
Aksara mondar mandir dari ruangannya ke ruangan komandan, Wajahnya terlihat lelah.
" Kau mirip zombie, lihat wajahmu yang tidak segar dan kantung matamu itu.." ujar Wulan yang tidak sengaja berpapasan dengan Aksara.
" Istrimu benar benar payah.. suaminya di biarkan sampai seperti ini.." imbuh Wulan dengan sengaja menyentuh dada Aksara,
" tidak terlambat kalau mau mencariku.." Wulan melempar senyum dan berlalu.
" Ck..!" Aksara berdecak kesal, tidak ada niat untuk berkata apapun karena ia sedang fokus untuk menyelesaikan tugas tugasnya minggu ini, agar ia di perbolehkan meminta ijin libur besok di hari jumat.
Ia berencana untuk pulang kamis sore ini, rasa rindu dan kegelisahan nya membuatnya tidak bisa tenang.
" Aku apa kau yang lapor?" Dimas tiba tiba duduk di hadapan Jihan yang sedang sibuk menulis di perpustakaan.
" Aku inginnya tidak perduli, tapi melihatmu setiap hari menyakiti mataku" Dimas menekan suaranya agar tidak terdengar keras.
" Bapak tidak perlu melihat saya jika itu memang menganggu pandangan bapak.." jawab Jihan tenang, keduanya saling bertatapan.
" Apa yang mau kau sembunyikan? lebam di tanganmu itu terlihat jelas olehku"
mendengar itu Jihan buru buru menarik lengan bajunya untuk menutupi lebam di pergelangan tangannya.
" Jangan menikahinya..!" tegas Dimas tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
" Jangan keterlaluan pak.. " Jihan mengalihkan pandangannya dan kembali sibuk dengan buku bukunya.
" Sampai kapan kau mau sembunyi di perpus setelah mengajar? seumur hidupmu? kalau kau menikahi orang macam itu akan lebih banyak lagi luka yang kau derita, buka pikiranmu.." Dimas merebut buku buku Jihan agar pandangan Jihan beralih ke arahnya.
" Aku yang akan lapor jika kau tidak mau lapor, setidak nya kau tidak menikah dengan orang seperti itu"
" Pak?!!" Jihan menarik lengan Dimas ketika Dimas bangkit dari duduknya.
" Tolong.. jangan menambah beban saya.." suara Jihan lirih,
" menambah beban?" ulang Dimas tak percaya.
" Aku tidak tau kalau cintamu sedalam itu, sehingga kau diam saja menerima perlakuan perlakuan kasarnya.." cemooh Dimas,
" Kita sedang di sekolah pak, tolong.. tidak baik jika ada orang yang mendengar kita berbicara hal pribadi seperti ini.." pinta Jihan.
Dimas diam, ia cukup lama menatap Jihan sambil berfikir.
" Apa dia sekaya itu?" tanya Dimas kemudian,
Jihan terhenyak, ia seperti kaget dengan pertanyaan Dimas.
" Saya buka perempuan yang gila harta pak.." jawabnya dengan mata berkaca kaca,
" Lalu kenapa kau tidak bisa melepaskan dirimu?" suara Dimas masih kesal,
" Balas budi.." Jihan tertunduk, dia melepaskan tangannya yang sejak tadi memegang lengan Dimas,
__ADS_1
" ini hanya sekedar balas budi.." imbuh Jihan terduduk lesu.
"Balas budi macam apa yang mengharuskan mu mau di perlakukan seperti ini?!"
Jihan tak menjawab, ia menatap Dimas penuh kebimbangan.
" Kalau saya cerita apa bapak mau memahami saya?? apa bapak mau mengerti saya?"
deg! Dimas terhenyak, air mata tiba tiba saja mengalir pelan di sudut mata Jihan.
Dimas yang melihat itu tiba tiba meleleh, kekesalan di hatinya hilang seketika berganti rasa bersalah.
"Pak Dimas kemana ya?" tanya Rania pada pak Anam di ruang Olah raga,
" sepertinya tadi naik ke perpustakaan bu.." jawab pak Anam,
" owalah, pantas saya cari di kelas kelas tidak ada.. ya sudah makasi pak.." Rania berjalan ke arah tangga lantai 2, ruang perpustakaan terletak persis di sebelah tangga lantai 2.
" Bu Rani?!" bu Ina berteriak dari lantai 3,
" kenapa bu?!" balas Rania,
" bisa naik sebentar?!"
Rania mengangguk lalu meneruskan langkah nya ke lantai 3, ia mengurungkan niatnya ke perpustakaan karena bu Ina memanggilnya.
" Ada apa bu?" tanya Rania ketika sampai di ruang BP,
" jangan sekarang bu.. bagaimana kalau kita tunggu besok?
kalau besok dia belum masuk juga kita punya alasan kuat berkunjung kerumahnya..
takutnya kita di salah fahami oleh orang tuanya.. " saran Rania,
" iya juga.. takutnya dia juga bolos dan tidak dirumah, HP nya juga tidak aktif susahnya.. "
" kita tanya teman baiknya saja.. "
" wah.. anak anak kan sudah pulang.."
" ya besok pagi bu, kalau memang tidak ada kabar kita langsung kerumahnya besok sepulang sekolah.."
" saya khawatir bu Ran..?"
" iya bu, saya juga jg khawatir, tapi kita tidak boleh gegabah.. kalau salah langkah Nanda malah babak belur.."
mendengar kalimat Rania Ina sedikit tenang, padahal biasanya Ina yang lebih tenang dan rasional dari pada Rania, tapi entah kenapa begitu tau tetang apa yang menimpa nanda pikirannya tidak bisa realistis seperti biasanya.
" Maaf kan aku tidak memahami kondisimu.." Suara Dimas lirih,
" Tapi aku tetap tidak mau melihatmu menikah dengan orang itu.." imbuh Dimas.
__ADS_1
" kenapa pak? kenapa bapak se perduli ini pada saya, padahal sebelumnya saya selalu bersikap tidak menyenangkan pada bapak?"
tanya Jihan sembari menghapus sisa sisa air matanya.
Dimas diam, ia berfikir sejenak..
iya, kenapa ya aku harus perduli dan ikut campur?? tanyanya dalam hati.
" Itu karena aku terbiasa di cemooh oleh bu Jihan, jadinya hari hari ku sepi kalau bu Jihan tidak lagi memusuhiku.." Alasan dimas.
" jadi bapak rindu saya olok olok??"
" hemmm..." jawab Dimas membuang pandangan ke arah lain,
" Ya sudah, cepat pulang setelah selesai.. ingat untuk mengolesi pergelangan mu yang memar itu dengan minyak, tapi awas..
sekali lagi aku melihatmu terluka, aku akan lapor kan dia!" tegas Dimas lalu berbalik dan pergi begitu saja.
" Jangan pulang dulu, antar aku ke bandara" Aksara sibuk memakai jaket,
" Kau serius mau langsung berangkat?" tanya Marlin,
" iyalah, jam keberangkatan ku mepet"
" Ganti baju dulu lah?!"
" Ah, nanti aku telat, toh aku sudah pakai jaket?"
Aksara mengambil tasnya di atas meja dan membenarkan sedikit rambut yang turun ke dahinya.
" Eh, mau kau kasih bau keringat istrimu nanti.. tidak mandi, tidak ganti baju.." gerutu Marlin berjalan keluar di ikuti Aksara di belakangnya,
" Ah, berisik.. kau enak ketemu istrimu setiap hari.."
" eh eh eh! yang benar mi kalau bicara.. bertemu setiap hari itu berarti juga di omeli setiap hari, kau faham tidak?!" marlin menggerutu sepanjang jalan menuju garasi kantor.
" Istrimu mengomel itu karena sayang padamu, justru bahaya kalau perempuan itu tidak mengomel.." ujar Aksara terus mengikuti langkah Marlin,
" Eh! dari mana kau dengar kata kata tidak valid seperti itu, jangan gampang percaya omongan orang?!" omel Marlin,
" aku dengar dari komandan kok.. " jawab Aksara membuat Marlin menghentikan langkahnya,
" Masa komandan bicara begitu?" tanya Marlin membalikkan badannya menatap Aksara,
Aksara mengangguk,
" Yaaa beda lagi kalau komandan yang bilang.. mungkin saja itu valid.." ujar Marlin lalu membalikkan badannya dan kembali berjalan ke arah Garasi.
" Naik motor saja, lebih cepat..?" ujar Aksara,
" eh!! berisik sekali?! tahan tahan sedikitlah rindumu itu?! pusing sekali aku dengan tingkah mu yang seperti ABG ini?!" omel Marlin.
__ADS_1