Aksara Rania

Aksara Rania
sebab akibat..


__ADS_3

Ilham mengambil obat obatan yang tergeletak di atas meja,


" Stress akut?"


ia membaca satu persatu nama obat itu,


kenapa ia tidak pernah melihat obat ini sebelumnya,


ia pun tidak pernah tau istrinya meminum obat apapun.


Wulan keluar dari kamar mandi, berjalan begitu saja melewati Ilham yang duduk diam di tepi tempat tidur.


Ilham tidak bicara apapun, ia hanya memperhatikan tiap langkah Wulan, menatap Wulan dari atas ke bawah, dari kanan dan ke kiri, dan itu membuat Wulan risih.


" kenapa lagi?" tanya Wulan mengerutkan dahi.


" tidak.." jawab Ilham menundukkan pandangannya, ia terlihat tidak sesenang tadi.


" Aku pulang duluan sore ini," ujar Wulan sembari sibuk memakai pakaiannya.


" kita pulang sama sama.." Ilham bangkit dan berjalan mendekat ke arah Wulan yang sedang sibuk menyisir rambutnya.


" Kasihan Ami masih rindu dengan Fahim dan papa, sudahlah jangan seperti itu" ujar Wulan dengan wajah datar.


" Tidak.. aku mau pulang bersamamu,


kalau kau kasihan pada Ami, kau saja yang pulang besok.. "


Ilham memeluk Wulan dari belakang.


" Apa apaan dengan sikapmu ini?" Wulan berusaha melepaskan diri tapi Ilham malah memeluk Wulan lebih erat.


" Sudah, jangan melawan lagi.. aku bisa mengangkatmu ke atas tempat tidur sekarang juga kalau kau terus menjaga jarak seperti ini.." ujar Ilham,


" Berjanjilah.. kau akan tetap seperti ini denganku meski kita sudah kembali kesana.. " Ilham menyandarkan kepalanya di bahu Wulan, laki laki itu terlihat tidak berdaya sekali, suaranya lirih memohon.


Wulan terdiam, ia benar benar tak bisa berkata kata dengan tingkah Ilham yang seperti ini.


Aksara dan Marlin sedang sibuk bermain pingpong.


keduanya bertanding sengit hingga tak menyadari Farhan sudah lama duduk diam menunggui keduanya.


" Kalian merasa tempat ini milik kalian sendiri ya?" suara Farhan lelah.


Marlin dan Aksara menoleh,


Jrenggg...!


ternyata banyak anggota yang duduk juga menunggu,


" Mereka juga ingin main, mengalah sedikit kalian itu.." omel Farhan.


" lha nggak ngomong.." ujar Aksara memberi isyarat Marlin agar menyudahi permainannya dan mundur.


" Ke kantin ayo.." Ajak Marlin,


" iya, lapar e.. " sahut Aksara,


" tumben kau tidak pulang makan siang?" tanya Farhan,


" ah.. Rania ngambek terus, ya pengen pulang.. tapi dia cemberut terus, ya masa bawaan bayi begitu sih..." gumam Aksara.


" Tidak usah bawaan bayi pun kau memang menyebalkan, melihat mu saja bisa membuat mood jelek.." komentar Marlin tertawa,


Aksara tidak menjawab, namun rautnya muram.


" Habisnya kau keterlaluan.. ya pantas istrimu ngambek.. cemburu ya cemburu, tapi jangan seperti anak SMA begitu.. " Farhan menambahkan.


" Anak SMA bagaimana? memangnya kalian tidak pernah sepertiku?" Aksara sedikit tidak terima,


" tidak.." jawab Marlin dan Farhan serempak.


" Ya masa kami mau cemburu pada istri yang sedang hamil..

__ADS_1


kecuali dia sedang tidak hamil mungkin kami akan cemburu, betul tidak lin?"


Marlin mengangguk.


" Kita tidak bisa mencegah orang lain melirik istri kita sa..


jangan setiap orang yang bicara pada istrimu kau curigai..


kasihan istrimu,


gara gara ketakutanmu yang tidak jelas itu moodnya bisa jelek, apalagi kondisinya hamil.. kalau sampai tertekan bagaimana?"


" aku tidak menekannya.."


" tapi mencemburui nya..?"


Aksara diam,


" itu tidak nyaman sa.. "


" habisnya, dia tidak pernah cemburu padaku..


bukannya cemburu itu tanda sayang? tapi kenapa istriku tidak pernah seperti itu?"


Marlin dan Farhan berpandangan, lalu keduanya tertawa geli.


" Makin kesini makin mirip anak SMA kau ya? efek mau jadi bapak apa bagaimana ini... " Marlin terus tertawa geli.


" Iya, kedewasaan dan kebijaksanaan mu kemana Aksaraaaa...?".


Ilham dan Fahim duduk di teras depan, sembari mengawasi Ami yang sedang berlarian kesana kemari di halaman yang kebetulan di tanami banyak bunga oleh papa Wulan, sehingga ada beberapa kupu kupu yang beterbangan kesana kemari.


" Mas temui saja dokter Andrian, dia psikiater yang menangani mbak.. " jawab Fahim tenang,


" Kenapa aku tidak pernah di beri tahu him?"


" karena dia menolak pengobatan.. "


Fahim tersenyum seperti mengiyakan,


" gejala itu muncul ketika dia mendapatkan tekanan Mas, dia akan cenderung menyakiti orang lain atau dirinya sendiri.. karena itu mungkin dia menghindari Ami ketika di merasa dirinya sedang tidak baik.."


Ilham terdiam,


" Apa..? apa selama ini dia keluar karena hal itu? dia selalu menghindariku ketika dirumah.. " tanya Ilham.


" Mungkin saja mas.. " jawab Fahim,


" Mas memberikan tekanan yang besar saat Mas meninggalkannya..


di tambah lagi sikap papa yang keras dan tidak segan segan memukul mbak ketika mbak berbuat salah..


itu seperti trauma yang menumpuk.." Imbuh Fahim,


" Aku bersyukur mbak tidak kehilangan kewarasannya.. " tambah Fahim lagi membuat Ilham kehilangan kata kata.


" Baik baiklah pada mbak ku Mas.. dia seperti ini karenamu, sudah tugasmu merawatnya hingga traumanya sembuh..


bukan maksudku menyalahkanmu..


tapi kau yang membuatnya terluka..


kau juga yang harus mengobatinya..


maafkanlah sikapnya selama ini..


mungkin itu hanya pelarian karena kekecewaannya padamu saja..


kenyataannya.. dia masih sangat mencintaimu meskipun dia berusaha menutupinya.."


Ilham masih terdiam, tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.


" Segala sesuatu ada sebab dan akibatnya mas.. orang baik bisa menjadi tidak baik ketika ia terlalu di sia siakan..

__ADS_1


mungkin aku masih muda di banding kalian, tapi apa yang di alami mbak ku membuatku banyak belajar dan mengerti pada usia ini.." imbuh Fahim.


" Permisi..?!" seorang laki laki berdiri di depan pagar tiba tiba,


membuat Fahim dan Ilham menghentikan pembicaraan serius mereka.


" Iya Mas? cari siapa?" tanya Fahim berjalan mendekat ke arah pagar,


" Wulan ada?" tanya laki laki berkemeja putih iku.


" Lupa tho him?" laki laki itu tersenyum pada Fahim,


" seperti temannya mbak ya, tapi lupa nama e mas?" Fahim tersenyum,


" Ahmad him.. ya iya.. wong kamu masih kecil dulu.."


" iya e mas.. monggo monggo masuk.." Fahim membuka pintu pagar, lalu mengajak Ahmad masuk ke dalam.


" Ini suami mbak Wulan.." Fahim memperkenalkan Ilham.


" Owh.. suami Wulan, saya Ahmad.. teman Wulan.." Ahmad menjabat tangan Ilham.


Ilham sepintas melirik bawaan Ahmad ada dua tote bag besar.


" Sebentar.. saya panggilkan istri saya dulu.." ujar Ilham lalu berjalan ke arah dapur.


" Ehem.." suara Ilham membuat Wulan yang sedang sibuk menggoreng ikan menoleh ke asal suara.


" Ada tamu.. temanmu, namanya Ahmad.." Ilham berjalan mendekat,


" Owalah, Ahmad.. ?" Wulan mengangkat ikan gorengnya dan segera mematikan kompornya.


Raut wajah Wulan terlihat senang, ia berjalan ke arah ruang tamu, dan Ilham mengikutinya dari belakang tanpa berkomentar.


" Lho? bawa pesananku?" tanya Wulan langsung tanpa menyapa terlebih dahulu,


" Mbok ya basa basi dulu.." komentar Ahmad tertawa,


" iki.. pesenanmu.." Ahmad menaruh dua tote bag penuh teh itu di atas meja.


" Makasi lho mad..!" Wulan tertawa.


" Wes ketemu Fahim?"


" Uwes.. ganteng yo gede gede..?"


" lho.. mbaknya saja cantik, ya pasti Fahim ganteng..!"


" ya mulai.. narsismu.. "


Ilham yang berdiri dari kejauhan hanya diam mengawasi keduanya,


wajahnya tampak muram melihat betapa bahagianya Wulan berbincang dengan orang lain.


" Kenapa wajah istriku selalu muram jika berbicara padaku.. ? dia bahkan tidak pernah tertawa seperti itu di hadapanku.." gerutu Ilham dalam hati, diam diam ia kesal.


" Kebetulan aku baru selesai masak, ayo sekalian makan bersama.."


" nggak usah, aku mau kembali ke tempat kerja, istirahatku hanya sebentar.."


" sebentar saja? nanti malam aku sudah kembali, ayolah mad..??" paksa Wulan,


" tidak, tidak usah.. waktuku mepet Lan.." jawab Ahmad,


ia sebenarnya bisa mengiyakan ajakan makan Wulan,


toh mereka adalah sahabat lama,


dan Ahmad juga sudah sering berkunjung dengan teman temannya dulu kerumah ini,


tapi entah kenapa ia merasakan tatapan dingin Ilham dari kejauhan, karena itu lebih baik ia menghindari masalah dan segera pergi.


" Tidak usah menakuti orang begitu mas.." Fahim tertawa sembari menepuk punggung Ilham yang sedang serius menatap Ahmad.

__ADS_1


__ADS_2