Aksara Rania

Aksara Rania
Akad yang sederhana


__ADS_3

Dimas sibuk memotong buah buahan untuk Bapak,


setiap pulang mengajar ia selalu melihat Bapak,


selain karena Rania yang menelfonnya untuk melihat Bapak, Dimas juga khawatir pada Bapak.


Tapi kondisi bapak semakin membaik, itu membuat Dimas tenang, hampir setiap hari Rania vidio call untuk melihat kondisi Bapak secara langsung, Bapak selalu penuh senyuman ketika berbincang dengan Rania, tak lupa Bapak selalu menanyakan Aksara..


Sesungguhnya Dimas penasaran sekali, apa yang membuat Aksara pergi dari rumah dan meninggalkan Bapak, namun terlalu lancang sepertinya jika Dimas nekat bertanya.


Yang dimas dengar dari tante Irma bapak lah yang mengusir Aksara, sehingga sekarang Bapak merasa bersalah dan ingin mengembalikan semua ke tempatnya yang semula.


" Bapak mau langsung punya cucu? " tanya Dimas sambil menaruh piring penuh buah itu di meja yang terletak disamping Bapak.


" Maunya le.. apa kamu punya cara supaya Bapak cepat dapat cucu..?"


mendengar kalimat bapak Dimas tertawa,


" Pak, itu semua kan tergantung mas Aksara dan Rania.." jawab dimas,


" ya itu.. repot, tidak tau Aksara sekarang bagaimana.. kalau Rania sih pasti manut manut saja.." keluh Bapak,


" Tenang saja pak.. asal setelah menikah nanti saya tetap di ijinkan berteman dengan Rani oleh mas Aksara, saya tidak akan bosan bosan menasehati Rania agar cepat cepat memiliki momongan.." ujar dimas,


" soal itu tenang saja, Bapak sudah bicara pada Aksara.. ,Bapak sudah menjelaskan kalau kalian sudah seperti saudara, jadi tidak ada alasan untuk cemburu atau yang lainnya.." jawab Bapak membuat dimas tenang.


" Wah.. alhamdulillah kalau begitu Pak, saya tenang..


soalnya mas Aksara kalau lihat saya itu sinis begitu.."


" itu cuma luarnya saja.. dia itu anak yang hangat dan penyayang..


tapi karena Bapak, dia berubah seperti itu.." nada bicara bapak di penuhi rasa kecewa pada diri sendiri.


" Sudah Pak.. yang penting kan mas Aksara sudah pulang, dan beliaunya mau menuruti kemauan Bapak..


Bapak yang tenang pikirannya..


mereka berdua pasti bahagia pak.." dimas tersenyum pada bapak dan meyakinkan Bapak.


Semua berkas yang berhubungan langsung dengan Rania sudah selesai, dan Aksara akan menyelesaikan sisanya.


Aksara mengantar Rania menuju Bandara Sultan Hassanudin, mereka berhenti sejenak di daerah Maros untuk makan siang.


" Ini yang namanya konro? " tanya Rania mencicipi makanan di hadapan nya,


" iya, kau harus mencobanya.. " jawab Aksara sambil memeras potongan jeruk nipis dan mencampurnya dengan kuah konro.


" Apa kau menyukainya?" Aksara menatap Rania menunggu jawaban,


Rania mengangguk, lalu meneruskan makannya.


Tak banyak pembicaraan diantara keduanya, apalagi gara gara perbincangan mereka yang terakhir kali suasana menjadi semakin kikuk saja.


Setelah makan mereka melanjutkan perjalanannya ke bandara, Rania mengikuti langkah Aksara pelan, melihat langkah Rania yang pelan Aksara tiba tiba mengandeng tangan Rania dan mengajaknya berjalan lebih cepat.


" Aku mengantarmu sampai disini saja, masuklah " suara Aksara tenang,


" iya mas.." jawab Rania mengambil travel bag nya dari tangan kiri Aksara.


" Hati hati, dan jangan bicara pada orang asing" imbuh Aksara,


" iya mas.. " jawab Rania pendek, ia merasa di perlakukan seperti anak anak yang tidak pernah menempuh perjalanan jauh.


Rania berlalu, namun Aksara masih menatap punggung Rania, sampai akhirnya Rania menghilang di dalam keramaian para penumpang lain.


Dua minggu berlalu, hingga akhirnya mereka sampai pada hari H, ada perubahan rencana 3 hari sebelum acara, Aksara pun buru buru datang sebelum hari H,


itu di karenakan kondisi Bapak yang tiba tiba saja kurang baik,


Bapak yang sudah bisa jalan jalan tiba tiba saja terus terbaring,

__ADS_1


itu membuat semua orang khawatir tidak terkecuali kedua calon pengantin,


karena itu semua keluarga men cancel semua acara.


Mereka hanya berfokus untuk akad nikah saja,


setelah bapak sembuh mereka bisa melanjutkan resepsi pernikahan nya.


Rania tampak sudah siap dengan kebaya potongan kutu baru berwarna putih,


tentu saja di sanggul solo putrinya di hiasi dengan bunga mawar segar berwana merah senada dengan warna lipstick Rania,


tidak lupa sari ayu yang menambah keanggunannya di sematkan pula di sanggulnya bagian atas.


Riasan mata yang menawan membuat mata Rania tampak lebih lebar dan tajam.


Rania menjadi pengantin yang benar benar Manglingi ( berbeda dari biasanya, lebih cantik ) hari ini,


ketika ia keluar dan duduk di depan penghulu mata para keluarga berdecak kagum, semua bahagia menyaksikan Rania yang begitu cantik.


Namun berbeda dengan Aksara, laki laki yang menggunakan warna baju pengantin senada itu cukup dingin dan tenang,


laki laki yang hari harinya berseragam dan memakai kaos berkerah itu terlihat berbeda sekali, tentu saja ia tampak tampan dengan setelan baju pengantinnya.


Hingga akhirnya Ijab Qobul berlangsung,


Aksara yang memang sudah siap.. melaksanakan semuanya tanpa kesalahan sedikitpun.


semua berjalan lancar dan khidmat sesuai dengan rencana.


Bapak yang menyaksikan itu dari kursi nya tampak bahagia sekali,


bahkan bapak sampai menitik kan air mata haru ketika melihat Rania mencium tangan Aksara, dan Aksara mencium kening Rania di hadapan semua orang.


Kedua nya tidak memperlihat kan wajah tertekan sama sekali, mereka berdua menikah selayaknya orang yang saling mencintai dan tidak di paksa untuk menikah.


rasa lega menyelimutinya hati Bapak,


senyum yang lebar dan cerah tersungging di wajah Bapak seharian ini,


Dimas, dan rekan rekan guru..


marlin dan farhan juga hadir, meski resepsi tidak jadi di adakan mereka berdua tetap hadir,


mereka merasa tak pantas melewatkan pernikahan sahabat baiknya.


" Bapak tidur ya?, istirahat.. " Aksara membantu membaringkan Bapaknya di atas tempat tidur.


" le.." panggil bapaknya,


" inggih pak.." jawab Aksara kemudian duduk disamping tempat tidur bapaknya,


" Bapak minta maaf yo le.. " suara bapaknya lirih,


" Bapak ngomong apa.. Bapak itu tidak punya salah pak, saya yang minta maaf pak.. sudah tidak pulang selama ini dan tidak merawat bapak dengan baik.. " Aksara tertunduk,


" Bapak sudah nggak punya hutang ya le..


rani sekarang adalah istrimu.. jaga dan rawat baik baik.. "


Kalimat Bapak membuat Aksara terhenyak sejenak,


" Pak.. Aksara minta maaf pak.. Aksara minta maaf.. tapi tolong Bapak jangan bicara seperti ini, Aksara akan jaga rani baik baik.. tapi Bapak harus terus sehat untuk mengawasi kami.."


Aksara menggenggam tangan Bapaknya dan menciumnya, rasa takut timbul di hatinya,


"saya temani ya pak.. saya tidur disini?"


" lho.. pengantin baru kok malah mau tidur sama Bapak..


wes sana, temani Rani..

__ADS_1


besok bilang rani suruh masak kolak pisang yo lee.." wajah bapak tetap saja sumringah meski tubuhnya lemas.


Sebenarnya keluarga sudah membawa Bapak kerumah sakit, namun dokter menyarankan untuk rawat jalan, karena menurut dokter kondisi Bapak masih baik, bisa makan dan minum dengan baik..


dan semangat Bapak yang tinggi, membuat dokter mengijinkan Bapak untuk pulang.


karena penyakit Bapak adalah faktor usia yang sudah lanjut..


kondisi Bapak naik turun, Aksara sudah menyadari itu, namun tetap saja seorang anak ingin memberikan yang terbaik untuk orang tuanya.


Akhirnya karena Bapak meyakinkan, Aksara kembali keruang tamu untuk berbincang dengan keluarga.


Aksara juga menyiapkan kamar untuk Marlin dan Farhan.


" Sudah.. jangan bingung, rawat saja orang tuamu..


kami sudah memesan tiket pulang besok jam 7 pagi.. " ujar Farhan,


" Iya, Kau tenang saja.. " Marlin juga menenangkan.


Aksara masuk ke dalam kamar Rania, Rania yang kaget langsung bangkit dari tempat tidur, wajahnya kusut karena kelelahan dan sedikit pusing karena sanggul yang menempel di kepalanya mulai dari pagi sampai siang.


Aksara menatapnya dari atas ke bawah,


"ck.. lagi lagi kau bertingkah seperti aku akan memakan mu.. " kata Aksara sambil berdecak kesal.


" Bapak ingin kau buatkan kolak pisang, jadi siapkan besok pagi.


Aku juga harus mengantar teman temanku pagi pagi sekali, jadi beritahu mbak Yuni sekarang" lagi lagi dengan nada datar.


" Mas.. " panggil Rania dengan raut sedikit kesal,


" hemm " jawab Aksara pendek,


" tolong lain kali ketuk pintu mas," nada Rania benar benar kesal, ia kaget..


di tambah lagi dia sudah tegang mulai sore gara gara candaan orang orang karena malam pertama.


Rania pun sengaja masuk ke kamarnya dan tidur cepat cepat.


Aksara mana tau perasaannya campur aduk setengah mati ketika mendengar pintu kamarnya di buka.


" Apa kau sudah berani mengajakku ribut.. padahal belum sehari kau menjadi istriku?" Aksara mendekat,


" bukan begitu mas, apa mas tau betapa kagetnya aku?" jawab Rania mundur karena Aksara sudah berdiri tepat di hadapannya.


" Kaget kenapa? kaget karena takut?" tanya Aksara sambil tersenyum sinis.


" Aku bukan tipe pemaksa, jadi tenang tenanglah.. " ujar Aksara lalu berlalu pergi meninggalkan Rania.


Aksara keluar dengan perasaan sedikit kesal, ketakutan dan kewaspadaan Rania terlihat begitu jelas di mata Aksara.


Pagi ini Rania membuatkan kolak pisang, Ia mengantarkan ke kamar Bapak dan menyuapi bapak.


" nggak makan nasi dulu Pak??" tanya Rania sedikit khawatir karena pagi pagi malah minta kolak.


" Nasinya nanti saja.. " jawab bapak sambil mengunyah pisang yang ada di mulutnya.


Wajah Bapak terlihat lebih segar dari kemarin,


pucat yang terlihat kemarin kemarin sudah hilang pagi ini,


itu membuat semua orang merasa senang melihat bapak yang terlihat lebih sehat.


" Mungkin karena hawa pengantin baru, jadinya seisi rumah jadi lebih sehat..." komentar tante Irma dari balik pintu sembari membersihkan kardus kardus kue .


" Mungkin Ir, tapi aku akan lebih sehat lagi kalau segera di beri cucu.." Bapak tersenyum lebar, disambut dengan tawa dan celoteh tante Irma,


" lagi pula Aksara sudah 33, kamu pun 25.. itu sudah usia melewati batas..


jangan KB lho ran, nanti malah nggak hamil hamil.." imbuh tante Irma benar benar membuat Rania merona karena malu.

__ADS_1


" Kalian menginap di resort kemarin saja barang 3 hari atau seminggu, bapak biar tante yang tunggu.."


" Mas Aksara tidak mau, jadi kami dirumah saja menunggu bapak.. kami juga sudah sepakat.." jawab Rania sambil terus menyuapi Bapak.


__ADS_2