Aksara Rania

Aksara Rania
Maaf


__ADS_3

Om Surya menatap Aksara dan Radit bergantian, ia sungguh tidak habis pikir.. keponakannya yang biasanya cukup bijaksana ini bisa memukul orang se enaknya.


Om surya lebih geleng geleng kepala lagi melihat kondisi keduanya yang sama sama terluka, belum lagi ruangan yang berantakan tidak karuan karena ulah mereka berdua.


" Sekarang kalian wajib saling meminta maaf, mau tidak mau.. kalau tidak ini akan jadi panjang?!" tegas om Surya, namun keduanya masih diam, wajah Aksara seperti tak terima, matanya merah menahan kesal.


" Kenapa saya harus minta maaf? dia yang bersikap tidak layak sehingga memprovokasi saya, dan membuat saya bertindak seperti ini?!" Aksara membuka suara, ia tak memandang om nya, namun ia menjawab dengan tegas.


" Tindakanmu berlebihan le, dia bahkan tidak menemui istrimu..?" ujar om Surya berusaha tenang,


" kalau saya tidak datang hari ini mungkin dia akan terus mendekati istri saya, saya menangkap basah dia mengawasi istri saya diam diam,


apa saya harus menunggu mereka bertemu om? apa saya tidak boleh memperingatkan orang yang mungkin saja bisa merusak rumah tangga saya?" Aksara terus saja tak terima dengan cara Radit memandang istrinya.


om Surya terdiam sejenak, lalu beralih ke Radit.


" Mas Radit.. apa benar itu?" tanya Om surya, berusaha tidak memihak.


Radit tertunduk dalam,


" Saya tidak mau menjadi pengecut yang tidak mau mengakui perasaan saya, memang saya tertarik pada Rania, namun saya hanya mengawasinya dari jauh..


tidak ada sedikitpun niat dalam hati saya merebut atau menganggu..


saya kira tidak apa apa jika hanya mengagumi dan berteman baik.." jawab Radit terus teranh, sembari merasakan sakit di bibir nya yang lumayan banyak mengeluarkan darah sejak tadi, sehingga ia harus menutupnya dengan tissue, seluruh wajahnya terasa sakit, entah berapa kali Aksara memukulnya.


" Wah.. jawaban yang luar biasa, mengakui menyukai istri orang tanpa dosa.." sahut Aksara masih dengan nada masih sangat sangat kesal,


jika saja tidak ada om Surya mungkin Aksara bisa memukul Radit lagi.


" Diam kau Aksara..!" bentak om Surya membuat Aksara membeku seketika.


" Begini mas Radit.. apa mas Radit tau kalau sedang dalam posisi yang tidak bisa di benarkan?" tanya om Surya sembari menghela nafas berat.


" Nggih.. saya salah.. saya minta maaf, saya janji.. mulai sekarang saya akan tau diri..


saya tidak akan muncul lagi di hadapan bu Rania, dan tidak akan mencoba berinteraksi dalam bentuk apapun..


saya juga ingin Rania bahagia..


tapi tolong,


perlakukan Rania dengan baik.." Radit mengalihkan pandangannya ke Aksara.


" Maksudmu aku tidak memperlakukan istriku dengan baik?" Aksara menyahut, ia terlihat tidak bisa menahan amarahnya.


" Kenyataannya dia sendirian disini, dengan perut sebesar itu, raut wajahnya pun tidak terlihat baik.. apa anda pikir kesedihan dan kegelisahan tidak terlihat jelas di wajahnya?"


jawab Radit,


Aksara terhenyak, ia memang salah karena membiarkan Rania sendirian hampir seminggu disini.


" Saya minta maaf kalau membuat anda tidak nyaman dengan kehadiran saya, tapi saya sama sekali tidak ada niat buruk..


kebahagiaan Rania juga kebahagiaan saya,


jika dia hidup bahagia dengan anda saya juga bahagia,


jadi tolong, jangan sia sia kan Rania"


Aksara lagi lagi terdiam mendengar kata kata Radit.


"Sudahlah.. kalian sudah bukan anak remaja, istrimu juga sedang hamil besar.. Aksara?!"


Aksara masih diam.


" Maafkan saya pak.. teguran ini akan saya ingat, ke depannya saya akan memperbaiki diri dan berhati hati dalam bersikap.." ucap Radit pada om Surya, terlihat sekali ia merasa bersalah dan malu atas perbuatannya.


" Bagaimana Sa?" om Surya menatap Aksara baik baik, keponakannya itu benar benar membuatnya geleng geleng kepala, sikapnya benar benar tidak seperti Aksara yang biasanya.


" Sa.. istrimu sedang sakit di dalam, sudah.. jangan memperpanjang masalah.." ujar om Surya melihat Aksara yang masih saja diam dengan Raut penuh kekesalan.


" Kau sungguh sungguh akan menjauhi istriku?!" Aksara membuka mulutnya, keduanya saling menatap,


Radit menghela nafas berat sejenak, lalu menjawab dengan berat,


" iya.. saya berjanji, saya tidak akan mendekati Rania lagi.."


" kalau kau ingkar?"


" anda boleh melakukan apapun kepada saya.." jawab Radit dengan nada tanpa perlawanan sedikitpun.


Aksara terdiam cukup lama, ia terlihat sedikit bimbang,


namun akhirnya dia bicara,


" Baiklah.. saya juga minta maaf karena sudah memukul anda..

__ADS_1


itu saya lakukan karena saya tidak mau kehilangan istri saya.." nada Aksara menurun, ia mencoba mengembalikan kebijaksanaannya.


" tolong.. saya mencintai Rania.. biarkan saya hidup tenang bersamanya.." imbuh Aksara lebih halus, bertujuan agar Radit mau mengerti.


Radit mengangguk lemah, ia sadar kalau sudah bertindak salah dengan mengagumi milik orang lain.


" Baiklah.. kalau begitu, saya mohon diri.. sekali lagi saya minta maaf.." Radit berdiri,


ia menundukkan sedikit kepalanya pada om Surya sebagai bentuk rasa hormat dan penyesalan, lalu berjalan ke arah pintu keluar.


Rania sedang terbaring di atas tempat tidur, sedangkan tante Irma sedang sibuk bicara dengan bidan dekat rumah, yang baru saja selesai memeriksa Rania.


" Kata bu bidan bayimu baik baik saja.. tapi kalau nanti ada yang terasa tidak nyaman kita harus menghubunginya lagi..


apa kau yakin tidak mau ke dokter nduk?" ujar tante Irma duduk di tepi tempat tidur, disamping Rania yang sedang berbaring.


" Tidak usah te.. sakitnya sudah hilang.." jawab Rania sembari mengelus perutnya,


" mungkin karena kaget juga.. sudahlah, jangan terlalu stress..


suamimu hanya sedang cemburu saja..


dia takut sekali kehilanganmu nduk.."


Rania diam tak menjawab kata kata tante Irma, sorot matanya bimbang,


" apa yang kau pikirkan?" tanya tante Irma melihat kebimbangan di mata Rania.


" Saya heran saja te.. kenapa dia bersikap seperti itu..


dia disana mengenal perempuan lain, bahkan sampe bersentuhan fisik,


tapi saya..


saya bahkan tidak berbuat apapun te..


tapi dia bisa seperti itu..


saya benar benar merasa semakin tidak mengenal mas Aksa.. sikapnya belakangan ini semakin aneh untuk saya.." Rania menatap langit langit kamar untuk mencegah dirinya menangis, tapi ternyata ia tak sanggup menahan air matanya.


" Dia memukuli orang sampai sebegitunya.. bahkan mendorong saya saat berusaha melerainya..


padahal hal itu semata mata saya lakukan karena khawatir dia melukai orang lain dengan berlebihan.." air mata Rania meleleh.


" Dia tidak sengaja nduk.. tidak mungkin suamimu sengaja..


" saya tidak tau te.. dia terlihat bringas.. seperti bisa membunuh Radit saat itu juga dengan pukulannya yang bertubi tubi..


mas Aksa memukulinya tanpa ampun,


itu cukup membuat saya takut..


saya hanya bisa menghentikan dia dengan kata kata yang sebenarnya tidak ingin saya ucapkan seumur hidup saya.."


Rania menyesali apa yang sudah terjadi, tapi itu terpaksa ia lakukan.


" Bicaralah nanti baik baik dengannya, kalai kau tidak benar benar mau berpisah dengannya.. " nasehat tante Irma.


Rania terdiam,


" Rasanya saya masih tidak sanggup melihat wajahnya, hati saya campur aduk te..


setiap mengingat bahwa dia sudah menyentuh perempuan lain selain saya, hati saya rasanya kesal sekali..


walaupun itu hanya sebatas menggendong, tapi hubungan kecil bisa berkembang menjadi hubungan yang besar.. "


" Inilah yang tidak ku sukai dari hubungan kalian berdua..


kalian terlalu banyak berfikir tentang hal hal yang sebenarnya tidak penting..


berusahalah saling mempercayai.."


" jika memang tidak ada apa apa, kenapa dia menerima telfon diam diam te? apa tidak jujur itu di benarkan dalam rumah tangga?" Rania tidak habis pikir dengan hal ini,


lagi lagi tante Irma menghela nafas,


" sudahlah.. istirahatlah dulu.. biar tante bicara padanya.." ujar tante irma sembari tersenyum mengerti, ia ingin Rania tenang dan tidak memikirkan hal hal yang sulit, karena itu bisa mempengaruhi kesehatannya.


Tante Irma berjalan ke arah ruang tamu yang tadi cukup berantakan.


matanya terbentur pada Aksara yang sedang duduk sembari merokok, wajahnya terlihat tidak tenang, dan om Surya sedang duduk tenang tak jauh darinya.


" Kau mendorong istrimu?" tanya tante Irma duduk di samping om surya.


" Saya tidak sengaja te.." jawab Aksara buru buru mematikan rokoknya.


" Kali ini kau keterlaluan le, kau bisa membahayakan anakmu sendiri..

__ADS_1


bukankan sudah pernah ku katakan,


emosi yang berlebihan itu tidak benar..?"


Aksara tertunduk,


" Saya tidak bisa diam saja te.. saya sudah memperhatikan laki laki itu sejak lama,


dia masih saja berharap pada istri saya.. dan saya gelap mata menemukannya mengawasi istri saya diam diam seperti itu..


saya kira tidak ada cara lain untuk menyadarkannya selain pukulan.." Aksara tertunduk kembali.


" saya kesal.. Rania selalu tersenyum padanya.. " imbuh Aksara,


" bukankan tadi mereka tidak bertemu?"


" sebelum sebelumnya te.. mbak Yuni pernah bercerita laki laki itu beberapa kali mengunjungi istri saya dan memberikan hadiah hadiah dengan alasan adiknya..


entah Rania itu polos atau bagaimana..


seharusnya dia tau kalau laki laki itu menyimpan perasaan padanya.."


jelas Aksara dengan sorot kesal, ia bahkan menghela nafas berkali kali.


" Istrimu tidak tau dan jelas jelas tidak membalasnya bukan?" tanya tante Irma ingin memperjelas,


" saya tau te.. tapi tetap saja, hati saya tidak terima..


meski usia saya sudah cukup, tapi saya tidak punya hati yang lapang untuk menerima bahwa ada yang menyukai Rania selain saya..


saya juga tidak pernah ada hubungan dengan perempuan lain selama berpisah dari Rania..


jadi tolong maklumi saya dengan sikap saya yang tidak bisa di mengerti ini.." Aksara terus menundukkan kepalanya, ingin sekali ia menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya, tapi sayangnya ekspresinya itu terlihat jelas oleh om dan tantenya.


Om Surya dan tante Irma saling menatap, mereka berdua tidak tega melihat kondisi Aksara yang seperti itu,


belum lagi darah yang mengering di ujung bibirnya, pelipisnya juga terluka entah terpukul Radit atau terbentur barang di sekitar.


" Baik baiklah pada istrimu.. masuk ke dalam sana.." ujar om Surya,


" Tidak om.." jawab Aksara dengan Raut kecewa,


" kenapa lagi?"


" dia mungkin tidak mau melihat saya lagi.."


" kenapa kau berpikiran seperti itu lee.. sudahlah..?" sahut tante Irma,


" Dia tadi berkata dengan keras, kalau mau berpisah dari saya..


demi melindungi laki laki itu dia berkata seperti itu..


saya shock sekali tante..


tidak pernah terbayangkan Rania mengucapkan hal seperti itu..??" terlihat sekali wajah Aksara yang di penuhi kesedihan, laki laki tegas itu terlihat tak berdaya hanya karena satu kata dari Rania.


" Owalah.. repot iki mas.. repot.." ujar tante Irma sembari menatap saudara laki lakinya itu.


" Benar Rania berkata seperti itu?" tanya om Surya menatap tante Irma,


" sek sek.. ngene lee.. tadi istrimu bilang, dia ngomong begitu karena takut kau membunuh orang, karena kau memukuli laki laki itu tanpa ampun..


ya memang tidak boleh berkata seperti itu, tapi tidak ada niat sedikitpun di hatinya ingin berpisah darimu.."


jelas tante Irma, ia tidak ingin Aksara dan Rania semakin tenggelam dalam kesalahpahaman,


" jadi.. sebaiknya selesaikan kesalahpahaman kalian dengan baik..


dan perkara perempuan lain itu, kau juga wajib menyelesaikannya, kau juga salah dalam hal ini, jangan bertindak seperti kau benar sendiri..?!" tegas tante Irma.


" Saya tidak punya perempuan lain te.. sungguh...??" Aksara meyakinkan om dan tantenya.


" Sekarang begini le.. bagaimana perasaanmu jika Rania di gendong pria tadi?" tante Irma mengumpamakan,


" nggih jangan te?!" nada Aksara meninggi,


" tapi istrimu kan tidak punya perasaan padanya?"


" tetap saya tidak mau dan tidak boleh te?!" suara Aksara keras.


" Ya itu..?! sama yang di rasakan istrimu.. faham ora, piye rasane lek kowe dadi bojomu, loro ati ora (bagaimana rasanya kalau kalau kamu jadi istrimu, sakit hati tidak)??" tanya tante Irma seperti membalikkan keadaan tiba tiba, mengisyaratkan pada Aksara bahwa dirinya juga harus berfikir bagaimana jika dirinya berada di posisi Rania.


Aksara diam, ia tertunduk dalam.


" Saya salah te.. saya tidak memikirkan hal seperti itu sampai sedalam ini sebelumnya..


harusnya.. saya memahami perasaan istri saya dan tidak mengedepankan ego saya..

__ADS_1


tapi perasaan saya pada Rania benar benar membuat saya tidak bisa berpikir dengan bijak.." ujar Aksara menyesali apa yang sudah dia lakukan, jika waktu bisa di putar, ia akan jujur pada Rania sejak awal, sehingga tidak ada kesalahpahaman seperti ini.


__ADS_2