
Susana rumah ramai dengan suara tetangga yang sedang memasak untuk acara tahlilan nanti malam.
Rania yang juga sangat terpukul dengan kepergian Bapak memutuskan untuk menyibukkan diri agar tidak terus menerus kalut akan kepergian Bapak,
karena Rania yakin.. Bapak meninggal dengan tenang.
Bahkan sebelum Bapak meninggal Rania berbicara panjang lebar dengannya.
Namun berbeda dengan Aksara..
ia seperti sulit menerima kepergian Bapak..
sejak pulang dari menguburkan Bapak kemarin, sampai hari ini dia belum keluar kamar sama sekali.
Ia bahkan tidak makan dan minum, sementara Rania bahkan tidak mampu untuk melihat wajahnya yang menyedihkan itu,
Aksara sering terisak tiba tiba sambil memanggil nama Bapak, lalu tak lama kemudian dia diam dan melamun.
Mungkin kepergian Bapak sangat berat untuknya..
apalagi dia baru saja dekat kembali dengan Bapak setelah 10 tahun pergi.
Entah menyesal atau rasa bersalah yang di rasakan Aksara sekarang, yang jelas ia terlihat sangat menyedihkan dan tidak bisa menerima keadaan.
" Ran, paksa suamimu makan.. " Tante Irma menyodorkan piring berisi nasi dan lauk,
Rania menerimanya dengan ragu ragu,
" Kamu kan istrinya ran, hibur dia.. jangan takut.." ucap tante Irma membaca ekspresi Rania yang ragu ragu.
" iya Tante.. " jawab Rania lalu berjalan ke arah kamar.
Ia membuka kamar dengan hati hati,
cahaya kamar itu remang, karena Aksara tidak membuka tirai sehingga sinar matahari tidak bisa menembus masuk.
Laki laki berkaki jenjang itu sedang duduk di lantai dengan pandangan kosong, ia tidak berkutik meskipun tau Rania berjalan mendekatinya.
Entah kenapa melihat kondisi Aksara yang seperti itu hatinya pedih..
laki laki yang malam itu terlihat kuat dan menakutkan sudah tidak ada lagi..
Aksara lebih tampak seperti seorang anak kecil yang lemah, yang seluruh tumpuannya diambil paksa dan keseimbangannya hilang.. lalu membuatnya limbung seketika.
Ia seperti di tindih batu besar yang membuatnya sulit bangkit dan bernafas..
dan batu itu bernama penyesalan..
__ADS_1
Ia menyesal tidak bisa menghabiskan waktu yang lebih lama dengan Bapak..
Ia menyesal karena telah meninggalkan Bapak begitu lama..
Ia menyesali semua yang sudah ia lakukan.
"Mas...?" panggil Rania pelan dan hati hati,
" makan dulu ya mas.. " Rania duduk disamping suaminya itu,
Aksara tidak menjawab, ia tetap bungkam dengan tatapan yang entah tertuju kemana.
" Mas.. " panggil Rania lagi pelan, dan masih saja tidak mendapat jawaban.
Rania menaruh piring yang di bawanya di atas meja, lalu kembali duduk tepat di samping Aksara, menyandarkan kepalanya di lengan Aksara sambil menggenggam punggung tangan kiri Aksara.
" Kalau mas terus seperti ini.. aku harus bagaimana..?,
Bapak menitipkan ku pada Mas.. sekarang Mas adalah sandaran ku..
tempat ku berkeluh kesah ke depannya.. " nada Rania lirih, ia menahan air matanya agar tak tumpah.
" Hatiku sakit mas.. hatiku sakit melihatmu seperti ini..
tidak hanya mas yang kehilangan Bapak, tapi aku juga..
tapi kenapa se akan akan hanya Mas yang paling bersedih,
merasakan sentuhan dan mendengar isak tangis Rania Aksara mulai sadar kembali,
Ia langsung memeluk Rania yang ada disampingnya,
memeluk Rania dengan erat sambil meluapkan air matanya.
" Sudah.. jangan menangis, hatiku semakin sakit melihatmu menangis.. diam lah..
diam lah.. " suara Aksara serak.
Ia ingin menenangkan Rania agar berhenti menangis, tapi tanpa ia sadari dirinya juga menangis..
ia sudah tidak tahan, dadanya sesak menahan duka..
di tumpahkan air matanya di pelukan Rania.
Dimas diam di depan pintu kamar, saling beradu pandang dengan om Surya,
" biarkan mereka.. mungkin mereka masih belum bisa menerima kepergian Bapaknya..
__ADS_1
tolong saja sampaikan ke kepala sekolah dim, mungkin Rania akan sedikit lama libur.. karena kondisi suaminya sangat terpukul..
kami tidak menyarankan Rania untuk meninggalkan suaminya untuk sementara.." ujar om Surya,
" baik Om.. saya sampaikan nanti.. "
" ya sudah.. temani 0m mengambil pesanan tante Irma.."
" oh, ayo Om.." Dimas mengikuti langkah Surya.
Rania membuka tirai kamar agar sinar matahari bisa masuk dan kamar itu menjadi lebih hangat,
lalu kembali duduk sambil menyuapi suaminya yang sudah duduk tenang di atas tempat tidur.
" Sudah.. " jawab Aksara ketika Rania menawari sesendok makanan lagi.
" ya sudah.. Rani buatkan teh hangat ya mas.. jangan minum kopi dulu.. " Rania membersihkan ujung bibir Aksara dengan tissue, lalu bangkit dari posisi duduknya..
namun Aksara menggenggam tangan Rania saat Rania akan berjalan pergi.
" Disini saja.. jangan kemana mana.." suara Aksara hampir tak terdengar,
Rania memandang Aksara cukup lama,
ia menaruh piring di atas meja dan kembali duduk disamping Aksara,
" Aku temani.. tapi Mas tidur ya, Mas kan tidak tidur sejak kemarin.. "
Aksara diam, Ia menarik Rania ke dalam pelukannya,
" Kau menyuruhku tidur supaya kau bisa pergi?" tanyanya dengan suara lembut,
" Tidak mas.. aku akan menunggumu, dan tidak akan pergi meski Mas sudah tertidur.." jawab Rania menenangkan Aksara.
" Biarkan aku yang bersandar padamu untuk saat ini..
aku bahkan terlalu lemah untuk menopang diriku sendiri..
hanya kau yang Bapak tinggalkan untukku..
hanya kau saja..."
ucap Aksara dengan nada yang di penuhi nelangsa..
ia memeluk Rania erat seperti takut ditinggalkan..
Di mata Rania sekarang Aksara tidak lebih dari seorang laki laki yang sedang rapuh rapuhnya,
__ADS_1
dan menemaninya adalah hal yang memang Rania harus lakukan sekarang..
apalagi mengingat Aksara adalah suaminya.