Aksara Rania

Aksara Rania
Datang tanpa memberi kabar


__ADS_3

Farhan dan Marlin sibuk memasukkan koper koper Aksara kedalam mobil, di tambah lagi beberapa kardus kardus yang entah isinya apa.


Marlino dan Farhan mengantar Aksara sampai bandara, meski hati mereka merasakan sesuatu yang berat karena di tinggalkan Aksara, mereka tak menampakkan nya.


Keduanya sadar..


kelak pasti akan bertemu lagi, pertemanan mereka tidak sebulan dua bulan, jika satu tidak menjenguk, maka yang satunya lagi akan menjenguk.


Aksara sengaja memilih penerbangan siang hari, karena ia ingin sampai sore hari, dan lekas menemui istrinya.


Aksara bahkan sudah membayangkan bagaimana wajah Rania nanti ketika melihat koper koper dan kardus kardus yang di bawanya.


Dia pasti akan terkejut akan kabar pindah yang di bawa Aksara, begitu pikir Aksara.


" Selalu kabari aku.. " ujar Marlin memeluk Aksara,


" tentu saja.." jawab Aksara, membalas pelukan Marlin,


" jangan Marlin saja, aku juga!" sahut Farhan juga memeluk Aksara.


Ketiga laki laki itu seperti bocah sekarang, sosok mereka yang biasanya tegas berubah menjadi sedikit emosional karena perpisahan.


" Salam dengan istrimu.. baik baiklah dengannya.." Marlin seakan tak rela, Aksara bagaikan adiknya sendiri.


Marlin lagi lagi memeluk Aksara,


merasakan kasih sayang dari teman teman baiknya itu Aksara tak tahan, matanya mulai berkaca kaca.


" Terimakasih.. karena sudah menjagaku selama ini.. meskipun kita berjauhan..


kalian tetap keluargaku.." ucap Aksara menyentuh pundak Marlin, dan menepuk lengan Farhan.


" Itu pasti.. tetaplah mengeluh pada kami.." Farhan memeluk Aksara sekali lagi.


" Sudah sudah.. masukklah.. nanti kau terlambat.." ujar Marlin tak tahan berbincang lama lama, ia takut air matanya ikut turun mengantar kepergian Aksara.


" Iya.. aku pamit ya, sehat sehatlah kalian... " Aksara mengulas senyum, Marlin dan Farhan mengangguk bersamaan.


Kedua masih diam di tempat, melihat Aksara yang melangkah masuk meninggalkan mereka.


" Hati hati Sa.." ujar Farhan dengan suara sedikit keras karena langkah Aksara sudah jauh, Farhan seperti tak tega melihat punggung Aksara yang mulai tak terlihat dan menghilang diantara kerumunan orang.


" Sudah.. biarkan dia bahagia dengan anak istrinya disana.." Marlin merangkul Farhan, keduanya berpandangan.


" Kita hanya berdua sekarang.." suara Farhan pelan,


" sudahlah.. biasanya kau kuat dengan perpisahan.."


" dengan teman lainnya iya, tapi kali ini berbeda, entahlah..


berbeda kalau dengan Aksa dan kau..


meski kita sudah tua, tapi aku selalu merasa kita kekanak kanakan ketika bertiga.." keluh Farhan.


Marlin tertawa mendengarnya,


" Sudahlah.. ayo pulang, anak istri kita menunggu dirumah.." Marlin mengajak Farhan kembali, kedua nya meninggalkan bandara Hassanudin dengan langkah dan hati yang berat karena tidak akan melihat sosok Aksara di kantor setiap hari lagi setelah ini.


Daun daun mangga yang sudah kering itu berjatuhan di atas halaman rumah, berserakan kesana kemari terkena angin.

__ADS_1


Mbak Yuni yang sudah menyapu halaman siang tadi, sekarang harus menyapu lagi.


Angin nya juga sedikit kencang, mungkin karena sudah dekat musim hujan.


" Mbak.. pengen maem tahu campur.. " Rania berdiri di depan pintu rumah,


" kalau di bu Rukmi sudah tutup sore begini mbak.. ada nya di dekat jalan raya, disitukan bukanya dari sore sampai malam.." beri tahu mbak Yuni,


" ya wes, beli disitu saja mbak.. nggak tau tumben kepingin.." ujar Rania.


" Ya biar saya saja yang beli.." mbak Yuni menaruh sapunya,


" Jangan, biar saya sendiri saja mbak.. sampean lanjut nyapunya..


saya mau jalan kaki, kata dokter saya harus banyak gerak mbak.. biar sehat.." Rania mengambil jaket di dalam, lali tak lama keluar.


" Sampean mau yang pedes apa enggak mbak?" tanya Rania sembari memakai sandalnya.


" Lombok siji ae mbak (cabe satu saja mbak)..?" jawab mbak Yuni mengambil lagi sapunya.


" Hati hati lho mbak Ran nyebrangnya, pelan pelan juga jalannya.." pesan Yuni sedikit ragu membiarkan Rania sendiri.


" Apa saya temani saja?" katanya kemudian,


" ndak usah wes.."


" njenengan bawa HP toh?, kalau ada apa apa telfon lho mbak Ran?"


" iya mbak Yun... " jawab Rania berjalan keluar pagar rumahnya.


" Nangdi nduk?" sapa para tetangga,


" owalah.. ati ati.. jakete di kancing, angine gede.. awas masuk angin..?!" nasehat si ibu tetangga.


" Nggih budhe.. monggo.."


Rania berjalan dengan santai ke arah jalan Raya, suasana jalanan tidak begitu Ramai karena belum masuk jam pulang kerja.


Sebuah mobil terhenti, Yuni menghentikan kegiatannya menyapu.


" Mbak Yun?!" Sosok yang Yuni kenal keluar dari dalam mobil itu.


" Owalah.. ?! mas Aksa?" Yuni buru buru menaruh sapunya dan mendekat ke arah majikannya itu.


Aksara terlihat sibuk menurunkan barang bawaannya.


" Yang berat berat berat biar saya dan bapak sopir yang angkat.. " ujar Aksara sembari menurunkan koper kopernya.


" Langsung ke dalam nggih pak..?!" Aksara dan si bapak sopir saling membantu mengangkat kardus yang lumayan berat.


Setelah semua barang masuk barulah Aksara duduk, ia mengambil nafas.


Tak lama kemudian ia bangkit dan masuk ke dalam kamar.


" Istriku mana mbak?" tanya Aksara setelah mencari istrinya di kamar namun tak menemukannya.


" Itu mas, beli tahu campur di pinggir jalan, barusan saja berangkat..


kalau tau mas pulang mungkin tidak akan keluar, mungkin sebentar lagi pulang mas.." jawab Yuni menaruh segelas teh di meja.

__ADS_1


" Iya mbak, saya sengaja datang tanpa memberi kabar.. inginnya memberi kejutan..


dia sendirian?"


" iya mas.. saya temani tidak mau.. katanya sekalian olah raga jalan kaki.." jawab Yuni lagi.


Aksara diam,


" Tapi dia sehat kan mbak??"


" nggih mas.. sudah ndak bengkak kakinya.. wajahnya juga sudah sehat tidak pucat seperti kemarin kemarin.." jelas mbak Yuni,


Aksara lagi lagi diam, ia seperti resah.


" Beli di sebelah mana sih?"


" di pak mail mas.. "


" yang nyebrang jalan raya itu toh, pas di depan gang masuk?"


" nggih mas.."


" biar ku susul saja lah.. " kata Aksara berjalan keluar, memakai sandal dan melanjutkan langkahnya keluar rumah untuk menyusul istrinya.


Selain rindunya yang sudah tidak terbendung, ia juga sedikit khawatir kalau Rania keluar agak jauh sedikit.


Aksara berjalan sampai ke jalan Raya, matanya berkeliling mencari dimana warung tahu campur.


" Nah itu.." Aksara menemukan warung tahu campur itu, ia juga menemukan sosok istrinya yang sedang menunggu pesanannya yang rupanya sudah hampir selesai.


Aksara berniat menyeberang jalan untuk menemui istrinya.


Tapi Rania tiba tiba saja melihat ke arah Aksara, ia terkejut melihat sosok suaminya di seberang jalan.


Senyumnya mengembang, tangannya melambai pada Aksara.


Kerinduan yang terlihat jelas di wajah dan sikap keduanya.


" Tunggu?! mas kesana?!!" teriak Aksara menyebrang, sembari memberi kode lewat tangannya agar Rania menunggu, tapi rupanya suara kendaraan bermotor yang berlalu lalang terlalu kencang.


" Sudah selesai kok mas?!!" jawab Rania, ia menerima kantong plastik dari si bapak penjual, dan dengan terburu buru ia berjalan menyeberang.


Wajah Rania tampak bahagia sekali melihat Aksara, saking bahagianya ia tak memperhatikan kalau Aksara menyuruhnya untuk menunggu saja dan jangan menyeberang.


" Awass?!!!!" teriak Aksara, sebuah motor melaju kencang.


" Brakkkkk!!!" si pemotor itu jatuh menabrak seseorang.


" Ya Allahhh?!! sopo iku! sopo!!" semua orang berlarian mendekat, termasuk Aksara.


Kaki laki laki itu gemetar, tubuhnya lemas tak bertenaga melihat tubuh istrinya tergeletak di jalan raya.


Diangkatnya Tubuh istrinya dengan sisa kekuatannya.


" tolong saya?! tolong panggil ambulan?!! tolong saya?!!!" suara Aksara bergetar.


" Cepat cepat?! yang di tabrak hamil!" suara seseorang berusaha menghentikan mobil di pinggir jalan.


" Ran?! Rania..??? bangun sayang??! istriku.. ya Allah...istriku??!!" panggil Aksara di penuhi ketakutan karena mata Rania tertutup rapat dan wajahnya terlihat pucat.

__ADS_1


__ADS_2