Aksara Rania

Aksara Rania
cantik boleh.. gatal jangan..


__ADS_3

Aksara duduk termenung sembari sesekali memandang istrinya yang sedang sibuk memberi makan ikan di kolam kecil sebelah rumah.


Melihat Rania yang sedang memakai daster putih bercorak bunga berwarna abu abu itu dari atas ke bawah.


Rania tampak lebih cantik sekarang, apalagi pipinya yang tembem itu sekarang.


Aksara tersenyum sendiri, mengingat bagaimana ia dulu dan Rania sempat berjauhan, dan dirinya juga sempat memperlakukan Rania dengan kurang baik.


" Sebentar lagi aku jadi Bapak.." gumamnya sembari menyandarkan punggungnya.


Sesungguhnya Aksara masih sedikit gelisah, karena belum ada kabar dari Fatan bagaimana hasil dari perbincangannya dengan adik iparnya itu.


Entah kenapa Aksara berubah menjadi penakut ketika urusan itu melibatkan rumah tangganya.


Ia khawatir hal hal yang sebenarnya tidak penting ini akan mempengaruhi Kondisi Rania.


Ia susah payah menekan kecemburuannya, tapi malah sekarang dirinya yang terlibat dengan hal yang tidak jelas..


Apa kata Rania kalau tau, selama ini Aksara setengah mati mengekangnya, mencemburuinya..


apa yang akan di lakukan Rania jika ia rau ada perempuan yang terang terangan mau menjadi yang kedua.


Meski Aksara tidak membalas perasaan perempuan itu,


namun ia takut Rania akan sakit hati meski hanya mendengarnya.


Ia tak mau menyakiti Rania dalam bentuk apapun itu.


Mungkin jika selama ini ia tidak terlalu cemburu buta, mungkin ia akan menceritakan semua dengan tenang.


Aksara kini malu, ia malu dengan sikapnya sendiri..


Ia yang selama ini giat mencemburui Rania, malah sekarang dirinya seperti ini,


apa yang akan ia jelaskan pada Rania, padahal selama ini Rania juga tidak pernah neko teko,


Aksara lah yang ketakutan berlebihan.


Diam diam laki laki itu menggeleng geleng pelan,


ia seperti di peringatkan oleh keadaan yang sedang ia alami sekarang.


" Kenapa?" tanya Rania melihat suaminya tang sejak tadi termenung geleng geleng kepala.


" Tidak.. kau tampak semakin ranum dan cantik.." ujarnya,


" ranum? memangnya aku sejenis buah buahan..?"


" semanis itu Ran.. sudah cukup memberi makan ikannya, nanti mereka teler kebanyakan makan.."


Aksara memanggil istrinya agar duduk disampingnya.


Aksara dan Rania selesai makan malam, keduanya duduk bersantai di depan TV sambil mengobrol, mencari cari nama untuk calon buah hati mereka, dan keduanya sepakat, meskipun USG tapi mereka melarang dokter untuk memberitahukan jenis kelamin bayi mereka.


" Ya selamat malam, ada apa Tan?" Aksara mengangkat HPnya yang berdering.

__ADS_1


" Kenapa?" tanya Aksara dengan raut wajah berubah tegang.


Rania yang peka memperhatikan ekspresi suaminya yang mendadak aneh.


" Jangan jangan, kita bertemu di luar saja.." jawab Aksara, lalu tak lama mematikan sambungan telfonnya.


" Siapa mas?" tanya Rania


" Fatan, yang menikah waktu itu.." jawab Aksara,


" waktu itu kapan?"


" waktu kau tidak ikut datang ke pernikahannya.."


" oh..." jawab Rania kalem, tapi di balik jawaban oh.. nya Rania, ia teringat sesuatu.


Itu adalah pesta pernikahan dimana ia tidak ikut, dan Rania menemukan bekas lipstik di baju Aksara, dan semenjak itu suaminya itu tidak setenang biasanya, kadang gusar..


kadang termenung..


yang jelas kegelisahan itu tampak sekali di mata Rania,


meski selalu serius tp pembawaan Aksara yang normal adalah tenang, meski marah pun dia akan tenang sebelum meledak.


Tapi entah kenapa baru sekarang Rania menemukan ekspresi gelisah yang aneh.


" Keluar dulu ya? ada yang harus ku selsaikan dengan Fatan.." ujar Aksara mengganti kaos dan celana pendeknya dengan baju lengan panjang dan celana panjang.


" ikut?" pinta Rania, tidak biasanya dia ingin ikut.


" lain kali ku ajak ya.. sekarang sedang ada urusan penting sayang.." Aksara menghela wajah Rania dan mengecup kening Rania.


" Tunggu dirumah ya.." ucap Aksara lagi,


Rania hanya mengangguk lemah.


" Ya sudah, mas berangkat ya.. tidak akan lama.." Aksara mengambil kunci mobil dan berjalan keluar.


Melihat Aksara yang sudah berjalan keluar, Rania segera mengambil jaketnya, ia mengambil kunci motor di samping meja TV.


Aksara memilih tempat yang tidak terlalu jauh dari Rumahnya, karena ia tidak ingin membuang waktu lama lama dan segera pulang. Ada sebuah cafe yang terletak sekitar 5 kilometer dari perumahannya dan disana cukup sepi.


Aksara duduk sekitar 10 menit, lalu tak lama Fatan, istrinya dan si Maya itu.


" Saya yang salah, karena sudah lalai memberikan informasi tentang anda..


itu karena adik saya terlihat tertarik sekali pada anda..


tapi saya mengira itu hanya sebatas kekaguman karena dia masih dalam masa pubertas saja..


saya juga lalai sehingga adik saya bisa mengambil nomor anda,


saat itu saya kira dia hanya meminjam karena paket datanya habis..


dan suami memang tidak pernah memberi sandi untuk HPnya, karena kami hidup satu rumah, hal hal semacam ini tidak pernah kami perkirakan?" ucap istri Fatan setelah Aksara berbicara pada mereka panjang lebar.

__ADS_1


" Saya tidak mau ada hal hal semacam ini lagi, jadi tolong ya, saya harap ini terakhir kali..


jangan sampai saya menemukan anda, menghubungi saya lagi" tegas Aksara pada Maya yang hanya tertunduk dan menangis karena takut.


" Masih muda, masa depan cerah.. jangan seperti penguntit! menghubungi laki laki yang sudah beristri semacam itu," imbuh Aksara kesal.


" Kau dengar Tan? jaga adikmu ini, jangan biarkan dia menganggu orang lain ke depannya" tegas Aksara pada Fatan.


" Dengar kan saya ya mbak Maya, pengendalian diri itu penting, apalagi di masa muda seperti ini,


karena jika mbak Maya tidak pintar pintar mengendalikan diri,


mbak Maya akan menuai banyak penyesalan ke depannya nanti,


Istri saya juga masih muda, beberapa tahun di atas mbak Maya, dia seorang guru sebelum saya aja kesini, dia mengajarkan saya bagaimana caranya bersabar dan mengendalikan diri di usia saya yang sudah tidak muda ini,


jadi omong kosong ya mbak, kalau ada tawaran untuk menjadi yang kedua, buang jauh jauh pikiran anda,


saya.. secuilpun tidak ingin menduakan istri saya, tidak ada..


jadi..


tahu diri itu penting mbak Maya, bukan berarti muda dan cantik bisa berbuat apa saja.. tidak..


dunia bukan milik mbak Maya, tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan mbak Maya, jadi mbak Maya harus belajar menerima, kalau pilihan hidup orang lain wajib di hormati,


jadilah perempuan yang pantang merusak ikatan orang lain..


faham mbak?!" nada Aksara sedikit meninggi.


" Fa.. faham.." jawab Maya menahan tangisnya, ia mengenggam tangan Fara kakak perempuannya karena takut.


" Jangan mentang mentang kakak ipar anda punya jabatan yang baik lalu anda bisa se enaknya menggoda laki laki,


anda mau berlindung di balik punggungnya terus jika orang lain menemukan kesalahan anda?


kasihan kakak anda jika suatu ketika dia yang harus menanggung resiko atas tindakan anda yang sembrono!"


Fatan dan Istrinya membeku, mereka tidak menjawab sepatah pun.


" Saya.. minta maaf.." suara Maya lirih bergetar.


" Gara gara anda, tidur saya tidak tenang?! saya seperti maling yang takut ketahuan padahal saya tidak mencuri apapun,


dimana hati anda sebagai perempuan mbak?!


istri saya hamil besar.. tapi anda dengan entengnya menawarkan diri anda pada saya,


bagaimana kalau sampai istri saya tau ada perempuan yang menawarkan dirinya cuma cuma pada saya??


dengar...


cantik boleh, gatal jangan..


anda dengar tidak?!" Aksara tidak ada habisnya mengomel membuat Maya ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2