
Di perjalan pulang Aksara hanya diam, dia tidak berbicara sebanyak biasanya.
" Kenapa mas?" tanya Rania heran melihat ekspresi suaminya yang diam dan terlihat aneh.
" Ah, tidak Ran.." jawab Aksara menatap lurus ke depan.
" Aku melihat mbak Wulan tadi, apa mbak Wulan menganggumu lagi?" Rania khawatir.
" Wulan sudah berbaikan dengan mas Ilham, dan dia tidak pernah menggangguku lagi.. tenanglah.." Aksara mengulas senyum.
" Ya syukurlah kalau begitu.. " gumam Rania.
Wulan berbaring, ia menaruh kepalanya di atas lengan Ilham,menggunakannya sebagai bantal.
Meski tidak se empuk bantal, tapi lengan itu cukup nyaman sekarang.
" Itu perempuan yang di gendong Aksara.." suara Wulan pelan,
" Hemm.. masa?" tanya Ilham sudah lumayan mengantuk.
" Iya, di acara pernikahan Fatan waktu itu.. dia pingsan dan Aksara menolongnya.."
" kau melihatnya? kau tidak menolong juga?"
" tidak, aku tidak suka ikut campur urusan orang lain.."
" masa menolong di bilang ikut campur urusan orang?" Ilham menarik ujung hidung istrinya.
" Buktinya, gara gara Aksara menolongnya.. sekarang Aksara yang ribet.. "
Ilham menghelas nafas panjang,
" Padahal perempuan itu masih muda sekali.. mungkin anak kuliahan.. kenapa ya dia begitu.."
" Mas seperti tidak tau saja..
sekarang laki laki mapan jadi sedang jadi incaran,
tidak perduli istri orang..
sekarang mereka cari bujang pun belum tentu mapan..
karena itu mereka lebih memilih cara instan..
menjadi yang kedua atau merebut..
ya tidak semua begitu,
ada yang masih mempunyai idealisme yang tinggi, bahwa semua itu harus di capai dengan sebuah proses..
__ADS_1
tapi ada juga yang tidak mau berproses namun ada hasil di depan mata.. " gumam Wulan.
" Tidak hanya karena seragam saja pastinya tapi hal lain yang membuat ya tertarik,
seperti bentuk fisik? coba jelaskan.. sebagai seseorang yang pernah tertarik pada Aksara.. hemm.."
Wulan sontak mencubit perut suaminya,
" Ihh.. bisa bisanya?! santai begitu ngomongnya?! kemana cintamu yang kau bangga banggakan?!" Wulan tak terima tidak di cemburui.
" Aku tidak cemburu sekarang, karena aku tau kau hanya tertarik dan tidak punya perasaan cinta, lagi pula Aksara tidak pernah menggubris mu..
padahal istriku cantiknya begini..
kalau dia tidak menikah dengan Rania, aku akan menganggap dia tidak normal karena sanggup menolakmu berkali kali.."
Ilham mencium kening Wulan.
" Mungkin karena Aksara itu tampilannya dingin,
itu jadi membuatnya menarik di mata perempuan..
bukan salah Aksara..
karena dia tidak pernah manis pada perempuan,
Kalau tidak karena dirimu saja,
aku sudah malas menganggunya..
seperti bicara pada tumpukan batu tajam.."
" Hemm.." sahut Ilham,
" bisa bisanya kau membicarakan laki laki lain di hadapan suamimu.. bagaimana kalau hatiku sakit.." imbuh Ilham,
" Baguslah.. aku suka kalau hatimu sakit..
apa perlu aku punya project baru.. ?
ada junior pindahan yang ganteng katamu itu.." goda Wulan,
" Ehh?? mau apa???" Ilham melotot.
Aksara tidak fokus, ia nolak balik saja dari tadi.
Marlin yang melihat itu heran.
" Ada apa?" tanya Marlin,
__ADS_1
" bicaralah! aku pusing melihatmu?!" tegas Marlin lagi.
" Kau ganti nomor saja.." saran Marlin setelah Aksara menjelaskan.
" Kurasa ini semua tidak akan selesai hanya dengan mengganti nomor, aku tidak mau dia berbicara denganku lagi kalau bertemu..
bahaya kalau Rania salah faham.."
Marlin berfikir sejenak,
" Temui saja Fatan, apalagi kau bilang dia mencuri nomormu dari HP fatan.."
"aku ingin, tapi aku takut dia malu kalau tau adik iparnya begitu.."
" Tidak ada cara lain, begini saja.. kau diam dulu.. kalai sekali lagi dia mengganggumu..
kita temui Fatan, biar aku yang bicara" ujar Marlin tegas.
Melihat Aksara yang masih gusar Marlin menepuk punggungnya.
" Sudah, jangan kau pikir.. ini persoalan kecil.. fokus saja pada pekerjaan dan istrimu,
perutnya sudah besar..
kelahiran anakmu tinggal beberapa bulan lagi..
jangan isi pikiranmu dengan hal hal tidak penting.." nasehat Marlin.
" aku maunya juga begitu.. tapi tidak tau kenapa hatiku resah sekali,
entah apa yang ku pikirkan sejak semalam..
aku takut Rania tau, rasanya aku kesal sekali.." Aksara mengepalkan satu tangannya menandakan ia benar benar kesal.
" Apa perempuan itu cantik sekali?" tanya Marlin penasaran,
karena yang secantik Wulan saja Aksara tidak bergeming.
" Cantik lah, namanya perempuan.." gumam Aksara,
" dengan Wulan?"
" eh! semuanya lebih cantik istriku!" tegas Aksara,
" perempuan disana boleh secantik bidadari, tp hatiku tetap pada Rania.. dia segala nya untukku.." Wajah Aksara serius, tidak bisa di ajak bercanda.
" Iya iya.. seluruh kantor sudah tau itu.. " jawab Marlin,
" ya sudah, ayo kita ke kantin sebentar.. ngopi ngopi biar tidak pusing kepalamu.." Ajak Marlin sembari menarik lengan Aksara dan masih sedikit gelisah dan gusar.
__ADS_1