
Wisnu masuk ke ruangan Aksara membawa amplop putih panjang,
" ijin.. tiketnya," wisnu menyerahkannya ke Aksara,
Aksara menerimanya sambil beberapa kali bersin,
" wahh virus...!" komentar Marlin dari ujung ruangan,
" maaf, trimakasih ya " kata Aksara sambil menutup hidung dan mulutnya dengan tissue.
" ijin, menyampaikan arahan dari komandan sebelum apel semua perwira berkumpul di ruangan komandan.." beri tahu Wisnu,
mendengar itu sontak Aksara dan Marlin saling menatap,
" sudah kau sampaikan pada yang lainnya?" tanya Aksara,
" ijin sudah.."
" hemm.. ya sudah.." jawab Aksara lalu menyuruh Wisnu pergi.
" Ada apa hayooo hayoo.. " nada Aksara tenang sambil membuka amplop putih yang berisi tiket penerbangannya besok.
" Mana ku tau mi.. paling paling masalah kemarin.. " celetuk Marlin sambil terus menghadap Laptop.
" Aku besok sudah ijin, jadi kau bawa saja Laptop q sampai Laptop mu sembuh "
" tidak, ini sudah mau selesai kok.." jawab Marlin tanpa menoleh karena tangannya sibuk entah sedang mengerjakan apa.
" Hatcingg!" Aksara bersin lagi,
" eh! membawa virus betul kau ini !" tegas Marlin sambil berdecak.
" Gara gara semalam ini.. kena angin di Losari.. kepalaku agak puyeng.." jawab Aksara mengambil tissue lagi.
" Sejak kapan kau ke Losari segala, ah.. dengan siapa kau?"
Marlin menatap Aksara dengan pandangan menyelidik,
" apa? sendirian lah.." jawab Aksara santai,
" tumben sekali?"
" aku hanya mampir, kebetulan aku dari Panakukang, aku ingin membeli sesuatu untuk istriku.. eh malah sial.."
" sial kenapa?"
" perempuan licik itu tiba tiba disampingku saat aku memilih barang,"
" siapa? Wulan itu??" Marlin berbalik dan benar benar menatap Aksara sekarang, wajah Marlin tiba tiba terlihat gusar.
" Apa dia sengaja menganggumu?" tanya Marlin,
" dia bertanya apa benar aku sudah menikah.." jawab Aksara sambil bersandar di punggung tempat duduknya.
" Eh.. benar benar itu perempuan, tidak pernah aku kesal setengah mati seperti ini..
susahnya kita tidak bisa sentuh dia, selain dia perempuan orang tuanya juga berkuasa.. " keluh Marlin hanya bisa menelan kekesalannya.
" Kau segera ajukan pindah saja, bisa mati berdiri kalau kau berada di satu tempat yang sama dengannya.." tambah Marlin,
" aku sudah menghadap.. " jawab Aksara tenang.
" kalau dia menganggumu lagi laporkan saja pada suaminya.."
__ADS_1
" Aku tidak mau ribut ribut.. yang penting aku sudah bersama istriku sekarang, aku hanya ingin hidup tenang.."
Mendengar itu Marlin menghela nafas, apalagi yang bisa dia katakan kalau Aksara berkata seperti itu, tapi tetap saja ia kesal sekali dengan perempuan bernama Wulan itu.
" Kita pasti bertemu dia di ruangan komandan nanti.. " ujar Marlin sedikit kecewa lalu kembali sibuk di depan laptop.
" Lohaa...!" Farhan baru muncul,
Aksara dan Marlin tidak bergeming.
" Wah.. ekspresi wajah apa ini..
kok tadi masuk ke ruang idik juga begini ekspresinya?" Farhan heran,
" kau dari mana?" tanya Marlin,
" ijin sebentar antar istriku periksa.. kenapa memangnya?"
" wah.. pantas saja.." gumam Marlin,
" kenapa memangnya? ada yang terlewat olehku?" tanya Farhan serius mendekat ke Aksara.
" Kumpul di ruangan komandan.. semuanya.." jawab Aksara datar,
" ada masalah?"
" enggalah.. kita mau di kasih hadiah.." celetuk Marlin gemas melihat farhan yang kurang tanggap dengan kondisi.
Rania membersihkan lukanya dan menganti perbannya,
sebenarnya luka di lututnya lumayan dalam,sehingga butuh waktu yang agak lama untuk kering..
apalagi setiap Rania menekuk kakinya luka itu selalu terbuka kembali.
" Suamimu jadi pulang?"
" tadi chat te.. katanya besok siang berangkat.. " jawab Rania selesai mengganti perbannya.
" Motormu belum selesai Ran?" om surya tiba tiba masuk membawa karpet besar dan menaruhnya di ujung ruang tamu.
" Kata dimas lusa Om, bengkelnya antri.."
" apa biar Om ambil? perbaiki di bengkel teman om saja?"
" jangan Om, biar saja di situ Om.. toh saya nggak kemana mana.."
" ya sudah beres semua kan?"
" sudah Mas, mas pulang saja.. biar aku dan Rania yang disini..
pihak catering yang antar kok bukan kita yang ambil jadi tidak usah kemana mana, perlengkapan tissue, plastik dll Rania sudah belanja awal minggu kok Mas.." jawab tante Irma pada om Surya, kebetulan om Surya juga sedikit kurang sehat.
" Ran?" Dimas masuk kerumah Rania sambil membawa 2 kardus air mineral,
" taruh di pojokan Dim.."
" lh mumpung ada Dimas, antar tante ke ujung gang sebentar..?!" tante Irma bangkit,
" kemana te?" tanya Dimas sambil mengatur nafas,
" beli Rujak manis, ayo Dim.."
" waduh.. rujak.. ayo te..! " Dimas antusias karena dia penyuka buah dan makanan pedas, orang orang di sekolah saja sampai heran, dia lebih sering nimbrung bersama guru guru perempuan sambil ikut ngerujak.
__ADS_1
" Traktir yo le?" goda tante Irma,
" Beres te.. !" Dimas menaiki motornya dan membonceng tante Irma ke ujung gang.
Rania tertawa sendiri melihat kelakuan Dimas itu, andai saja Aksara sehumoris dan sesantai Dimas..
pasti tidak akan secanggung itu..
Namun ia sedikit heran dengan dirinya sendiri, diam diam ia merasa senang mendapatkan kabar esok Aksara akan pulang, bukankah biasanya ia sebegitu tegangnya..
Sejak pagi Rania sudah menyuruh mbak Yuni membantunya membereskan kamar, meski ia tak tau apakah Aksara akan kembali ke kamar nya yang dahulu atau tidak..
yang jelas ada perasaan menunggu di hatinya.
Ia mengganti tirai tirai dan beberapa benda agar tampak lebih cerah dan segar..
Namun ia tak mengubah letak dan posisi barang barang peninggalan Almarhum Bapak..
Rania merasa Bapak masih ada dirumah, mengawasinya dari jauh..
Bapak yang kalem dan penuh senyum..
Bapak yang di setiap kehadirannya membawa ketenangan..
" Mbak Ran? " suara mbak Yuni tiba tiba di sebelahnya,
" dalem mbak?" Rania sedikit kaget karena ia tidak mendengar langkah kaki mbak Yuni sama sekali,
" Di minum mbak.." Yuni menyerahkan sebotol minuman berwarna hijau pekat,
" apa ini ?" Rania mengerutkan kening sambil menerimanya,
" jamu.. itu resep turun temurun, tadi saya disuruh membuat ini sama mbak Irma.." jelas yuni, yang sepantaran dengan Irma.
" Jamu apa? galian singset?" tanya Rania
" bukan.. itu supaya subur mbak.. supaya sekali dua kali langsung jadi.."
" jadi apa mbak yun?"
" jadi Mas Aksara junior tho mbak Ran..."
Yuni tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar tak terdengar keras.
Rania langsung tertunduk mendengar itu, ia menyembunyikan wajahnya yang seperti kepiting rebus karena malu.
Ia bahkan belum melaksanakan malam pertama dengan Aksara, mana mungkin mereka akan mempunyai anak meskipun meminum satu galon jamu, pikir Rania.. sambil terus menyembunyikan wajahnya.
" Kenapa mbak?" tanya Yuni heran melihat ekspresi Rania,
" walah.. ndak usah malu mbaa.. namanya pengantin baru.. apalagi baru menikah sudah di tinggal, ya wajar saja kalau kangen.." lagi lagi kata kata Yuni membuat wajah Rania semakin memerah.
" saya sudah nggak sabar.. lihat mbak Rania hamil.. terus melahirkan,
pasti nanti anaknya mirip mas Aksara..
manis manis.. tinggi tinggi..."
lanjut mbak Yuni tidak berhenti berhenti membuat Rania lama lama berdiri, lalu pelan pelan berjalan ke arah kamarnya,
" Aku mau tidur siang sebentar mbak.. " ujarnya pelan ketika sampai di depan pintu kamarnya.
Rania menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, merasakan wajahnya yang hangat.. bagaimana bisa ia begitu malu, mendengar kata kata mbak Yuni..
__ADS_1
padahal seharusnya ia bersikap biasa saja.. karena Aksara bukan sosok yang baru baginya..