiba pulang.. takutnya bu Rania tersinggung, pulanglah sesuai jadwal.. " imbuhnya memberi pengertian adiknya.


Wajah Safa seperti ikan kembung, ia kesal sekali karena Radit tidak mau membawanya pulang sekarang.


" Lalu bu Rania kemana?"


" Sedang keluar dengan suaminya.." jawab Safa berat,


" Mas sihh?!" tiba tiba Safa menambah kekesalannya dan melimpahkannya pada Radit,


" kok tiba tiba nyalahin Mas? nggak ada angin nggak ada hujan.. ?"


" ya iya?! salah Mas?! kenal bu Rania lama tapi diam saja, kalau Mas dekati duluan kan Mas bisa nikah sama bu Rania, aku suka punya kakak ipar seperti bu Rania.. " Safa tiba tiba melantur,


" Hei?! bicara apa Safa ini?!" Radit kaget dengan ucapan Safa,


" lagi pula bu Rania baru beberapa bulan menikah, suaminya juga jarang pulang Mas.. kan kasihan.." tambah Safa,


" husss..! anak kecil tau apa, jangan menilai sesuatu dengan begitu mudah Saf, tidak boleh kita ikut campur urusan orang?!" nasehat Radit masih dengan suara terjaga.


" Aku tau lhoo.. ?!"


" tau apa?!"


" Adik kelas yang Mas suka itu bu Rania kan?!" celetuk Safa,


dengan sigap Radit membungkam mulut adiknya itu.


" Diam Safa, jangan mengarang?!" tegas Radit masih dengan nada terkendali.


" Aku dengar Mas pas lagi curhat waktu itu sama teman Mas SMA, katanya Mas sudah ketemu sama adik kelas Mas yang Mas suka, dan Namanya persis seperti bu Rania, pas ku tanya tanya bu Rania juga berasal dari SMA yang sama dengan Mas kan?" jelas Safa tidak mau kalah,


" Mas selalu sembunyi kan pas papasan sama bu Rania, karena itu bu Rania tidak mengenal mas sama sekali..


sebenarnya Mas itu tidak mau menikah karena patah hati atau memang karena ingin menjaga ku sih Mas??" Safa mencecar kakaknya tanpa kakaknya sanggup membantah sepatah pun, hingga akhirnya terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.


Safa dan Radit melihat ke arah suara itu, ternyata sang tuan rumah dan nyonya rumah datang.


Melihat motor dinas yang terparkir di depan rumahnya pandangan Aksara sudah tidak nyaman, dahinya berkerut penuh tanya.


Pandangan Aksara semakin tidak enak ketika ia melihat Radit yang berseragam lengkap berdiri di hadapannya.


" Maaf, selamat siang.. " Radit berdiri sedikit gugup ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Aksara, demi kesopanan Aksara menyambut nya.


" Ini kakaknya Safa Mas.. aku sudah cerita kan Mas waktu itu.. ?" Rania menjelaskan, ia sedikit was was melihat wajah Aksara yang berbeda,


" Iya, kau sudah cerita.. Masuklah, buatkan teh untuk tamu kita.." jawab Aksara tenang, Rania mengangguk dan masuk ke dalam rumah.


" Silahkan masuk.. kenapa berbincang di luar.. " ajak Aksara menjaga kesopanan, Aksara ingat betul ini adalah laki laki yang menolong istrinya waktu itu.


" Maaf.. saya hanya sebentar, saya kesini tadi hanya menjenguk adik saya dan membicarakan beberapa hal..


saya tidak bisa lama, karena saya mau piket juga.." Jawab Radit tenang dan sopan,


" Oh.. begitu rupanya.. silahkan kalau begitu.." Aksara mengulas senyum,


" iya.. terimakasih, maaf merepotkan.."


" tidak kok.. jangan khawatir, istri saya akan menjaga adik njenengan dengan baik.." senyum Aksara terjaga, tenang dan meyakinkan.


" Baiklah kalau begitu.. saya mohon diri.. " pamit Radit lalu berjalan keluar,


" Maaf pak.. " ujar Safa sedikit canggung pada Aksara lalu cepat cepat berjalan masuk ke dalam rumah setelah melihat kakaknya pergi.

__ADS_1


__ADS_2