
"Apa tidak apa apa Mas? ini hanya untuk seminggu saja.. " Rania menjelaskan kepada suaminya bahwa akan ada muridnya yang tinggal dengannya selama seminggu ini.
Tentu saja Aksara tidak bisa mengatakan tidak karena istrinya itu terlihat begitu ingin melakukan hal ini,
" ya sudah.. tapi tetaplah berhati hati, aku tidak mau istriku terlibat dalam permasalahan keluarga seseorang.. bantu semampu mu saja..
maaf kalau beberapa hari ini aku pulang terlambat.. dan menelfon mu tengah malam..
aku juga ada masalah di kantor.." jawab Aksara dengan nada lembut, namun terdengar lelah sekali.
" Mas makan teratur kan?"
" tenang saja.. ada Farhan dan Marlin yang selalu menemaniku makan.. justru kau, jangan telat makan.. "
" tentu saja aku makan dengan baik Mas, Awal bulan ada tanggal merah.. apa Mas tidak bisa pulang?"
" masih belum tau, sedang ada masalah.. ku kira aku tidak akan mendapat ijin dari komandan.."
Rania sedikit kecewa mendengar itu,
" kenapa? rindu sama Mas..?" Aksara tersenyum,
" kenapa aku harus rindu.. ?" Rania tersipu,
" ya sudah kalau tidak rindu Ran, aku tidak pulang saja.."
" lho kan??!"
Aksara tertawa,
" Kalau rindu bilang rindu, tidak ada yang akan berkurang.. aku ini suamimu, merindukan ku itu wajib.. coba tanya Dimas"
" kenapa bawa bawa Dimas? dia menjadi sekutu mu sekarang?"
Aksara tertawa lagi,
" aduh.. kok malah tambah kangen ngene..( aduh.. kok semakin rindu begini..)" laki laki itu memukul mukul dahinya.
" Kangen pengen gangguin istri yang lagi sibuk masak di dapur, terus di gendong..
di bawa ke kamar..."
" Mas ini.. sudah ah, aku mau kerumah murid ku dulu Mas, ini nunggu guru BP yang menjemput.." wajah Rania merona, sayang sekali Aksara tidak melihatnya.
" Guru BP nya laki laki apa perempuan?"
" ya perempuan lah Mas..."
" ya sudah.. baik baik ya Ran, hati hati.."
ujar Aksara lembut.
Rania masuk ke kamar Safa, semuanya terlihat normal saja seperti anak remaja pada umumnya.
" Saya sudah kemasi baju bu, tunggu Mas Radit saya pulang sebentar lagi.." Safa menaruh dua buah cangkir berisi minuman.
" Apa kamu benar mau tinggal dengan bu Rani sementara?" tanya Ina yang merupakan guru BP, usianya sama persis dengan Rania, hanya bedanya dia sudah menikah sejak usia 23th dan sudah mempunyai momongan berusia 1th.
__ADS_1
" Selama 3 hari ini saya di perlakukan seperti penjahat oleh mas Radit..
saya bahkan tidak boleh sekolah sementara, rasanya sesak bu.." Safa tertunduk.
Rania dan Ina saling memandang,
" kita tunggu saja kakak mu pulang.." jawab Ina tenang.
15 menit kemudian datang seorang laki laki berseragam dinas berwarna coklat,
wajahnya terlihat lelah dan tidak nyaman dengan kehadiran dua guru adiknya.
Tanpa melepas seragamnya ia segera duduk di sofa dan menyapa dua ibu guru itu sedikit terpaksa.
" Maaf njenengan sudah menunggu lama?" basa basi Radit secukupnya.
" Tidak pak.. kami baru datang.." jawab Ina,
" langsung saja pak.. kami kemari ingin menjemput Safa, kami berharap Safa di perbolehkan untuk berada dalam pengawasan kami seminggu ini.." nada Ina tenang.
" Saya tidak mengijinkan" tegas Radit pendek.
Mendengar kalimat yang tidak bersahabat itu Rania dan Ina saling memandang.
" Safa.. bisa kami bicara dengan kakaknya sebentar? Safa bisa ke kamar dulu.." ujar Ina,
" Baik bu.." Safa mengangguk, dan beranjak pergi dari ruang tamu.
" Pak Radit.. saya tau njenengan kecewa dan sudah tidak percaya lagi kepada kami..
tapi setidaknya ini hal terakhir yang bisa kami lakukan untuk merubah pandangan Safa perihal **** bebas..
" Bapak bisa memantau Safa.. karena rumah saya dekat dengan sekolah, mohon beri kami kesempatan.. kami ingin Safa menyelesaikan sekolahnya sampai lulus tanpa masalah.." imbuh Rania,
Radit menatap Rania, berfikir cukup lama.
" Apa jaminannya dia tidak akan bertemu dengan teman sekolahnya yang bernama Randy itu lagi? saya sudah menahan diri tidak menyentuh anak itu" terlihat raut wajah Radit yang kaku.
" Perubahan Safa perlu dukungan Bapak sebagai kakaknya.. kemarahan Bapak hanya akan membuatnya bertindak frontal.. saya yakin Bapak faham itu.." bu Ina menenangkan,
" lagi pula keduanya saling menyayangi untuk sekarang.. melukai Randy sama saja melukai safa.. kita tidak bisa mengusik dua orang yang sedang berada dalam lingkaran cinta.." imbuh Ina.
Rania tertunduk mendengar kata kata teman seprofesinya itu, ia tiba tiba mengingat dirinya sendiri dan Aksara di masa lampau..
Memang benar, susah sekali menasehati orang yang sedang jatuh cinta..
menentang secara langsung hanya akan berakibat fatal.
" Mas Aksa..." suara Rania dalam hati, entah kenapa ia berkaca kaca, kalau tidak ada perasaan berlebihan diantara mereka dulu..
dan mereka bersikap seperti saudara selayaknya, mungkin Mas Aksa tidak akan pergi dari rumah, juga meninggalkan Bapak begitu lama..
mungkin juga Aksara akan menerima siapapun perempuan yang di pilihkan Bapak untuknya waktu itu.
Namun ini sudah jalannya.. pada akhirnya mereka tetap bersama sebagai suami istri.. dan itu adalah hadiah terakhir Bapak untuk kami..
" Bu Rani? bu?" panggil Ina membangunkan Rania dari lamunannya,
__ADS_1
" iya bu?"
" pak Radit bersedia, tapi beliau meminta ijin untuk berkunjung memantau Safa.."
" Oh.. iya, saya sudah meminta ijin dengan suami, alhamdulillah di ijinkan.. "
" Tolong jaga adik saya baik baik.. " suara Radit berat, terlihat jelas sebenarnya ia tidak ikhlas membiarkan adiknya turut bersama ibu gurunya.
Safa membawa tas jinjing dan tas punggung, ia terus tertunduk tak berani menatap kakak nya.
" Mas.. ? aku kerumah bu Rania dulu.." pamit Safa dengan suara lirih.
Radit tak menjawab, ia hanya mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada adiknya.
" Jangan merepotkan bu guru mu, kau bukan anak kecil" tegas Radit pada adiknya,
Safa tidak menjawab, ia hanya tertunduk.
" Kalau begitu kami pamit dulu pak.."
" Mari pak.." ujar Rania dan Ina bergantian.
Sesampainya dirumah Rania Safa di berikan Kamar paling ujung, itu karena Rania takut Safa tiba tiba keluar jika terlalu dekat dengan ruang tengah.
Rania juga memberi pesan pada mbak Yuni untuk ikut mengawasi muridnya.
Tak lama Dimas datang,
" Safa, kemari.." panggil Dimas yang duduk di ruang tamu dengan Ina dan Rania.
" Jangan berharap bertemu diam diam dengan Randy di luar jam sekolah, karena Randy juga akan bapak jemput sekarang.
Randy akan tinggal bersama bapak juga."
mendengar itu Safa terdiam,
" Memang lebih baik dengan Bapak.. kasihan.." jawab Safa lirih,
" memangnya kenapa?"
" Tadi dia chat saya.. dia habis di pukuli papanya.." Safa menangis,
Dimas dan kedua bu guru itu saling menatap,
" Kau ajak pak Rehan saja.. jangan sendiri.." ujar Rania,
" hati hati saat bicara pak.. situasi Randy sepertinya lebih tidak baik.." tambah Ina,
" bu Ina ikut sajalah.. , Ran pinjam mobilnya, sekalian ku jemput Rehan.."
Wajah Dimas sedikit tidak tenang setelah mendengar Randy di pukuli papanya.
" Kau sudah makan? " tanya Rania memberikan kunci mobil,
" Sudah"
" Baguslah.. emosimu gampang naik kalau perutmu kosong.."
__ADS_1
" yang benar?" Ina mengerutkan dahi,
" Sudah nanti saja bahas perut, kita berangkat!" Dimas bangkit dari sofa dan segera mengajak Ina berangkat.