Aksara Rania

Aksara Rania
Istrimu sakit apa??


__ADS_3

Langkah Marlin terhenti, seketika hatinya tidak enak melihat Aksara yang duduk tertunduk sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Ada apa ini??" keluh Marlin dalam hati,


ia tak ingin mendengar kabar yang tidak menyenangkan, sungguh..


tadi saja saat Aksara telfon ia sudah kaget, karena suara Aksara bergetar dan berat.


" Aksa?!" panggil Marlin mendekat,


Aksara langsung bangkit,


" istrimu sakit apa?" Marlin langsung bertanya karena ekspresi Aksara membuatnya khawatir.


Bukannya menjawab, mata Aksara malah berkaca kaca,


" eh?! kenapa istrimu kenapa??" Marlin semakin bingung ketika Aksara tiba tiba memeluknya,


" aku ingin menangis.." suara Aksara lirih,


" menangis lah..., tapi bicara dulu padaku, ada apa?? istrimu sakit apa??" tanya Marlin khawatir sekali, ia menepuk punggung Aksara bertujuan menenangkan Aksara meski hatinya sendiri resah karena tidak tau apa penyakit yang di derita istri Aksara.


" Tenanglah.. semua penyakit bisa di sembuhkan, jadi jangan berfikir yang tidak tidak.." imbuh Marlin lagi masih menenangkan Aksara.


" Kau laki laki hebat, tenanglah.. istrimu akan baik baik saja.." Marlin terus memberi semangat dengan wajah resah.


" Istriku baik baik saja.. aku hanya terlalu bahagia.." ucap Aksara tak lama kemudian lalu melepas pelukannya dan memandang Marlin dengan tenang,


" terlalu bahagia maksudmu?" Marlin mengerutkan dahinya seketika, ia terus saja menatap Aksara yang sibuk mengusap wajahnya agar tak terlihat kalau ia baru saja menangis.


" kalau kau bahagia lalu kenapa kau menangis??" lanjut Marlin bertanya, ia masih saja bingung.


" Tentu saja karena aku terharu..


Alhamdulillah, ternyata istriku hamil..?!"


lagi lagi Aksara memeluk Marlin dengan wajah seperti awal, sialnya Marlin benar benar tidak tau kalau itu adalah ekspresi terharu nya Aksara.


" Aku senang sekali, saking senangnya aku sampai bingung??!,


akhirnya aku bisa menggendong anakku sendiri..?!" lagi lagi laki laki itu hampir menangis saat mengatakan itu.


Mendengar itu Marlin rasanya ingin memelintir tangan Aksara, bagaimana bisa ekspresi wajahnya sesedih itu saat mendengar istrinya hamil, bukankan ia seharusnya berekspresi "hore!!!"


sehingga ekspresinya itu tidak membuat Marlin salah faham dan sangat frustasi sekarang,


wajahnya muram sekarang karena kesal hampir di buat jantungan,


bukan karena tidak senang mendengar kabar bahagia, tapi karena ia merasa gemas melihat tingkah Aksara,


ia merasa malu sudah bicara macam macam dan memberikan semangat juga tepukan bahu yang penuh pengertian dan kelembutan itu.


Marlin menepuk dahinya,


"kau membuatku tampak bodoh setengah mati, kau sadar itu..? jantungku hampir melompat keluar karena ekspresi mu yang bertolak belakang dengan kabar yang kau sampaikan.." Marlin setengah menggerutu,


" Aku hanya bahagia saja.."


" kalau ini berita bahagia, seharusnya kau memelukku sambil tersenyum, bukan memelukku sambil menangis..


membuat orang frustasi saja..


ehh..! benar benar kau ini.." Marlin masih mengomel,


Tapi melihat wajah Aksara yang menyedihkan mendadak kekesalannya hilang.


" Kemari!" tegas Marlin membuka lengannya dan memeluk Aksara,


" selamat karna kau akan menjadi ayah, aku turut bahagia, jaga anak dan istrimu baik baik.. " ucap Marlin sambil menepuk punggung Aksara lagi, kali ini Marlin yang terharu,


" terimakasih.. " balas Aksara juga menepuk punggung Marlin, Marlin ingat sekali saat istrinya hamil, Aksara juga melakukan hal yang sama seperti yang di dilakukannya sekarang,


mengucapkan selamat, dan selalu memberi dukungan.

__ADS_1


Marlin merasa Aksara sudah bukan teman, tapi layaknya saudara.. meski mereka dilahirkan di tempat yang jauh berbeda, baik bahasa bahkan adat dan budaya..


tapi itu tidak mempengaruhi pertemanan mereka, justru perbedaan semakin mempererat pertemanan mereka.


" Istrimu sudah tau?" tanya Marlin menaruh sebotol minuman di samping Aksara,


" Belum, begitu infus di pasang dia tertidur lagi, bahkan sampai pindah ruangan pun dia tetap lelap..


biarkan saja, besok aku akan memberi tahunya.."


" ya iyalah, sekarang sudah tengah malam, kau sendiri tidurlah..


aku membawa makanan ringan tadi, takutnya kau lapar.. "


" terimakasih, kau pulanglah.. " Aksara tersenyum,


" nah.. begitu, tersenyumlah yang lebar, mau jadi bapak kau ini.. malah menangis membuat orang frustasi..


ya sudah, jangan lupa ijin besok.. " Marlin bangkit dari duduknya,


" siap.. terimakasih ya.. " Aksara berdiri, ia tak mengantar, hanya melihat punggung Marlin yang perlahan menghilang di ujung koridor rumah sakit.


Aksara menatap Rania lekat, ingin rasanya menyentuh jari jari mungil yang pucat itu, tapi ia takut Rania terbangun.


Aksara menjatuhkan pandangannya pada perut Rania, perut yang ramping itu..


" Ada anak ku di dalamnya.." ucap Aksara dalam hati dengan kebahagian yang tak bisa ia gambarkan dengan kata kata,


" sehat sehat sayang.. jangan rewel ya.. kasihan ibumu.. " suara Aksara lirih di dekat perut Rania.


Sayup sayup Rania mendengar suara suaminya, entah ia sedang berbincang dengan siapa, sesekali ia juga mendengar suara tawa dari Aksara.


Rania membuka matanya, pandangannya langsung terbentur dengan langit langit ruangan tempatnya di rawat.


Pandangan matanya berkeliling mencari keberadaan suaminya.


Ternyata suaminya sedang duduk di sofa yang terletak di ujung ruangan, ia tampak sedang menelfon seseorang dengan raut wajah yang ceria.


Rania merasakan sesuatu yang tidak biasa, laki laki berkaos abu abu itu tampak menarik sekali pagi ini, ia terlihat segar dan menawan, belum lagi lesung pipinya yang sesekali muncul itu.


" mungkinkah karena aku rindu.. sudah seminggu lebih kami tidak saling bicara.." ucap Rania dalam hati.


Aksara yang sudah selsai menelfon menyadari kalau istrinya sudah terbangun,


senyumnya langsung terkembang, ia bangkit dan buru buru berjalan mendekat ke arah Rania.


" Ada yang sakit?" suara Aksara lembut,


Rania menggeleng pelan,


" mau ke kamar mandi?"


Rania menggeleng lagi,


" haus Mas.. " suara Rania lirih,


Aksara membantu Rania untuk duduk dan bersandar, lalu mengambil sebotol minuman dengan sedotan.


" Minum yang banyak.. " Aksara terlihat senang sekali melihat istrinya bicara padanya.


" Lapar?" tanya Aksara setelah Rania selesai minum,


Rania mengangguk, kemarin kemarin ia tidak merasakan lapar, tapi entah kenapa sekarang ia mulai merasakan lapar,


apa karena kemarin kemarin pikirannya tidak tenang, tidak bicara dengan Aksara membuatnya sesak..


apalagi ekspresi acuh Aksara.. benar benar membuat ***** makannya hilang.


" Tentu saja lapar.. ini sudah menjelang siang.." Aksara mengambil makanan dari rumah sakit yang sudah diantar mulai jam 7 pagi tadi.


" Makan sedikit saja.. " bujuk Aksara melihat ekspresi istrinya yang nampak tidak tertarik dengan bubur yang ada di tangannya.


Rania menggeleng pelan,

__ADS_1


Aksara menghelas nafas lalu tersenyum,


" mau kue? Marlin membawa kue dan roti tadi malam..?"


Rania mengangguk, Aksara tertawa melihat itu,


" bicaralah.. aku rindu dengan suaramu.. " ujar Aksara sembari menyuapi istrinya biskuit,


" Aku bisa makan sendiri Mas.."


" tentu saja bisa, tapi aku ingin menyuapi mu.."


melihat tatapan suaminya yang lembut itu Rania merasa malu,


" wajahku bisa berlubang kalau mas terus menatap ku seperti itu.." gumam Rania,


" hahahaha..!" Aksara tertawa lepas mendengarnya,


" Kenapa Mas banyak tertawa.. ?" Rania heran dengan keceriaan Aksara, padahal dirinya sedang sakit.


" Karena aku bahagia.. " Aksara menyentuh jemari Rania dan menciumnya,


" jadi mas bahagia karena aku masuk rumah sakit?"


" tentu saja tidak sayang.." Aksara menggenggam tangan istrinya,


" apa mas menyembunyikan sesuatu dariku?" Rania menatap Aksara curiga,


" misalnya?" Aksara balik bertanya, ia senang sekali melihat ekspresi Rania,


" entahlah.. " jawab Rania membuang muka,


" hahahaha..!" lagi lagi Aksara tertawa,


" kok tertawa lagi??!" Rania menatap Aksara kesal,


" aku gemas sekali padamu, kalau tidak sakit sudah ku bolak balik di tempat tidur.." ucapan Aksara benar benar membuat Rania terhenyak, bisa bisa nya suaminya berfikir akan hal itu untuk saat ini.., pikir Rania.


" Terimakasih ya Ran.." ucap Aksara tiba tiba,


" terimakasih apa sih Mas?"


" terimakasih.. kau memberi hadiah yang besar untuk ku.. "


" apa itu?"


Aksara menciumi tangan Rania berkali kali,


" aku akan segera menjadi seorang ayah, dan kau akan segera menjadi seorang ibu Ran.." ujar Aksara sembari terus menatap istrinya lekat.


" Maksudnya?" tanya Rania penuh kebingungan,


" iya Ran.. kau hamil.." Aksara menegaskan, ia menyentuh perut Rania,


" kita harus menjaganya baik baik.. "


" aku mau punya anak?" tanya Rania dengan raut wajah yang masih loading dari terkejut ke bahagia.


" Yang benar Mas..?" tanyanya lagi dengan mata mulai berkaca kaca, Aksara tidak menjawab, namun ia langsung memeluk istrinya.


" Maafkan aku ya Ran.. harusnya aku membawamu kerumah sakit dari kemarin kemarin..


karena sikap ke kanak kanakan ku.. kau jadi menderita berhari hari..


aku mencintaimu Ran.. karena itu aku marah.. " Aksara meminta maaf sambil terus memeluk istrinya,


" Aku juga minta maaf mas.. tapi Mas jangan marah marah lagi.."


" aku tidak marah.." Aksara melepas pelukannya perlahan dan mencium kening istrinya,


" terus apa namanya? ngamuk??"


" yah.. sedikit, mangkannya jangan dekat dekat sama yang namanya radit itu.."

__ADS_1


gumam Aksara masih saja kesal ketika menyebut nama Radit.


__ADS_2