
Aksara makan dengan sedikit tergesa gesa,
" Aku makan sedikit ya.. ? hari ini ada kunjungan.." Aksara menaruh sendoknya, meminum air putih dengan cepat.
" Hati hati dirumah ya sayang, mas makan siang di kantor saja.. " Aksara mengecup kening Rania, mengambil kunci motor di atas meja tengah dan bergegas berangkat.
Ia tak memperhatikan ada sikap yang berbeda dari istrinya.
Rania diam.. ia terus saja diam, ia tak ingin bertanya tentang apapun yang terjadi tadi malam,
karena ia merasa jika ada sesuatu yang tidak benar, maka Aksara yang akan menjelaskannya sendiri.
Ia mencoba berpikir baik, mungkin saja ada perempuan yang tidak sengaja menyenggol suaminya atau bagaimana, karena disana penuh dengan orang yang sedang lalu lalang.
Disisi lain hati Rania juga sedikit was was..
suaminya bukanlah laki laki yang tidak pantas di lirik, posturnya yang tinggi dan senyumnya yang selalu di hiasi dua lesung pipit itu selalu bisa menyita perhatian orang lain.
Membayangkan Aksara yang di lirik perempuan lain hatinya Rania seperti di dobrak dobrak untuk terus berfikir.
Sejak remaja saja Aksara banyak menyita perhatian teman teman Rania di sekolah,
apalagi sekarang..
sosoknya lebih berwibawa dari pada dulu.
Rania memijit mijit kepalanya perlahan,
" Kenapa bu?" si asisten khawatir melihat Rania yang seperti itu.
" tidak bu.. saya tidak apa apa.. " jawab Rania menenangkan dirinya.
Aksara duduk di tepi lapangan voly, Wajahnya tampak letih.
Beberapa kali ia menatap jam tangannya.
" Apa istrimu sudah sehat?" Wulan tiba tiba berdiri di hadapannya.
" Untuk apa bertanya tentang istriku?" jawab tidak bersahabat.
" Jangan menganggu istriku, baiknya kau mengurusi hidupmu sendiri dengan baik dan jangan libatkan orang lain lagi ke dalam permasalahmu" ujar Aksara ketus,
Wulan tersenyum sekilas.
Saat bersama Ilham Aksara bisa tersenyum manis dan ramah, tapi saat keduanya bertemu seperti ini, sosok Aksara yang ramah menghilang, ia seperti sosok yang kapan saja bisa melemparkan bola api pada Wulan.
Wulan mengerti itu.. ia memahami dengan benar kalau ia memang tidak pantas di maafkan.
Tapi setidaknya ia mempunyai itikad baik pada Aksara dan Rania sekarang.
" Aku ingin mengundang kalian makan malam.." ujar Wulan tenang,
" Aku ingin meminta maaf dengan cara yang benar pada kalian..
aku bisa saja diam dan berlagak sok lupa..
tapi aku tidak begitu, aku menyadari kerusakan yang ku sebabkan.. " imbuh Wulan.
Aksara bangkit dari duduknya,
ia menatap Wulan baik baik lali berkata,
" Cara terbaik untukmu meminta maaf adalah menjauh dari kami" tegas Aksara.
" Jadi.. menjauhlah dari kami.." ulang Aksara seraya berjalan pergi meninggalkan Wulan.
" Mungkin jawabanmu akan berbeda jika suamiku yang memintanya.." ucap Wulan dalam hati.
Sebenarnya ia enggan,
tapi Ilham yang memaksanya untuk menjalin hubungan baik kembali.
__ADS_1
Bagaimanapun ia bersalah..
dan meminta maaf adalah kewajibannya.
" Apa yang kau lakukan? masih mau menganggu Aksara?" Marlin menghadang Wulan yang sedang berjalan menuju ruangannya.
Kebetulan Marlin melihat Wulan yang berbicara dengan Aksara.
" Jangan asal bicara kalau abang tidak tau apa apa.."
jawab Wulan sekilas lalu berjalan pergi.
" Berhenti sudah Lan? kasihan Aksara?!" Marlin masih ngotot menghadang Wulan.
" Aku tidak mengganggunya bang, coba abang tanya dulu pada yang bersangkutan sebelum abang melotot padaku seperti ini.." jawab Wulan tenang.
" Eh! siapa yang melotot? aku tidak melotot?" ujar Marlin sembari melotot.
" Lha itu.. melotot.." Wulan tertawa dan berlalu.
" Wahh.." gumam Marlin, ia kaget.. Wulan tersenyum kepadanya dan berbicara dengan baik.
" wah.." gumamnya lagi masih tidak percaya.
Rania membuka pagar dan berjalan masuk.
Ia melirik ke arah garasi sekilas, motor Aksara sudah terparkir disana, itu berarti suaminya itu sudah pulang.
" Dari mana?" suara Aksara keluar dari dapur,
ia masih menggunakan bawahan seragamnya PDH dan kaos oblong lorengnya.
" Dari warung ujung gang.." jawab Rania menaruh kresek berwarna hitam di atas meja makan.
" Beli apa?" Aksara meneliti apa isi kresek itu.
" Krupuk.."
" warung sebelah tutup?" tanya Aksara mendekat.
" lalu?"
" krupuknya habis.." jawab Rania lalu berjalan ke arah dapur.
" Harusnya suruh ibu saja, tidak usah capek capek kesana kemari.."
Mendengar itu tiba tiba langkah Rania terhenti.
Ia berbalik, lalu berjalan masuk ke dalam kamar.
" Lho?" Aksara heran melihat itu,
" kok tiba tiba masuk kamar, kenapa? mas salah ngomong?" tanya Aksara merasa tidak nyaman melihat ekspresi istrinya.
" Bicaralah.. mas salah ya?" Aksara duduk disamping Rania.
" aku ini istrimu" jawab Rania tertahan.
" semua orang tau kau istriku Ran.. "
" lalu kenapa mas memperlakukan aku seperti ini?"
" seperti ini bagaimana maksudnya??" Aksara tidak mengerti.
" Aku juga ingin punya teman bicara, teman berbincang, tapi mas tidak membiarkanku mengenal siapapun" Rania menahan dirinya agar tidak marah.
" Aku bukan pajangan mas, aku juga ingin bersosialisasi dengan orang lain, berapa bulan aku disini?
mas selalu saja bingung, padahal aku hanya keluar ke ujung gang?!"
Aksara terdiam.. tak lama kemudian ia menghela nafas panjang.
__ADS_1
Ia menyentuh lembut rambut istrinya,
" jadi kau marah karena itu?" tanya Aksara tenang,
" Mas bebas kemanapun, aku tidak pernah menerapkan peraturan khusus untuk mas,
tapi kenapa? kenapa mas seperti ini terhadapku?
baiklah kalau memang aku tidak boleh bekerja,
tapi jangan mengekangku seperti ini juga?".
Lagi lagi Aksara menghela nafas berat,
" maafkan mas.. mas kurang berbesar hati selama ini kepadamu..
bukannya mas tidak percaya..
tapi mas takut..
mas pernah kehilanganmu cukup lama..
dan sekarang kondisimu hamil..
mas semakin khawatir padamu..
mengertilah itu Ran..."
Rania diam, ia kesal.. kesal sekali, ia tak pernah melarang Aksara kemanapun, bahkan lipstik di bajunya kemarin pun di anggap lewat oleh Rania.
Tapi kenapa Rania tidak mendapatkan kebebasan dan kepercayaan seperti itu juga.
" Aku mau pulang duluan saja ke jawa" ucap Rania tiba tiba,
" lhoo??! iya thoo iya thooo... jangan seperti itu Ran??" Aksara bingung harus bersikap bagaimana.
" Mas ini serba salah ya... apa ini karena mas terlalu mencintaimu..?" sorot mata Aksara melemah.
" Mana bisa aku mengizinkanmu pulang sendiri tanpa diriku.. "
" pokoknya aku mau pulang.." Rania mulai berkaca kaca, ia sedih juga kesal.. entah apa yang ia rasakan,
ia juga tidak tau benar.
" Kau mau marah silahkan, mau memukul mas juga silahkan..
tapi mas tidak akan pernah memberimu ijin untuk pulang sendiri..
aku masih waras..
mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian.." suara Aksara masih tenang meski ada sedikit kemarahan di dalamnya.
Keduanya diam, duduk di tempat masing masing tak bergerak.
" Aku ini suamimu, sebelum jadi suamimu aku adalah kakakmu,
sudah seharusnya aku bersikap seperti ini,
jadi jangan merasa seolah olah mas terlalu otoriter,
hubungan kita tidak setahun dua tahun,
aku mengenalmu sejak kau belia..
maka dari itu mengertilah jika aku bersikap sangat over protektif kepadamu"
Aksara menekan suaranya.
" Yang di perutmu anakku, apapun yang terjadi padanya dan padamu tanggung jawabku sampai mati,
jadi buang jauh jauh pikiran bahwa aku sedang mengurung mu atau mengekang mu,
__ADS_1
karena jika sekarang kau merasa terkurung, maka kau akan terkurung seumur hidup denganku,
dan aku.. tidak memberimu pilihan lain" tegas Aksara bangkit dan meninggalkan Rania di kamar sendiri.