Aksara Rania

Aksara Rania
Keributan


__ADS_3

Rania dan mbak Yuni sedang sibuk duduk di balai,


keduanya tampak sedang sibuk mengupas dan memotong motong singkong.


" Buat kolak setengah, buat keripik setengah.." ujar Rania,


" iya mbak, mumpung ada nangka mbak.. yang kemarin di bawa sama pak dhe Surya.." sahut yuni.


" Cocok mbak Yun.. telo e piyee.. ?"


" nanti saya beli sebentar di warunge bu prapto.."


" wah.. mbak Yuni ini the best, seminggu lagi disini bisa tambah gemuk saya.." Rania tertawa.


" Ya biar sehat ibu dan bayinya.. biar mas Aksa senang lihat mbak tambah bulat.." Yuni tersenyum.


Rania tersenyum sembari tersipu, diam diam ia rindu juga dengan suaminya,


tapi kemarahannya belum hilang jika membayangkan suaminya itu bertemu bahkan menggendong perempuan lain di belakangnya, rasa rindu yang tadi muncul tiba tiba hilang seketika.


Seorang laki laki bertubuh jangkung berdiri tak jauh dari pagar depan, ia tampak segar dengan sweater berwarna biru laut dan celana jeans navy nya.


Di tangannya memegang sebuah tote bag kertas.


Laki laki itu berdiri sedikit jauh dari pagar, ia seperti ingin melihat si nyonya rumah lebih lama.


Entah kenapa ada rasa nyaman di hatinya setiap melihat senyum dari perempuan itu, ia selalu mendapatkan semangat yang luar biasa ketika bertemu dengannya.


Setelah lama berdiri ia akhirnya melangkah ke depan pagar dan menekan bel.


Membuat Rania dan mbak Yuni melihat seketika ke arah pagar.


" Biar saya yang buka mbak.." Yuni bangkit,


" Biar saya saja.." ujar Rania,


" jangan mbak.. saya saja.." kata Yuni segera berjalan ke arah pagar, mana mungkin dia akan membiarkan Rania yang perutnya sudah sebesar itu jalan kesana kemari.


" Njenengan?" Yuni sedikit terkejut melihat Radit berdiri di depan pagar.


" Bu Rania ada?" tanya Radit mengurai senyum,


Yuni terdiam sejenak, ia serba salah, tuan rumahnya sedang tidak ada, dan sekarang ada laki laki ganteng, datang untuk menemui nyonya nya.


" Ada mas.. tapi mas Aksara sedang tidak disini.. " jawab Yuni sedikit ragu,


" saya tau.. " Radit tersenyum,


" saya hanya ingin menyampaikan titipan adik saya.. karena kebetulan di tidak bisa keluar pondok, jadi saya menyampaikan titipannya saja..

__ADS_1


ibu tenang saja, saya tidak akan masuk.." imbuh Radit terlihat mengerti.


" Masuklah!" tiba tiba saja terdengar suara tegas Aksara, laki laki itu seperti hantu yang kedatangannya begitu mengejutkan, ia berjalan melewati Radit dan Yuni.


Yuni dan Radit sedikit terperangah, keduanya masih terkejut dengan kedatangan Aksara yang tiba tiba.


Laki laki yang lebih tinggi dari Radit dan berkulit sawo matang itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Radit.


" Saya dan njenengan harus bicara, jadi silahkan masuk.." ucap Aksara penuh penekanan, lalu berjalan kembali.


Radit berjalan ke dalam rumah mengikuti langkah Aksara, suasana yang sejuk tiba tiba saja menjadi sedikit panas, entah karena perasaan keduanya yang tidak nyaman atau hawa di sekitar memang panas.


" Awasi Rania, jangan biarkan dia kesini mbak Yun.." ucap Aksara lirih pada mbak Yuni.


" Nggihh mas.." angguk Yuni patuh dan segera berlalu dari ruang tamu itu.


" Maafkan saya jika menganggu, tapi saya hanya ingin menyampaikan titipan adik saya.." Radit segera menjelaskan sembari menaruh tote bag itu di atas meja karena raut wajah Aksara benar benar tidak ramah.


Laki laki berkaos krah abu abu dan bercelana hitam itu menatap Radit tanpa celah, ia tampak kesal sekali.


" Tidak usah basa basi.. saya berdiri memperhatikan anda sejak tadi, anda mengawasi istri saya dari jauh seperti penguntit.." ujar Aksara setelah lumayan puas menatap Radit dengan tatapan yang tidak Ramah.


Deg..! Radit terlihat terkejut, ia tak menyangka bahwa Aksara berdiri di belakangnya, dan bahkan mengawasi Radit yang diam diam memperhatikan istrinya.


Wajah Radit merah padam menahan malu.


" Maaf.. saya tidak berniat seperti itu.." ucap Radit hati hati,


" Saya hanya.." Radit menghentikan kalimatnya, ia tak tau harus bicara apa, ia merasa serba salah sekarang.


" Hanya menyukai istri saya?" sahut Aksara membuat wajah Radit lebih merah lagi.


" Sekarang saya ingat, anda kakak kelas istri saya sewaktu di SMA kan? sejak dulu saya tau, anda mengharapkannya, dan sekarang anda tetap mengharapkannya meskipun ia sudah menjadi istri saya?"


" itu tidak benar, saya tidak pernah mengharapkan istri orang?!" jawab Radit menatap balik Aksara.


" Saya menghargai Rania dan tidak ada sedikitpun maksud buruk dalam hati saya" tegas Radit, apapun yang di rasakannya itu tidak penting sekarang,


yang jelas, ia tidak mau Rania bermasalah dengan suaminya hanya karena dirinya.


" Lalu yang anda lakukan tadi itu apa? mengawasi istri saya sambil tersenyum diam diam? lucu sekali..


saya tidak buta.." Aksara masih ketus.


" Saya sudah meminta maaf.."


" meminta maaf, lalu di masa depan jika saya tidak ada anda akan seperti itu lagi?!" Aksara kehilangan sedikit kontrolnya, ia kesal sekali, niatnya untuk pulang menjemput istri baik baik malah melihat laki laki lain berdiri di depan pagar rumahnya.


Apalagi melihat ekspresi laki laki lain yang memandang istrinya dengan pandangan yang berbeda itu sangat menguras kesabarannya.

__ADS_1


" Tolong, saya tidak ingin membuat keributan.. saya mohon diri.." pamit Radit berbalik lalu berjalan ke arah pintu keluar.


Aksara yang kesal merasa di acuhkan dan tidak di anggap benar benar tak tahan lagi, ia sudah tidak bisa sabar melihat kenyataan yang ia temukan bahwa istrinya selalu di tunggu dan di harapkan oleh laki laki lain disini.


Ia merasa harus tegas, kalau ia tidak bersikap tegas, Radit akan terus terusan menyepelekannya dan mengharapkan istrinya.


" Brakkk!!" Radit tersungkur, tubuhnya yang limbung menabrak kursi.


" kita selesaikan sekarang, aku tidak mau ke depannya kau melihat istriku dengan pandangan seperti itu lagi!" tegas Aksara benar benar geram, dengan tangan yang masih terasa panas karena telah memukul wajah Radit.


Ia tak sanggup menahan dirinya lagi, kerinduannya pada Rania tergantikan dengan kemarahan karena ia menemukan sosok Radit.


Ia menganggap Radit sudah terlalu kurang ajar karena sudah berani memandang istrinya dengan penuh harap, dan Radit pun tidak sekali dua kali datang kerumahnya seperti orang yang tidak tau sopan santun bahwa di larang bertamu kerumah seorang perempuan yang sudah bersuami se enaknya, apalagi kalau suaminya itu sedang tidak ada di tempat.


Radit yang tersungkur segera bangun merasakan rahangnya yang terkena pukulan.


" Rupanya anda seperti ini, pantas Rania pulang tanpa anda.." ujar Radit tenang namun menusuk.


Dan benar saja, kalimat itu membuat Aksara semakin geram.


" Sekarang anda mulai mencampuri urusan rumah tangga orang?"


" tentu tidak, saya hanya menebak.. dan ternyata tebakan saya benar..


lucunya, kalau memang anda tidak sanggup menyayanginya dengan baik,


saya bersedia mengurusnya dan memperlakukannya dengan baik, saya akan menghargainya dan bertindak seperti yang dia mau.."


" Bughh!!"tangan Aksara yang menjawab, sekali lagi ia menyerang Radit,


" saya sudah membiarkan anda memukul saya sebanyak dua kali!" Radit bangkit dan membalas,


" pukulan itu bahkan kurang untuk orang yang dengan kurang ajarnya mengharapkan milik orang lain!" balas Aksara.


keduanya berkelahi dan saling memukul, sehingga menyebabkan barang barang di sekitar mereka bergeser dan bersuara keras.


Tentu saja itu mengundang Rania untuk mencari tau dari mana asal suara itu.


Dan betapa terkejutnya Rania ketika ia melihat suaminya sedang bergelut di atas tubuh Radit.


Darah segar mengalir dari ujung bibir aksara, begitu pula Radit, bibirnya terlihat pecah karena pukulan Aksara.


" Hentikan?!! hentikan??!!" Rania berusaha menghentikan perkelahian itu dengan menarik tubuh Aksara, tapi Aksara yang sudah kesetanan tidak memperdulikan istrinya hingga istrinya itu tak sengaja terdorong dan terjatuh ke lantai.


" Mbak??" Yuni berlari ke arah Rania dan menolongnya.


" Aksara!!!" teriak Rania penuh amarah ia masih terduduk di lantai menahan sakit.


" Kalau tidak mau berhenti berkelahi?! lebih baik kita berpisah saja?!!" imbuhnya lebih keras, membuat Aksara yang mendengarnya berhenti seketika dan menatap Rania yang terduduk di lantai tak jauh darinya.

__ADS_1


pandangan Aksara seperti tak percaya pada apa yang di ucapkan oleh istrinya.


__ADS_2