Aksara Rania

Aksara Rania
Itu bukan salahmu nduk..


__ADS_3

" Ijin berapa hari?" tanya sang papa,


" tiga hari pa," jawab Wulan pendek,


" papa sudah telfon dokter Adrian, berkunjunglah kesana nanti sore, biar Fahim yang mengantar.."


" Fahim ada kuliah pah.." jawab Fahim sembari menguyah kerupuk di tangannya.


" Ijin saja, toh tidak setiap hari mbak mu pulang.."


" biar saya berangkat sendiri saja," sahut Wulan.


" Kenapa Ami dan ayahnya tidak ikut?"


" Mas Ilham sedang banyak kegiatan di kantornya, dan ami sedang ada ujian di sekolah.." jawab Wulan menutupi masalahnya, dengan kondisi papanya yang sakit sakitan seperti sekarang..


tidak mungkin dia akan mengatakan yang sesungguhnya.


" Pindah saja kesini, papa ingin melihat Ami setiap hari.."


Wulan terdiam,


" si gemoy itu.. aku juga kangen mbak.. " Fahim ikut ikutan, membuat Wulan makin stress saja.


" Bagaimana perkembangan kesehatan papa?" tanya Wulan mengalihkan pembicaraan,


" semua normal, hanya gula papa saja yang tinggi.. padahal papa juga tidak pernah makan aneh aneh.." jawab papa Wulan sambil mengambil tongkat yang biasanya membantunya untuk berjalan,


" papa jangan banyak pikiran.." ujar Wulan membantu papanya berdiri.


" Kau harus baik baik.. agar aku bisa tenang.." ucapan papanya itu seperti menambahkan satu beban lagi.


" Sudah, biar Ine yang membantuku.." kata papanya melepaskan tangan Wulan dan beralih pada Ine, perawat yang biasa menjaga dan membantunya setelah sembuh dari stroke.


" Buk?!" panggil Wulan, lalu masuk begitu saja ke dalam warung makanan kecil yang terletak di pinggir lapangan tempatnya dulu latihan fisik.


" Lhoo? arek ayuu.. ?!" si ibu penjual berjalan mendekati Wulan dan langsung memeluk Wulan.


" Kapan pulang kesini?"


" baru kemarin buk.." jawab Wulan sembari mencium telapak tangan si ibu yang sudah terlihat renta itu,


Rambutnya hampir seluruhnya memutih.


" Kiriman Wulan kurang tho buk?, kok ibuk jualan terus.. mbok ya istirahat buk.." ujar Wulan dengan tatapan sedih,


" Lebih lebih nduk.. " jawab si ibu duduk disamping Wulan,


" Ibuk nggak bisa diam, badan ibuk pegel pegel kalau diam.." ia tersenyum sambil mengelus lengan Wulan.


" Ibu jangan memaksakan diri.. si anak bandel itu sering jenguk ibu kesini kan?"


" Fahim seminggu sekali kesini.. setiap jumat sore.."


Wulan mengelus punggung si Ibu,


" buk.. sehat sehat nggih.. Wulan jauh, nggak bisa jenguk ibuk terus.."


" iya nduk.. kamu juga sehat sehat.. piye bojomu karo anakmu? ( bagaimana suami dan anakmu?)"


Wulan tersenyum tipis,


" Sehat buk..." jawab Wulan,


" ya pasti sehat, suamimu gagah ganteng begitu.. anakmu juga gembul.. lucu.."


" nggih buk.. mereka tidak ikut kesini karena kesibukan, maaf nggih buk.."


" namanya saja orang sibuk nduk.. ibuk ngerti.. kamu kesini saja ibu sudah senang sekali.."


ujar si ibu yang pernah bekerja menjadi asisten rumah tangga dirumah Wulan sejak Fahim lahir.


Namun tanpa alasan yang jelas ibuk tiba tiba berhenti bekerja setelah setahun meninggalnya ibu Wulan.


Setiap di tanya, jawaban ibu hanya tidak kuat..

__ADS_1


beliau tidak kuat melihat tekanan di dalam rumah itu, sudah bertahun tahun beliau menyaksikan konflik di dalam rumah itu, sehingga beliau merasa harus berhenti demi mendapatkan ketenangan.


" Sampean mau kemana?" tanya si ibu sambil menyuguhkan susu jahe kesukaan Wulan,


" Mau ke dokter buk.." jawab Wulan langsung menyeruput susu jahe hangatnya,


" Dadanya masih sering sakit?" tanya si ibuk dengan raut cemas.


" Kadang.. kalau ingat Mama sama Abi saja.." Wulan tersenyum ringan,


" Wah.. mumpung disini, aku di buatkan tahu bumbu buk.. yang pedes.." imbuh Wulan ingin mengalihkan pembicaraan.


" Jangan banyak pikiran.. mamamu sama anakmu sudah tenang.. yang legowo nduk..


biar tubuh dan pikirannya sehat..


eman.. ayu ayu.. tapi pikirane ndak karu karuan.."


si Ibuk tetap menasehati,


" saya sehat buk.. ibu sama saya saja sehatan saya.." Wulan tertawa,


" Ami itu rejeki.. di rawat baik baik, jangan terus meratapi anak pertamamu..


jangan terus menyesali kematian mamamu..


itu bukan salahmu nduk.. "


" salahku buk.. mama meninggal karena kelakuanku.. " jawab Wulan cepat,


" nak.. jodoh, mati, rejeki gusti Allah yang ngatur.. meski Wulan bagaimanapun kalau belum waktunya mama di panggil.. mama juga akan tetap hidup sehat..


nduk..


yang bisa menyembuhkan Wulan itu diri Wulan sendiri..


bukan dokter, bukan obat.. bukan orang lain..


apa yang ada disamping Wulan sekarang di syukuri..


di jaga..


Wulan menatap si ibuk, matanya mulai berkaca kaca,


" Owalah nduk... ibuk tau kamu capek.." melihat Wulan yang seperti itu si ibu tak kuasa menahan air matanya, di peluknya Wulan.


" Di maafkan ya nduk semuanya.. Papamu.. suamimu.. biar hidupmu tenang.." ujar si ibu membuat air mata Wulan yang biasanya sulit untuk keluar itu akhirnya tumpah.


" Wulan tidak bisa lupa buk.. kalau Mas Ilham dulu tidak begitu.. mungkin mama dan anakku masih hidup buk..." jawab Wulan di sela sela tangisnya.


" Nduk.. sing sabar..


suamimu sudah menyadari kesalahannya nduk.. papamu juga sudah tidak sekeras dulu..


wess... mandek nduk..


berhenti.. sing legowo atine.. seng legowo.."


nasehat ibuk sambil terus memeluk Wulan, ia berusaha menguatkan hati Wulan, karena ia tau.. pikiran Wulan sedikit terganggu karena tekanan tekanan yang ia didapatkan selama ini, itu semua ia ketahui dari Fahim.


Jika dulu ia sering heran kenapa Wulan begini begitu, sejak Fahim menceritakan masalah apa yang sebenarnya terjadi pada diri Wulan si ibu jadi menyadari.. bahkan merasa sedih sekali dengan kondisi Wulan,


Tubuhnya sehat, namun jiwanya penuh luka..


batinnya tersiksa dengan rasa bersalah.


Aksara Masuk ke dalam Ruangannya, ia membawa beberapa kotak bakpao dan bakpia di tangannya,


" lho?" Aksara sedikit kaget ada Ilham di ruangannya,


" Bang Ilham menunggumu lama, pulang makan siang atau apa kau ini.." omel Marlin,


" ya makan siang lah.. aku lupa tadi pagi mau bawa ini, jadi ambil sekalian.." Aksara menaruh bawaannya.


" Piye Mas? sambil di makan.. " kata Aksara duduk di sebelah Ilham,

__ADS_1


" Aku mencari Wulan.. " ujar Ilham, wajahnya kusut, kantung matanya terlihat jelas.


" Aku tidak melihatnya Mas, di ruangannya apa tidak ada?" jawab Aksara,


" kau ini bagaimana, dia ijin.. sudah 2 hari tidak masuk.. " sahut Marlin,


" ya mana aku tau.. " jawab Aksara membuat pandangan Ilham layu.


" Kenapa Mas? dia belum menarik pengajuannya?"


Ilham menggeleng menjawab pertanyaan Aksara.


" Padahal sudah ku datangi dengan Farhan kapan hari itu Mas..


ku nasehati baik baik.."


Aksara tidak habis pikir.


" Apa mungkin dia pulang kerumah orang tuannya mas?, coba mas telfon adiknya.."


saran Aksara,


" tidak.. aku takut adiknya akan menyampaikannya pada mertuaku kalau rumah tangga kami sedang bermasalah.."


ujar Ilham ragu,


" kan Mas bisa pura pura nanyanya, gausah ngomong kalau dia ajukan cerai dulu.. "


" Ah.. aku tidak tau sa.. pikiranku tumpul.."


Aksara dan Marlin saling menatap, keduanya bingung melihat Ilham yang seperti itu.


" Tenanglah mas.. komandan masih menimbang nimbang, beliau juga tidak mungkin asal mengabulkan pengajuan kalian begitu saja.." Aksara menenangkan,


" Menghadap lagi saja ke komandan mas.. sendirian saja tanpa istrimu..


katakan kalau kau sebenarnya keberatan.." imbuh Aksara memberi masukan,


" dari pada begini.. Mas sok kuat, padahal mas menyiksa diri sendiri..


sudahlah yakin, komandan tidak akan mengijinkan kalau salah satu pihak masih mempertahankan.. lagi pula tidak ada kesalahan yang berat.."


Aksara mengambil bakpia dan menaruhnya di telapak tangan Ilham.


" Makan dulu nih.. rasanya bikin kangen kota tercinta.." Aksara mengangkat kedua alisnya sembari tersenyum,


" sudah.. jangan stress Mas, kalau nanti ketemu.. langsung sergap.." Aksara tertawa,


" sergap bagaimana maksudmu? aku tidak mau pakai cara kasar.." jawab Ilham,


" siapa bilang cara kasar, sergap seperti kemarin yang Mas cerita itu, bawa kemana kek barang seminggu dua minggu,


pokoknya projectnya pulang pulang sudah ada adik ami di perut.. ahahaha..!"


Aksara tertawa,


" jangan dengar kata kata Aksara bang?! sesat dia itu..!" Marlin menengahi sembari melempar Aksara dengan spidol.


" Sesat bagaimana?! itu cara yang ampuh.. ?!" jawab Aksara yakin.


" Ampun buatmu, belum tentu ampuh buat orang lain.. !" Marlin setengah melotot,


" begini saja bang.. kalau saran ku, jangan ke kantor..


ke kediaman komandan saja..


bicara saja terus terang mau abang bagaimana,


kalau di kantor.. rasanya abang kurang leluasa bicara ini itu.. " saran Marlin,


Ilham diam berfikir, sedangkan Aksara mengangguk ngangguk,


" Ah.. masuk akal itu Mas..." ujar Aksara,


" Aku ku pikirkan itu.. " jawab Ilham bimbang,

__ADS_1


" sudah.. jangan terlalu banyak berfikir.. ajak Ami juga.. biar komandan tau bagaimana rindunya Ami pada ibunya.."


tambah Aksara meyakinkan Ilham.


__ADS_2