
Hari berganti minggu, keadaan Rania kembali membaik, wajahnya cerah..
senyumnya ceria.
Meski keduanya masih terkesan menjaga jarak saat berbincang di telfon,
tapi kekhawatiran sudah tidak sebanyak kemarin kemarin.
Aksara hanya sehari sekali menelfon, itu pun saat ia pulang dinas.
Sedangkan Rania yang masih belum begitu pulih kepercayaannya hanya mengangkat telfon dan membalas chat seadanya.
Kadang dalam hatinya bertanya, urusan apa yang begitu mendesak sehingga suaminya itu memutuskan tidak melihatnya sama sekali.
Tapi ia tak mau berfikir terlalu berat lagi, sudahlah.. pikir Rania,
ia ingin melahirkan bayinya dengan sehat dan selamat.
Terakhir kali periksa, dokter memperingatkannya agar tidak stress,
karena Rania terlihat kurang tidur dan sebagainya.
Rania sedang berjalan tanpa menggenakan alas kaki, niatnya berolah raga ringan, sekalian ikut dengan mbak Yuni untuk belanja di warung ujung kampung, yang letaknya tak jauh dari jalan raya.
" Lho.. mbak Rani?!" panggil salah satu ibu ibu yang baru pulang dari belanja juga.
" Nggih.." Rania mengangguk sembari tersenyum,
" ya begitu.. jalan jalan subuh, biar melahirkannya lancar dan sehat.." imbuh ibu ibu yang berusia 60 tahunan itu.
" Sudah USG? wedok po lanang nduk?" tanya si ibu mendekat dan mengelus elus perut Rania.
" Belum tau bu.. setiap di periksa jenis kelaminnya tertutup.." jawab Rania tersenyum.
" Owalah.. ya wes, yang penting sehat.. bapak e di sini tho?"
" mas Aksara dinas di sulawesi bu..."
" owalah, tapi nanti kalau melahirkan pulang tho..?"
" nggih.. " jawab Rania masih tersenyum,
" sudah berapa bulan ini nduk?"
" delapan lebih bu, sebulan lagi sepertinya.."
" owalah.. ya wes.. lanjut jalan jalannya.. ben sehat.. ibu pulang dulu, mau masak.." si ibu pamit, dan berlalu menjauh.
" Mbak? ayo.. " panggil mba Yuni dari kejauhan karena Rania sudah tertinggal jauh.
Aksara sibuk kesana kemari, ia juga sudah mengemasi seluruh baju dan barang barang lainnya.
Pandangan Aksara mengelilingi isi rumahnya, sudah mulai kosong,
tentu saja.. karena ia menjual perabot nya dengan harga sedikit miring.
Ada kebahagian, namun ada juga rasa sedih yang merayapi hatinya.
Rumah ini sudah bertahun tahun menjadi miliknya, menemaninya menghabiskan waktu dan juga kesendiriannya sepulang dari dinas.
Selain kenangan masa bujangnya, rumah ini juga menjadi tempat malam pertamanya bersama istrinya, banyak kenangan manis bersama Rania disini meski sebentar.
Sedikit berat Rasanya melepaskan, namun mau tidak mau ia harus menjualnya.
Ia juga harus mulai memikirkan mencari penghasilan tambahan, untuk jaminan kehidupan istri dan anak anaknya kelak.
Bukan berarti tidak cukup, tapi tipe Aksara adalah pemanja istri.
Ia tidak ingin istrinya sampai mengeluh kelak, apalagi ia tau masa kecil Rania penuh dengan kekurangan,
ia benar benar tak mau Rania merasakan itu lagi ketika hidup dengan nya.
__ADS_1
Meskipun tidak berlebih, setidaknya segala sesuatunya cukup, pikir Aksara.
Aksara membuka pintu rumahnya, di depan pintu sudah ada Ilham dan Wulan.
Entah kenapa keduanya tiba tiba berkunjung.
" Masuk mas?" ujar Aksara mempersilahkan.
" Tapi di karpet mas duduknya, kursinya sudah ku jual.." Aksara tersenyum ringan, mempersilahkan suami istri itu duduk di karpet.
" Kapan kau berangkat?" tanya Ilham setelah duduk.
" Lusa mas.. " Aksara mengulas senyum, ia kemudian beralih ke Wulan yang sejak tadi diam.
" Terimakasih ya lan," ujar Aksara tiba tiba,
" terimakasih apa?" Wulan balik bertanya dengan heran.
" Terimakasih.. karena sudah menjelaskan yang sesungguhnya terjadi pada istriku.." jelas Aksara tersenyum tulus, ia benar benar merasa patut berterimakasih.
Wulan diam, ia bingung harus menjawab apa.
" Sama sama.." jawab Ilham cepat.
" Ihh, mas ini?" Wulan mencubit pinggang Ilham,
"aduuduuuduuhh?! habisnya kau diam saja, ya aku yang jawab..?!" ujar Ilham sembari nyengir menahan sakit di pinggangnya.
" Sudah.. pokoknya aku terimakasih.." ujar Aksara lagi,
" Aku tidak pantas mendapat terimakasihmu.. malah harusnya aku meminta maafmu..
maafkan aku, karena aku hidupmu berantakan.." suara Wulan tertekan.
Aksara terdiam sejenak, ia menghela nafas dan kembali tersenyum.
" Kalau istriku memaafkanmu berarti aku juga wajib memaafkannmmu..
jangan seperti dulu lagi dan sayangi Ami baik baik.. " ucap Aksara tenang.
" Suami juga wajib di sayangi Sa.." celetuk Ilham tidak terima anaknya saja yang di sebut.
" Kau bahkan bisa cemburu pada anakmu mas? benar benar..." Aksara menggeleng gelengkan kepalanya sembari tertawa.
" Sudah, jangan perdulikan dia.." sahut Wulan.
" Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.." imbuhnya lebih serius pada Aksara,
" ini tentang istrimu.."
" katakan..?" Aksara mendengarkan dengan serius.
" Dia sepertinya punya trauma masa kecil, kekecewaan bisa membuatnya mengambil keputusan yang di luar kebiasannya..
jadi yang harus kau lakukan adalah mengerti dia dengan baik..
jangan membuatnya tertekan atau merasa kau tidak pantas di percaya.." nasehat Wulan,
" banyak banyaklah membaca buku dan belajar setelah ini.. sepertiku sekarang, ketika dia onset aku tidak kaget.." sahut Ilham menambahi.
" Aku faham masa kecilnya seperti itu, tapi aku tidak menyangka kalau trauma itu masih belum hilang?" Aksara heran, namun kata kata Wulan ada benarnya, ada baiknya ia belajar.
" Kau jangan terlalu mengekangnya Sa.. beri ruang gerak ya.. " imbuh Wulan,
Aksara terdiam,
" Kau itu takut apa.. tinjumu kan kuat, mana ada laki laki yang berani merebut istrimu.." sahut Ilham.
" Huss?! mas ini senior kok malah ngajari jelek?!" Wulan melotot pada suaminya.
" Eh, tanpa ku ajari dia sudah menghajar orang kemarin kemarin..
__ADS_1
sudahlah, jangan melotot pada suamimu yang kalem dan pengertian ini.." jawab Ilham membuat Aksara mengernyit,
" Geli mas mendengar kalimat kalem dan pengertian.." ucap Aksara.
" Kau jangan rindu aku ya, kalau aku cuti aku akan mengunjungimu.. " Ilham tertawa,
" Mas yang jangan merindukanku kalau sedang ada masalah.. "
" ihh.. masalah apa.. aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri.." ujar Ilham sembari menatap istrinya yang menatapnya selidik, melihat Wulan dan Ilham yang seperti itu Aksara tertawa, pastinya ia akan rindu dengan sosok mas Ilham yang pengertian itu.
Rania mengambil HPnya, sudah lumayan malam tapi tangannya gatal sekali ingin menghubungi Aksara.
Setelah menimbang nimbang di urungkan niatnya, karena pastinya Aksara sudah tidur.
Hampir saja Rania lupa pada perbedaan waktu antara pulau jawa dan sulawesi.
Di letakkan kembali HPnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.
Di rebahkan dirinya, sembari mengelus elus perutnya.
" Ini sudah malam nak.. tidur.." ujar Rania merasakan bayi dalam perutnya bergerak gerak.
Tak lama tiba tiba HP Rania berdering,
Rania perlahan bangkit dan mengambil HPnya.
Rupanya vidio call dari Aksara,
" Ran.." terdengar suara Aksara, terlihat juga Aksara yang masih duduk duduk di depan teras rumah.
Rania tersenyum lega melihat wajah suaminya yang manis itu.
" Kok belum tidur sayang?" tanya Aksara,
" belum, mas sendiri kenapa belum tidur?" tanya Rania balik,
" Mas sedang banyak pekerjaan.. nanggung mau tidur, belum selesai.." jawab Aksara tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
" Pekerjaan apa sih mas? sewaktu aku disana mas tidak pernah bekerja sampai malam malam..?"
" Ada yang harus di selesaikan sebelum aku pulang ke jawa.. hal hal ringan kok.."
Rania mengangguk mengerti,
" Mas sudah makan?" tanya Rania kemudian,
" sampun (sudah) sayang.."
" aduh..??" keluh Rania tiba tiba,
" kenapa Ran?!" tanya Aksara dengan raut khawatir,
" ini.. nendang nendang terus mas.."
" wah, dia tau papanya telfon ya..? sabar ya sayang..
sebentar lagi papa pulang.." ujar Aksara dengan raut penuh rasa rindu.
" Jangan tidur malam malam, istirahatlah.. jaga kesehatanmu..
beberapa hari lagi aku pulang.. sabar ya..?"
Rania mengangguk,
" Iya mas.. mas juga segera istirahat ya..?"
" iya Ran.. sudah tidurlah.." Aksara mengangguk sembari tersenyum, lalu mematikan sambungan vidio call nya.
Rania menaruh HPnya,
" itu lho nak.. papamu sebentar lagi pulang.. sabar ya nak.." ucap Rania sembari mengelus elus perutnya, hatinya di penuhi ketenangan setelah melihat wajah dan suara suaminya.
__ADS_1