Aksara Rania

Aksara Rania
Tuduhan


__ADS_3

Beberapa hari berlalu,


Rania masih saja diam, Aksara tidak tau benar apa yang sebenarnya di pikirkan istrinya itu.


Aksara sesekali memperhatikannya di kamar,


mencoba bicara,


tapi jawaban dari Rania selalu pendek.


Aksara duduk di teras seperti biasanya,


ia di temani secangkir kopi dan sebatang rokok yang sekarang sedang di hisap olehnya.


Matanya menatap ke depan, entah apa yang ia pikirkan dan rasakan.


Sesekali ia menghela nafas sembari menghembuskan asap rokoknya.


" Kenapa istriku tiba tiba begitu.. " keluh ya dalam hati,


sebelumnya Aksara tidak pernah mendengar kata kata seperti yang kemarin Rania katakan.


Tidak ada niat dalam hatinya untuk mengekang atau mengurung istrinya.


Sikap hati hati yang Aksara tunjukkan itu karena ia tidak ingin Rania terluka.


" Hahh..." Aksara membuang nafasnya yang berat, menyandarkan kepalanya di bahu kursi.


Wulan bangkit perlahan, ia takut membangunkan Ami yang sudah tertidur.


Di pandanginya putri kecilnya itu baik baik.


" Sayangku.. " ucapnya lirih sembari mengecup kening Ami.


" Sudah tidur?" tanya Ilham duduk di depan TV ketika melihat istrinya berjalan ke arahnya, lalu duduk di sampingnya.


" Sudah.. sepertinya capek.."


" bagaimana tidak capek, seharian lari larian.. " komentar Ilham.


" Bagaimana?"


" apanya?"


" Aksara?"


" ya sudah pasti di tolak kalau aku yang bicara, mas ngotot sih.."


" ya mas menyuruhmu begitu supaya Aksara bisa melihat ketulusanmu.."


" ketulusan apa? yang ada aku di pelototi sama bang Marlino.."


" Eh..! berani beraninya dia begitu pada istriku yang lemah lembut ini..?"


keduanya berpandangan,


" Mas mengejekku?" tanya Wulan dengan sorot mata AWAS SAJA.


" Tidak sayang.. mana mungkin mas mengejek Wulan yang baik hati dan lemah lembut ini.."

__ADS_1


" ngapusi.."


" lho iya.. buktinya aku di berikan kesempatan kedua.. apa tidak baik hati itu namanya?"


Ilham memeluk Wulan dari samping.


" Hemm.. berbisa.." komentar Wulan membuat Ilham tertawa.


" Mas saja yang ajak mereka, aku mana di gubris... tidak ada baik baiknya aku ini di depan Aksara.."


" dia mau pulang, selamatan 3 bulanan istrinya..


kalau sudah pulang saja kita undang.. persiapkan hadiah untuk Rania ya?"


" apa itu?"


" ya terserah sayang.. kan perempuan lebih tau.."


" nanti di buang malah sama Aksara, di kira bom.." gerutu Wulan lagi lagi membuta suaminya tertawa.


" Dia itu hanya kesal padamu.. tenang saja, dia tidak membencimu..


Aksara bukan tipe yang seperti itu.." Ilham meyakinkan istrinya.


Rania sibuk mengemasi bajunya, ia hanya membawa beberapa potong saja, karena Aksara hanya mengambil ijin 3 hari.


" Tidak usah bawa baju banyak banyak, toh di lemari kita disana masih ada baju yang di tinggal.." Aksara mendekat.


" Kita beli oleh oleh nanti malam ya, belikan orang orang sarung tenun bugis dan kopi toraja.." imbuh Aksara, namun Rania tetap diam.


" Ran? aku sedang bicara padamu.." tegas Aksara.


" Aku tidak suka kita larut dalam masalah.." Aksara menggapai tangan istrinya yang sedang sibuk itu.


Memegangnya erat, mencegah Rania sibuk kembali.


" Biar ku selsaikan ini dulu," jawab Rania tanpa memandang Aksara.


Melihat itu Aksara kesal, ia menarik tubuh Rania mendekat ke arahnya.


" Katakan.." ujar Aksara serius,


" tentang?"


" apapun itu yang membuatmu bersikap seperti ini kepadaku?"


Rania diam, tak lama tersenyum sekilas.


" Apa apaan senyum itu?" Aksara tidak pernah melihat istrinya berwajah sesinis itu.


" Jangan ajak aku tebak tebakan, katakan saja, apa salahku? aku tidak tahan kau diamkan meski hanya sehari?!"


" Tidak ada yang salah mas.. mas adalah kakakku sebelumnya, lalu suamiku sekarang..


apa kesalahan yang bisa mas lakukan,


apapun yang mas lakukan semuanya benar..


begitu bukan?"

__ADS_1


jawab Rania tenang,


" Aku manusia biasa, tentu saja bisa salah Ran??"


" Tidak.. mas selalu benar dalam semua hal..


karena mas terlahir lebih dulu,


karena mas menjagaku..


karena mas mencintaiku..


karena mas suamiku..


semuanya di benarkan, bukankah begitu?


jangan perdulikan perasaanku.."


Aksara serasa tak percaya mendengar itu, bisa bisanya Rania seperti ini.


" Ini aneh, sebelumnya kau tidak pernah seperti ini.. katakan ada apa di balik ini semua?" tanya Aksara masih tidak melepaskan tangan istrinya.


" Di balik apa??" ulang Rania,


" di balik ini semua ada apa? katakan sejujurnya.. apa karena bertemu dengan laki laki itu? yah.. kemarin kau keluar ke ujung gang kan Ran? apa kau berbincang lagi dengan laki laki itu? apa yang dia katakan sehingga kau seperti ini terhadapku?" Aksara mendesak,


" Bisa bisanya kau melemparkan kesalahan pada orang lain begitu mudah mas??" Rania tak percaya, bisa bisanya suaminya berpikiran seperti itu.


" Lalu apa?!, seumur umur aku tidak pernah mendengar kau merasa terkekang olehku, tapi sekarang tiba tiba saja, kata kata itu muncul dari bibirmu..


lalu apa yang harus ku pikirkan? aku ini suamimu?!


jangankan bicara manis atau tertawa dengan orang lain, aku sudah bilang kan?!melihatmu di pandang orang lain saja aku tidak suka?!,


dari awal aku tidak suka melihat laki laki itu, apalagi dia sok baik dengan menolongmu,


dia itu mencari kesempatan berbincang denganmu!" tegas Aksara kehilangan kesabarannya.


Rania menatap suaminya tak percaya, juga kecewa, ternyata seperti itu pemikiran Aksara selama ini padanya.


" Tuduhanmu luar biasa mas, apa ada tuduhan yang lebih jahat? aku siap menerimanya.." Rania menatap suaminya dengan perasaan marah bercampur kecewa.


" kalau ada tuduhan yang lebih rendah silahkan keluarkan semuanya! aku ini siapamu mas?!


aku hamil seperti ini saja tuduhanmu bisa seperti itu terhadapku! apalagi jika aku tidak hamil! " tegas Rania sudah berurai Air mata,lalu berhamburan pergi meninggalkan sosok Aksara yang masih tertegun dengan kemarahan Rania.


Aksara terduduk di samping tempat tidur,


ia menutup wajahnya dengan salah satu telapak tangannya.


" Apa yang sudah ku katakan pada istriku..." keluhnya pelan,


ia khilaf,


benar benar khilaf,


saking marahnya ia sampai mengatakan sesuatu yang menyakiti hati istrinya.


" Aksara bodoh.." ia mengumpat dirinya sendiri, karena sudah membuat Rania yang sedang hamil itu menangis.

__ADS_1


Ia mengumpat dirinya yang bodoh sekali karena tidak bisa mengendalikan amarahnya.


__ADS_2