
Hari libur, begitu Aksara bangun ia tidak menemukan istrinya di sampingnya.
" Masih jam 5 pagi.. " gumamnya, beranjak bangkit dari tempat tidurnya dan segera pergi ke kamar mandi.
Setelah ia selesai dengan semua urusan dan kewajibannya subuh ini, dia berjalan ke dapur,
Tidak menemukan Rania, lalu berjalan ke halaman belakang, masih tidak menemukan Rania, ia lalu membuka kamar satu persatu,
" Ran?!" panggilnya, namun masih tidak menemukan istrinya.
Aksara berjalan ke teras, melongok kesana kemari.
" HPnya di kamar, orangnya dimana??" gumamnya sedikit was was.
Aksara melihat gembok pagar terbuka, ia buru buru mengambil sandal, nekat keluar meski hanya memakai kaos oblong dan celana olahraga pendek.
" Sebelah mana rumahnya bu?"
" di gang pertama.." jawab Rania sembari mengatur nafasnya yang naik turun tidak karuan karena di kejar anjing, untung saja ada laki laki yang juga sedang joging, dan menolongnya mengusir anjing itu dengan sigap.
" Saya antar pulang saja bu, takutnya nanti di kejar lagi.."
" oh, tidak usah, rumah saya dekat.."
" rumah saya juga dekat, di gang 4, tidak apa apa bu.. saya antar saja.."
" tidak usah pak," Rania menolak
" bukan apa apa.. itu anjing bisa kembali mengejar, sudah banyak orang yang di kejar kejar soalnya.."
" mungkin dia sudah pergi?"
" anjing itu memang tidak pernah mengigit..
tapi dia mengejar orang setengah mati.." ucap laki laki bertubuh tinggi kurus itu,usianya terlihat sepantaran dengan Rania.
Rania berfikir sejenak, ia takut di kejar anjing lagi sebenarnya, tapi ia lebih takut Aksara marah kalau melihatnya di antar jalan dan di temani laki laki subuh subuh begini.
Ketakutan Rania seperti di dengar oleh Tuhan,
" Ran..?!"
Rania mendengar suara Aksara mendekat, suaminya itu hanya mengenakan celana sepak bola dan kaos oblong.
Raut wajahnya khawatir, tak ada keramahan sedikitpun, apalagi pada laki laki yang berdiri tak jauh dari Rania.
" Ada apa?" tanya Aksara pada Rania lalu mengalihkan pandangannya pada laki laki di sebelah Rania.
" Ini mas.. di kejar anjing tadi.." jawab Rania pelan,
" kok bisa? dimana?" tanya Aksara mengerutkan dahi, sebenarnya Aksara cukup tau kalau banyak anjing disini.
" Maaf, anjingnya sudah pergi kok.. " laki laki itu masuk ke dalam pembicaraan Rania dan Aksara.
" Maaf, anda siapa? ada urusan apa dengan istri saya?" suara Aksara tenang namun tidak bersahabat,
" mas??!" Rania menarik tangan suaminya, Rania merasa tidak enak pada laki laki yang sudah menolongnya tapi malah mendapatkan kalimat yang kurang menyenangkan seperti itu dari suaminya.
" Saya tinggal di gang 4, tadi ibu ini di kejar anjing yang di ujung komplek.. " laki laki itu tersenyum ramah, beda sekali dengan ekspresi Aksara.
" Saya tidak pernah lihat anda sebelumnya?" Aksara masih penasaran,
" iya.. saya baru 3 bulan pindah disini.. " jawab laki laki itu masih mengulas senyum ramah.
" Emh.. terimakasih atas bantuannya, kalau begitu saya duluan..?" Rania memotong, ia menarik Aksara dan berjalan menjauh.
Aksara mengikuti Rania ke kamar mandi, pandangannya penuh selidik.
" Itu siapa?"
" tidak kenal Mas.."
" tidak kenal kok ngobrol?"
" ya kan dia menolongku? ya masa di tolong orang langsung pergi?" Rania gemas,
Aksara diam, wajahnya terlihat masih kesal.
" Kenapa tidak mengajakku joging?" tanya Aksara dengan wajah muram,
" Mas kelihatan capek, ngorok nya juga keras sekali.. mana tega aku membangunkan.." jawab Rania.
__ADS_1
Aksara masih saja cemberut,
" kau benar benar tidak kenal laki laki itu?"
" astaga Mas?!" Rania menatap suaminya,
" Habisnya keluar pagi pagi sendirian bahaya.. ketemu laki laki asing lagi, bagaimana kalau orang jahat.."
" takut aku di ganggu orang jahat atau takut aku kenal dengan laki laki lain?" tanya Rania mulai kesal.
" Dua duanya, aku sudah bilang, aku bukan tipe suami yang murah hati" suara Aksara tenang,
" Aku ini sedang hamil anakmu Mas.. berpikirlah yang baik,
kalau Mas mau marah soal aku joging sendiri marahlah..
tapi jangan bertanya seakan akan aku ini janjian dengan laki laki lain, kenal saja tidak?!" jelas Rania.
" Justru karena kau hamil aku semakin tidak rela, jangankan bicara denganmu, menatapmu pun aku tidak rela jika ia memiliki maksud tertentu",
" ya ampun...?! aku tidak mengenalnya Mas.. tidak kenal.. "
Aksara diam, entah kenapa melihat laki laki itu tadi berbicara santai dan penuh senyuman pada istrinya hatinya kesal se kesal kesalnya, apalagi usianya terlihat sepantaran Rania.
Dalam pikiran Aksara laki laki itu sedang menebarkan pesonanya pada Rania, untung saja dirinya tiba tepat waktu tadi, pikirnya..
" ya sudah, mandi sana.." ujar Aksara tenang,
" apa ku mandikan?" imbuh nya pada Rania yang berjalan mengambil handuk,
" gausah..!" regas Rania sambil menutup pintu kamar mandi.
Wulan keluar dari ruangan dokter Andrian,
" mbak?" Fahim sudah menunggunya di depan ruang praktek dokter Adrian.
" Lho, katanya kuliah?"
" aku ijin, nyusul mbak kesini.. bagaimana?"
" apanya?"
" iya sedikit.." jawab Wulan sembari tersenyum,
" Apa masih stress akut?"
Fahim cemas,
" aku takut ada tambahan gejala lainya? tidak kan mbak??"
Wulan tersenyum,
" jangan khawatir.. aku mulai membaik, jadi aku tidak perlu minum obat apapun.." jawab Wulan,
namun Fahim ragu, sejak dulu begitu jawabannya, dan kakaknya itu tidak pernah meminum obatnya.
Fahim tidak asal percaya begitu saja,
" biar ku tebus obatnya.. " fahim mengambil kertas resep di tangan Wulan,
" aku ingin mbak sembuh.. " ujar Fahim dengan wajah sayu,
" Aku capek lihat mbak mengunci diri di kamar dan menangis tidak karuan.. " imbuh Fahim,
Wulan terhenyak,
" mbak tidak apa apa le.. " ujar Wulan,
" kalau mbak tidak apa apa kenapa mbak seperti ini..? mbak tinggal melanjutkan hidup saja dengan baik bersama mas Ilham dan Ami..
kenapa mbak malah lari dari kenyataan seperti ini.." Fahim membuat Wulan kaget,
" apa Mas Ilham memberitahumu?"
" aku yang menelfon mas Ilham.." jawab Fahim,
" him.. " Wulan terhenti, ia seperti tidak sanggup untuk berkata kata,
" jangan beritahu papa ya him.." lanjut Wulan,
" tidak mungkin hal seperti ini akan mbak sembunyikan terus.."
__ADS_1
" aku akan bicara pada papa.. tapi tidak sekarang him..
bantu mbak ya.. tolong..?"
" minum obatmu.. berjanjilah padaku.." tegas Fahim,
Wulan terdiam sejenak, lalu mengangguk,
" iya.. aku akan minum obatnya, tapi berjanjilah..
rahasiakan ini dari papa.. " pinta Wulan pada adik semata wayangnya itu.
Sore, Aksara duduk di teras rumahnya.
Sudah dua cangkir kopi yang dia habiskan, entah sedang apa dia duduk berjam jam di teras.
" Masuk mas, sudah mau magrib.." Rania memanggil suaminya,
" masuklah dulu," jawab Aksara kurang antusias,
" susah di omongin.. ini mau magrib, aku ini hamil.. mbok yo jaga sikap.." omel Rania,
mendengar omelan Rania akhirnya Aksara bangkit juga.
Tapi setelah magrib ia kembali lagi duduk di teras, di temani secangkir kopi buatannya sendiri dan sekotak bakpia kiriman Dimas.
" Ini orang kesurupan apa.." ucap Rania dalam hati, sejak siang Aksara begitu saja..
duduk tenang di teras.
" Mas ini kenapa sih?" tanya Rania akhirnya penasaran,
" tidak.." jawab Aksara sembari mengunyah bakpia.
" ga capek mulai siang duduk di teras?"
" enggak.." jawab Aksara pendek.
" sikap mas mencurigakan.. "
" mencurigakan apa? aku hanya duduk diam dan mengawasi.."
ujar Aksara tenang,
" mengawasi? mengawasi apa??"
" mengawasi siapa tau ada anjing yang mengejarmu tadi lewat.. "
Rania terdiam, astagaaa... pikirnya,
ya ampunnnn... keluh Rania dalam hati.
" Mas masih membahas yang tadi pagi? ya ampun Mas..." ujar Rania geleng geleng kepala,
" Mas masih mencurigai ku janjian dengan laki laki lain? sehingga mas nekat duduk disini dari siang sampe malam,
Mas kira dia bakal lewat begitu?"
Aksara diam, ia tak menggubris
" cemburu boleh Mas.. asal tidak buta.. istrimu ini hamil?!"
" siapa bilang aku cemburu? aku hanya menunggu anjing yang mengejar istriku..
siapa tau dia lewat,
kalau dia lewat aku akan melemparnya dengan batu, biar dia tidak kurang ajar lagi mengejar istri orang.."
mendengar itu Rania semakin kesal,
" bicara apa sih Mas? ke kanak kanakan sekali?!"
" ya bicara soal anjing, anjing...
hewan berkaki empat yang mengejarmu tadi pagi..
lha kau kira aku bicara apa?"Aksara masih sewot rupanya,
Rania menghela nafas panjang melihat tingkah suaminya itu.
" Sak karepmu wes Mas.." ucap Rania seraya berjalan ke dalam.
__ADS_1