Aksara Rania

Aksara Rania
Ami


__ADS_3

Minggu beralih bulan, entah kenapa pada usia kehamilan ini Rania makin rewel saja,


padahal ketika Aksara bertanya pada orang orang sekitar, seharusnya Rania sudah tidak rewel lagi, tapi entahlah..


Aksara hanya bisa menuruti apa mau dan kata Rania, bahkan ia harus tidur di Sofa ruang tengah karena Rania selalu bilang gerah tidur berdua dan tidak suka dengan bau tubuh Aksara.


Sebenarnya ada kamar kosong, tapi Aksara tidak mau kalau Rania kesusahan mencarinya saat bangun.


" Apa?" tanya Rania melihat Aksara berdiri di depan pintu dengan wajah berharap,


" kok tanya.." jawab Aksara dengan wajah benar benar penuh harap,


" nggak mau.." jawab Rania menarik selimut,


" Teganya.. sudah dua minggu.." bibir Aksara manyun,


" jangan salahkan aku dong Mas, anakmu nih yang rewel.." Rania menutupi tubuhnya dengan selimut.


" Aku mandi ya.. supaya tidak bau, meski mandi 5 kali sehari nggak masalah asal boleh tidur di sebelahmu.."


Rania melirik jam dinding,


" jam 9 malam mau mandi?"


" ayolah Ran..?"


Rania menggelengkan kepalanya,


" Mas marah nih.. ?? marah lho ya??"


Rania diam sejenak, lalu menatap wajah suaminya yang bersandar di pintu itu dengan ekspresi lemah.


" Ya sudah, tapi janji sekali saja, nggak boleh nambah nambah" peringat Rania,


Aksara tidak menjawab, tapi langsung berjalan cepat ke arah Rania, saat ia akan naik ke atas tempat tidur Rania menghentikannya.


" Mandi.. M.A.N.D.I " Rania mengingatkan,


" iya iya.. mandi, M.A.N.D.I.. !" ulang Aksara menahan diri dan lekas menuju kamar mandi.


Farhan berjalan ke arah ruangan Aksara,


" Mana Aksara?" tanya Farhan pada Marlin yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


" di Aula, di panggil bu Agatha.. kenapa?"


" ada bang Ilham, suami Wulan.. ?!"


Marlin tiba tiba berwajah serius,


" jadi kabar Wulan mengajukan cerai itu benar?"


" lah kalau tidak benar buat apa bang Ilham dan Wulan menghadap komandan.."


" susul Aksara ke Aula, tapi jangan bicara di depan bu Agatha.."


" pastinya.. " Farhan berjalan ke arah aula,


kebetulan Aksara sudah selesai dengan bu Agatha dan anggota pengurus lainnya.


" Bang Ilham disini.. " beritahu Farhan,


" dimana?"


" menghadap komandan bersama wulan"


Deg.. Aksara terhenyak, beberapa minggu ini memang terdengar kabar di kalangan Aksara saja bahwa Wulan akan mengajukan perceraian,


tapi Aksara menganggap itu hanya isapan jempol karena Ilham tidak menghubunginya sama sekali.


Ia mengira keduanya sudah akur, karena kabar terakhir mereka sudah mulai lengket dan kemana mana berdua, meski atas dasar paksaan dari Ilham.


" Ck..!" Aksara berdecak kecewa, tiba tiba ia teringat sosok putri kecil Wulan dan Ilham, bagaimana kalau Ayah dan Ibunya berpisah.


Aksara benar benar tidak habis pikir dengan keputusan ini, dan kenapa Ilham mau mau saja menerima hal ini.

__ADS_1


" Mas mau kerumah bang Ilham ya.. " pamit Aksara pada Rania yang tiduran dan bermain HP,


" ngapain??" Rania tiba tiba bangkit,


" ada urusan.. tenang saja, tidak ada Wulan disana.. " jawab Aksara, Rania diam saja tidak menjawab lagi, tapi wajahnya terlihat tidak enak di pandang.


" Kenapa? mau ikut? ayoo... tapi jangan huek huek di jalan.. " ajak Aksara,


" ya sudah, aku dirumah saja, tapi pulangnya di bawah jam 9 lho.. " ujar Rania setelah agak lama berpikir, hatinya ingin ikut, tapi tubuhnya tidak mengijinkannya untuk ikut, dari pada ia mabuk di jalan, lebih baik ia diam dirumah saja.


" jangan lupa.. es cream buah ya Mas?"


" astaga.. jangan makan es cream terus Ran?!"


" pokoknya itu.. "


" hahhh.. iya iya iya..." Aksara menutup pintu kamar dan segera mengambil jaketnya.


Kebetulan jarak rumah Aksara ke rumah Ilham sekitar 25 menit sampai 30 menit,


Aksara melaju kencang mengendarai motornya melewati jalan Perintis kemerdekaan.


Karena hari masih sore Jalan sedikit macet, Aksara menghabiskan banyak waktu di jalan, ia juga berhenti untuk membeli buah tangan untuk Ami.


Ia sampai dirumah Ilham tepat jam 7 malam waktu indonesia tengah.


Aksara masuk kerumah dengan membawa snack dan cake, karena ia tau Ami pasti belum tertidur di jam itu, dan benar sekali, Ami menyambutnya dengan gembira.


Ia duduk di samping Ilham dengan mata berbinar karena senang di bawakan cake yang ia suka.


" Papa mau ngobrol sama Om Aksa..


adek maem kuenya di belakang ya sama bibi.. " ujar Ilham sembari membelai lembut anaknya,


" Ami mau simpan saja.." jawab Ami,


" lho? om bawa buat Ami makan.. kok di simpan, nanti basi.." ucap Aksa tertawa gemas.


" Ami mau simpan, nanti kalau mama pulang ami mau makan sama mama sama papa.." jawaban Ami yang polos itu membuat tawa di wajah Aksara langsung menghilang,


Aksara spontan menatap Ilham, Ilham tersenyum pengertian.


sekarang Ami sama bibi ya, main dulu..


oke...?" Ilham memberi pengertian dengan tenang,


" siap papa.." jawab Ami menggemaskan, ia turun dari tempat duduk dengan perlahan dan berjalan ke dalam.


" Kok mas terima terima saja?" tanya Aksara tidak habis pikir,


" Mas juga tidak menghubungiku, tau tau begini?" imbuh Aksara,


Ilham tersenyum sekilas, ia tampak tenang meski matanya memancarkan kesedihan.


" Aku tidak mungkin memaksanya.. dia sudah tidak ingin hidup denganku.." jawab Ilham kemudian,


" lalu anaknya? apa dia tidak memikirkan anaknya? meski dia tidak mencintai atau bahkan membencimu, dia tidak seharusnya mengorbankan masa depan anaknya Mas?


Ami bicara seperti itu.. hatiku seperti di sayat.. istrimu itu benar benar?!" Aksara kesal,


" jangan salahkan dia, mungkin kesalahanku dulu itu memang fatal..


jadi sampai akhir dia tidak bisa memaafkan ku.."


" kesalahannya padaku juga fatal Mas?! tapi aku menahan diri karena dirimu, karena Ami..! kalau aku tidak memandangmu.. entahlah Mas.. " Aksara menurunkan nada suaranya yang tadi agak tinggi, ia ingat kalau dirumah ini ada Ami yang bisa saja mendengar kata kata Aksara.


" Dia tidak membawa Ami?"


" Aku tidak mengijinkannya, dia sudah meninggalkanku.. bagaimana mungkin aku harus di timpa kesedihan lagi dengan menjalani hari tanpa Ami..


dia luar biasa..


Aku seperti di hantam batu,


selama seminggu setelah dia mengucapkan kata perceraian dan keluar dari rumah tanpa membawa apapun..

__ADS_1


pikiranku kacau..


aku tidak waras untuk sejenak..


dunia seperti runtuh bagiku, jangan kan menghubungimu..bicara dengan orang tua ku pun aku tidak berani.." jelas Ilham dengan raut putus Asa.


" Apa yang bisa ku bantu Mas??" tanya Aksara benar benar sedih dengan kondisi ini.


" Tidak ada.. biarkan semua berjalan sesuai keinginan Wulan,"


" jangan menyerah Mas.. kasihan Ami.."


" Aku mau bagaimana lagi..? dia tidak menginginkan ku.. " jawab Ilham lemah.


" Mas sampai kapan mau membohongi Ami kalau Wulan dinas luar? sebulan? dua bulan? tiga bulan?"


" kalau pengajuan cerai kami di kabulkan, aku akan mengajukan pindah.. aku ingin merawat Ami di tempat yang jauh dari ibunya.."


" Mas??" Aksara benar benar melihat ketidak berdayaan Ilham.


" jangan bercerai Mas.. jangan bercerai..


Ami butuh papa dan mamanya..


hatiku sakit Mas.. hatiku sakit melihatnya..?!


perceraian ini tidak akan bisa di lanjutkan jika Mas tidak menyetujuinya.. ?"


Ilham terdiam, matanya mulai berkaca kaca, namun dengan segera ia mengusap matanya.


" Aku ingin dia bahagia.. meski tanpaku..


aku tidak akan menahannya lagi, jika memang lepas dariku adalah yang terbaik untuknya..


Aku akan mendidik Ami dengan baik sa..


percayalah padaku.."


suara Ilham bergetar menahan getir, tak ada yang menginginkan sebuah perpisahan, tetapi jika perpisahan itu menjadi kebahagian untuk orang yang di cintainya.. ia sungguh rela dan ikhas.


" Mas.. ini bukan dirimu yang ku kenal... kau tidak mudah menyerah.. ?"


" awalnya.. aku memang bertekad mempertahankan Wulan bagaimanapun caranya..


tapi setelah aku berfikir lama..


aku tidak sanggup lagi mempertahan kan orang yang selalu berusaha untuk melepaskan diri dariku..


bagaimanapun caranya dia membalasku, aku masih kuat..


tapi ketika dia berkata tetap ingin bercerai dan pergi begitu saja dari rumah..


disitu aku mulai sadar,


Mungkin dia seperti itu karena sudah tidak ada lagi tempat untukku di hatinya..


dia benar benar menutup rapat jalan kami untuk bersama kembali,


aku merasa..


aku akan terus melukai diriku sendiri jika aku memaksakan diri dan mencegahnya untuk pergi..


bukanya aku tidak bisa, aku bisa..


aku bisa mengikatnya dengan kencang agar terus disampingku..


tapi hatiku sakit setiap kali melihat pandangan matanya yang selalu melihatku sebagai musuh..


bukan sebagai suaminya.."


lagi lagi Ilham mengusap matanya yang mulai berair.


" Tapi Ami menunggu ibunya pulang..??"


mendengar ucapan Aksara Ilham terdiam cukup lama dan tertunduk dalam.

__ADS_1


" Dia akan terluka Mas.. dia yang akan paling terluka, kejam sekali kalian mengorbankan perasaannya?, orang tua macam apa kalian??" Aksara turut berkaca kaca, hatinya benar benar tersayat memikirkan bagaimana jika Ami tau papa dan mamanya akan berpisah, padahal anak itu dengan polosnya menunggu ibunya pulang.


" Tolong sa.. pahamilah aku.. aku sudah benar benar tidak punya jalan lain untuk mempertahankan istriku..." Akhirnya pertahanan Ilham jebol juga, air mata yang sudah di tahannya berminggu minggu agar tidak tumpah, akhirnya tumpah juga di hadapan Aksara.


__ADS_2