
Sore ini terlihat tiba tiba mendung, terdengar suara motor Aksara memasuki garasi.
" Jas hujannya mana?!" tanya Rania melihat suaminya basah kuyup karena menerobos hujan.
" Lupa, entah dimana aku menaruhnya tadi pagi.." jawab Aksara berlari ke arah kamar mandi lalu melepas seragamnya.
Rania Diam sejenak memperhatikan suaminya, sejak tadi duduk diam saja dengan wajah bimbang.
" Apa cemburu lagi?" tanya Rania dalam hati.
" Ini tehnya mas.. setelah ini langsung maem ya.. biar tidak masuk angin.." Rania meletakkan secangkir teh di meja, tak jauh dari tempat duduk suaminya.
" Ada apa mas? apa aku berbuat sesuatu yang tidak berkenan lagi di hati mas?" tanya Rania duduk di sebelah Aksara.
" Tidak Ran.. kau tidak berbuat apapun yang membuatku kesal atau marah.. " jawab Aksara tersenyum sembari menyentuh tangan istrinya.
" Lalu kenapa mas melamun terus?"
" aku hanya lelah.. aku ingin kita segera kembali kerumah bapak dan hidup seterusnya disana.." ujar Aksara.
" Kemarin kemarin mas menyuruhku bersabar.. lalu kenapa sekarang mas uang tidak bisa bersabar.." sekarang Rania yang tersenyum.
" Anak kita 2 bulan lagi lahir.. aku ingin kau melahirkan disana.."
" kalau sampai aku melahirkan mas belum pindah juga, biar aku pulang dulu..
prediksi mas pindah tahun ini kan.. ?"
" iya.. tahun ini sayang.. " Aksara menaruh kepalanya di bahu istrinya.
" Kenapa? pusing?" tanya Rania,
" Tidak.. aku hanya ingin bersandar padamu.. rasanya nyaman sekali.."
" apanya?"
" bahumu Ran.." Aksara melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
" Biar ku pijit kalau capek mas.. tapi mas makan dulu.."
" Aku mau kau suapi.."
Rania sedikit heran, tumben sekali Aksara semanja ini..
ada apa sebenarnya.
" hmmm... ya sudah mas tunggu disini saja.." Rania bangkit dan berjalan ke arah ruang makan, ia benar benar heran, suaminya yang serba apa apa sendiri ini tiba tiba mendadak manja.
Marlin dengan ekspresi menahan kesal membawa Fatan ruangan kerjanya.
Disana sudah Ada Aksara yang duduk tenang, raut wajahnya lelah.
" Maaf bang?? saya tidak tau kalau Maya mengambil nomor abang diam diam??" suara Fatan takut dan merasa bersalah.
Aksara diam, ia tak berkata apapun selain memijit mijit pelipisnya.
Ia benar benar tidak punya energi untuk marah, karena ia benar benar kurang tidur hari ini.
Bagaimana ia bisa tidur sementara perempuan itu mengirimkan SMS lagi saat tengah malam, untung saja Rania tidak terbangun.
" Aku tidak mau tau, didik adik iparmu itu, menganggu ketentraman orang lain saja?!" Marlin emosi.
" Kau yang mau menanggung jika keluarga Aksa sampai bermasalah gara gara adik iparmu yang tidak masuk akal itu?!
__ADS_1
bujang setumpuk! carikan dia laki laki.." imbuh Marlin sedikit tajam.
" blacklist saja bang??" ujar Fatan,
" sudah, beberapa kali ku blacklist, tapi dia memakai nomor lain terus dan terus..
bukannya aku tidak mau bertindak tegas,tapi aku masih memandangmu" sahut Aksara menahan diri.
" Maaf bang, sungguh ini.. anak itu memang selalu begitu kalau suka pada laki laki.. tidak pandang bulu dan tidak tau sopan santun,
Usianya masih muda, pola pikirnya belum dewasa, dia juga terlalu impulsif..
karena kedua orang tua istri saya sudah meninggal.. jadi dia mengikuti kami kemana mana..
maaf kan saya bang, saya yang teledor..??
saya akan mendidiknya agar dia menyadari kesalahannya..
saya benar benar minta maaf bang??" Fatan tertunduk malu.
Marlin menatap Aksara,
" Sudahlah, peringatkan saudaramu.. jangan lagi mengangguku..
dan katakan padanya, berhenti aneh aneh, banyak laki laki muda di luar sana, kalau dia menggangguku lagi.. jangan salahkan aku tidak akan memandangmu lagi.." suara Aksara tenang namun penuh penekanan.
Ilham masuk ke ruangan istrinya, tapi rupanya istrinya masih sibuk dengan sesuatu dan menyuruhnya menunggu 15 menit lagi.
Karena merasa bosan, ia mampir keruangan Aksara.
Disana ia melihat Aksara sedang duduk diam, sementara teman temannya yang lain sudah pulang.
" Kok belum pulang Sa?" Ilham berjalan masuk,
" Kok belum pulang?" tanya Ilham lagi sembari duduk.
" Sedang menunggu chat dari istriku mas, dia sedang mengecek barang dapur yang habis.."
" kau belanja?"
" iya mas, aku tidak suka dia keluyuran, jadi lebih baik aku yang belanja.. ini masih menunggu daftar belanjaan.."
" Wah??" Ilham tersenyum lebar,
" suami idaman.." imbuhnya.
" Mas sendiri?"
" Wulan masih mengerjakan sesuatu.. 15 menit lagi katanya.."
" memangnya tidak bawa motor?"
" tadi pagi ku antar.. "
" Wah.. seperti lem sekarang..?" goda Aksara.
" Alhamdulillah.. aku berniat membuatnya hamil secepatnya.." ujar Ilham tersenyum puas.
" Ckckck.. ternyata... saranku di terapkan.."
" Saranmu yang sesat.." Ilham memukul lengan Aksara lumayan keras lalu tertawa.
" Sesat tapi berguna mas.." jawab Aksara sembari menggosok lengannya.
__ADS_1
" Eh, bagaimana soal perempuan yang mengganggumu? kata istriku gara gara kau menolongnya?" Ilham tiba tiba serius.
Aksara menghela nafas panjang,
" Lain kali kalau aku melihat perempuan pingsan tidak akan ku tolong mas kalau ujung ujungnya begini..." ujar Aksara,
" Ya jangan begitu.. kalau yang pingsan nenek nenek memangnya kau akan diam saja.."
" ya bedalah mas.. , aku tidak tau kenapa perempuan itu GR sekali.. padahal aku hanya pernah bicara sepatah dua patah kata, dan kalau tidak salah itu hanya kata terimakasih atau apa begitu..?"
" itu karena pesonamu.. jadi orang itu jangan terlalu mempesona..!"
" mempesona dari mana mas? hitam begini.. kalah jauh dari sampean.." celoteh Aksara membuat Ilham lagi lagi tertawa.
" Ayo pulang?" suara Wulan tak jauh dari pintu ruangan Aksara,
" sudah?" tanya Ilham pada istrinya,
" sudah, ayoo.. kita mampir Sudiang dulu, beli soto.."
" Ya sudah.. aku duluan ya Sa?" pamit Ilham,
" iya iya mas.. hati hati.." jawab Aksara.
Ilham tersenyum, lalu bangkit dari kursi dan berlalu pergi bersama Wulan.
Aksara menaruh sayuran dan ikan ikan itu di atas meja dapur.
" Kunyit bubuknya saja yang tidak ada, karena terlalu sore.." jelas Aksara pada istrinya yang memindahkan belanjaan satu persatu.
" Memangnya mas tidak malu belanja pakai terus terusan?"
" kenapa malu? aku beli bukan mencuri.. tidak ada larangan untuk suami membelanjakan istrinya.. " jawab Aksara,
" berarti kalau sudah pindah jawa, tetap akan membantuku belanja?"
" tentu saja.. memangnya kenapa?" Aksara melepas atasannya.
Rania diam menatap suaminya,
" Mas?" panggilnya kemudian,
" hemm..."
" ada yang mau di katakan padaku?" nada Rania tenang, membuat Aksara sedikit kaget.
" Tidak.. memangnya apa yang harus di ceritakan?" jawab Aksara menutupi kekhawatirannya dengan senyum.
" Aku tidak tau apa.. tapi yang terlihat oleh mataku mas gelisah sekali beberapa hari ini..
berbagilah denganku jika ada beban yang berat mas.. jangan mas tanggung sendiri.." ujar Rania.
Aksara memandang istrinya, lalu beralih ke perut Rania yang sudah besar itu.
Ingin sekali dirinya bercerita, namun..
sudahlah..
ia pasti bisa menyelesaikan apapun itu persoalannya,
apalagi sekarang Rania sedang hamil besar, Aksara tidak mau menambah beban pikirannya.
Dokter pernah bilang pada Aksara, kalau istrinya tidak boleh stress.
__ADS_1
" Tidak sayang.. semua baik baik saja.. mas hanya sedikit lelah.." jawab Aksara menunjukkan lesung pipinya.