Aksara Rania

Aksara Rania
Nggak peka


__ADS_3

" Lho? wes isi?!" ujar pak Ri, penjual bakso langganan Aksara dan Rania.


entah kenapa setelah di adakan acara 3 bulanan perut Rania mulai sedikit membuncit.


Pak Ri menggeleng gelengkan kepalanya sambil memandangi keduanya.


" Wes wes.. bahaya Aksa iki, kan dulu sudah pernah bapak bilang..


jangan dekat dekat sama Aksa, rona runu wong loro(kesana kemari berdua) kayak lem..


sekarang mbendung (buncit) toh..?" pak Ri tertawa.


" Ngoten toh pak? hahaha..!" Aksara tertawa, namun tidak dengan Rania, wajahnya bersemu merah.


" Wes wes.. ora tak gudo, engkok nangis bojomu lee..


lunguh lungguh (duduk duduk).. mumpung sepi.." ujar pak Ri menyuruh keduanya duduk,


" lha niki mruput (sengaja datang pagi) kok pak.. " sahut Aksara,


" Ngidam mulai teng Ujung pandang.." imbuh Aksara,


" Owalah nduk.. ya wes, maem seng warek.. " pak Ri menepuk pundak Rania, dan Rania hanya tersenyum lebar sembari duduk.


Sementara Aksara yang sibuk berdiri mengambil mangkok dan isian bakso.


Favorit Rania adalah bakso isi sumsum dan bakso jamur, Aksara sudah hafal itu.


" Awas, jangan makan cabe terlalu banyak?!" Aksara melotot melihat Rania mengambil sesendok cabe.


" Cuma sesendok.."


" se sendokmu penuh?! sini mas yang ambil.." Aksara merebut sendok yang sedang di pegang Rania, dan mengurangi cabenya hingga tersisa di ujung sendok saja.


" Owalahh..." gerutu Rania, bibirnya komat kamit kemana mana, namun Aksara tidak perduli.


Siang ini Rumah kembali Ramai oleh teman teman Rania, mereka membuat Rujak buah dan es degan, bercanda dan tertawa terbahak bahak seperti dunia milik mereka.


" Mas?!" Suara Dimas menganggu Aksara yang sedang santai melihat TV sambil ngopi di ruang tengah.


" Hemm," jawab Aksara tanpa menoleh,


" istri mas minta mangga muda" Dimas berjalan mendekat,

__ADS_1


" ya wes, ambil saja.. " jawab Aksara santai.


" Ini nih... ini.. suami tidak peka.."


" maksudmu opo?" Aksara langsung berbalik menatap Dimas,


" ya toh, galaknya di dahulukan.. Aku sih bisa bisa saja manjat pohon ambil mangga, tapi Rani mau e sampean kok yang manjat..?"


" ojok guyon (jangan bercanda) Dim?!" Aksara tidak tersenyum sedikitpun.


" Wes, angel.. nggak peka, nggak romantis.. ganti bojo ae (ganti suami saja) Ran!!" suara Dimas lantang.


" Eh! maksudmu apa ngomong begitu?!" sontak Aksara bangkit, wajahnya terlihat serius tidak bisa di ajak bercanda.


" Damai.. damai.. habisnya mas, wong Rania mintanya sampean yang manjat kok?!" ujar Dimas sedikit ngotot.


Aksara diam, tapi tak lama dia berjalan keluar mendahului Dimas.


" Kok tidak minta langsung padaku kalau mau diambilkan mangga?" Aksara mendekat ke istrinya yang sedang memotong buah, suaranya terdengar kalem, berbeda saat bicara pada Dimas.


" Lha itu sudah ada mangga?" Aksara menunjuk satu mangga yang di bawa oleh Ina.


" Maunya mangga itu, maunya juga mas yang ambilkan.." jawab Rania sembari menunjuk pohon mangga yang sudah lumayan tinggi itu.


" Mas?" panggil Rania melihat suaminya yang lama terdiam di bawah pohon mangga.


" Iya sayang, ku ambilkan.. tapi mas pinjam tangga dulu ya ke pak tohir..?" Aksara segera berjalan pergi menuju rumah tetangga.


Semua yang berada di rumah itu tertawa diam diam melihat Aksara yang berjalan terburu buru kerumah tetangga,


mereka tau kalau Rania sengaja mengerjai suaminya.


Aksara memijat kaki Rania perlahan, sampai akhirnya Rania tertidur lelap meski masih jam 7 sore.


Laki laki itu keluar dari kamar dengan langkah hati hati agar istrinya tidak terbangun.


Aksara kasihan dengan Rania yang seharian ini berkumpul dengan temannya, meski senang, tapi ia terlihat lelah..


karena kondisinya jauh berbeda dengan dulu, semenjak hamil Rania mudah lelah.


Aksara duduk di ruang tamu, ia duduk tenang sambil ngemil keripik nangka yang di bawakan Dimas tadi siang.


Tak lama ada suara HP berdering.

__ADS_1


Aksara buru buru mengambil HPnya yang ia geletakkan di sebelah TV, takut Rania terbangun karena bising.


Aksara menatap layar HPnya,


nomor tidak di kenal, ucapnya dalam hati.


" Ya selamat malam," jawab Aksara


" selamat malam.. mohon maaf, ini dengan Maya.." terdengar suara perempuan,


" Maya? maya siapa?" Aksara mengerutkan dahinya.


" Saya Maya, yang bapak tolong di acara pernikahan bang.."


" Maaf, ada apa ya?!" Aksara memotong kalimat perempuan itu, nadanya tegas.


" Saya mau mengucapkan terimakasih pak.."


" dari mana anda mendapatkan kontak saya?" tanya Aksara masih dengan nada yang sama.


Perempuan itu lama terdiam.


" Maaf, saya meminta nomor anda tanpa ijin.. tapi saya bermaksud baik..


saya mau mengucapkan terimakasih.." jawab si perempuan sedikit gusar mendengar suara Aksara yang tegas.


Aksara diam sejenak, menenangkan diri.


" Maaf ya mbak, atau ibu, siapapun akan saya tolong, tidak hanya mbak saja.. jadi tidak perlu berterimakasih.. " jawab Aksara kemudian lebih tenang.


" Saya tetap ingin berterimakasih.."


" ya sudah, baiklah, saya terima ucapan terimakasih anda,


jadi sudah ya.. ini juga waktunya beristirahat, mohon pengertiannya" Aksara memotong percakapan,


" Terimakasih, selamat malam" imbuh Aksara segera mematikan panggilan perempuan itu.


" Benar benar.. " gumam Aksara kesal, bisa bisanya nomor HPnya sampai ke orang asing.


Bagaimana kalau Rania yang mengangkat nya, bisa perang dingin lagi..


" ini benar benar tidak lucu.. " gerutu Aksara kesal sekali.

__ADS_1


__ADS_2