
Aksara terbangun mendengar suara tangisan ringan seorang bayi,
ia menggosok wajahnya dengan kedua tangannya untuk menyadarkan dirinya yang sebenarnya masih mengantuk karena tidak bisa tertidur nyenyak dua hari ini.
" Uhh...gantengnya papa.." Aksara segera mengambil bayi itu dari gendongan perawat.
Makhluk kecil berkulit putih kemerahan dan berambut tebal itu menggeliat dalam bungkusan selimut, di lengan Aksara.
Lidahnya menjulur julur seperti menginginkan susu.
Ada rasa luar biasa yang menjalari hatinya ketika menatap putranya yang sedang berada dalam dekapannya itu.
Ini adalah makhluk kecil yang ia tunggu tunggu selama ini, makhluk kecil yang akan membuatnya semakin betah dirumah dan mungkin saja menjadi sedikit malas berangkat bekerja nanti.
Seharusnya kelahirannya di liputi dengan kebahagiaan, bukan malah tangisan dan Ratapan Aksara, diam diam Aksara mengeluh, kenapa begini pikirnya..
Namun ia yakin, istrinya pasti akan segera bangun dan menggendong bayi mereka.
" Haus sayang? kasiannya... nanti kalau mama bangun, minta minum sama mama ya..?" Aksara bicara pada bayinya yang hanya membalasnya dengan juluran demi juluran lidah itu saja.
Ia terus berbicara, entah apa saja yang ia katakan pada bayinya yang terus meliuk liukkan tubuhnya itu, membuat Aksara gemas dan ingin mendekapnya lebih erat.
Namun Aksara sadar ia tak boleh melakukan itu.
Karena itu di hela nafasnya, ia menahan diri dan membuang sementara kegemasannya.
" Lee.. pulanglah dulu, biar tante yang jaga sama Yuni, kamu mandi sana sambil ganti baju.." suara tante Irma masuk membawa kopi hangat dan sebungkus nasi pecel.
" Tapi yo sarapan sek.." imbuh tante Irma.
" Tidak te.. saya mau nunggu istri saya saja te, dia pasti kecewa kalau tidak ada saya saat dia membuka mata.." jawab Aksara tegas sembari terus mengayun ayunkan anaknya.
Tante Irma menghela nafas panjang,
" ya wes.. " ucapnya.
" Ehh! bayimu jangan di ayun ayun begitu.." nasehat tantenya.
" Kalau ndak nangis jangan di ayun mas.. nanti dia kebiasaan minta di ayun terus.." mbak Yuni ikut menasehati.
Aksara diam saja tak menjawab, ia mendekatkan wajahnya ke kepala anaknya.
" Mambu yo nak? bapakmu durung adus mulai winggi ( bau ya nak, bapakmu belum mandi sejak kemarin ).." celoteh tante Irma membuat Aksara tersenyum, senyum yang langka sekali sekarang.
Namun senyum itu kembali hilang ketika matanya terbentur pada Rania yang masih belum sadar dan terbaring di ujung ruangan.
" Dokter sudah kesini?" tanya tante Irma,
" Sampun tadi pagi.." jawab Aksara tenang,
" ya wes.. kamu yang tenang, rausah mikir jeru jeru lee.." nasehat tante Irma.
sore menjelang, Aksara terus saja tidur dan bangun dengan perasaan tak tenang.
Ia berkali kali mendekat ke istrinya, merasakan nafas yang keluar perlahan dari hidung mungil istrinya.
Bibirnya saling menekan, menandakan betapa gelisah dan kecewa hati Aksara.
Di sentuhnya jemari istrinya, sembari di ciuminya.
" Tentu saja.. kau hanya tidur kan sayang.. cepatlah bangun..
tidak hanya aku, tapi putra kita menantimu..
__ADS_1
dia munggil..
persis sepertimu..
hidungnya.. bibirnya.. " ujar Aksara dengan suara lirih, ia menekan perasaannya.
" Jangan tidak bangun ya.. meski dokter berkata kau tidak apa apa, tapi tetap saja hatiku ini di penuhi ketakutan..
aku takut kau tidur terus Ran...??"
suara Aksara berubah parau, ia membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang menggenggam jemari Rania.
" Maafkan aku?? aku terlalu egois.. rasa memilikiku membuatku bersikap terlalu berlebihan kepadamu..
aku hanya takut kehilangan kau lagi..
jangan membalasku..
jangan membalasku ya Ran??, karena aku pernah meninggalkanmu selama 10 tahun lalu..
aku tidak tau kenapa kau tidak bangun bangun, padahal seharusnya kau sudah bangun..?!"
laki laki itu ingin marah, ada gemuruh yang besar di dalam dadanya, penyeselan.. ketakutan..
" Raniaaa..?! istriku.. aku mencintaimu.. aku mencintaimu..!" ucapnya bercampur emosi dan putus asa, dadanya tak sanggup lagi menyimpan gemuruh itu..
dan akhirnya hanya air mata yang menyerbu keluar dari sudut sudut matanya.
Jari jari Rania yang lebih kecil dari jari jari Aksara itu basah oleh air mata Aksara.
" Akhirnya kau membuatku menangis juga.. oh Tuhan, kau wanita pertama dan terakhir yang menyiksa hatiku seperti ini..
sejak awal kau masuk kerumahku kau sudah mengambil perhatianku.. simpatiku..
Bagiamana tidak, Rania kecil yang lusuh, tangan dan kakinya penuh bekas luka, tubuhnya kecil seperti kurang gizi.
Bagaimana Aksara tidak bersimpati.
Aksara ingat betul saat itu, bahkan ibu tirinya pun di penuhi bekas luka yang tidak sedikit.
Aksara terus terisak tanpa suara, ia meluapkan segala kesedihannya.
" Aku belum meninggal mas.. kenapa menangis sampai seperti itu..?" Aksara terdiam seketika, itu suara yang sangat di kenalnya,
matanya mengerjap ngerjap tak percaya melihat sosok istrinya yang sedang menatapnya dengan sorot mata yang masih lemah.
" Ran??" suara Aksara lirih tak percaya,
" Iya mas.." terdengar suara Rania lagi meski sedikit lemah.
" Kau bangun sayang??!" suara Aksara lebih keras,
" iya.. mas berisik soalnya.." jawab Rania membuat sudut mata Aksara di penuhi air mata lagi,
bukanya diam, laki laki itu malah menangis lagi sembari menciumi tangan istrinya.
Semua keluarga berkumpul karena mendapatkan kabar Rania yang sudah siuman, seperti mengucapkan ribuan syukur..
semua keluarga menciumi kening Rania sembari tersenyum.
Dimas dan Jihan juga rekan rekan gurunya dulu datang berbondong bondong untuk mendoakan kesembuhan Rania.
" Boleh aku menciumnya mas..?" tanya Rania pada Aksara yang sedang menggendong bayi mereka.
__ADS_1
" Tentu saja sayang.. " jawab Aksara mendekatkan kening bayi itu kepada ibunya.
" Sedih sekali aku belum bisa menggendongnya.." ujar Rania, sembari membenarkan kepalanya.
Benar sekali, ia masih belum bisa beraktifitas berat, selain karena jahitannya di perut, ada juga jahitan luka yang lain yang harus ia jaga agar tak terbuka.
" Kau harus istirahat.. nanti kalau sudah sehat kau akan menggendongnya setiap hari.." sahut Aksara tak henti tersenyum pada putranya.
" uh uh uh.. sayang..." suaranya mengeluh eluhkan putranya.
" Benar ini aku tidak apa apa istirahat?" tanya Rania sembari memperbaiki posisi bantal.
" Kenapa aku harus melarangmu beristirahat Ran?, kau memang harus banyak banyak beristirahat sayang..." jawab Aksara penuh kasih sayang.
" Benar ya.. tidak masalah kalau aku tidur? nanti mas nangis lagi kalau aku tidur..?" nada Rania datar namum terkesan menggoda Aksara yang tertangkap basah sedang menangisinya.
Wajah Aksara bersemu,
" seberapa banyak kau mendengarkan ucapan ucapan ku Ran?" tanya Aksara,
keduanya saling memandang, Rania kemudian tersenyum.
" Banyak..." ujarnya dengan sorot mata senang, terbaring di atas tempat tidur tidak menghalanginya untuk menggoda suaminya itu.
" Contohnya? aku ragu kau mendengarkan kata kataku?" Aksara penasaran,
Rania lagi lagi tersenyum,
" contohnya...seperti aku adalah wanita pertama yang menyiksa hatimu.. " jawab Rania, sebenarnya ia tak mendengar banyak, hanya kalimat kalimat terakhir Aksara saja.
" Kau memang menyiksa hatiku!" jawab Aksara dengan bibir cemberut menutupi rasa malunya karena pengakuannya.
" Mas juga bilang kalau dari awal aku merebut simpatimu..
benarkah?
mas jatuh cinta padaku yang sekecil itu?,
wah.. harusnya mas mendidikku sebagai kakak, bukannya malah memacariku secara terselubung.. benar benar tidak patut di contoh.." Rania pura pura mencemooh.
" Memacarimu? kapan?!"
" lalu.. seperti.. mengajakku kemana kemana.. aku hanya boleh keluar denganmu saja, dan melarang laki laki disekolah mendekatiku..
apa itu namanya? ngomongnya saja kakak.. padahal mas sudah lama jatuh hati padaku.."
Aksara terdiam, wajahnya seperti kepiting rebus.
" Enak saja, aku melakukan itu karena berbahaya kemana mana sendirian, aku juga takut kau kenal laki laki jahat?!" jawab Aksara
" Jadi kemarahan mas saat ada laki laki yang mengajakku keluar itu karena murni ketakutan seorang kakak?, bukan karena cemburu mas?"
Tanya Rania menahan senyumnya karena beberapa anggota tubuhnya terasa nyeri.
" Ya...ada cemburunya juga.." jawab Aksara lirih,
" Sudahlah, kenapa kau bahas masa lalu, sementara kita sudah memiliki putra hasil dari buah cinta kita sekarang.." imbuh Aksara sedikit sewot, ia kesal dengan kenyataan bahwa yang Rania katakan benar, sejak dulu ia yang selalu cemburu saat Rania dekat dengan teman laki lakinya, dan bahkan ia setengah mati mencegah Rania dekat dengan siapapun itu.
" Buah cinta siapa mas?" tanya Rania,
" kitalah.. masa pak RT sama pak RW.."
Wajah Aksara benar benar kesal, bibirnya bengkak tanpa senyum.
__ADS_1