Aksara Rania

Aksara Rania
temanmu, sahabatmu dan suamimu


__ADS_3

Aksara Ramai berbincang dengan keluarga dan para tetangga.


Mereka berbicara tentang ini itu, segala hal yang biasanya di bicarakan oleh kaum pria.


Banyak tetangga yang masih kaget dengan kabar Rania yang hamil,


para bapak bapak banyak yang menggoda Aksara, karena mereka berdua melihat Aksara dan Rania tumbuh di tempat ini.


Mereka membicarakan lagi sosok bapak, meskipun seorang bapak sambung, sosok bapak merupakan laki laki yang bertanggung jawab, orang orang sekitar bisa melihat dengan jelas, bapak membesarkan Rania penuh kasih sayang meskipun Rania bukan anak kandungnya.


yang jelas malam ini Aksara diliputi banyak kebahagiaan.


Lama semua orang berbincang, akhirnya satu persatu mereka mengundurkan diri, karena waktu sudah cukup malam.


" Mbak Yun, karpet di depan besok saja di lipat, sekarang sudah malam, sampean istirahat saja.." ujar Aksara melihat Yuni masih memegang penebah.


" Sekalian mas.."


" sudah malam mbak.. besok pagi saja biar saya yang lipat.. sudah, tidur sana mbak.."


mendengar perintah Aksara, Yuni mengurungkan niatnya bersih bersih.


Ia berbalik dan berjalan ke arah belakang.


Aksara melepas baju dan sarungnya, menggantinya dengan celana pendek dan kaos oblong seperti biasa.


Samar sama ia melihat kaki istrinya bergerak.


Tidak begitu jelas karena lampu tidur yang di nyalakan.


" Belum tidur rupanya.." ucap Aksara dalam hati, diam diam ia tersenyum.


Setelah mencuci wajah, tangan dan kakinya ia segera naik ke atas tempat tidur menyusul Rania yang sedang terbaring membelakanginya.


" Kenapa belum tidur?" tanya Aksara sembari melingkarkan tangannya ke perut Rania.


Rania diam, tak bergerak atau menjawab.


" Mas tau kalau kau belum tidur.." Aksara mendekatkan bibirnya ke telinga Rania, suaranya setengah berbisik, dan itu membuat Rania yang geli langsung bergerak.


" Aku sudah tidur kok tadi.." jawab Rania dengan suara masih kurang bersahabat.


Aksara tersenyum mengerti.


" Mas minta maaf.. " ujar Aksara,


Rania diam saja tak menyahut.


" Mas keterlaluan.. mas tau, mas minta maaf ya.. mas tidak tahan di acuhkan.."


imbuh Aksara tapi Rania masih saja diam.


" Ran.. jangan marah lagi.. mas janji, besok besok boleh jalan jalan di komplek, boleh beli di gang manapun,


asal kau hati hati dan pintar jaga diri.. ".


Rania masih diam, tapi Aksara mendengar helaan nafasnya yang berat.


" Jangan marah lagi.. nanti anak kita sedih.." Aksara mengelus elus perut Rania, lalu mengecup pundak istrinya.


" Aku tidak mau janji palsu.." suara Rania akhirnya keluar,


" Janji palsu? mana pernah aku memberimu janji palsu Ran? buktinya sepuluh tahun pun aku tetap kembali dan menjadikanmu istriku?!" suara Aksara tegas.


" Aku tidak membicarakan itu,"

__ADS_1


" lalu?"


" mas sering janji untuk tidak cemburu berlebihan lagi, tapi beberapa hari kemudian mas seperti itu lagi,


jadi mana mungkin aku percaya" ujar Rania membuat Aksara terdiam.


" Hemm.. diam toh.. tidak bisa bicara.." imbuh Rania.


Aksara masih terdiam, ia bingung harus bicara apa.


Ia baru sadar kalau selama ini dirinya begitu.


" Ya sudah.. " jawab Aksara kemudian,


" ya sudah apa?"


" aku tidak akan berjanji.."


" terus?!"


" aku akan berusaha menutup mulutku rapat rapat meski hatiku bergemuruh penuh kecemburuan.. " suara Aksara terpaksa.


" Jangan kalau terpaksa.."


" lha mau bagaimana.. kau harus memberiku anak yang banyak supaya aku tidak cemburu.."


" eh, apa hubungannya?"


" biar kau buncit terus, dan tidak ada yang melirikmu.."


Rania gemas mendengar itu, bisa bisanya suaminya ini berfikiran sedangkal itu.


" Yah.. sekarang aku faham dengan ucapan orang orang.." gumam Rania,


" omongan kalau orang pintar pun bisa jadi bodoh karena cemburu.."


" kau mengejekku Ran?"


" ah.. tidak mas.." jawab Rania bernada mengejek.


Aksara menghela nafas panjang, ia membalikkan tubuhnya sehingga posisinya terlentang.


" Aku bingung.. entah kenapa aku selalu marah kalau melihatmu dekat dengan orang lain,


aku tidak sanggup menahannya..


membayangkan kau menemukan seseorang yang jauh melebihi aku..


rasanya aku tersiksa setiap saat.." ujar Aksara menatap langit2 kamar.


" Dulu aku pernah kehilangan dirimu, aku menahan perasaanku bertahun tahun,


semua orang menganggapku dingin dan kaku, juga penggila kerja..


aku menyibukkan diriku yang tidak sibuk,


itu semua hanya untuk melupakanmu..


tapi kenyataannya aku tidak lupa..


seharipun aku tidak lupa.." Aksara menutup matanya, perasaannya campur aduk mengingat masa masa menyakitkan itu.


" Aku tidak mau lagi seperti itu.. menahan perasaanku sendiri yang kehilangan mu Ran..


jadi tolonglah..

__ADS_1


mengertilah sedikit kenapa aku seperti ini,


ketakutanku berdasar..


seseorang yang pernah kehilangan, takkan mau kehilangan lagi.."


Aksara membuka matanya, ia merasakan tangan Rania yang memeluknya.


" Sudahlah mas.. " ucap Rania sembari merebahkan kepalanya di dada Aksara.


Aksara terhenyak, tapi tak lama kemudian ia menyambut Rania dengan pelukan, di peluknya istrinya itu erat.


" Jangan membahas apa yang pernah melukai kita.." imbuh Rania,


" Maafkan aku.. aku terlalu posesif.. dan aku tidak bisa mengendalikan itu.."


Rania diam, namun tangannya mengelus dada suaminya untuk menenangkan.


" Mengertilah kalau aku cemburu.. kau istriku..


keramahanmu.. senyumanmu.. itu semua milikku..


kau tidak boleh memberikan itu kesembaran orang,


aku tidak perduli kau mempunyai sedikit teman, atau orang lain menganggapmu sombong,


aku tidak perduli itu..


yang penting adalah ketenangan keluarga kita..


dan aku yang akan berusaha menjadi teman, sahabat, dan suami di saat yang bersamaan.."


Aksara mengecup kening Rania.


" Aku juga minta maaf mas..." ucap Rania lirih,


" bukan kau yang salah.. tapi mas.. kau tidak harus meminta maaf.."


" aku juga wajib meminta maaf.. harusnya aku lebih memahami mas,


bukan selalu marah atas sikapmu yang terkadang tidak ku mengerti..


aku selalu menganggap mas berlebihan,


tapi sekarang aku justru merasa beruntung..


aku beruntung memilikimu yang pencemburu ini mas.. ",


Aksara tersenyum mendengarnya, hatinya di penuhi bunga.


" Benar itu Ran, kau merasa beruntung?" tanya Aksara,


" iya mas.. aku beruntung, tapi.."


" kok ada tapinya?"


" iya mas.. cemburunya tetap harus di kurangi.. ingat, sesuatu yang berlebihan itu juga tidak baik.. mas tau itu kan??"


Aksara diam, ia berpikir cukup lama.


" Ya sudahlah.. demi kau, demi anak kita.. aku akan berusaha untuk lebih sabar.." jawab Aksara kemudian.


" Jadi sekarang.. mana hadiahku karena sudah mau bersabar?" Aksara menghela wajah istrinya.


" Mas ini sayang Ran.. " tanpa menunggu Aksara langsung mencuri bibir istrinya.

__ADS_1


__ADS_2