
" Bagaimana?" Rania duduk di samping Dimas dan Rehan,
" Dia sedang tidur, minggu depan saja biar masuk.. wajahnya di hajar habis habisan begitu.." jelas Dimas dengan wajah lesu.
" Aku tidak tau yang kita lakukan ini benar atau salah.. , aku juga tidak tau Randy memang pantas atau tidak di perlakukan seperti itu.." terlihat sekali kebimbangan di mata Dimas.
" Nasi sudah menjadi bubur.. yang harus kita lakukan sekarang adalah memperbaiki keadaan.." ujar Rehan,
" tidak mungkin kan menyuruh anak anak itu menikah?, mereka bahkan masih belum bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri??"
" Randy bilang apa?" tanya Rania tenang,
" dia bilang mau bertanggung jawab pada Safa.."
" kalau begitu biarkan dia bertanggung jawab.. dengan cara menyelesaikan sekolahnya dengan baik, ketika dia sudah mapan nanti dia boleh kembali ke Safa dan meminangnya.
Caranya bertanggung jawab adalah dengan menjamin kehidupan yang baik untuk Safa nanti..
katakan itu padanya Dim.."
Dimas berfikir sejenak mendengar perkataan Rania itu.
" Apa kita akan memisahkan mereka?"
" tentu saja tidak.. keputusan itu mereka akan mengambilnya sendiri,
mereka yang melakukan mereka yang harus bertanggung jawab pula..
tugas kita cukup membuat mereka mempunyai kesadaran untuk menghentikan perbuatan mereka yang bisa merugikan diri mereka sendiri sekarang..
soal jodoh.. itu bukan urusan kita.." imbuh Rania.
" Memangnya kau mau di pisah? pas lagi sayang sayangnya..?" celetuk Rehan,
" memangnya aku sayang pada siapa?!" suara Dimas tiba tiba meninggi,
" perumpamaan.. kenapa kau ngegas??" Rehan tertawa sambil geleng geleng kepala.
" Lho..? bu Jihan? kemana bu?" tanya Rehan pada Jihan yang tiba tiba lewat di hadapan mereka membawa setumpuk buku paket.
" Biar saya bantu bu?" Rehan bangkit,
" tidak usah pak, bisa sendiri kok.." jawab Jihan,
" nggak usah sok jadi ultramen.. orang bu Jihan bisa angkat sendiri.." celetuk Dimas sedikit sewot,
" udah, biar bu Jihan angkat sendiri,dia kan superman.. jangan kan buku segitu, buku satu perpus juga bisa ia pindahkan sendiri" imbuh Dimas tanpa melihat ke arah Jihan.
" Iya, benar itu.." jawab Jihan tersenyum pada Rehan, namun sepintas melirik Dimas dengan sinis.
" saya permisi dulu.." Jihan berlalu menjauh.
" Kau ini ya.. pedas terus bicaramu pada bu Jihan?? ada apa sih?!" Rehan memandang Dimas dengan teliti.
" Sekarang bu Jihan sudah tidak pernah sewot lagi padamu..
kok sekarang gantian?"
Rehan benar benar heran, sementara Rania hanya tersenyum saja melihat itu.
" Kalian ini lebay.. tidak ada apa apa.. " tegas Dimas sembari berdiri dan berlalu pergi.
" Edan..." gerutu Rehan,
" Pak?! bu?!" Pak Anam mendekat,
" Kumpul di kantor.. ayok, di traktir bakso sama kepsek.."
__ADS_1
" dalam rangka apa pak?"
" dalam rangka besok tanggal merah!"
Rania dan Rehan tertawa,
" tanggalnya aja yang merah pak.. tugasnya tetap numpuk..",
" sudah.. ayo ayoo, Dimas sudah disana lhoo, bahaya kalau tidak kebagian".
Rania dan Safa sibuk mengupas mangga yang baru mereka dapatkan dari halaman samping,
Tak lama kemudian Dimas dan Randy muncul,
" Sudah sembuh Ran?" tanya Rania melihat masih ada bekas lebam di mata kirinya.
" Sudah bu.." jawab anak itu sambil duduk di pinggiran balai.
" terlambat ya?!" Rehan muncul, ada Jihan dan Ina, semua guru guru muda berkumpul.
" Anam mana?" tanya Dimas,
" Anam sedang keluar dengan tunangan nya, tidak bisa ikut.." jawab Rehan,
" Ya sudah tidak apa apa.. Safa kupas mangga sama timun nya ya, ibu bikin bumbu dulu.."
" Randy bantu kupas ya bu?"
" boleh.. kalian kan sudah beberapa hari tidak bertemu, bicaralah.. " kata Rania memberi isyarat pada lainnya untuk masuk ke dalam rumah, membiarkan kedua remaja itu menyelesaikan masalah mereka.
" Kenapa kita malah memberi mereka kesempatan pacaran?" tanya Dimas,
" sudah tenang saja.. ada yang harus Safa sampaikan pada Randy.." Rania berjalan ke arah dapur, lalu kembali ke ruang tamu membawa cemilan cemilan.
" Dengar dengar bu Jihan pintar masak.. berarti bu Jihan saja yang bikin bumbunya.." ujar Rania tersenyum lebar,
" saya goreng kerupuk sebentar ya?"
" Awas kalau nggak enak..." suara Dimas pelan namun terdengar oleh semua orang sehingga semua mata di ruangan itu menatapnya,
" bercandaa... bercandaa.. " katanya kemudian.
" Ada masalah apa Dim, ngomong sini..?!" Rania melotot,
" sudah goreng kerupuk sana.. orang bercanda, iya kan bu Jihan..?" Dimas tertawa lebar, namun Jihan tak menjawab, ia masa bodoh dengan sikap Dimas.
Laki laki bertubuh tinggi dan berkulit sawo matang itu turun dari taksi online,
" Trimakasih pak.." ujar si sopir,
" sama sama pak.." jawab si penumpang sambil melempar senyum lebar dan cerah, sampai sampai lesung pipi yang jarang sekali terlihat, sekarang terbentuk dengan jelas di pipi kirinya.
langkahnya terhenti melihat beberapa motor yang terparkir di halaman depan rumah, salah satunya motor Dimas.
Ia juga melihat beberapa sandal laki laki.
Di lanjutkan langkahnya memasuki teras,
" Assalamualaikum..??" berharap istrinya menyambut,
" walaikumsalam?! " terdengar suara Dimas menjawab,
Laki laki itu masuk ke ruang tamu dan melihat beberapa orang yang sedang sibuk.
" Lho?? Mas??!" Dimas yang akan berjalan ke arah pintu depan kaget,
" Mas pulang tho??!" pertanyaan Dimas spontan membuat laki laki yang berdiri tak jauh darinya itu mengerutkan dahi.
__ADS_1
Semua guru juga menatap dengan pandangan bingung, diantara mereka tidak ada yang ingat wajah suami Rania.
" Sopo?" tanya Rehan bisik bisik,
" Bojone Rani, sopo maneh?" jawab Dimas dengan senyum di paksakan.
" Oh?? maaf.. saya Rehan, ini bu Ina, lalu ini bu Jihan.. maaf kalau kami membuat keributan.." Rehan menyapa ramah di susul dengan Ina dan Jihan.
" Saya Aksara, suami Rania.. silahkan lanjutkan.. " jawab Aksara dengan tenang lalu melanjutkan langkahnya ke dapur.
" Bukannya suaminya di luar jawa??" tanya Ina,
" Sepertinya kejutan.. Rania saja tidak tau suaminya mau pulang.. " jawab Dimas sambil menghela nafas.
" Kenapa menghela nafas begitu?" tanya Ina,
" Jangan tanya, lebih baik cepat kerjakan, makan lalu segera pulang..".
Laki laki berkaos navy itu memandang istrinya yang sedang sibuk menggoreng kerupuk.
Tubuh Rania yang mungil itu benar benar sukses membuatnya gemas.
Rindu nya sudah menumpuk meski belum genap sebulan mereka terpisah.
" Dim? ambil kerupuknya yang sudah dingin Dim?!!" panggil Rania pada Dimas, tentu saja Dimas tidak akan berani ke menjawabnya atau bahkan ke dapur.
" Astaga di Dimas ini kemana sih?!!" gerutu Rania karena Dimas tidak kunjung ke dapur.
Tiba tiba saja ada sepasang tangan yang melingkar di pinggang Rania dan menarik tubuh Rania, Rania sontak histeris dan meronta.
" Lepas!! kurang ajhbbb!" mulut Rania di tutup,
" masa suamimu ini kurang ajar?" Bisik Aksara di telinga kanan Rania.
" Mas???!" Rania langsung menoleh ke belakang, melihat suaminya itu berdiri di belakangnya sambil memeluk erat pinggang Rania.
Aksara tersenyum, ia memutar tubuh istrinya itu agar menghadap ke arahnya.
" Mas kok tiba tiba?" Rania masih kaget,
" tidak suka melihatku pulang?" Aksara malah balik bertanya sembari mengecup kening dan bibir Rania beberapa kali,
" katanya sibuk dan tidak boleh ijin?"
" Aku tidak ijin, langsung beli tiket dan kesini..
inginnya berdua saja, tapi ternyata dirumah ku banyak tamu.." Aksara terus saja mengecup bibir Rania,
" siapa suruh Mas tidak memberi kabar?" Rania mengalungkan tangannya ke leher Aksara dengan manja.
" Pantas kau tidak merindukan ku.. kau membawa begitu banyak orang dirumah untuk menemanimu.."
Aksara mengangkat tubuh Rania dan mendudukkannya di atas meja dapur.
" Mana hadiahku.. aku sudah bersabar menunggumu selesai menggoreng kerupuk itu? diam di belakangmu tanpa menyentuhmu..
bayangkan menderitanya tanganku ini.. "
Rania tersenyum melihat suaminya yang sok merajuk itu,
" Banyak temanku.. ada murid ku juga, bersabarlah Mas.." Rania mengelus rambut suaminya,
" Mana bisa.." ujar Aksara seraya mencium Rania, tangannya erat merangkul pinggang dan punggung Rania agar tak bergerak.
" Mas??!" Rania mendorong dada Aksara,
keduanya saling menatap, lama..
__ADS_1
Aksara berusaha mencium Rania lagi tapi Rania menghindar.
" Ya sudah, ya sudah.. berkumpul lah dengan teman teman mu dulu.. aku mengalah.." Aksara mengangkat tubuh Rania dengan hati hati dan menurunkannya dari meja dapur dengan wajah sedikit masam.