Aksara Rania

Aksara Rania
jangan pernah saling meninggalkan


__ADS_3

Wulan menggendong Raihan, rautnya gemas sekali.


" Awas.. hati hati nanti anakku lecet.." ujar Aksara khawatir melihat Wulan yang terlihat sangat gemas sekali pada bayi yang sedang di gendongnya.


" Kau pikir aku ini apa sampai sampai bisa membuat bayimu lecet.." gerutu Wulan.


" Mangkannya, buat lagi.. biar tidak begitu ekspresimu setiap melihat bayi orang lain.." imbuh Aksara membuat Wulan sedikit kesal.


" Kami sudah berusaha siang dan malam.. belum waktunya saja mungkin.." sahut Ilham yang duduk santai disamping Aksara.


" Siang dan malam?" Aksara tersenyum penuh arti, dan Ilham mengerti arti senyum Aksara itu.


" Jangan mengejekku.. saran mesummu dulu itu berguna sekali tau.." suara Ilham setengah berbisik.


" Jangan jangan kau juga lembur saat subuh mas?" Aksara tertawa, Ilham ikut tertawa juga.


" Diamlah kalian! apa tidak ada hal lain yang kalian bicarakan selain tempat tidur?!" ujar Wulan semakin kesal.


" Biarkan saja mbak.. setiap bertemu mereka begitu.." sahut Rania, ia berjalan masuk ke ruang tengah, membawa beberapa piring roti lapis dan pisang goreng.


" Waduh, ngerti saja bu Aksara ini, pisang goreng hangat terfavorit..!" Ilham bergerak maju, ia langsung mengambil satu pisang goreng hangat.


Dimana pun laki laki itu berada, tetap pisang goreng.


Ia akan meminta pisang goreng pada Wulan hampir setiap sore.


Mana suka ia camilan camilan masa kini seperti roti, cake cake dan semacamnya.


" Jadi bagaimana kondisi disana mas?" tanya Aksara ikut memakan satu pisang goreng.


" Dua temanmu itu? seperti biasa, setelah kau tidak ada mereka tetap kemana mana berdua..


mereka sempat bicara padaku kalau akan mengambil cuti tahun depan dan berwisata ke jawa.."


" wah, kita harus persiapkan kamar sayang.." Aksara menoleh pada istrinya.


Rania tersenyum dan mengangguk, sementara Wulan tetap sibuk mencubiti pipi Raihan.


" Semua berjalan baik baik saja.. kecuali.." Ilham terdiam, ia memandang istrinya sejenak.


" Kecuali apa?" tanya Aksara penasaran, ia menangkap pandangan Ilham pada Wulan.


" kecuali.. yahh.. penggantimu yang sekarang sama gagahnya denganmu..


bedanya,


kalau dulu kau tidak pernah berbincang dengan istriku..


sekarang laki laki itu giat berbincang dengan istriku.." nada bicara Ilham terdengar malas, sedikit di liputi kekesalan.


Aksara dan Rania saling berpandangan lalu tertawa, tawa Aksara yang lebih keras.


" Mas cemburu.. ahahaha..!" ejek Aksara seperti dirinya juga tak pernah cemburu.


" Jangan berlebihan mas, kau bukan anak muda lagi yang harus mencurigai ku setiap saat.." sahut Wulan tenang, ia masih sibuk dengan Raihan.


" Aku tidak curiga.. buat apa aku curiga pada laki laki yang lebih muda dan gagah dariku..


rasanya aku perlu menghitamkan diriku agar lebih maskulin Sa.."


Aksara tergelak mendengar itu,


" Kau ini tampan mas, mana ada laki laki yang punya bibir merah jambu sepertimu..


percaya dirilah, di usia mas yang sekian ini mas itu masih sangat luar biasa.." Aksara menyemangati.


" Tentu saja dia tampan, tapi entah kenapa dia terus saja iri pada orang lain.." sela Wulan.


" Aku tidak akan iri pada siapapun lagi jika kau memberiku bayi.. Ami sudah ingin punya adik lagi.."


" Ami atau mas yang ingin, jangan menggunakan Ami sebagai alasan.." ujar Wulan.


" Kalian lihat.. dia bersikap seperti pemuda berusia 25 tahun.." cibir Wulan,


" Aku hanya merengek di hadapanmu.. jangan ragukan bagaimana aku di kantor.." gumam Ilham membuat Aksara makin geli dengan perdebatan suami istri di hadapannya ini.


" Tidak malukah kalian seperti ini di hadapan kami?" tanya Aksara.


" Tidak!" jawab Ilham tegas, membuat Aksara lagi lagi tertawa geli.


Setelah kunjungan Ilham dan Wulan, keesokan harinya Aksara dan Rania menuju ke makam untuk bersih bersih dan kirim doa.


Setelah keduanya selesai mengirim doa, Aksara meminta Rania untuk duduk di kursi panjang yang sengaja di letakkan tak jauh dari pintu masuk makam.


Ia meminta Rania untuk menunggu, karena Aksara masih belum selesai membersihkan daun daun dan bunga kering yang jatuh di sekitar makam bapak, ibunya, dan ibu Rania.


Rania memandangi suaminya dari jauh.


Ada rasa bangga di hatinya. Ia bersyukur mendapatkan Aksara yang begitu bertanggung jawab dan mengasihinya, meski terkadang kecemburuannya itu tidak masuk akal, namun itu bukan hal yang besar untuk Rania.

__ADS_1


Laki laki berkopiah hitam itu melirik Rania diantara kesibukannya membereskan daun daun kering.


Ia tersenyum sejenak menangkap istrinya itu sedang memandanginya.


" Kenapa memandangi mas begitu, baru sadar suamimu ini menawan.." tanya Aksara duduk disamping Rania,


ia terlihat mengambil nafas mengusir sedikit lelahnya.


Makam bapak ibunya dan ibu Rania sudah terlihat bersih.


" Aku membiarkan rumput rumput itu.." ujarnya,


" iya.. biarkan rumputnya mas, makin banyak rumput ku dengar makin baik.. "


" kata guru ngaji kita dulu kan begitu.." sahut Aksara.


Rani tersenyum mengiyakan.


Keduanya memandangi makam orang tuannya sejenak, ada rasa sedih dan juga rasa syukur.


Setidaknya mereka meninggal dengan tenang.


" Kalau Raihan sudah bisa jalan, aku akan rutin mengajaknya mengirim doa..


andai saja mereka masih hidup dan bisa menimang Raihan.." keluh Aksara.


" Mas...tidak boleh mengeluh, kita harus mensyukuri apa yang sudah di gariskan untuk kita.. bapak, ibumu.. ibuku.. sudah tenang disana.." Rania menyentuh punggung tangan suaminya.


" Iya Ran.. aku mensyukuri semuanya,


kau dan Raihan sudah cukup luar biasa bagiku..


Gusti Allah sudah luar biasa baik sekali terhadapku Ran.." Aksara membalas sentuhan tangan istrinya.


" Ya sudah.. kita pulang.." ujar Aksara menarik tangan istrinya,


Rania mengangguk, dan keduanya bangkit, berjalan pergi meninggalkan area makam orang tua mereka.


mereka berjalan berdua dengan hati yang di penuhi ketenangan dan keikhlasan,


juga rasa syukur yang besar karena mereka berdua di sudah di pertemukan dan di persatukan.


Apapun yang terjadi ke depannya mereka tidak pernah tau, tapi yang pasti mereka akan selalu menjaga amanat bapak dan akan berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengulangi kesalahan mereka.


" Jangan pernah saling meninggalkan, sebesar apapun masalah kalian.." pesan terakhir bapak itu akan selalu Aksara ingat,


membahagiakan keluarganya dengan aman, nyaman dan sederhana, seperti cara bapaknya membesarkannya dulu.


...Beberapa tahun kemudian...


Aksara melonjak dari tempat tidurnya karena mendengar tangisan bayi.


" Uh uh uh... sayang??" Aksara mengambil bayinya dari dalam box bayi.


Bayi berumur 6 bulan itu sepertinya terbangun karena kaget dengan suara pistol pistolan yang lumayan keras.


" Dor! dor! dor!" terdengar suara Anak laki laki yang berlarian kesana kemari.


" Astaga.." keluh Aksara lirih, ia menahan diri..


anak ini benar benar tidak mengijinkan papanya tidur tenang di akhir pekan.


" Kakak berisik ya sayang... uh uh uh... cup cup sayang..." Aksara menenangkan bayinya sembari berjalan keluar kamar.


" Raihan.." panggil Aksara datar,


Anak laki laki yang berusai 5 tahun itu berhenti seketika dari kegiatan lari larinya.


" Sini.." panggil Aksara lagi,


bocah laki laki itu mendekat dengan sikap waspada.


" Tidak sengaja papa.." jawab anak itu tanpa di tanya,


" apanya tidak sengaja?"


" kakak berisik tidak sengaja bangunkan adek..." jawabnya lagi.


" Apa Raihan tidak bisa bermain di luar?"


" tidak mau papa.."


Aksara menghela nafas,


" ya sudahlah.. main sana, dimana mamamu?" tanya Aksara pada putranya itu,


" mama di depan, ngobrol sama orang.." jawab Raihan sambil mengisi lagi peluru pistol pistolannya.


" Di depan dimana?"

__ADS_1


" di pagar papa.." jawab Raihan seperti capek di tanya terus.


" Dengan siapa? ibu ibu tetangga?"


" sama om om.. tidak kenal Raihan siapa, omnya pakai seragam coklat, seperti pak.." belum selesai putranya bicara Aksara buru buru berjalan keluar sambil menggendong adik Raihan.


Sesampainya di depan pintu ia memang menemukan istrinya sedang berdiri di pagar berbincang dengan seseorang yang ciri cirinya sama seperti yang di sebutkan anaknya.


Tiba tiba saja ada sesuatu yang tidak menyenangkan muncul di hati Aksara,


pasti laki laki itu lagi, pikir aksara.


ia segera berjalan keluar dengan menggendong putrinya.


Raut wajahnya tidak ramah sama sekali.


" Ran?!" panggil Aksara mendekat.


" Iya mas?" jawab Rania berbalik, dan terlihatlah siapa yang sedang berbincang dengan Rania.


Seorang pemuda, yang wajahnya familiar, dia tersenyum menyambut Aksara yang mendekat.


" Mas Aksa..?!" suara pemuda itu girang, lalu mencium punggung tangan Aksara, layaknya sopan santun ketika bertemu orang tua yang di kenal.


Aksara sedikit terkejut,


" lho? Danar? anak e bu parjo?" ujar Aksara, diam diam dirinya malu, ia mengira istrinya sedang bicara pada Radit.


" Nggih mas.. saya baru pindah dinas disini.." pemuda berusia 24 tahun itu tersenyum,


" sebelumnya dimana?"


" di Polda mas.."


" owalah...tak kira siapa.. masuk dulu?!" ajak Aksara,


" ini mau ke kantor e mas, saking tadi nggak sengaja lihat mbak Rania.. jadinya ngobrol sebentar.." jawab Danar


" owalah ya wes.. kapan kapan ngobrol disini sama mas kalau libur yoo.."


" nggih mas.. kalai begitu saya permisi, yukk mbak Ran?"


" iya, hati hati Dan.." balas Rania, dan pemuda itu segera berlalu menjauh.


Aksara memandang istrinya yang berbalik ke arah nya,


" ku kira siapa.." gumam Aksara mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam.


" Lha mas kira siapa?" tanya Rania balik, ia tau kalau suaminya mengira Danar itu Radit tadinya.


Rania tersenyum sambil menggeleng pelan.


" Masih saja cemburumu itu mas.. mas.." suara Rania tenang.


" Siapa yang cemburu.." jawab Aksara tidak mau mengakui,


" lalu siapa yang buru buru keluar..?"


" Aku memang mencarimu kok, Rinai menangis.. Raihan berlarian di dalam rumah.." alasan Aksara,


" oh ya...?" Rania melihat bayinya yang tertidur pulas di tangan Aksara.


" ya tadi dia menangis.." jawab Aksara sedikit malu.


" Aku sudah melahirkan dua anak untukmu mas.. jadi.. kurang kurangilah cemburu mu itu mas.." ujar Rania lalu mengambil Rinai perlahan dari tangan Aksara.


" Mas makanlah.. aku baru masak ikan kuah kuning tadi.." ujar Rania lalu berjalan masuk ke dalam kamar.


" Papa papa..?" Raihan mendekat ke papanya,


" dalem nak.." jawab Aksara sembari berjalan ke arah meja makan.


" Cemburu itu apa?" pertanyaan Raihan membuat Aksara terhenyak, ia menatap anaknya dengan pandangan bingung.


Beginilah kalau Rania asal bicara di sekitar Raihan, dia pasti akan bertanya dan bertanya.


" Emh.. cemburu itu..."


Aksara bingung, ia memutar otak, ia tidak bisa menemukan jawaban yang pas untuk anak seusia Raihan.


Dan Rania yang mendengarnya dari dalam kamar hanya bisa tertawa,


" Cemburu itu adalah hal yang biasa di lakukan papamu nak.." ucap Rania sendiri dalam hati.


......-End-......


Jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat, itu murni hanya kebetulan yang tidak di sengaja.


Terimakasih sudah membaca karya saya.. ☺️

__ADS_1


__ADS_2