Aksara Rania

Aksara Rania
sengaja tidak memberi kabar


__ADS_3

Mbak Yuni membuka pintu pagar sambil tergopoh gopoh,ia kaget sekali mendapat telfon dari Aksara, sontak ia bangun dari posisi rebahan nya ketika mendengar Aksara sudah berdiri di depan pagar rumah.


" Untung saya belum tidur Mas?? sampean kok ndak ngabari kalau mau pulang??" tanya mbak Yuni sambil mengunci pagar kembali ketika Aksara sudah masuk.


" Sengaja mbak.. " jawab Aksara mengulas senyum, hatinya tenang sekali sudah menginjakkan kaki di halaman depan, meskipun belum masuk ke dalam rumah perasaannya benar benar tentram.


" Mbak Rani pun bubuk Mas..." ujar Yuni mengikuti langkah Aksara,


" biar saja dia tidur mbak.. " jawab Aksara melepas sepatu PDH nya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


" Saya buatkan kopi ya mas?"


" teh hangat saja mbak.. "


" pun maem Mas? saya buatkan nasi goreng ya?"


" Wah.. boleh boleh, nasi goreng jawa cap mbak Yuni.. " Aksara paling doyan dengan nasi goreng buatan mbak Yuni, apalagi sambalnya pakai sambal terasi.


" Mas Aksa mandi dulu saja, saya bikinkan dulu.. "


Aksara mengangguk sembari berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Aksara menyalakan lampu agar bisa melihat istrinya yang sedang terbaring lelap di atas tempat tidur itu dengan jelas.


Senyumnya merekah, di pandanginya Rania yang meringkuk di atas tempat tidur dengan mata yang sedikit terbuka.


" Bisa bisa nya kau tidak mengunci pintu kamarmu.." gumam Aksara membelai rambut istrinya itu pelan dan hati hati, maksud hati ingin mencium dan memeluknya, namun ia takut membangun kan Rania.


Di tariknya kembali tangannya yang sedang membelai rambut Rania, berbalik ke arah lemari dan mengambil beberapa pakaiannya.


" Sekarang tidurlah yang nyenyak.. aku tidak akan mengganggumu.." ucap Aksara dengan senyum masih tersungging di bibirnya sembari membuka kancing baju PDH nya satu persatu.


Rania membuka matanya perlahan, sebenarnya ia masih ngantuk, tapi karena tubuhnya di rasakan sesak ia memaksakan diri membuka matanya.


Betapa terkejutnya ia melihat sebuah tangan melingkar di pinggangnya.


" Aku mimpi.." gumamnya ketika ia membalikkan tubuhnya dan menemukan dada bidang suaminya tepat di hadapan wajahnya, ia mendongak ke atas, mencari wajah si pemilik dada yang sebenarnya cukup di kenalnya ini.


" Mas Aksa.." gumamnya lagi,


di sentuhnya pipi sampai dagu Aksara saking penasarannya ia bermimpi atau tidak.


Rania mendekatkan wajahnya ke dada Aksara, ia merasakan hawa tubuh yang hangat dan jantung yang berdetak.


" Benar.. ini suamiku.." kata Rania dalam hati di sertai rasa senang yang tiba tiba saja meluap.


Belum puas, Rania mengintip meja di sebelah tempat tidur,


matanya terbentur tas kecil milik Aksara yang tergeletak begitu saja.


Di tenggelamkan wajahnya di dada suaminya itu, entah kenapa kantuknya tiba tiba hilang, padahal jam dinding menunjukkan bahwa ini masih pagi buta.


" Geli.. " suara Aksara lirih, matanya masih tertutup, namun tangannya menarik Rania erat ke dalam pelukannya.


" Mas?" panggil Rania manja,


" iya sayang...


jangan banyak bergerak.. kau yang repot nanti kalau aku bangun.." ujarnya berat dengan mata masih tertutup,


" tidurlah lagi.. aku tidak akan mengganggumu Mas..." Rania seketika diam dan menutup matanya kembali.


Aksara tersenyum mendengar itu, ia memeluk Rania lebih erat,


" Kau sudah terlanjur membangunkan ku Ran.. " Aksara membuka matanya dan membelai Rambut Rania,


" jangan pura pura tidur.. ayo tanggung jawab.." suara Aksara lirih di telinga Rania, membuat Rania menggeliat geli,

__ADS_1


" ini masih jam 3 pagi Mas..??" jawab Rania dengan mata tertutup menahan geli karena tangan Aksara sudah kemana mana,


" Siapa suruh membangunkan ku?"


Aksara yang sudah terlanjur bangun tidak mau kompromi.


Rania mengecup dahi dan pipi suaminya yang masih terlelap,


" Mas.. aku berangkat ngajar dulu ya..?" bisik nya di telinga Aksara,


" hemmmm..." jawab Aksara bergumam, dengan mata yang tertutup erat karena kantuk dan lelah.


Rania berjalan menuju dapur,


" Mbak Yun, saya sudah masak tadi..? nanti kalau mas Aksa bangun di panaskan saja lagi.."


" iya mbak.." jawab mbak Yuni yang sedang sibuk ngepel dapur.


Sesampainya di sekolah Rania langsung mengajar jam pertama, ia baru bertemu dengan guru guru lain saat jam istirahat, ia sengaja membawa sekotak cemilan dan menaruhnya di atas meja,


dan seperti biasa, Dimas yang hobinya makan tapi bentuk tubuhnya tetap ramping itu mendekat.


" Sumringah sekali wajahmu pagi ini.." komentar Dimas sambil mengunyah pisang coklat yang di bawa Rania,


" bawa cemilan lagi.. aku curiga, di beri polisi itu lagi ya?!" imbuh Dimas


" hussh! ngawur!!" Rania memukul lengan Dimas dengan penggaris besi,


" adohh!!" Dimas menggosok gosong lengannya yang sakit.


" Mas Aksa pulang, ini cemilan aku yang buat sendiri, jangan ngomong aneh aneh kamu Dim?!" Rania melotot,


" owalah.. alhamdulillah, nanti sore lah aku ke rumahmu.."


" Sak karepmu.." jawab Rania sedikit cemberut,


" jangan sembarangan kalau ngomong, nggak lucu..!"


" iya iya, aku nggak akan ngomong sembarangan lagi.." seperti tak punya dosa Dimas mengambil lagi pisang coklat yang hanya tersisa beberapa itu dan memakannya dengan lahap.


Dari kejauhan Tampak bu Jihan dan bu Ina masuk ke ruangan Kantor yang sepi,


" bu Jihan?!" Dimas mengambilkan satu pisang untuk Jihan,


" nggak usah pak, saya masih kenyang.." tolak Jihan tidak enak melihat Rania dan Ina,


" eh.. sudah di makan saja, toh cuma satu.." Dimas memaksa,


" lha saya nggak di tawari pak??" celetuk Ina memperhatikan keduanya,


" bu Ina kan bisa ambil sendiri.." jawab Dimas duduk kembali,


Ina dan Rania berpandangan seketika dan menggeleng bersamaan melihat kelakuan Dimas yang terlihat sangat perduli dengan bu Jihan itu.


" Bagaimana ini bu, Nanda belum masuk juga..?" bu Ina duduk di kursinya, tak jauh dari Rania,


" kita kesana saja nanti.. " jawab Rania,


" Mau ku temani? " Dimas menawarkan diri,


" Gausahlah.. biar aku dan bu Ina saja, nanti malah repot bicaranya kalau ada laki laki.."


" memangnya kenapa kalau aku ikut.. aku tau lho rumah Nanda, Bapaknya juga aku kenal..hati hati, Bapaknya sedikit kasar.."


" buka sedikit kasar, tapi kasar sekali kalau dari cerita Nanda.." sahut Ina dengan pandangan sedih.


" berhubung kalian ngotot tidak mau di temani ya sudah lah..

__ADS_1


Ajak bu Jihan tu.. biar rame.."


" kemana?" tanya Jihan dari kejauhan,


" kerumah Nanda bu.. ikut saja, biar Rame.." Dimas tersenyum,


" ya sudah.. boleh.. " jawab Jihan,


" Wah.. pulangnya kita makan bakso cak Ri ya??" Ina semangat.


" tapi jangan lama lama.. ada suamiku dirumah.." pinta Rania,


" Bungkusin saja nanti Ran.." kata ina.


Ketika Aksara bangun ia tidak menemukan istrinya di sampingnya, waktu juga sudah menunjukkan jam 8 pagi.


Ia bangkit dan duduk, terdiam sejenak memulihkan tubuhnya.


" Seharusnya aku menyuruhnya libur barang sehari.. " gumam Aksara lalu bangkit berdiri, ia berniat menghabiskan waktu dengan Rania seharian penuh.


Tapi gara gara kecapekan dia malah bangun siang.


" Istriku yang masak ya mbak?" tanya Aksara sambil menikmati sarapannya yang hampir bisa di bilang makan siang,


" nggeh Mas.. mbak Rani tadi, tapi kopinya saya yang buat.." jawab Yuni mendekat,


" sampean wes sarapan mbak?"


" sampun Mas.. saya ke belakang dulu, cuci baju.." pamit Yuni berjalan ke belakang.


Aksara makan dengan tenang, namun HPnya tiba tiba berbunyi,


" hemm.." jawab Aksara,


" kok hemmm??" protes Rania memperlihatkan wajahnya yang cemberut,


" lha terus.." jawab Aksara dengan wajah tak kalah cemberut,


" kok baru sarapan?" tanya Rania melihat suaminya masih sibuk makan,


" di tinggal sih sama bu guru, jadinya kesiangan.."


Melihat wajah suaminya dari kamera cemberut begitu Rania tertawa,


" Halo Mas??! haloo haloo??!!" tiba tiba Dimas menampakkan dirinya di belakang Rania sambil melambaikan tangan.


" Kesini kau?! CCTV tidak berguna..!" tegas Aksara seketika melihat penampakan Dimas, Dimas yang mendengar itu mendadak kehilangan senyumnya,


" iya Mas.. nanti aku kesana.." jawab dimas mendadak tidak bersemangat.


" sudah sudah.. mas?" potong Rania,


" pulang sekolah aku mau kerumah murid ku sebentar, Mas nanti dirumah di temani Dimas ya?"


" aku pulang ingin kau temani, bukan di temani Dimas" jawab Aksara dengan wajah serius tanpa senyum,


" ya sudah kalau nggak boleh..aku langsung pulang saja.." wajah Rania terlihat kecewa,


melihat itu Aksara menghela nafas,


" ya sudah.. tapi jangan lama lama, terus aku minta jatah dobel nanti malam.."


wajah Rania memerah seketika, karena disampingnya sedang ada Dimas dan rekan guru muda lainnya yang sedang mendengarkan,


" wadaw.. tutup telinga yang jones.." celetuk Dimas membuat semua tertawa,


" Mas ini bahas apa sih?, ya sudah.. Mas lanjutin makannya dulu.." Rania mematikan sambungan Vidio call nya.

__ADS_1


__ADS_2