Aksara Rania

Aksara Rania
hal yang tidak menyenangkan


__ADS_3

" Ini sepatumu.." ujar Aksara meletakkan sepatu baru itu di depan kaki Rania.


" Kapan Mas membelinya?" tanya perempuan berparas mungil yang sudah berseragam persit itu, ia memang tidak ada persiapan sama sekali, tapi untunglah suaminya cukup sigap dalam segala hal..


" Sewaktu dari rumah Marlin.., kukira cukup.. karena meski sudah 10 tahun kau tidak berkembang.. tetap 38 kan?"


Rania mengangguk pelan.


" Biar ku pakai sendiri.." Rania menarik kakinya ketika Aksara tiba tiba berjongkok dan menyentuh kaki Rania.


" Aku ingin membantu istriku memakai sepatu, tidak boleh?"


" ini berlebihan Mas.. ga enak kalau di lihat orang, "


Aksara tidak menjawab, ia tetap membantu Rania memakai sepatunya.


" Pas kan?" Aksara tersenyum lalu bangkit.


" Ayo berangkat..." Aksara mengambil kunci mobilnya,


" tunggu sebentar Mas, biar aku membenarkan lipstik q sebentar.." Rania bangkit, namun Aksara mencegahnya.


" Jangan terlalu cantik di depan orang lain, aku tidak suka" ujar Aksara menggandeng Rania keluar dan mengajaknya untuk segera berangkat.


Hari ini adalah Arisan pertama Rania, dan juga perkenalan pertamanya dengan para anggota.


Rania yang santai berbeda dengan Aksara yang heboh, ia mempersiapkan semua keperluan Rania.


Sesampainya di kantor Rania langsung memasuki ruangan khusus yang memang di gunakan untuk kegiatan Arisan ibu ibu, disana Rania menyapa semua istri perwira yang sudah di kenalnya sewaktu pesta malam itu, namun betapa terkejutnya ia ketika melihat seseorang yang sangat ia kenal wajahnya sedang berbincang dengan ibu komandan, ia menggunakan PDH lengkap seperti suaminya.


Deg! Rania tidak senang dengan situasi ini.


" Apa kabar dek Rania?" tanyanya menghampiri Rania beberapa menit kemudian,


" selamat ya.. akhirnya kalian menikah juga.." perempuan berambut pendek itu tersenyum.


Rania diam, lidahnya kaku, rahangnya tidak mau terbuka.


" Ini arisan pertamamu kan? aku tidak akan mengganggumu.. " perempuan itu bangkit dan meninggalkan Rania yang benar benar tidak dalam kondisi hati yang baik baik saja.


Arisan berjalan selama 2 jam, setelah arisan selesai semua ibu ibu kembali pulang,


Rania yang berangkat dengan suaminya tentu saja mencari suaminya agar mengantarnya pulang.


" Sudah selesai?" tanya Aksara menyuruh Rania duduk di ruangannya.


" Aku ada pekerjaan, tidak bisa mengantar pulang.., biar Wisnu atau Toni yang mengantar mu pulang..


atau mungkin mau belanja dulu, kau boleh belanja dulu lalu pulang.." Aksara tersenyum, tapi Rania tidak tersenyum sama sekali.


" Ada apa?" Aksara yang peka bertanya,


" tidak.. hanya lelah.." jawab Rania dengan suara tenang.


" Ya sudah.. pulanglah dulu dengan Wisnu.." ujar Aksara tak kalah tenang.


Aksara memasuki Rumah sekitar jam 5 sore, ada beberapa hal di kantor yang memang membuatnya pulang sedikit terlambat.


Ia masuk ke dalam kamar dan membersihkan dirinya.


Aksara yang tidak melihat Rania di ruang tengah atau kamar mencari Rania.

__ADS_1


Rupanya Rania sedang duduk di teras samping, ia sedang sibuk bermain HP dan tertawa tawa sendiri.


" Chat dengan siapa?" tanya Aksara membuat Rania kaget, karena ia tiba tiba saja berada disamping Rania tanpa Rania sadari.


" Teman temanku.." jawab Rania


" Dimas?"


" Bukan,"


" Siapa?"


" ini hanya grup sekolah.." jawab Rania berdiri dari tempat duduknya dan masuk begitu saja melewati Aksara.


Keduanya selesai makan malam, Rania yang terlihat sekali acuh bergegas ke dapur untuk bersih bersih.


Waktu masih menunjukkan jam 7 lebih 20 menit, namun Rania langsung bergegas ke kamar dan merebahkan diri.


Ia tidak tidur, namun terus saja bermain HP dan chat dengan beberapa teman temannya.


Aksara yang resah ikut masuk ke dalam kamar, namun setelah melihat Aksara masuk ke dalam kamar Rania bangkit dan berjalan keluar.


" Katakan ada apa?" Aksara menarik lengan Rania agar Rania kembali ke dalam Kamar.


" Jangan mulai Mas.." suara Rania tenang namun jelas sekali penuh kekesalan.


" Apa aku berbuat sesuatu hal yang tidak kau sukai? katakan ?" Aksara bertanya dengan serius.


" Katakan agar aku tau dimana letak kesalahan ku, jangan bersikap seperti itu.. mungkin aku ini laki laki tua yang tidak tau soal perasaan bagimu, tapi aku tau kalau kau sedang kesal padaku.. "


" Mas tidak berbuat apapun yang membuatku kesal kok.." jawab Rania masih dengan ekspresi acuh.


" Apa kau bertemu Wulan? itukah yang membuatmu marah?" Aksara menatap wajah Rania baik baik.. ingin menangkap ekspresinya, dan ternyata benar.. saat nama Wulan di sebutkan wajah Rania tampak lebih kesal.


" Kau marah karena aku tidak memberi tahu mu kalau kalau dia dinas disini.. ?"


Rania diam, ia tidak menjawab sama sekali.


Aksara menarik Rania agar duduk di tepian tempat tidur bersamanya.


" Dengarkan, bukannya aku tidak mau memberi tahu, aku hanya tidak ingin kau terpengaruh dengannya..


kalau kau tau ada Wulan di kantor, mana mungkin kau akan mau menghadiri arisan.." ujar Aksara menjelaskan.


" Aku sendiri tidak tau kenapa, yang jelas setelah kita menikah dia sudah resmi dinas disini.. aku juga tidak tau dan tidak bisa berbuat apapun karena pamannya adalah seorang yang berpangkat tinggi dan mempunyai koneksi yang luar biasa..


apa yang bisa ku lakukan?" Aksara menatap Rania, namun Rania sepertinya tidak menggubris, Rania bangkit dan berjalan keluar kamar.


" Astagaa... " keluh Aksara menenangkan dirinya melihat sikap Rania yang tiba tiba mirip dengan seorang bocah yang merajuk.


Aksara mengikuti Rania ke ruang tengah, dan duduk di sofa samping Rania.


Laki laki itu memandang istrinya yang sedang bermuka masam.


"Belikan aku tiket saja besok, aku mau pulang" ujar Rania membuat Aksara terperangah,


saking kagetnya Aksara sampai tidak bisa berkata kata.


" Aku akan mengemasi baju ku besok pagi.. " imbuh Rania.


Aksara benar benar tidak habis pikir, bisa bisanya Rania memutuskan hal semacam itu dengan mudah.

__ADS_1


" Kau mau meninggalkan ku?" tanya Aksara dengan geraham mengetat, ia berusaha menekan perasaannya yang terluka.


" Aku merasa sudah waktunya aku pulang.."


" Apa kau pikir aku akan mengijinkan?"


keduanya saling menatap tajam.


Kenapa aku tidak di ijinkan.


" Aku bahkan berhak menuntut mu untuk terus disini.. jangan paksa aku Rania.."


" jangan se enaknya Mas?!"


" Kau yang se enaknya, liburanmu bahkan masih seminggu tapi kau sudah buru buru pulang, kenapa? ada yang menunggu mu disana? si seragam coklat itu? laki laki yang lebih muda dariku dan siap siaga menggendong istri orang lain?" suara Aksara sinis.


Rania menatap Aksara tak percaya, bahkan sekarang ia membawa bawa orang lain yang tidak ada hubungan apapun dengannya.


" Mas tidak waras.. itu sudah tugasnya membantu orang di jalan raya, jangan mengatakan hal hal yang tidak masuk akal?!"


" yang mana yang tidak masuk akal? menggendong mu dan mengantar mu ke dokter, lalu menyapamu dan bersikap manis?


kalau tidak ada aku dia pasti sudah mengejar mu!"


Aksara tersulut emosi gara gara mendengar Rania akan pulang.


" Wah.. harusnya aku yang marah, tapi Mas memutar balikkan situasi dengan mudah ya..


perempuan itu yang sudah merusak hubunganmu dengan Bapak, menyakitimu dan memfitnah mu.


Meski aku bukan istrimu aku akan tetap marah sebagai adikmu! bagaimana bisa Mas membuatku bertemu dengan orang yang sudah menyakitimu seperti itu?!!" Rania juga tersulut amarah, suara suara keras yang selama ini tidak pernah muncul tiba tiba muncul.


" Jangan jangan Mas sudah terpengaruh dengannya? karena itu Mas bisa sesantai itu.. iya kan?" imbuh Rania menatap Aksara nanar.


" Diam lah jika kau tidak tau apa apa.." Aksara berusaha menguasai emosinya,


" aku mau pulang.. aku mau pulang!" tegas Rania.


Rania berjalan ke kamar, mengambil dompetnya lalu berjalan ke arah pintu rumah.


" Mau kemana kau Ran?" tanya Aksara mengejar Rania ke arah pintu,


" Aku mau cari tiket sendiri, buat apa aku disini?!"


mendengar itu Aksara dengan sigap mengangkat dan membopong Rania di pundaknya.


" Mas?! turunkan aku! " Rania meronta tapi Aksara tidak menggubrisnya dan membawa Rania masuk ke dalam kamar.


" Tenangkan dirimu!" tegas Aksara setelah menurunkan Rania di atas tempat tidur.


" Kau belum tau benar tempat ini, kau pikir ini jawa? jangan berfikir kau bisa berkeliaran sesukamu!" tegas Aksara,


" tolong.. tolong dengarkan aku.. jangan membuat ku frustasi Rania.." imbuhnya dengan suara lebih tenang dan terkendali,


" aku hanya ingin yang terbaik untukmu.. aku suamimu Ran, jangan seperti ini padaku.. " Aksara bersandar di dinding, ia menghela nafas berkali kali untuk menenangkan dirinya.


" Aku tetap mau pulang.." ujar Rania sengit,


" Kau keras kepala Ran.. " Aksara berjalan ke arah pintu, mengunci pintu dan memasukkan kunci itu ke dalam sakunya.


" Aku lelah, aku tidak mau berdebat denganmu" ujar Aksara naik ke atas tempat tidur dan berbaring memunggungi Rania.

__ADS_1


__ADS_2