
" Kau benar mau berhenti mengajar?" tanya tante Irma sembari membantu Rania melipat baju baju Rania yang akan di masukkan ke koper.
" Mas Aksara yang menyuruhku berhenti.." jawab Rania dengan pandangan tetap tertuju pada tumpukan baju yang terlipat, ia terlihat kurang bersemangat.
" kalau kau tidak mau kau boleh menolak.." tante Irma menghela nafas melihat wajah Rania yang lesu itu.
" Tidak te.. aku ikut suami ku saja, lagi pula.. kalau mas Aksara sudah memutuskan seperti itu, aku tidak boleh melawannya.."
" baguslah kalau begitu.. ikutlah kemanapun dia pergi.." tante Irma membelai Rambut Rania,
" apalagi yang membuat mu resah sih nduk..?, suami mu itu memang sedikit keras.. tapi dia sayang padamu.. berat padamu..
buang jauh jauh rasa takutmu.. jadilah pemberani, apapun yg terjadi di masa depan hadapilah.. "
Rania diam tak menjawab,
" seharusnya, kalian itu.. semakin mencintai satu sama lain..
karena sudah pernah terjadi hal hal buruk di masa lalu..
apalagi tante dengar ada Wulan disana..
kau tau benar perempuan itu dulu mengejar suamimu mati matian..
tapi kenapa selama ini kau malah tenang disini nduk..?"
" saya bukannya tenang tante.. " jawab Rania pelan,
" saya takut, tapi yang saya takuti terlalu banyak..
saya trauma karena di tinggalkan ayah kandung saya..
dan... mas Aksara juga pernah pergi meninggalkan saya dan Bapak..
dia dengan mudah meninggalkan kami selama 10 tahun dan tanpa kabar apapun..
apa menurut tante mudah bagi saya menghilangkan ketakutan itu.." tatapan Rania sayu,
Tante Irma terhenyak mendengar kata kata Rania,
" jadi selama ini kau meragukan suami mu?"
Rania mengangguk lemah mendengar pertanyaan tante Irma,
" nduk.. ya Allah ndukk... tante harus ngomong apalagi..
Aksara itu bukan pergi karena keinginannya, tapi Bapakmu yang mengusirnya..
pahamilah bagaimana rasanya tidak di percaya oleh Bapak sendiri.."
jelas tante Irma dengan pandangan sedih,
" Mas mu iku mesakne...( kakakmu itu kasian..), bukan hal yang mudah mempertahankan perasaannya padamu selama 10 tahun..
dia tidak diam walaupun jauh darimu dan Bapakmu..
kau pikir dari mana biaya kuliahmu itu Ran...?
suami mu..
itu suami mu..
orang kau ragukan,
orang yang masih belum ada ikatan denganmu selain kakak tiri..
kalau Aksara mau, dia bisa melupakan kalian..
kamu dan Bapakmu.."
Mendengar penjelasan tante Irma yang panjang lebar Rania tidak bisa berkata apapun, entah kenapa hatinya pedih sekali.
" Harapan suamimu tidak banyak.. dia ingin membahagiakanmu.. " imbuh tante Irma,
" maafkan saya te.. maafkan saya yang belum mampu keluar dari ketakutan saya akan masa lalu.." ucap Rania dengan mata berkaca kaca.
" Tante apakan istriku???" tanya Aksara yang tiba tiba saja masuk, ia melihat Rania yang hampir menangis dan tertunduk,
" di marahi ya sama tante?" Aksara mendekat ke Rania,
__ADS_1
" enggak Mas.. tante mana pernah marah marah.." jawab Rania mengangkat wajahnya dan tersenyum,
" yang di bahas apa sih sampe begitu?" Aksara masam, ia paling tidak suka melihat wajah Rania sedih atau muram.
" nggak sopan, ada orang tua ngomong langsung di putus, nuduh nuduh tante lagi?!" tante Irma melotot,
" cuma tanya te.. tanya.. bukan nuduh.." jawab Aksara pelan.
" Kapan kalian berangkat?" tanya tante Irma kemudian,
" besok sore.. "
" jangan lupa ke kuburan Bapakmu dulu, terus pamit om Surya.."
" nggih.." jawab keduanya bersamaan.
" ya wes.. antar tante pulang.."
" masih siang te, mau kemana?"
" arep turu, wes ndang..?! ( mau tidur, buruan..?!)" tante Irma bangkit.
Setelah mengantar tantenya pulang Aksara berniat membawa Rania untuk berbelanja dan makan, Aksara membawa Rania ke tempat tempat yang dulu sering mereka kunjungi.
Dan yang terakhir dan yang terfavorit adalah bakso cak Ri,
situasi yang nyaman tiba tiba berubah kurang nyaman karena Radit dan beberapa temannya masuk, ia tampak sedang beristirahat untuk makan siang setelah poros.
Empat polisi muda yang berseragam lengkap sangat menarik perhatian, tentu saja usia mereka jauh di bawah Aksara, meja paling ujung ada beberapa gerombolan gadis gadis muda, entah masih SMA atau anak kuliahan, mereka bergantian melirik dan mencuri pandang pada 4 polisi itu.
Aksara menatap istrinya yang fokus makan bakso, sepertinya Rania tidak tau kalau diantara polisi polisi itu ada Radit.
Aksara sedikit lega.. entah kenapa, namun kelegaannya itu tidak berjalan lama, Radit datang menghampiri ketika Aksara dan Rania berdiri untuk pulang.
" Apa kabar pak, sehat.." Radit mengulurkan tangannya,
" alhamdulillah.. " jawab Aksara mengulas senyum, keduanya berjabat tangan.
" Bu Rania..?" Radit mengalihkan pandangan nya pada Rania dan tersenyum manis,
" alhamdulillah sehat juga pak.. sedang istirahat siang?" tanya Rania basa basi,
" ya sudah kalau begitu, kami duluan.. " Aksara memotong, ia tersenyum sekilas lalu setengah menarik tangan istrinya agar mengikuti langkahnya sebelum Radit sempat menjawab.
" Kenapa sih??" tanya Rania melihat raut Aksara masam sesampainya dirumah,
" tidak.." jawab Aksara sambil meminum kopi nya yang sudah mulai dingin,
" jangan masam begitu mukanya, teman temanku mau kesini.. nanti mereka takut sama Mas.."
" memangnya suamimu ini hantu? mereka yang takut kok aku yang salah?" jawab Aksara makin masam,
Rania diam, ia hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat raut wajah suaminya.
" Kalau mau ayo.." ujar Rania pada suaminya yang bibirnya sudah semeter itu.
Rania berfikir Aksara seperti itu karena Rania tinggal tidur semalam, dan ketika ia bangun tante irma sudah disini dan Rania sibuk berbincang dengan tante.
" mumpung teman temanku masih ke pasar belanja buah.." imbuh Rania membuat Aksara langsung menatapnya.
" ngajak?" tanya aksara pura pura tidak antusias,
" hemm... ya sudah kalau nggak mau mas.. " Rania berjalan ke arah dapur.
Melihat Rania yang berjalan menjauh Aksara bangkit dan mengikutinya,
" tidak bertanggung jawab sekali.. setelah menggoda langsung pergi.." ujar Aksara sembari mengangkat tubuh istrinya yang mungil itu tanpa aba aba,
" siapa yang menggoda?"
" kau menawarkan dirimu secara tidak langsung padaku siang siang begini.. sebagai suami yang baik tentu saja aku tidak bisa mengabaikan ajakan mu.." jawab Aksara mengangkat tubuh istrinya ke dalam kamar.
Anam, Rehan, Dimas, Ina dan Jihan para guru muda sudah berkumpul di rumah Rania.
Mereka membawa buah buahan untuk rujak manis dan beberapa ikan segar untuk di panggang.
" Mbak Yun, Rania mana sih nggak keluar keluar?!" tanya Dimas yang sudah menunggu 20 menitan dengan teman temannya, dan hanya mbak Yuni yang keluar dengan membawa minuman dan cemilan cemilan untuk di suguhkan.
" Anu Mas... sebentar lagi juga keluar.. sabar.." jawab mbak Yuni mesem,
__ADS_1
" Wah.. iki, nyuruh kesini malah di tinggal tidur! biar ku bangunkan!" Dimas bangkit dan berjalan dari balai ke ruang tamu,
" Berisik, bertamu apa bikin rusuh.." Aksara keluar dari kamar.
" Lha Rania e endi Mas? ora metu metu di enteni.." Dimas yang sedikit sewot menurunkan suaranya ketika melihat Aksara,
" ayo ayo..?!" Rania keluar dari kamar dengan rambut yang basah.
" Ealah... siang siang Mas, mbok nanti nanti.. " komentar Dimas setelah sadar kenapa ia menunggu lama dan Rania tidak kunjung keluar.
" Kau mulai berani memprotes ku dirumah ku sendiri?"
" mana berani.. Mas maha benar.." jawab Dimas kemudian berlalu sambil menggerutu.
Semua orang berkumpul di halaman samping untuk memanggang ikan, Aksara yang sebenarnya kikuk terpaksa ikut bergabung untuk menghargai teman teman istrinya.
Aksara yang tak ingin banyak bicara menawarkan diri untuk memanggang ikan saja, sementara yang lain membuat bumbu dan memasak makanan tambahan.
" Ibu benar benar mau pindah?" tanya Ina, sambil mengiris bawang merah,
" iya.. suami saya sudah memutuskan itu bu.." jawab Rania tersenyum,
" maaf ya.. tidak bisa mendampingi ngobrol lagi.." imbuh Rania membuat Jihan dan Ina menatapnya sedih,
" jangan begitu.. nanti saya jadi tidak rela pergi..." Rania ikut sedih,
" jangan lupa selalu hubungi kami ya.." kata Ina,
" iya.. saya juga tidak selamanya disana.. suami saya sedang mengusahakan kembali kesini.."
" baguslah.. " jawab Ina sedikit lega,
"oh ya.. bu Jihan..." Rania mengalihkan pandangannya pada Jihan,
" iya bu?" jawab Jihan
" sudah sembuh sepenuhnya?"
" alhamdulillah..." jihan mengulas senyum,
" saya titip Dimas.. "
Jihan terhenyak, ia sedikit kaget kenapa Rania menitipkan Dimas padanya.
" Dimas itu tidak pandai berbohong bu..
sebagai temannya saya sudah hafal betul,
tolong ya bu Jihan.. harap di maklumi..
dia memang terkadang seperti anak anak..
tapi di saat yang genting dia bisa di andalkan.."
" kok nitipnya ke saya? ada ada saja bu Rani ini.." Jihan mengalihkan keseriusan Rania,
" Dia kalau bercanda ya bercanda.. kalau serius ya serius bu Jihan.. Dimas sudah seperti saudara saya sendiri.. "
Jihan hanya bisa diam sekarang, mulutnya terkatup rapat, ia malu pada Rania dan Ina.
" Tapi ada rencana kembali kesini?" tanya Rehan pada Aksara yang sibuk mengipas,
" tentu.. saya di lahirkan disini, saya juga bertemu istri saya dan tumbuh bersama disini, pastinya saya harus kembali kesini bersama istri saya.." jawab Aksara tersenyum Ramah,
" Wahh.. njenengan sayang sekali pastinya pada Bu Rani.." celetuk Anam yang sedikit terpukau dengan tubuh Aksara yang tinggi dan atletis,
mendengar kata kata Anam Aksara hanya tersenyum sembari mengangguk pasti.
" Mas? aku boleh main kesana kalau aku libur ?" Dimas nyeletuk sembari membolak balik ikan di atas bumbu.
" boleh saja, kau mau bawa calon istrimu?" tanya Aksara mengejek,
" pacar saja tidak punya, apalagi calon istri.." gerutu Dimas,
" lalu apa yang kau tunggu?"
" tidak ada yang ku tunggu.. sudahlah, pokoknya aku mau liburan kesana.." jawab Dimas dengan ekspresi kurang bersemangat.
Aksara dan lainnya hanya tersenyum saja melihat Dimas seperti itu.
__ADS_1
mereka melanjutkan tugas masing masing dan sesegera mungkin menyelesaikan masakannya karena hari mulai petang