
Wulan tidak nyaman karena merasakan merasakan sesuatu yang hangat di keningnya.
Ia membuka matanya perlahan, di kerjap kerjapkan lagi matanya agar pandangannya yang blur menjadi jelas.
Deg..
Tidak.. keluhnya dalam hati, bisa bisanya ia tertidur dalam dekapan Ilham, keningnya juga menempel di pipi Ilham.
Dada yang bidang dan lengan yang berotot itu ada di depan matanya.
" Aduhh..." keluh Wulan dalam hati,
Ada perasaan yang lain, perasaan yang tidak seperti biasanya.
Wulan bergerak mundur, ia berusaha menjauh.
" bagaimana ini..??" keluhnya lagi dalam hati, ia merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan setiap berdekatan dengan Ilham.
Merasakan Wulan yang bergerak menjauh, dengan mata yang masih tertutup Ilham melingkarkan tangannya ke pinggang Wulan, menariknya dengan cepat hingga Wulan tidak sempat menghindar.
" Masih pagi buta.. tidurlah lagi.. " suara Ilham lirih.
Bisa bisanya memelukku dengan bertelanjang dada begini.. Wulan mengomel dalam hati, merasakan tubuh Ilham yang hangat perasaannya semakin tidak karu karuan.
" Jangan bergerak terus, makin sibuk kau bergerak, makin aku menempel padamu.." ujar Ilham karena Wulan terus bergerak ingin menjauh.
" Diam diam lah seperti tadi.. aku hanya akan melukmu jika kau tidak bergerak..
tapi jika kau terus bergerak, aku tidak menjamin apa yang akan terjadi ke depannya.." Ilham mengosok gosokkan pipinya, lalu mencuri kening Wulan.
" Jangan coba coba.." jawab Wulan, ia mencoba diam dan menurut pada Ilham.
" apanya.." suara Ilham seperti menggoda, sembari membuka matanya.
" Kau seperti laki laki penggoda tau"
" benar sekali.. aku memang sedang menggodamu.. " jawab Ilham tersenyum penuh arti.
" Jangan berisik.. papa dan Ami bisa bangun.." Ilham terus saja mendekatkan dirinya dan menarik Wulan ke arahnya.
Keduanya berpandangan, namun tatapan Wulan kesal.
" Kenapa? marah marah terus sih.. tidak capek..?" suara Ilham benar benar lembut.
Wulan serasa benar benar di goda,
" aku tidak marah, aku hanya ingin tidur dengan leluasa..
kau tau dengan jelas, tempat tidur ini sangat luas.."
" memang luas.. lalu apa masalahnya dengan luas..?" Ilham masih saja menjawab dengan kalem dan santai,
" jangan mengajakku ribut,"
" siapa yang mengajakmu ribut?, kau yang selalu marah tidak jelas..
apa kurang jelas apa yang ku katakan di depan papa?" Ilham mendekatkan wajahnya ke wajah Wulan.
" Aku bersedia melepas pekerjaanku demi kau dan Ami, jadi tetaplah disampingku..
jangan menolakku lagi.."
Wulan terdiam, ia tidak tau harus berkata apa lagi.
" Aku bahkan bersedia diam dirumah, menjadi bapak rumah tangga dan mengurus Ami jika kau memang menginginkannya..
apapun keinginanmu asal kau tenang disampingku.."
imbuh Ilham sembari menyentuh bibir Wulan dengan jemarinya, keduanya berpandangan lama.
__ADS_1
Wulan yang merasa detak jantungnya sudah tidak normal membuang pandangannya, namun Ilham menghela wajah wulan agar kembali lagi memandangnya.
" Aku tidak mau kehilangan dirimu.. itu menyiksaku.."
kalimat yang benar benar membuat Wulan tak berdaya lagi,
perasaannya yang dulu seperti menyeruak kembali.
Perasaan saat mereka masih baik baik saja, perasaan saat Wulan belum merasakan kekecewaan pada sosok Ilham.
Wulan akhirnya kalah,
dan hanya diam pasrah,
entah kenapa ia yang seharusnya menolak, tidak sanggup menolak untuk saat ini, Ilham seperti menyihirnya, sehingga ia tak mampu lagi berkata tidak untuk sekarang.
" Mama?! mama?!" terdengar suara Ami dari balik pintu kamar.
Sontak Wulan membuka matanya, seraya ia bangun, lalu duduk sembari mengumpulkan kesadarannya.
Saat ia sedang mengumpulkan kesadarannya tangan Ilham tiba tiba merayap ke perutnya.
Seketika Wulan sadar bahwa dirinya hanya tertutupi oleh selimut.
" Plakk!" reflek Wulan memukul tangan Ilham.
" Aduh..?!" keluh Ilham pelan.
" Lepas?! Ami mengetuk pintu..!" Wulan berusaha menyingkirkan tangan Ilham tapi suaminya itu malah menariknya kembali.
" Papa sama mama capek mau istirahat sebentar..?!, Ami main sama om Fahim ya..?!" suara Ilham keras,
" Astagaaa...?! bisa bisanya?!" Wulan menatap Ilham tak percaya,
Ilham hanya tersenyum, lalu tangannya kembali mengusik Wulan.
Wulan yang kesal karena terus di ganggu, meraih lengan Ilham dan menggigitnya.
Aksara masih duduk duduk di depan teras, mengawasi Rania yang sedang sibuk menyiram bunga.
Mata Aksara terus saja memperhatikan, sampai Rania risih rasanya.
" Bapak itu kenapa sih?" gerutu Rania pada asisten rumah tangganya.
" Mungkin bawaan bayi bu.." jawab si asisten tertawa,
" yang hamil kan saya, kok bapak yang bertingkah?"
" Biasa sudah itu bu... ibu yang sabar saja.. mungkin bapak hanya mengkhawatirkan sesuatu bu.."
Rania melirik suaminya itu, dan ia hanya bisa geleng geleng kepala.
Bisa bisanya perkara di kejar anjing bisa membuatnya di perlakukan seperti ini.
" Opo neh???" tanya Rania ketika Aksara mulai mendekat dan mengganggunya menyiram tanaman di depan rumah mereka.
" Biar ku bantu sayang.." Aksara tersenyum manis.
" Gausah, bisa sendiri.. sudah sana mas jaga jaga saja..
apa buat pos pantau sekalian di depan pagar sana.." Rania antara kesal dan meledek.
Aksara diam, berusaha memahami ekspresi istrinya.
" Ngambek?" tanya Aksara,
" enggak.."
" terus opo jenenge..? purik?"
__ADS_1
" ngapain purik ( ngambek)? aku bukan tipe orang yang purik purik nggak jelas mas.." Jawab Rania
Aksara tersenyum.
" lagi pula percuma juga purik, tidak ada bedanya.. " Rania sewot,
" beda apanya, Mas ini sayang lho Ran?"
" terus di kira aku juga tidak sayang Mas?"
" aku tidak pernah melihatmu cemburu kepadaku.."
" ya karena memang tidak ada hal yang harus ku cemburui Mas, tapi bukan berarti aku tidak sayang pada Mas..?"
" jadi aku tidak boleh cemburu? kalau tidak ingin aku cemburu ya jangan membuatku cemburu.." Aksara tiba tiba sewot,
" Kapan aku begitu?"
" bicara pada laki laki lain yang lebih muda dan lebih menarik dariku misalnya"
" astaga..." Rania kehabisan kata kata,
" masih muda, kerja di pertambangan lagi, uangnya banyak.." gerutu Aksara,
" Mas kok tau? ya ampun.. jangan jangan Mas sengaja mencari tau ya?"
" tidak kok, kebetulan saja aku membeli rokok di gang 4, yang jual rokok ngobrol denganku.."
" itu namanya mencari tau Mas, orang beli rokok biasanya di warung sebelah rumah, ngapain ke gang 4 segala?" Rania geleng geleng kepala,
" kebetulan warung sebelah lagi tutup.."
" ngapusi.."
" lho? kok aku di bilang ngapusi (bohong)?"
" warung sebelah tidak pernah tutup kecuali jam tidur siang"
" ya pokoknya lagi tutup.. lagian kenapa segitunya belain orang.."
" Mas.. suamiku.. sayang.. yang segitunya itu Mas, aku kenal saja tidak mas, apa perlunya sampe nanya nanya gitu, mau dia masih muda, mau dia kerja di pertambangan, banyak duitnya.. tidak ada urusan denganku..
lihat ini.. lihat.." Rania menunjuk perutnya.
" Ada anakmu disini, bisa bisanya mencurigaiku..." ujarnya menahan kesal.
" Bukan mencurigai, tapi kalau kau terus bertemu dan berbincang aku takut laki laki itu akan berfikir lain,
aku tidak suka,
apalagi kalau kau tersenyum kemana mana.."
" jadi sekarang tersenyum juga di larang?"
" ya di larang kalau itu menyebabkan laki laki lain tertarik padamu.."
Rania kesal tapi juga ingin tertawa,
" kesambet apa sih Mas??!"
Aksara diam, ekspresinya seperti anak yang tidak di belikan es krim dan permen kesukaannya.
" Sadar Mas, istrimu ini tidak cantik sekali.. jadi mas tidak perlu takut setiap kali aku bicara pada laki laki.."
" Cantik bukan dirimu yang menilai, mana kau tau orang memandangmu seperti apa,
pokoknya mulai sekarang tidak boleh terlalu murah senyum,"
Rania tidak berniat menjawab, ia merasa percuma menjawab, yang ada mereka hanya akan ribut.
__ADS_1
Rania menyerahkan selang air yang di pegangnya pada Aksara.
" Mas saja yang siram tanamannya," ujarnya kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.