Aksara Rania

Aksara Rania
Masuk angin


__ADS_3

Si asisten rumah tangga sudah selesai dengan semua pekerjaannya.


Memasak, menyapu mengepel.. namun kedua Majikan nya belum juga bangun meski Matahari sudah di atas kepala.


Rania menggerakkan kepalanya, kepalanya yang di rasa masih sedikit sakit, namun ia belum berniat untuk bangun.


Bangun siang ajalah.. toh Aksara tidak akan mengganggunya pikirnya dengan mata masih tertutup.


Tapi kenapa bantal yang biasanya empuk menjadi keras begini..


Rania heran, tangannya meraba ia tidak menemukan sesuatu yang lembut dan empuk seperti bantal.


" Apa sih kok keras sekali.." gerutu Rania dengan suara hampir tidak terdengar, di buka matanya, Ia terbelalak.


Ia sedang tiduran di atas tubuh Aksara, Bahkan tangan Aksara melingkar di pinggulnya.


" Ya ampunn..." keluh Rania lalu segera membungkam mulutnya sendiri agar tidak bersuara.


Ia bangkit pelan pelan agar Aksara tidak terbangun.


Rania mengatur nafasnya ketika ia sudah turun dari tempat tidur, seperti baru terbebas dari area yang ber ranjau.


" Kok bisa aku nemplok kayak cicak begitu??" tanyanya dalam hati tidak percaya,


" malunya..." imbuhnya dalam hati ekspresi wajahnya sudah tak karuan.


Melihat Aksara yang masih terlelap Rania pelan pelan membuka pintu dan keluar dari kamar.


Aksara keluar dari kamar, ia sudah tampak Rapi dan ganteng.


Matanya menelisik ke seluruh ruangan, tidak ada tanda tanda Rania..


" Ibu kemana?"


" ibu tadi sepertinya tidur pak.." jawab si asisten rumah tangga.


" Tidur dimana?"


" di kamar tamu pak.."


Aksara segera menuju kamar yang di maksud si asisten.


Ia membuka kamar itu, dan benar saja..


Rania tidur lelap dengan mulut sedikit terbuka.


Aksara tersenyum melihat itu lalu menutup pintu kamar itu kembali.


" Tolong belikan kelapa muda ya, kalau ibu sudah bangun suruh minum..


saya ke rumah pak Marlin kalau ibu tanya.."


" iya pak.."


Aksara Mengambil kunci motor, mengeluarkan kunci motor dari garasi.


Aksara memacu motornya melewati Jl. Perintis kemerdekaan, lalu berlanjut ke Jl. Poros, Ia berkendara lumayan cepat sekitar 20 sampai 30 menit.


Tak lama setelah ia melewati Universitas Hassanudin ia belok ke arah kiri, gang yang lumayan besar.


Aksara berhenti di depan sebuah rumah, rumah itu terletak di tengah komplek perumahan yang lumayan.


" Mana istrimu?" tanya Marlin membuka pintu pagar.


" Itu yang ingin ku bahas.." ujar Aksara sembari membuka helmnya.


" Om Aksaa....?!!" dua orang anak berusia 6 tahun tiba tiba berlari keluar, keduanya menyerang Aksara yang belum sempat turun dari motor.


Yang satu naik di jok belakang, yang satu duduk di depan.


" Ayo pergi Om!" ajak yang duduk di depan ,


"kemana?"


" sudah pokoknya pergi saja, Mamak jadi moster moster..! itu..marah marah terus?!" jawab yang di belakang,


" berarti kalian nakal.. mana mungkin marah kalau kalian baik baik dengan mamak kalian..?"


" tidak Om.. kami cuma tulis itu..?"


jawab keduanya dengan wajah malaikat.


" Tulis apa? pakai apa coba biar papa dengar?" tanya Marlin pada kedua anaknya,

__ADS_1


" Tulis di buku itu.. "


" pakai apa? mamak punya barang?"


" pakai itu.. yang biasa mamak pakai di mulut mamak?"


sontak Aksara dan Marlin saling memandang.


" papa tidak bisa bela kalau yang itu..." ujar Marlin sembari menggelengkan kepalanya.


Aksara membuka kamar, " kosong.. kemana dia..? " Aksara berjalan menuju dapur, tetap saja Rania tidak ada, ke halaman belakang dan samping, sama.. tidak ada juga.


Aksara mengambil HPnya dan menghubungi Rania, tapi tidak ada jawaban, ia malah mendengar suara HPnya berbunyi dan tergeletak di atas sofa ruang tengah.


Aksara diam, wajahnya berubah tegang.


" Kemana istriku?" gerutunya dalam hati, bukankan dia tidak tau daerah sini kenapa keluar se enaknya dan tidak membawa HP.


kesal dan khawatir bercampur menjadi satu, Aksara memutuskan untuk menunggu sekitar 15 menit.


Jika Rania tidak datang juga ia akan keluar mencari.


Namun tak lama Rania masuk ke dalam rumah, ia membawa kantong kresek di tangannya.


Aksara memandanginya dari atas ke bawah, Rania hanya memakai piyama..


pastinya ia tidak keluar jauh, pikir Aksara.


" Dari mana ?" tanya Aksara dengan nada sok tenang.


" Dari toko di ujung blok.." jawab Rania tak memandang Aksara dan berlalu melewatinya.


" beli apa?"


" beli minyak kayu putih sama obat masuk angin.."


" bukannya sudah ku suruh si ibu membelikan mu kelapa muda?"


" sudah.. "


" lalu? aku juga sudah menyediakan pereda nyeri dan sakit kepala di meja samping tempat tidur"


" aku tau, tapi rasanya lebih seperti masuk angin.. mungkin aku juga tidak tahan dengan angin pantai, bukankan tempat kemarin itu cukup dekat dengan pantai.."


Aksara mengikuti Rania dari belakang, Ia melihat Rania sedikit pucat memang, lesu sekali..


"Maaf aku meninggalkan mu tadi.. ada urusan yang sedikit penting..


apa kau sudah makan? aku membeli beberapa cemilan, mau ku ambilkan?"


" tidak usah Mas, aku sudah makan tadi sebelum si ibu pulang.."


" itu kan sore?"


" perut ku tidak enak.. " jawab Rania duduk di samping tempat tidur dan membuka minyak kayu putih yang masih tersegel plastik.


" Biar aku membantu mu," Aksara mengambil minyak kayu putih itu dan membukanya.


" Tengkurap, biar ku olesi punggungmu dengan rata" ekspresi Aksara sedikit khawatir, ia merasa bersalah meninggalkan Rania sampai semalam ini.


Ia pikir Rania akan baik baik saja setelah bangun pagi ini, toh dia tidak meminum sebotol minuman pikir Aksara, namun pemikirannya itu salah, karena pada kenyataannya Rania merasakan sesuatu yang tidak enak.


Mungkin karena tubuhnya kecil dan rentan.. , Aksara menyesalinya dalam hati, andai dia mengawasi Rania dengan baik maka tidak akan ada seorang pun yang berani mengusili Rania.


" Aku hanya akan mengoleskannya, tenanglah..." ujar Aksara meyakinkan Rania yang ragu ragu.


" Apa sekalian mau kerokan?"


" tidak, oleskan saja minyaknya.." jawab Rania yang sudah malas berdebat, tubuhnya terlalu lemah untuk di ajak ramai dengan Aksara.


Dengan pasrah Rania tengkurap, Aksara menaikkan baju Rania dan menggosok nya dengan minyak kayu putih, perlahan dan sambil memijit mijit nya ringan.


" sudah, sini perutmu" Aksara menyuruh Rania terlentang, dan lagi lagi Rania patuh.


" Tidurlah.. bangunkan aku jika tubuh mu semakin tidak enak.. kita ke dokter saja.."


ujar Aksara membenarkan lagi baju Rania.


" Mas mau kemana?"


" tidak kemana mana, aku juga akan tidur setelah ganti baju.." jawab Aksara bangkit dari duduknya, ia mencuci kaki, tangan dan wajahnya, lalu kembali dan mulai mengganti bajunya.


Tanpa permisi seperti menjadi kebiasaan Aksara langsung saja membuka bajunya dan mengganti celananya.

__ADS_1


Rania yang melihat itu memiringkan tubuh nya ke arah lain, ia jadi mengingat kejadian tadi pagi..


membayangkan tidur semalaman ber bantal dada dan lengan yang kokoh itu Rania mendengus secara tidak sadar.


" Kenapa?" tanya Aksara mendengar suara dengusan Rania,


" Tidak Mas.. lelah saja.." jawab Rania lirih.


" Sini, biar ku pijitin lagi.." Aksara naik ke atas tempat tidur dan memijit kaki Rania.


" Tidak usah Mas.. "


" kenapa? tidak suka tanganku menyentuhmu terus menerus?"


" Mas mulai lagi,"


" Habisnya kalau bukan aku lalu siapa?, Kau ini titipan Bapak.. jangan membuatku merasa jahat dengan tidak melayani mu dengan baik sebagai suami" ujar Aksara masih terus memijit.


Rania berbalik, ia memandang Aksara tanpa Ragu.


" Jadi.. kalau aku bukan titipan Bapak, Mas akan bersikap tidak sama kepadaku?"


Aksara menghentikan gerakan tangannya, keduanya saling menatap.


" Pertanyaan mu itu tidak perlu ku jawab, karena kau sendiri sudah tau jawabannya, jangan memancingku.. kau sedang tidak fit untuk di ajak beradu mulut.." Aksara melanjutkan pijitannya.


" Mas sempat bersama perempuan lain setelah pergi dari rumah?" itu tiba tiba saja terlontar dari mulut Rania,


" perempuan?" Aksara tersenyum mendengar itu,


" kau bertanya sebagai adik atau sebagai istri?" imbuhnya.


Deg! Rania tiba tiba tersadar bahwa pertanyaannya itu sedikit sulit di jawab, lagi pula kenapa dia menanyakan hal semacam itu, bukankah itu bukan urusannya.. Rania membalikkan tubuhnya tiba tiba,


" Aku mau tidur Mas.." jawabnya menghindar.


Aksara lagi lagi tersenyum melihat itu, ia tau Rania sedang menghindari pertanyaannya.


Dengan tenang Aksara berbaring di samping Rania dan melingkarkan tangan nya di pinggang Rania.


" Kau yang mulai bertanya.. lalu kenapa sekarang kau menyerah begitu saja tanpa mengetahui jawabannya.." Bisik Aksara di telinga Rania.


" Cukup Mas, anggap aku tidak bertanya" balas Rania sambil berusaha menyingkirkan tangan Aksara dari pinggangnya, namun bukannya melepaskan Aksara malah menarik tubuh Rania ke dalam dekapannya.


" Kenapa kau tiba tiba menanyakan perempuan lain setelah aku pergi dari rumah.. apa kau mengira aku berhubungan dengan perempuan lain padahal aku mati matian melindungi mu dari laki laki di sekitarmu selama kau masih SMA?


Tidak peka.. atau pura pura tidak tau..? " Aksara memainkan rambut Rania dengan bibirnya.


" sudahlah Mas"


" apanya yang sudah.., apa harus aku yang selalu menderita terlebih dahulu, baru kau mengakuinya ran?"


Aksara menghela wajah Rania, ia tak tahan dengan bibir yang seperti menantangnya itu.


Tanpa permisi di kecup nya bibir itu, sekali.. dua kali.. , ia menunggu respon dari Rania, melihat Rania yang tidak menolak, laki laki itu memulai ciumannya dengan serius, ia sedikit menekan bibirnya ke bibir Rania, rasanya seperti ada permen yang manis sekali di dalam mulut Rania, Aksara mencarinya terus.. dan terus..


dia menguasai bibir istrinya itu dan menciumi nya dengan lembut.


Aksara sedikit terhenyak, ia kaget karena Rania membalas ciumannya sembari menyentuh pipi Aksara.


Aksara yang merasakan balasan demi balasan dari Rania semakin terbakar. Tangannya memeriksa setiap bagian tubuh Rania.


Rania yang sudah mulai menyerah mulai bersuara aneh..


suara suara yang semakin membuat Aksara tidak bisa berhenti.


Rania Bahkan diam saja saat Aksara membuka kancing piyamanya satu persatu.


Di saat Aksara sedang sibuk membuka hambatan hambatan yang ada di tubuh Rania,


Mata Aksara tidak sengaja terbentur dengan obat dan minyak kayu putih di atas meja.


Deg..


Bukankan istriku sedang sakit? apa yang ku lakukan..? bicaranya dalam hati.


Ia tidak ingin kondisi Rania memburuk, ia juga tidak mau di tuduh suami yang tega menggauli istrinya saat sakit.


Aksara mengancingkan lagi atasan Rania, Rania yang sudah menyerah bingung melihat itu.


" Kau sedang tidak sehat.. tidurlah, kalau kau sudah sehat kita lanjutkan..aku akan memintanya lebih beserta bunganya.." ujar Aksara lembut sambil mengecup kening Rania,


" Tidurlah.. " imbuh Aksara memeluk Rania.

__ADS_1


Lagi lagi di tahan dirinya.


__ADS_2